Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)

Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)
Bab 35: Tugas Iqlima dari Hajjah Aisyah


__ADS_3

Iqlima berjalan mengikuti langkah Ayi, khadimah yang ditunjuk oleh Yahya untuk mengantarnya menempati salah satu kamar di pondok pesantren.


Iqlima mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Terlihat para santriwati berlalu lalang di sekitar. Sebagian dari mereka menenteng mushaf al-Qur’an atau kitab hadits. Mulut mereka berkomat-kamit menghafalkannya. Sebagian yang lain bersenda gurau menggunakan Bahasa Arab Fusha (Formal).


“Mbak Ayi, ini santriwati baru ya? Cantik sekali. Assalamu’alaikum mbak!” Seorang santriwati menyapa Iqlima.


“Wa’alaikumsalam” Iqlima memberikan senyumnya.


“Sssttt, kamu bicara pakai bahasa Indonesia, nanti bisa masuk Mahkamah lho!” Ayi memperingatkan.


“Kan bicaranya sama santriwati baru mbak! Mbak ini pasti belum belajar bahasa Arab kan?”


“Sudah sudah, belajar lagi sana!” Titah Ayi mengamit lengan Iqlima lalu bergegas.


Ceklek.


Ayi membuka pintu kamar. Kamar biasa yang ditempati oleh para santriwati. Terdapat dua pasang tempat tidur bertingkat dengan jumlah 4 kasur tipe single bed.


“Kamu saya tempatkan di sini saja! 3 kasur itu sudah ada pemiliknya. Tinggal satu yang tersisa di pojokan!” Ucap Ayi mengarahkan.


“Sebagai santriwati baru, kamu wajib menjalankan peraturan-peraturan yang ada di pesantren! Ini tulisan berisi apa saja yang tidak boleh dikerjakan!” Ayi memberikan sebuah buku lumayan tebal.


“Asal kamu dari mana?”


“Dari Aceh kak!” Sahut Iqlima.


“Panggil saya Mbak Ayi saja!”


“Huft, tumben-tumben-an Gus Yahya menyerahkan santriwati secara langsung!” Gerutu Ayi.


“Sampek kudu ngati-ati, Ojo nganti nggudo anak lanange Kiayi!” Ayi memberikan peringatan.


“Ha? Maksudnya gimana mbak? Maaf, Saya tidak bisa bahasa Jawa”


“Pokoknya jangan sampai kamu menggoda anak Abah Haji! Beliau itu orang yang sangat terhormat! Jodoh Gus Yahya sudah ditetapkan oleh keluarga besar, pastinya juga dari kalangan terhormat! Kita ini sebagai perempuan biasa harus bisa menjaga diri! Paham maksud saya kan?” Tenggorokan Iqlima mendadak tercekat.


“Ya sudah, kamu istirahat dulu! Nanti saya akan kembali memberikan kitab-kitab yang harus kamu pelajari! Permisi!” Ayi menutup pintu dengan keras. Ia merasa sedikit kesal karena Iqlima mendapatkan perhatian dari Yahya yang notabene-nya orang yang paling di-idolakan di-seantero Bustanul Jannah.


Di tempat berbeda, Yahya masuk ke dalam kamarnya. Ia mengambil wudhu dan melakukan shalat sunnah dua raka’at sebelum memperkenalkan Iqlima ke Abah dan Ummi. Pemuda ini berharap, kedua orang tuanya berkenan menerima istrinya dengan keridha’an.


Tok Tok Tok


“Maaf Gus, Abah Haji dan Ummi Hajjah sudah menunggu!”


“Baik!” Sahut Yahya. Ia melipat sajadahnya dan bergegas menuju ruang keluarga. Tampak Haji Zakaria dan Hajjah Aisyah telah duduk di kursi utama.


“Assalamu’alaikum Abah, Ummi…”


“Wa’alaikumsalam… Dimana nak Iqlima?” Tanya Haji Zakaria to the point.


“Di pesantren, Bah!”

__ADS_1


“Huh, menyusahkan saja!” Gerutu Hajjah Aisyah. Yahya menunduk.


“Mi, tolong jaga ucapan Ummi! Apalagi di depan Iqlima nanti! Bagaimanapun ia adalah menantu kita!” Haji Zakaria angkat bicara. Hajjah Aisyah bersungut.


***


"Dok, tolong banget jaga lukisan nya ya! " Pinta Iqlima pada dokter Jelita melalui saluran telepon.


"Sip. Tenang deh! Ntar waktu aku ke Jakarta aku bawa serta yang satu itu! "


"Alhamdulillah... Terima kasih, Dok!"


"By the way bagaimana keadaanmu di kediaman Yahya? Keluarganya memperlakukanmu dengan baik, kan?" Selidik dokter Jelita.


"Aku belum bertemu keluarga bang Yahya, Dok! Ini masih dikamar. Rasanya kok aku segan banget ya”


"Segan kenapa? Apa karena Dia anak orang berada? Udah, santai aja! Harta ga dibawa mati kok!"


"Bukan hanya itu, ternyata bang Yahya adalah anak Teungku Rayeuk! Di sini panggilan beliau itu Gus! Ya Rabbi… rasanya Aku mau lenyap saja dari sini!" Keluh Iqlima cemas.


"Memangnya kenapa dengan Gus? Jangan khawatir, keluarkan semua pesonamu! Tidak usah di cicil, keluarkan 100 persen! Kalau kemarin-kemarin aku sarankan berikan dia umpan pancingan, maka kali ini berikan dia umpan langsung. Kalau si Sugus berani macem-macem, jangan berikan dia…….!" Dokter Jelita menjeda kalimat nya.


"Jangan berikan dia apa, Dok?" Iqlima mengerutkan keningnya.


"Dekatkan telingamu! Karena aku akan berbisik!" Iqlima mengikuti apa yang dokter Jelita titahkan. Ia benar-benar mendekatkan telinganya.


"Jangan berikan si Sugus itu…."


Tok Tok Tok


"Dok, ada yang mengetuk pintu. Nanti Insya Allah kita berbincang lagi ya!" Iqlima langsung menutup pembicaraan mereka.


“Hey! Santriwati baru, kamu dipanggil Ummi hajjah untuk menghadap!”


“Nama saya Iqlima, Mba!”


“Sama saja! Kamu itu, saya bilang juga apa? Jangan menggoda putra kiayi! Sekarang kamu dipanggil kan? Huh, saya ga akan bisa bantu kamu kalau sudah begini!” Omel Ayi sinis.


Iqlima masuk ke rumah utama dengan hati yang tidak karuan. Namun ia berusaha keras untuk bisa menguasai diri. Bertemu dengan orang-tua Yahya berarti bertemu dengan orang-tua nya juga.


Ceklek


Pintu terbuka. Iqlima melangkah perlahan.


Hmh, Cantik juga. Tapi tidak lebih cantik dari Layla! Jadi dia yang sudah menyihir hingga melakukan penjebakkan terhadap putra-ku?! Batin Hajjah Aisyah ketika pertama kali melihat Iqlima. Beliau duduk dengan elegan. Wibawa seorang istri ulama memenuhi ruangan.


"Assalamu'alaikum Abah, Ummi... " Iqlima maju menyalami mertuanya dengan sopan.


"Waalaikumsalam.. Ahlan wa sahlan, Nak! " Abah Zakaria memberikan senyumnya. Sangat teduh. Bagai ditetesi setetes embun, hati Iqlima terasa sejuk. Senyum ayah mertua menyerupai senyum almarhum ayah kandung nya. Hati Iqlima tersentuh. Matanya langsung berkaca-kaca.


"Duduklah Nak! " Titah Haji Zakaria. Iqlima mengambil tempat di samping Yahya. Ia melirik suaminya yang terus menunduk.

__ADS_1


"Silahkan Ummi berbincang dengan Nak Iqlima. Mungkin ada yang ingin Ummi tanyakan agar lebih akrab!" Lanjut Haji Zakaria lagi.


"Hmm... Siapa nama dan darimana kamu berasal darimana, Nak? " Tanya Hajjah Aisyah dengan nada lembut. Yahya mendongak. Pertanyaan pertama yang Umminya lontarkan tersebut membuat hatinya sedikit lega.


"Nama saya Iqlima Noor Azkiya. Saya berasal dari Aceh, Mi!" Sahut Iqlima menunduk.


"Apa pendidikan terakhir mu? "


"Madrasah 'Aliyah Negeri di Banda Aceh"


"Kalau pekerjaan orang tuamu? "


"Almarhum Abu seorang Bilal di Mesjid, selebihnya Abu adalah petani yang menggarap sawah dan ladang milik orang lain. Kalau almarhumah mamak seorang guru madrasah ibtidaiyah negeri! " Hajjah Aisyah langsung tersenyum sarkas. Ujung mulut beliau tertarik ke atas namun pandangan mata terkesan meremehkan.


"Baiklah Nak! Walaupun kamu berasal dari kampung dan dengan status sosial rendah..."


Deg.


"Bagaimanapun kini kamu adalah istri dari seorang pimpinan pesantren, semoga kau bisa menjaga marwah suami dan juga bisa mengikuti peraturan yang ada di lingkungan ini! " Ucap Hajjah Aisyah dingin.


"Ba... Baik Ummi.... Insya Allah... " Sahut Iqlima.


"Kau tidak perlu melakukan apapun di sini! Tugasmu hanya perlu melayani Yahya sepenuh hati. Yang paling penting adalah kau harus bisa memberikan keturunan untuk Yahya. Wajib seorang anak Laki-laki sebagai penerus! Ini adalah sebuah kewajiban mutlak!" Ucap Hajjah Aisyah to the point. Iqlima kesulitan menelan saliva nya.


"Mi.... kenapa bahasannya langsung ke sana? Anak mantu kita baru saja menikah, kita juga belum membuatkan mereka walimah! " Sergah Haji Zakaria merasa tidak enak pada Iqlima.


Jadi aku hanya sebagai alat untuk menghasilkan keturunan saja, begitu? Pikir Iqlima sedih. Kebahagiaan sesaat yang ia rasakan tadi berubah seketika.


"Biar jelas dan terang, Bah! Nak Iqlima sudah dewasa. Pasti paham tentang hakikat berumah tangga. Apalagi lulusan Madrasah Aliyah kan? Kalau tentang walimatul ursy, itu tidak terlalu penting! Karena tujuan dari diadakan walimah itu untuk syiar dan memberikan pengumuman ke khalayak ramai kalau mereka sudah menikah..." Hajjah Aisyah menjeda kalimat nya.


"Masalahnya lagi pernikahan mereka ini tidak diinginkan dan mereka itu dijebak! Baik Nak Yahya maupun Nak Iqlima sama-sama tidak senang dengan pernikahan ini! Tidak etis rasanya kalau kita malah merayakannya dengan pesta. Dan ini juga termasuk dalam kategori pernikahan yang MEMALUKAN! Biarkan nanti kita konferensi pers saja! Itu sudah lebih dari cukup! Kemudian, nak Iqlima ini kan berasal dari desa, jadi tidak mengerti hingar bingar kehidupan!" Lanjut Hajjah Aisyah menohok. Hati Iqlima basah. Matanya mengembun.


"Hmmm... " Yahya berdehem.


"Mba Sri, tolong antar Iqlima ke kamar utama-ku untuk istirahat. Istriku kelelahan karena perjalanan jauh!" Titah Yahya pada asisten kepercayaan Hajjah Aisyah. Sri langsung mengamit lengan Iqlima.


"Iqlima permisi Abah, Ummi..." Iqlima menahan diri agar air mata nya tidak keluar. Hajjah Aisyah memicingkan mata melihat Iqlima yang semakin menjauh.


Ya Allah, apa dosa yang sudah hamba perbuat hingga mendapat menantu yang seperti dia? Apa kesalahan Yahya? Nasibnya sangat buruk. Astaghfirullah. Batin Hajjah Aisyah kesal.


Ternyata keberadaan ku di sini tidak diinginkan oleh siapapun! Siapa yang sudi menerima gadis miskin tidak berpendidikan seperti ku? Iqlima berjalan sambil berpikir.


"Apa yang kamu harapkan dari Ilyas? Pemuda Pulau Jawa itu hanya merantau sebentar ke desa kita...


Dia akan kembali ke kampung halamannya. Jadi tidak mungkin menikahimu! Apalagi kamu miskin dan yatim piatu!”


Kata-kata kakek kembali terngiang.


Kek, tidak hanya ustadz Ilyas. Tidak hanya kelompok masyarakat yang memandang ku hina. Kini Keluarga bang Yahya juga merendahkanku.


Apa aku harus menyerah? Tanya Iqlima pada dirinya. Seketika kepalanya berbalik, melirik Yahya yang masih menunduk. Airmata Iqlima menetes jatuh. Semakin lama semakin deras.

__ADS_1


***


*Note: Anak Teungku Rayeuk\= Anak Kiayi Besar.


__ADS_2