Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)

Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)
Bab 83: Lipatan Harapan~


__ADS_3

"Kalau kau tidak mau membuka mata, maka aku akan menggelitikimu. Satu... Dua..." Yahya mulai menghitung.


Klik


Mata Iqlima langsung terbuka lebar. Beberapa saat pandangan mereka bertemu. Iqlima mengerjap-ngerjapkan matanya. Yahya menatapnya seduktif tapi malah berbalik arah dan berjalan menuju pintu.


"Bang, mau kemana?" Tanya Iqlima spontan.


"Kembali ke kamar! " Ketus Yahya.


Hhhh. Sepertinya bang Yahya masih marah padaku. Iqlima tertunduk lesu. Sesaat ia menoleh saat Yahya sudah memegang gagang pintu.


"Bang... Tunggu... " Pekik Iqlima bangkit berdiri. Namun sayang, untuk kesekian kali ia terjerat selimut yang menutupi tubuhnya.


Brruuuk


Awwww. Iqlima terjatuh. Cukup keras. Yahya menoleh. Ia melihat Iqlima mencoba berdiri walau sekalipun telah tersungkur.


"Hhhh Ada apa? " Tanya Yahya dengan wajah datar.


"A... Aku cuma mau bilang terima kasih. I.. tu saja! " Sahut Iqlima berhati-hati. Yahya menuju laci dan mengambil salap.


"Oleskan ini diluka memarmu! Dasar ceroboh! " Cebik Yahya. Ia kembali berbalik menuju pintu setelah menyodorkan obat tersebut. Namun,


Sreeg.


Tiba-tiba Iqlima memeluk Yahya dari belakang.


"Aku minta maaf... Benar-benar minta maaf" Lirih Iqlima menahan rasa nyeri dikakinya. Yahya mematung.


"Bang, maafkan aku... "


"Aku sudah memaafkan mu! Sekarang tidur lah! " Titah Yahya menahan gemuruh didadanya. Ia melepaskan tangan Iqlima yang melingkar di tubuhnya. Yahya khawatir ia tidak bisa mengontrol diri jika berlama-lama berada didekat wanita tersebut.


Sreegg


Iqlima kembali memeluknya. Kali ini lebih erat. Ia tidak mampu lagi membendung rasa rindunya. Iqlima seolah enggan membiarkan Yahya pergi. Pemuda tersebut meletakkan tangannya di atas tangan Iqlima. Pelukan kembali ia longgarkan. Yahya berbalik. Ia menatap lekat-lekat manik mata Iqlima yang berkaca-kaca. Yahya menangkupkan tangannya pada kedua pipi tersebut. Perlahan-lahan wajah Yahya mendekat. Dengan segenap perasaan, sepenuh hati, setulus jiwa. Yahya meletakkan bibirnya di atas bibir Iqlima. Waktu seolah berhenti. Hanya ada mereka. Yahya dan Iqlima saja.


***


Plaaakkk.


Pagi ini. Sebuah tamparan keras mendarat. Bunyinya menggema memenuhi seluruh penjuru kamar yang kedap suara.


"Umm... Ummi... " Iqlima memegang pipinya. Ia terkejut bukan kepalang. Pagi-pagi sekali sepeninggal Yahya ke kantor hajjah Aisyah langsung menemuinya.


"Wanita tak tau diri! Tidak tau diuntung! Tidak tau membalas budi!" Cerca hajjah Aisyah bertubi-tubi. Iqlima menunduk.


"Kau.... " Hajjah Aisyah menunjuk Iqlima dengan tangan kirinya.


"Wanita yang tidak punya hati! Kau menahan Yahya di sini dan membiarkan Layla semalaman berada sendirian di kamarnya!" Hajjah Aisyah benar-benar berang. Wajah putihnya memerah. Pengaduan Layla membuatnya murka. Bibir Iqlima terasa kelu. Ia tidak mampu menjawab.


"Dua tahun sudah kau dan putraku menikah, apa masih kurang?? Seharusnya kau memberikan kesempatan pada Layla. Mereka masih pengantin baru! Kau benar-benar wanita tidak beradab. Kau minim akhlak! Tidak punya hati nurani!! " Hajjah Aisyah melanjutkan caci makinya. Pertahanan Iqlima runtuh. Airmatanya mengalir deras tanpa bisa ia tahan.


"Kau sebagai wanita mandul yang tidak bisa memberikan keturunan, seharusnya tau diri! Kalau Yahya terus saja menempel padamu, bagaimana bisa mereka menciptakan suasana tenang, romantis dan damai? Kau bisa menjadi penghambat atas kehamilan Layla! " Tukas Hajjah Aisyah tajam. Iqlima memegang dadanya yang terasa sesak. Sangat sesak.


"Aku tidak mau tau, Aku harap ini kali terakhir kau berbuat curang dengan mencegat Yahya bersamamu! Sudah seharusnya kau mengalah demi cinta mereka, demi keturunan yang akan menantuku lahirkan sebagai penerus sah keluarga ini! " Lanjut hajjah Aisyah. Beliau berbalik arah hendak keluar. Namun langkahnya kembali terhenti.


"Oh iya... Kalau nanti kau sudah kembali dari kampus, sebaiknya kau ikut terjun ke dapur membantu Tini mencuci piring atau mengerjakan pekerjaan rumah lainnya! Kau sudah terlalu banyak mendapatkan kelonggaran dari Yahya! Jangan manja hanya karena mentang-mentang kau dinikahi oleh seorang pimpinan pesantren! Kau juga harus tau dan ingat dimana sebenarnya kedudukanmu! "

__ADS_1


Brakkk. Hajjah Aisyah membanting pintu kamar setelah menyelesaikan kalimatnya. Iqlima terduduk lemas. Ia membungkam mulutnya dengan telapak tangan. Tangisan tak bersuaranya sudah cukup menggambarkan apa yang Iqlima rasakan saat ini.


***


Sudah dua minggu terakhir sejak ia menikahi Layla, Yahya belum juga bisa menyentuh istri keduanya tersebut. Ia juga tidak mengerti apa yang terjadi pada dirinya. Tubuh Yahya sama sekali tidak bereaksi. Ia seperti tidak memiliki g*irah apapun kecuali terhadap Iqlima.


Dua minggu belakang ini, sejak malam terakhir dengan hebat nya mereka memadu kasih, Iqlima tidak ingin lagi ia temui. Iqlima berkata ia hanya ingin Yahya fokus membersamai Layla.


Yahya sudah berusaha semampunya. Namun apa daya, ia masih belum mampu memenuhi tugasnya sebagai seorang suami. Karena hal ini ia jadi merasa bersalah pada istri keduanya tersebut. Gadis muda belia yang hampir sebulan ia nikahi belum pernah mendapatkan nafkah batin darinya.


Ceklek


Yahya membuka pintu kamar. Layla langsung menyambut dengan memeluknya.


“Mas, aku kangen sekali! Mas kemana saja?” Lirih Layla bertanya manja.


“Berkemaslah!” Titah Yahya.


“Berkemas? Untuk apa? Apa mas mau mengusirku??” Layla sedikit terkejut. Ia merenggangkan pelukannya.


“Kau memilih hotel Ardh Co atau hotel Xanders?”


“Ho.. Hotel? Hmh…” Layla berpikir sejenak.


“Pemandangan hotel Ardh Co lebih indah” Sahut Layla dengan kening mengerut.


“Baik. Malam ini kita akan menginap di sana!”


“Kita? Berdua saja? Benarkah?” Mata Layla sontak berbinar. Yahya mengangguk.


“Anggap saja sebagai bulan madu yang tertunda” Lanjut Yahya lagi.


“Apa janji mas akan segera mas penuhi?” Yahya menatap Layla lekat-lekat lalu kemudian mengangguk.


“Terima kasih mas! Aku tau mas seorang suami yang adil!” Layla kembali mengeratkan pelukan. Yahya mengangkat kedua tangannya, dengan menghela nafas perlahan ia membalas pelukan sang istri.


Mungkin dengan cara ini bayang-bayang Iqlima akan redam sementara dari pikiranku dan aku bisa melakukan tugasku dengan baik. Ucap batin Yahya menatap kosong kesembarang arah.


Iqlima, lihatlah… Bagaimana perlahan-lahan aku akan merebut mas Yahya darimu! Aku akan membuatnya mabuk kepayang dan hanya akan melihatku selamanya. Diam-diam ekspresi wajah Layla berubah. Ia menaikkan sebelah alisnya ke atas.


“Sekarang Aku ke kantor dulu!” Yahya melepaskan tangan Layla yang melingkari tubuhnya. Layla mengangguk.


Nilam, kau hebat! Saran darimu untuk menjadi wanita lemah dan tersakiti membuat mas Yahya luluh. Dalam waktu dekat ini aku pasti akan mengajakmu ke restauran dan belanja pakaian mewah! Ketik Layla setelah Yahya keluar dari kamar.


Nilam itu… Hmh not bad.. Dia bisa menjadi pengikut setiaku! Setahun belakangan performanya begitu baik. Layla mengangguk-angguk puas. Matanya melirik ke arah lemari. Dengan cepat ia membuka dan memilih berbagai macam pakaian yang ada di sana. Layla dengan antusias mempersiapkan yang terbaik. Ia juga tak segan menghubungi butik langganannya untuk mengirimkan beberapa pakaian terbaru. Terakhir, ia mengambil handphone menghubungi seseorang.


“Nanti malam aku dan mas Yahya akan menginap di hotel. Aku serahkan Iqlima padamu! Terserah kau mau melakukan tindakan apa!” Ucap Layla pada orang tersebut. Ia menutup panggilannya dengan wajah sumringah.


Aku merindukanmu. Aku merindukanmu dengan segala ke-alpaan-ku. Walau berjuta kali hatiku mengatakannya, namun rasa ini tetap tidak bisa dengan mudah terobati. Maafkan aku, dengan sangat menyesal kukatakan.... Yahya menghela nafasnya sejenak.


Maaf jika aku tidak bisa menjaga diriku hanya untukmu. Yahya memejamkan matanya. Ia kembali membuang nafas, menetralisir luapan perasaan yang begitu mendera hebat.


Drrrttt Drrrtttt


Handphone Yahya bergetar. Panggilan dari Rusdi membuyarkan lamunannya.


“Gus, saya sudah mengetahui siapa dalang dibalik penjebakan!”


“Benarkah? Siapa dia?!” Tanya Yahya ber nada tinggi dengan berbisik.

__ADS_1


“Seorang tokoh terkemuka pada kampung di mana nona Iqlima berasal…” Yahya masih menunggu kelanjutannya.


“Dia adalah Syarifuddin. Biasa dikenal dengan sebutan Ampon Din!” Yahya terdiam mengingat-ingat siapa orang yang dimaksud.


“Saya memiliki beberapa barang bukti dan rekaman kesaksian warga! Saya tinggal mencari bukti terkuat dan dengan segera bisa menjebloskannya ke penjara!” Lanjut Rusdi.


“Apa tidak mengerti apa motifnya!”


“Dia adalah ayah dari orang yang telah membunuh suami pertama nona Iqlima. Mungkin beliau ingin balas dendam dengan mempermalukan nona dan membuat nona Iqlima...hmh maaf... dikenakan hukum cambuk!” Sahut Rusdi.


“A.. Apa??!” Yahya terperangah.


“Banyak orang terlibat di sana! Tidak hanya beliau saja. Tapi jika beliau tertangkap, mungkin akan memudahkan kita untuk menjebloskan penjahat lainnya!” Lanjut Rusdi. Yahya tampak berpikir.


“Bagaimana Gus? Apa saya langsung membuat laporan pada kepolisian? Akan saya kirimkan file-filenya segera pada Gus melalui email!”


Kalau dia dipenjara dan semua terbongkar pasti akan menimbulkan masalah untuk pernikahanku dan Iqlima. Semua pihak akan mencari cara agar kami berpisah.


“Gus… Gus…”


“eh, iya?”


“Apa saya sudah bisa langsung membuat laporan pada polisi?” Rusdi mengulang pertanyaannya.


“Tunggu, kita pending saja dulu. Kita juga tidak boleh gegabah! Biarkan aku mempelajari bukti-buktinya! Yang penting turunkan beberapa asisten untuk terus mengawasi orang tersebut! Sementara, aku juga akan memerintahkan orang untuk mengawal kemanapun Iqlima pergi!” Titah Yahya.


Ini tidak seperti Gus Yahya. Bila bukti sudah berada di depan mata, seharusnya Gus Yahya menindak tegas bukan malah membiarkan masalah berlarut. Rusdi mengerutkan keningnya. Heran.


“Rus, tolong kirimkan foto Ampon Din juga anaknya yang berada dalam tahanan sekarang juga! Aku lupa bagaimana rupa mereka” Titah Yahya.


“Baik Gus!”


“Rus, kau telah bekerja keras! Terimakasih untuk semua upayamu. Aku sangat menghargainya!” Ucap Yahya. Ia menutup handphone setelah menitahkan Rusdi untuk mengambil hadiah yang telah ia persiapkan.


Yahya membuka laci kerjanya. Ia melihat sebuah buku yang sempat ia ambil dari laci kamar utamanya 2 minggu lalu. NOOR. Yahya mulai membuka halaman demi halamannya. Ia memilih pada bagian tengah terlebih dahulu.


Lipatan 205A:


Pagi ini aku dikejutkan oleh panggilan Maryam. Ia berkata bahwa kakek sudah berada di kediaman Ampon Din. Kakek memohon pada keluarga mereka agar Hilman mau meminangku untuk kedua kalinya. Aku terkejut bukan kepalang. Dengan perasaan marah dan jantung berdetak tidak karuan aku pergi menjemput kakek. Seperti yang Maryam katakan, di sana kakek sudah berlutut memohon dengan mengemis pada Ampon Din agar Hilman sudi menerimaku untuk kedua kalinya, aku ditawar seperti seonggok daging busuk tak berharga yang tiada sesiapapun menginginkannya. Aku marah, aku malu, aku benci. Namun airmata kakek membuat hatiku luluh. Aku sadar, bahwa kakek hanyalah seorang kakek yang menginginkan terbaik untukku.


**Di rumah Ampon Din, para warga mulai menyoraki kakek. Kedatanganku ke sana semakin menambah hujatan mereka. Aku mulai menangis, menyeru dan membujuk kakek untuk mau pulang bersama. Namun dasar kakek yang keras kepala, kakek tetap saja berlutut dan memohon, padahal Ampon Din sudah jelas-jelas menolaknya.


Warga mulai melempari kami dengan aqua bekas. Aku mencoba untuk bisa memahami mengapa mereka tidak memiliki rasa empati**. Sifat dan sikap kakek yang buruk membuat mereka hilang rasa.


Tidak sampai di situ saja, tadi itu bukan hanya warga yang meneriaki kami. Kakek malah ikut mengeluarkan sumpah serapahnya padaku. Kakek menyebutku bodoh dan tidak tau diri di depan semua orang. Penolakan terhadap pinangan Hilman membuatku di cap sebagai wanita miskin yang tinggi hati. Tidak tau diri. Lupa daratan. Bagaimana tidak? Menikah dengan Hilman dipastikan akan membuatku sejahtera. Aku tidak perlu bersusah payah memikirkan materi karena ia adalah salah satu orang terkaya di desa.


Tapi berbicara tentang pernikahan, tentu saja bukan hanya persoalan materi. Aku berdiri tegar di atas prinsipku sendiri karena aku tidak ingin menjadi istri ketiganya. Aku benar-benar tidak ingin menjadi orang kedua atau diduakan.


Tidak boleh kah seorang gadis rendahan sepertiku berharap ...Kalau aku menikah nanti... maka aku hanya akan menjadi satu-satunya wanita yang dicintai? Satu-satunya orang yang dinikahi sampai aku menghembuskan nafas terakhirku...? Apa keinginanku ini terlalu muluk?


Membaca kalimat demi kalimat yang Iqlima tuliskan membuat Yahya tercenung seketika.


***


Berikan Komentar Terbaikmu 💙💙💙


#event_10


@alana.alisha 🙏

__ADS_1


__ADS_2