
Para santriwati terkejut melihat Iqlima tiba-tiba kembali muncul di asrama. Sejak wanita tersebut dikabarkan telah menjadi istri Yahya, mereka tidak pernah lagi melihat rupa nya.
"Maaf, apa kamar ini masih kosong? " Tanya Iqlima ketika sampai pada kamar yang pernah ia tempati dulu. Iqlima berusaha menutupi wajah sembabnya dengan memakai kacamata.
"Hah? " Mereka tercengang dengan menunjukkan raut wajah tegang lalu pergi begitu saja tanpa menjawab. Salah satu dari mereka hanya bisa menggeleng. Iqlima terdiam. Ia langsung melangkah masuk tanpa mempedulikan pandangan sinis para santriwati. Iqlima benar-benar kelelahan. Energinya terkuras habis. Pikirannya masih kacau karena kejadian di kediaman haji Zakaria tadi.
Tok Tok Tok
Brakk
Santriwati senior membuka paksa pintu kamar. Iqlima yang baru saja melelapkan mata kembali terbangun.
"Ada apa ini? Mengapa langsung menempati kamar ini?! " Tunjuknya dengan jari telunjuk.
"Hmh.. Apa salahnya ya? Kasur ini kosong. Ini juga kamarku dulu. Maaf, aku ingin istirahat" Sahut Iqlima hendak kembali merebahkan tubuhnya.
"Apa? Hey, jangan mentang-mentang kau istri gus Yahya lalu kau bisa berbuat seenakmu ya! Lagipula kau hanya istri kedua dan hanya seorang pengacau rumah tangga orang lain! " Mata Iqlima terbelalak mendengar perkataan tersebut. Dengan melotot kan mata, Iqlima berjalan ke arahnya. Santriwati senior yang terkejut sontak mundur ke belakang hingga kini posisi mereka berada di luar kamar.
Rasa penasaran akan keributan membawa para santriwati lainnya datang berduyun-duyun menyaksikan. Mereka mulai berbisik. Jujur saja, berita negatif tentang Iqlima yang sudah terlanjur beredar dan berhembus kencang di lingkungan pesantren membuat mereka menjadi sangat membencinya.
"Jaga ucapanmu! Kau itu seorang santri, tidak seharusnya mulutmu begitu lancang! " Ucap Iqlima geram.
Huuuuuuu~ Sorakan para santriwati untuk Iqlima membuat rasa percaya diri santriwati senior bertambah.
"Kau itu hanya seorang pengganggu rumah tangga. Seorang perusak! Jangan berharap kau akan diagung-agungkan oleh se-isi pesantren! Kau tidak lebih dari seorang pelakor! "
Plakkkk
Sebuah tamparan keras mendarat ke wajah santriwati senior. Atensi mereka semua sontak beralih pada sosok yang menampar.
"Keterlaluan!! Luna, Kau dikeluarkan dari Ma'had Bustanul Jannah ini! "
Mbak Sri? Iqlima tercengang. Santriwati senior memegang wajahnya yang memerah. Matanya berkaca-kaca menahan malu dan amarah.
"Di Ma'had ini seharusnya kalian bisa menjaga sikap! Kalian tidak tau nona ini siapa? Baik saya kenalkan! Beliau adalah Ning Iqlima. ISTRI sah dari Gus Yahya, junjungan kita semua! Saya harap kejadian seperti ini tidak terulang lagi pada siapapun juga! Jika ada yang bersikap kurang ajar atau tidak tau sopan santun pada istri Gus, maka dipastikan kalian akan mendapatkan akibatnya! Apa kalian semua mengerti?! " Sri berteriak lantang.
"Mengerti..." Sahut para santriwati serempak. Walau raut wajah mereka tampak tidak senang, namun para santriwati terpaksa menghormati apa yang Sri katakan.
"Oh iya nona. Mari saya antar nona ke kamar! Untuk seterusnya nona akan menempati kamar keluarga"
Huh. Mentang-mentang Ummi Hajjah mempercayainya sebagai kepala pengasuh, tapi semakin ke sini semakin ke sana saja perilakunya. Ia bersikap seolah-olah ia-lah kepala Ma'had ini! Seenaknya saja memutuskan! Umpat salah satu santri sebelum mereka bubar barisan.
"Mbak... Bagaimana kalau... " Iqlima membuka pembicaraan.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Nona! Sudah seharusnya Luna dikeluarkan karena sikap kurang ajarnya pada istri pimpinan!" Ucap Sri tak gentar.
"Tapi aku... Tapi sebenarnya aku bukan siapa-siapa di sini. Aku khawatir mbak Sri akan mendapat masalah" Lirih Iqlima. Sri menggeleng.
"Luna sudah sangat keterlaluan. Jika dibiarkan, para santriwati akan merajalela. InsyaAllah semua akan baik-baik saja. Nona jangan khawatir. Lebih baik sekarang nona beristirahat. Nona pasti sangat lelah. Tadi Saya sudah memerintahkan Rina untuk membersihkan kamar ini. Untuk setahun ke depan, Nona akan menempati kamar ini!"
"Terima kasih mbak Sri! " Ucap Iqlima terharu. Sri memberikan senyumnya.
"Saya permisi dulu! " Lanjut Sri pamit. Ia yang mengerti berbagai permasalahan yang Iqlima hadapi hanya bisa mengelus dada.
...****************...
"Apa cara ini akan berhasil? " Tanya Dara pada Ilyas sambil berbisik. Ilyas memarkirkan mobil mereka tidak jauh dari Bustanul Jannah.
"Aku mempercayakan nya padamu, Dara! Bujuklah Iqlima agar ia mau ikut besertamu! Tidak ada gunanya ia bertahan bersama Yahya. Ia hanya akan menzhalimi dirinya sendiri! " Tukas Ilyas. Dara mengangguk. Perkataan Ilyas membuatnya yakin bahwa rencana membawa Iqlima pergi akan berhasil. Apalagi ia sudah menanyakan pada salah satu santriwati yang berlalu lalang bahwa Iqlima sudah ditempatkan di pesantren.
Dara membuka pintu mobil. Dengan melihat ke kanan dan ke kiri, wanita tersebut perlahan-lahan memasuki gedung asrama santriwati.
"Assalamu'alaikum, maaf dik... Saya tidak melihat petugas satpam di gerbang. Saya ingin bertemu Iqlima" Ucap Dara. Wajah santriwati yang ditanya berubah tidak ramah.
"Saya tidak tau dimana nona itu! " Sahutnya cepat dan langsung berjalan pergi. Dara menggelengkan kepala. Ia kembali berbalik ke pintu gerbang menunggu satpam.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan di sini? "
Hah? Dara kaget. Suara tidak asing terdengar di telinga.
"Yahya? "
"Apa yang kau lakukan di sini?! " Tanya Yahya dengan suara yang lebih tinggi.
"A.. Aku... " Yahya Mensedekapkan tangan menunggu kalimat yang akan Dara lanjutkan.
"Aku... Aku berencana untuk melamar menjadi ustadzah di sini" Yahya mengerutkan keningnya.
Duh.
"Jangan berbohong! "
"Aku tidak berbohong"
"Background mu bukan pengajar! Kau tidak akan diterima di sini! " Ketus Yahya sambil berlalu pergi.
"Yahya, kau mau kemana? "
"Yahya, mengapa kau berbalik arah? Bukankah kau mau menemui Iqlima? "
Langkah kaki Yahya terhenti.
"Yahya, aku tau kau masih marah padaku atas apa yang terjadi di masa lalu kit.... "
"Aku tidak punya waktu untuk berbicara denganmu! Pergilah!" Potong Yahya.
"Aku akan pergi. Tapi jawablah... Apa kau sudah memaafkan aku? "
"Aku sudah memaafkan mu! " Jawab Yahya cepat. Matanya mencuri pandang ke arah asrama santriwati yang terhalang tembok.
"Aku akan memanggil Iqlima untukmu"
Yahya. Kau masih saja menggemaskan seperti dulu. Andai hari itu tidak pernah terjadi. Pasti kau akan memperjuangkan ku hingga kita menikah...
"Aku tidak tau sebenarnya misi apa yang membawamu ke sini. Tapi sebaiknya kau segera pergi! " Ketus Yahya lagi.
Sreeggg
Seorang penjaga membuka pintu gerbang lebih lebar.
Gus? Ia terkejut ternyata Yahya sudah berdiri di sana.
"Ada yang bisa saya bantu, Gus? " Tanya penjaga gerbang mendekat. Ia menyempatkan diri melirik Dara.
"Mengapa gerbang ini tidak ada yang menjaga? "
"Maaf Gus, Saya harus ke kamar mandi. Pak Dzul lagi sakit" Terang penjaga. Yahya mengangguk-angguk.
"Saya mau ke bagian kantor asrama santriwati! "
"Ada apa ya Gus? Ma.. Maksud saya... Maaf, nona Iqlima tidak berada di pesantren ini. Beliau keluar karena ada meeting dengan seseorang di luar! "
"Apa??! Meeting? Dengan siapa?!" Yahya benar-benar terkejut.
Ha? Iqlima meeting di luar dan Yahya tidak tau? Apa Iqlima sudah dibawa Ilyas?
"Saya kurang tau Gus! "
Dengan gerakan cepat Yahya mengambil handphone menghubungi Iqlima. Namun sayang, handphone istrinya tersebut tidak aktif.
...****************...
__ADS_1
Di tempat berbeda, ragu-ragu Iqlima berjalan memasuki sebuah cafe. Suasana terlihat sepi. Hanya ada dua tiga pasangan yang duduk menyebar.
Perlahan Iqlima mengedarkan pandangannya lebih luas. Sosok yang ingin ia temui sudah berada di sana. Sosok yang 1 jam lalu menitahkan untuk menemuinya.
Di sudut ruangan dekat dengan jendela, tempat yang terbilang lebih privasi. Seorang pria matang yang tampan dan karismatik berkacamata tengah duduk membaca koran. Orang tersebut membolak-balikan halamannya. Terlihat dengan jelas bahwa ia tengah menunggu seseorang.
Dengan perasaan yang masih ragu dan jantung berdegup kencang, perlahan Iqlima berjalan mendekat. Ia berusaha agar tapak kakinya tidak terdengar. Namun baru dua langkah Iqlima berjalan, pria tersebut sudah menyadari kedatangan nya. Dengan senyum mengembang, beliau memanggil Iqlima agar jangan sungkan untuk mendekat.
"Assalamu'alaikum Abah... " Sapa Iqlima menunduk.
"Waalaikumsalam, duduklah putri-ku! " Sahut Haji Zakaria. Sambutan hangat membuat Iqlima berani untuk sedikit mendongakkan kepala. Ia langsung mengambil tempat.
Seorang waiters dengan cekatan datang menghampiri dan menyodorkan daftar menu. Namun Iqlima hanya diam. Haji Zakaria sendiri telah menghabiskan seperempat minumannya saat tadi menunggu Iqlima.
"Sajikan best menu yang ada di sini!" Titah Haji Zakaria tanpa basa basi.
"Baik tuan! " Sahut Waiters berlalu pergi.
"Maaf abah mengganggu waktumu! " Haji Zakaria membuka percakapan. Iqlima tidak tau harus mengatakan apa. Ia benar-benar sangat sungkan.
"Bagaimana hari pertama mu kembali ke pesantren?"
"Alhamdulillah tidak ada kendala bah"
"Alhamdulillah... Tapi jujur saja nak, tadi abah melihat mu berlari sambil menangis"
Deg.
Jantung Iqlima kembali berdegup. Sekarang Ia benar-benar merasa malu.
"Sepertinya kau menjalani kehidupan yang berat selama menikah " Lirih haji Zakaria bertepatan dengan waiters datang sambil membawa nampan makanan. Mata Iqlima berkaca-kaca.
"Makanlah, kau sama sekali belum makan! Ayo nak, jangan sungkan. Semoga makanannya cocok! " Ucap Haji Zakaria menyendok makanan dan meletakkannya ke atas piring Iqlima.
"Da... Darimana abah tau kalau Iqlima belum makan? "
"Dari gerak gerik mu! " Sahut Haji Zakaria tersenyum. Iqlima mulai memakan makanan nya. Haji Zakaria menyendok makanan dan kembali meletakkan nya ke atas piring Iqlima. Perlakuan Haji Zakaria membuat gadis tersebut menikmati makanannya. Rasa canggung perlahan hilang. Suasana mencair. Mereka juga mulai berbincang-bincang ringan hingga pembicaraan kembali menyerempet ke topik sebelum nya.
"Nak, tidak ada yang bisa abah lakukan untuk rumah tangga mu dan Yahya. Tapi abah berjanji akan menasehati putra abah agar ia bisa lebih bersikap dewasa" Ucap haji Zakaria. Iqlima sontak mematung.
"Maaf jika abah mengatakan ini.. Abah harap kau tidak tersinggung. Apa menikah dengan nak Yahya membuat mu sangat menderita? Seperti yang abah katakan tadi, kau menjalani hari-hari yang sangat berat setelah menikah! "
Suasana hening untuk sesaat. Iqlima mulai menitikkan air mata.
"Sejujurnya... menjadi istri dari bang Yahya adalah anugerah yang besar bagi Iqlima, Bah..."
"Ma... Maaf..." Iqlima mengambil tissue karena airmatanya sudah jatuh berlinang. Haji Zakaria bisa melihat cinta dan kebaikan hati yang tulus pada menantu yang ada di hadapannya. Tidak hanya itu saja, dibalik cinta yang tulus tersebut, haji Zakaria bisa melihat betapa Iqlima mengalami tekanan batin hebat dan Iqlima mencoba untuk menyembunyikan nya.
"Nak, abah memang tidak bisa banyak membantu atau ikut campur dalam rumah tangga kalian. Tapi ketahuilah... Bahwa di dalam kediaman Bustanul Jannah, masih ada abah di sana. Kau bisa kapan saja menghubungi abah jika memerlukan sesuatu atau membutuhkan bantuan! Jangan pernah sungkan..." Ucap Haji Zakaria tulus.
Tes.
Bagai setetes embun yang hinggap di hatinya, perkataan Haji Zakaria terasa begitu menyejukkan.
"Abah, almarhum Ayah Iqlima adalah seorang pekerja serabutan. Beliau biasanya sering keluar desa atau kota berbulan-bulan lamanya untuk bekerja keras mencari nafkah. Waktu kebersamaan kami terbilang sangat singkat. Banyak sekali memori yang tidak bisa Iqlima ingat karena ketika ayah dipanggil oleh Yang Kuasa, usia Iqlima masih sangat kecil... "
"Abah, dulu Iqlima sering bertanya-tanya pada kakek, apa ayah mirip dengan beliau? Apa ayah menyayangi Iqlima? Bagaimana sosok seorang Ayah itu? "
"Kakek menjawab Ayahmu adalah sosok yang sederhana. Walau begitu, Ia seorang yang sangat penyayang. Ia sangat murah hati, sangat mencintai istri dan putrinya. Selalu berlemah lembut dan tidak pernah berlaku kasar"
"Abah, kini Iqlima sudah tidak penasaran lagi bagaimana sosok seorang Ayah. Karena ketika melihat Abah, Iqlima seperti melihat Ayah" Ucap Iqlima. Ia mengusap air matanya yang tidak bisa ditahan. Mata haji Zakaria ikut berkaca-kaca.
"Nak, ketahuilah.. Ayahmu pasti seorang yang sangat hebat. Sebab beliau memiliki putri sepertimu. Putri shaliha yang tangguh dan berhati tulus. Kemarin, hari ini dan esok... Kau adalah putri abah. Selamanya akan begitu! " Ucap Haji Zakaria. Beliau bangkit dari duduknya lalu mendekap Iqlima dan mengusap kepala nya dengan penuh kasih sayang.
Abah~
__ADS_1
...****************...
Man Teman seperjuangan di novel Iqlima yang Alana cintai.., jujurly Alana mengalami pergelutan batin akhir-akhir ini dengan karya Iqlima ini~ Apa lebih baik karya ini hiatus dulu untuk sementara waktu atau tetap lanjut saja tapi slowly~ Gimana menurut teman-teman, kakak-kakak, mak emak sekalian? 🙏🌹