Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)

Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)
Bab 17: Membuka Luka Lama


__ADS_3

“Ilyas, kamu dimana?” Tanya Yahya melalui saluran telepon. Pesawatnya baru saja landing setelah ia menemui Iqlima. Pemuda ini menatap peci putih rajut yang baru saja Iqlima berikan. Hasil buatan tangan gadis tersebut sebagai ucapan terima kasih karena telah membantunya kabur dari kejaran Hilman.


“Aku lagi di pesantren An-Nur baru selesai rapat!”


“Okay. Tunggu, aku ke sana sekarang!” Ucap Yahya mematikan handphone-nya.


Enam bulan terakhir ini, Ilyas menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan keagamaan. Sejak Rumi tunangannya melanjutkan kuliah di Malaysia 2 bulan lalu, pernikahan mereka terpaksa di undurkan sampai liburan semester mendatang.


Ilyas sudah tidak lagi memikirkan Iqlima, baginya gadis itu hanyalah bagian dari kenangan pahit yang tidak pantas untuk diingat. Semua tentangnya sudah berusaha untuk ia kubur dalam-dalam.


“Yas, kita harus bicara tapi tidak di sini!” Ucap Yahya dengan wajah serius.


“Ahlan wa Sahlan Akhi… kenapa terburu-buru? Ayo kita minum kopi terlebih dahulu!” Ajak Ilyas ramah.


“Sekarang kita ke taman!” Ucap Yahya tanpa basa basi. Apa ada sesuatu yang terjadi?


“O... kay…”


Ilyas mengambil umpan sembari menunggu Yahya mengungkapkan keinginannya. Ia menyebarkan butir-butir makanan ikan ke kolam yang langsung dilahap secara bergantian.


“Sebenarnya… Aku mau mengakui sebuah kesalahan” Ucap Yahya menunduk.


“Kesalahan?” Ilyas masih menggerakkan tangannya menyebarkan makanan ikan.


“Tentang Iqlima…”


“Aku tidak ingin mendengar apapun lagi tentang gadis itu!” Potong Ilyas dingin. Yahya memijat pelipisnya.


“Yas… Dengarkan aku…”


“Yahya, jangan kau gali lagi kenangan yang sudah ku-kubur. Aku sudah bertunangan sekarang! Aku tidak mau membicarakan perempuan mana pun untuk saat ini!” Sahut Ilyas berhasil membuat tenggorokan Yahya tercekat.


“Sebenarnya Iqlima tidak bersalah. Aku-lah yang salah menduga”


“A.. apa maksudmu?” Perkataan Yahya membuat pergerakan Ilyas terhenti. Ia balik menatap Yahya. Pemuda yang sudah terlanjur ingin mengakui kesalahan nya pun melanjutkan cerita. Tapi belum selasai pemuda ini menjelaskan semuanya,


Buuuuuuughh


Sebuah pukulan keras mendarat. Yahya sedikit meringis.


“Kauuuu….” Ilyas menunjuk Yahya dengan sedikit berjalan mundur. Matanya memperlihatkan kemarahan. Hampir saja Ilyas kembali melayangkan kepalannya namun pemuda ini beralih mencengkram kemeja yang Yahya kenakan.


“Katakan dimana Iqlima saat ini?!” Yahya menggeleng.


“Aku akan membawa mu menemuinya tapi tidak untuk saat ini. Dia masih mengalami trauma” Lirih Yahya.


“Aku harus tau dimana dia….. SEKARANG!!!!” Suara Ilyas memenuhi seisi taman. Teriakannya membuat tukang kebun terkejut.

__ADS_1


“Baiklah. kita pesan tiket pesawat. 3 hari lagi aku akan membawamu ke sana! Iqlima sekarang berada di kota Medan!” Ilyas merenggangkan cengkraman tangannya pada kerah Yahya dengan menghempasnya. Pemuda tersebut berlalu pergi meninggalkan Yahya dengan perasaan kacau.


***


Vroooooomm vrooooooom


Layla, anak kedua dari keluarga Pranawa mengikuti konvoi sunmori bersama pacar dan teman-temannya. Gadis berambut sebahu ini mengenakan jeans dan jaket kulit mengibar-ngibarkan bendera papan catur di sepanjang perjalanan.


“Wooooooo Huuuuu Hahahaha” Teriakannya mengambarkan ia sangat bahagia saat ini.


“I love youuuuuu” Teriak Razil, sang pacar dari atas motor. Layla mengeratkan pelukkannya.


“Kita ke villa-ku!” Layla mengangguk setuju. Mereka menjauh dari barisan sunmori.


“Apa villa ini memang sepi?” Tanya Layla saat mereka sudah masuk ke dalam sebuah villa mewah. Razil mengangguk. Ia membuka jaket dan langsung memeluk Layla dari belakang.


“Hanya ada kau dan aku saja…”


“Aku sangat mencintaimu” Bisik Razil di telinga Layla. Gadis belia ini meremang.


“Mas… Aku juga sangat mencintaimu… Jangan pernah menduakan aku!” Layla berbalik. Gadis ini memeluk erat sang pacar yang menggiringnya untuk semakin masuk ke dalam ruangan.


“Mana mungkin aku menduakan wanita secantikmu sayang…” Razil mengecup bibir Layla lalu menyesapnya. Layla berubah sendu. Pemuda yang sedang menempuh pendidikan pada sebuah Perguruan Tinggi Swasta itu mulai melepas jaket kulit yang Layla kenakan. Kini gadis itu hanya memakai tanktop dan celana jeansnya.


“Cantik sekali…” Razil kembali menyatukan bibir mereka. Layla semakin terbuai.


Hampir saja Razil menurunkan tali tanktop yang gadis cantik itu kenakan, suara handphone yang tiba-tiba berdering membuyarkan aktifitas mereka.


“Kamu dimana?! Pagi-pagi sudah kelayapan!” Cahyati, ibu Layla menelpon.


“Lagi… Hm… lagi di rumah teman, Ma!” Sahut Layla melirik Razil.


“Kamu segera pulang! Hajjah Aisyah dan Haji Zakaria akan bertamu ke rumah kita!” Tukas Cahyati.


“Memangnya mereka siapa sih, Ma? Kok Layla harus pulang begini?!” Gerutu Layla kesal.


“Mereka itu orangtua nya Yahya, calon suamimu kelak! Pokoknya kamu harus pulang sekarang! Mama ga mau tau!”


Tiitttt Tiiiittttt.


“Huft. Apa-apa aku dikekang!” Layla kembali menggerutu. Ia memakai jaketnya.


“Sayang… kamu mau kemana?”


“Mau pulang!” Ketus Layla. Razil mengacak-acak rambutnya. Kecewa.


***

__ADS_1


Bandara Kuala Namu, Medan.


Hati Ilyas berdegup tak karuan. Lebih dari setengah tahun ia tidak pernah bertemu dengan Iqlima. Matanya membentuk lingkaran hitam akibat tidak bisa tidur selama 3 hari ini. Hatinya mencelos mengingat betapa gegabahnya ia dalam menyimpulkan sesuatu. Iqlima-nya, Iqlima yang sudah ia kubur hidup-hidup di dasar hatinya itu ternyata masih bernafas di sana.


“Aku tidak menyangka bisa percaya pada pengkhianat sepertimu!” Ketus Ilyas.


“Aku dan kau sama-sama salah menduga. Andai kau yang terlebih dulu melihatnya, hatimu pasti akan lebih sakit dan terluka. Tapi kenyataannya Iqlima tidak melakukan apa yang dituduhkan! Ini memang masalah sudut pandang!” Yahya mencoba membela diri.


“Dan kau menyembunyikan hal ini selama berbulan-bulan?? Yahya! What the f*ck are you doing?!!” Ilyas menghela nafasnya berkali-kali. Yahya kehabisan kata-kata. Sebenarnya Ia merasa, sekarang inilah saat yang paling tepat memberitahukan semua kebenaran mengingat kondisi Iqlima yang masih tidak stabil. Semua kondisi serba tidak mendukung. Namun Yahya sadar, semua kekacauan ini memang kesalahan-nya. Yahya memilih diam dan menerima semua kemarahan Ilyas.


Iqlima masih menyelesaikan lukisannya di tahap akhir saat Yahya dan Ilyas tiba dikediamannya. Dokter Jelita yang memang memiliki jadwal kunjungan membukakan pintu.


“Dok, Iqlima ada?” Tanya Yahya berhati-hati. Dokter Jelita sudah tidak terkejut akan kehadiran Ilyas sebab Yahya telah menghubunginya terlebih dahulu.


“Iqlima… Hmh… Sebentar… Aku lihat kondisinya dulu” Dokter Jelita hendak menutup pintu.


“Dok… Ada tamu? Siapa?” Tiba-tiba Iqlima keluar menenteng lukisan berukuran sedang yang baru saja ia selesaikan.


“Hmh… Ini ada Yahya….” Mendengar nama Yahya Iqlima sumringah. Senyumnya langsung mengembang.


“Dan juga.…. Ilyas” Lanjut Dokter Jelita membuka pintu lebar-lebar. Nama yang tidak asing. Iqlima nyaris melupakannya.


Deg.


Mata Ilyas berkaca-kaca. Tuk sesaat Iqlima dan Ilyas saling menatap. Iqlima mematung. Kakinya terasa beku.


“Hmmmm” Deheman Yahya membuyarkan tatapan mereka. Ilyas dan Yahya melirik ke arah lukisan yang tengah Iqlima tenteng secara bersamaan. Hanya sedikit bagian saja yang terlihat. Seperti gambar seorang pemuda. Tapi siapa?


“Ayo masuklah… Hehehe” Dokter Jelita mencoba mencairkan suasana.


“Iqlima, apa kabarmu?” Tanya Ilyas masih berada di posisi yang sama. Yahya sudah masuk dan mengambil tempatnya.


“Seperti yang terlihat. Alhamdulillah aku sangat baik!” Sahut Iqlima datar dan terlihat seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Dokter Jelita mengamati pergerakan mereka. Ia bergantian melihat tatapan Ilyas dan tatapan Yahya terhadap Iqlima. Tatapan mata yang hampir sama.


“Masuklah, aku ambil minum dulu…” Ucap Iqlima beranjak ke dapur dengan kembali menenteng lukisannya. Ia mencoba ramah walau sikap dinginnya tetap terasa.


Ceklek.


Ternyata Iqlima bukan ke dapur namun malah masuk ke dalam kamar. Ia meletakkan lukisan. Lalu menenggelamkan kepalanya ke dalam bantal. Iqlima mulai menangis. Ia menangis tersedu-sedu memegang dadanya yang terasa sesak.


Seketika semua memori yang telah berlalu kembali menari-nari diingatannya. Ingatan tentang Hilman yang menyergap dan hendak melecehkan kehormatan nya di pantai Lampu’uk. Lalu di hari yang sama, Ilyas membatalkan rencana pernikahan mereka. Tepat di hari setelahnya, dengan berkejaran bersama waktu, Iqlima menyaksikan sendiri Ilyas berada di bandara. Laki-laki itu dengan mudah pergi meninggalkannya begitu saja tanpa ia tau apa kesalahannya.


Iqlima merasa sakit bukan karena patah hati. Bukan sebab ia putus cinta. Iqlima merasa terhina. Ia merasa dipermainkan. Seorang laki-laki yang begitu ia hormati mempermainkan komitmen yang sudah mereka sepakati dan memutuskan semua tanpa mempertimbangkan perasaan nya. Gadis yang sangat menjunjung tinggi harga dirinya tersebut, merasa terluka. Biar miskin, biar yatim piatu, biar hanya seorang relawan dan pekerja serabutan, tapi ia juga seorang wanita yang memiliki hati. Ia juga hamba Allah.


Banyak memori lain yang berputar-putar memenuhi kepala yang serasa mau meledak. Hadirnya Ilyas di hadapannya, kembali membuka semua luka lama.


Aku sudah mengatakan untuk jangan pernah kembali. Hiks.

__ADS_1


***


__ADS_2