
“Asalkan kau mau…”
“No! Tidak bang Yahya! Mana mungkin….” Tolak Iqlima dengan wajah bersemu.
“Mengapa tidak mungkin? Bukankah kita ini suami istri?” Ucap Yahya. Ucapan tersebut membuat Iqlima bungkam.
“Ini ide gila! Aku tidak mungkin keluar dari asrama ini! Kalau jiddah mengetahuinya, hukumanku akan bertambah berat! A.. Aku tidak akan sanggup…” Aku Iqlima jujur.
“Baiklah, biar aku yang menanggungnya… Sekarang juga aku akan menemuimu!” Sahut Yahya lantang. Iqlima menggeleng.
“Itu jauh lebih gila! Lagipula ini asrama santriwati! Mana boleh bang Yahya sembarangan keluar masuk ke sini!” Cegah Iqlima. Yahya mengerutkan kening tampak berfikir. Lalu kemudian ia menaikkan sebelah alisnya ke atas menunjukkan smirk.
“Yang kau katakan benar juga! Hmh… Kalau itu yang kau inginkan… Baiklah!” Sahut Yahya. Tidak bisa dipungkiri, jawaban akhir Yahya membuat Iqlima merasa kecewa.
Teng Teng Teng Teng Teng
Bell asrama santriwati berdentang lebih dari tiga kali. Petugas satpam di luar sana mendentangkan nya tanpa ragu. Mendengar bunyi tersebut para ustadzah yang bertugas saling menatap satu sama lain. Jantung mereka nyaris meloncat dari tempat. Pasalnya bell yang berbunyi lebih dari tiga kali menandakan adanya inspeksi dari Hajjah Aisyah atau Yahya. Itu artinya pemeriksaan berkala akan dilakukan. Nama baik para pengasuh ikut dipertaruhkan.
“Gawat! Mengapa bisa dadakan sekali? Tidak seperti biasa... Cepat siapkan para santri! Cek semua hal… Jangan sampai terlihat adanya pelanggaran!” Titah salah satu dari mereka cemas.
“Baik!” Masing-masing ustadzah asrama langsung bergerak cepat menghubungi santriwati senior dan ustadzah asuh. Bell penting dadakan ini terasa cukup mengagetkan.
Tap Tap Tap
“Mbak Ayi… Mbak Ayii… Mbak mau kemana?” Nilam dengan gesit mengikuti Ayi yang berjalan setengah berlari.
“Aku harus menyambut Gus Yahya di depan!”
Dia benar-benar sudah tidak waras! Nilam menggeleng-gelengkan kepala nya.
“Mbak, Gus Yahya sudah jadi milik perempuan itu..” Ucap Nilam. Ayi sontak mematung di tengah jalan.
“Perempuan itu berhasil merebut beliau. Jadi tidak ada gunanya mbak menaruh harapan!” Bisik Nilam tajam penuh penekanan. Hati Ayi mencelos. Kenyataan Iqlima lebih unggul melampaui nya sudah jelas membuat harga dirinya terluka.
“Kita semua tau bahwa Iqlima memang wanita yang tidak tau malu! Dia benar-benar wanita murahan! Dia tidak hanya merebut Gus Yahya dari mbak, tetapi juga dari Ning Layla. Istri sah beliau yang kedudukannya sudah jelas!” Lanjut Nilam lagi. Hati Ayi semakin panas. Sakit hati di waktu-waktu sebelum nya juga belum pulih.
Sreett
Suara pintu gerbang yang dibuka lebar terdengar. Yahya yang di dampingi asisten, para ustadz dan ustadzah senior memasuki gerbang. Jubah dan sorban kebesaran nya yang berwarna putih bersih telah rapi digunakan. Kaca mata baca berlensa hitam transparan menambah pesonanya berkali lipat.
Ayi yang berada di tengah jalan merasa gamang. Nilam telah kabur terlebih dahulu. Gerakan lincah yang dibarengi dengan tubuh langsing membuatnya dengan mudah melesat. Ayi terpaku. Ia tidak berpindah. Matanya seketika berkaca-kaca. Pangeran berkuda putihnya tiba. Walau pemuda tersebut telah memiliki dua istri, namun cinta yang ia miliki sedikitpun tidak berkurang. Bukankah syari’at mengatakan bahwa laki-laki boleh memiliki dua, tiga, bahkan empat istri sekaligus? Lalu apa salahnya?
“Awwww…” Ayi berteriak keras. Darah seketika menetes-netes dari jari jemari nya. Yahya dan rombongan dengan cepat datang menghampiri.
“Astagfirullah... Ada apa denganmu? Apa kau baik-baik saja?” Tanya ustadzah senior cemas. Ayi meringis. Di jalan yang beralaskan batu alam terlihat sebilah pisau berkilau darah segar.
“Kau membawa pisau? Untuk apa?!” Ustadzah senior kembali bertanya. Mata Ayi melirik Yahya yang dengan santai melepas sorban putihnya.
“Balut jari jarinya dengan kain ini! Segera bawalah ia ke unit kesehatan!” Titah Yahya pada ustadzah. Ayi terpana. Strategi dadakan nya terbilang berhasil.
"Kau belum menjawab mengapa ada pisau di tanganmu! " Ustadzah senior hendak membalutkan sorban tersebut namun Ayi dengan cepat menyambarnya.
“Bi… Biar saya balut sendiri saja… Hmh... I.. Ini... Pisau yang tidak sengaja melukai jari ini... Hmh... Milik Iqlima... Maksudnya milik nona Iqlima..." Lirih Ayi terbata.
__ADS_1
Milik Iqlima? Yahya mengerutkan kening nya.
Duh! Mengapa aku harus menyebut namanya? Ayi yang langsung digiring oleh ke unit kesehatan merasa sedikit menyesal. Ia berjalan sambil terus menoleh ke belakang.
Yahya yang langsung memisahkan diri dari rombongan setelah menitahkan para Asatidz melakukan inspeksi pada para santriwati tak luput dari penglihatan nya.
Para santriwati yang mengagumi sosok Yahya seketika merasa kecewa. Sosok yang jarang terlihat itu kini juga enggan menunjukkan batang hidungnya.
Ceklek
Pintu kamar terbuka. Terlihat Iqlima tengah melakukan shalat sunnah. Yahya tersenyum. Ia yang mendapatkan kunci kamar dari Sri bisa dengan mudah merealisasikan niatnya.
“Mbak Sri datang? Kenapa bell berbunyi lima kali ya mbak? Tidak seperti biasanya!” Tanya Iqlima setelah selesai shalat tanpa menoleh. Yahya mendekat. Ia langsung memeluk istrinya dari belakang. Parfum Yahya menyeruak. Iqlima terkejut bukan kepalang.
"Bang Yahya benar-benar ke sini?! Bagaimana bisa?!" Iqlima bangkit dari duduknya. Wajah terkejutnya terlihat cerah.
"Mengapa tidak bisa? Aku pimpinan di sini! " Yahya menaikkan dagunya ke atas. Wajah cerah Iqlima redup seketika.
"Tidak bisa! Bang Yahya... ini asrama santriwati! Ini tidak pantas... Ayoo bang Yahya keluar... Ayooo..." Iqlima menarik lengan Yahya untuk di giring ke pintu.
"Hey, tunggu... tenanglah!"
"Bagaimana aku bisa tenang... Bang Yahya menyelinap masuk ke asrama santriwati begitu saja. Kalau ada dari mereka yang belum siap bagaimana? Kalau ada yang auratnya terlihat bagaimana? " Iqlima mempoutkan bibirnya. Yahya mengaruk-garuk daun telinganya yang tidak terasa gatal.
"Kau cerewet sekali! Siapa bilang aku menyelinap? Aku masuk ke sini dengan resmi! Bukan kah kau mendengar dengan jelas bell lebih dari tiga kali berbunyi?! "
"Ja... Jadi? " Yahya mengangguk-angguk seolah mengerti apa yang ada di pikiran sang istri. Iqlima tercengang. Namun perlahan ia beringsut mundur.
"Apa yang kau lakukan? "
"Layla? Dia baik-baik saja... "
"Bagaimana dengan kandungannya? " Tanya Iqlima lagi dengan hati perih. Ia memilih duduk di atas kasur masih dengan tanpa melihat Yahya.
"Kandungan nya baik-baik saja... Insya Allah tidak ada yang perlu dikhawatirkan... " Sahut Yahya santai. Ia ikut duduk di samping Iqlima. Wanita tersebut mengangguk-angguk pahit memberikan senyum nya.
"Tadi Aku bertemu salah satu santriwati... Katanya ia membawa pisau milikmu! Kenapa kau membawa masuk pisau ke sini? " Tanya Yahya mengalihkan pembicaraan.
"Siapa dia? Pisau apa? Aku tidak membawa pisau...!"
"Oh... Kalau begitu sudahlah... Lupakan saja... "
"Bang Yahya berbincang lama dengannya? "
"Hanya sebentar... "
"Berdua saja? " Selidik Iqlima.
"Hahaha... " Yahya tertawa lepas.
"Kenapa tertawa? "
"Kau sangat menggemaskan ketika cemburu"
__ADS_1
"Siapa yang cemburu? Aku hanya merasa tidak pantas saja jika laki-laki yang sudah memiliki dua istri dan sudah om-om masih sempat menggoda gadis belia! " Ucap Iqlima setengah menuding dnegan mensedekapkan tangannya.
"A... Apa? Aku? Om-Om? Ha....!" Yahya ternganga. Ia tidak menyangka kata om-om meluncur dari mulut Iqlima.
"Iya, om om genit... "
"Hey, aku ini sangat tampan dan masih muda belia! " Protes Yahya.
"Ya.. Merasa diri muda belia dan masih bisa menggoda siapa saja! "
"Hahaha... Ternyata memang benar... Semakin merasa cemburu, maka omongan seorang wanita semakin mengada-ada! Kau ketahuan...Kau memang pencemburu!"
"Sudah kukatakan kalau Aku sama sekali tidak cemburu!!" Protes Iqlima. Yahya membawa wanita tersebut ke dalam pelukannya.
"Aku sengaja ke sini... merencanakan ini semua hanya untuk bisa bertemu dengan mu... " Bisik Yahya. Iqlima sontak menatap Yahya. Tatapan mereka bertemu.
"Kalau jiddah tau bagaimana? "
"Sssssttt... " Yahya meletakkan telunjuk nya di bibir ranum Iqlima.
"Bagaimana mungkin beliau bisa memisahkan wanita dan pria dewasa yang telah menikah? Kau tau? Belum menemuimu, hanya memikirkan mu saja rasanya aku akan gila! Kau membuat ku tidak berhenti memikirkan mu... Isi kepala ku hanya ada kau seorang! " Aku Yahya. Kata-kata yang hampir sama seperti yang pernah ia katakan. Iqlima tersenyum masam. Saat ini Yahya tengah menginginkan nya. Suaminya menginginkan nya. Layla tengah mengandung. Tubuh nya tengah lemah. Mungkin saja tengah mual dan muntah. Jadi sekarang Yahya hanya membutuhkan nya. Ya, Yahya butuh.... dirinya semata.
Tanpa di suruh, Iqlima membuka mukena panjangnya. Disebaliknya, ia hanya memakai kaos lengan panjang yang ketat. Lekukan tubuh Iqlima membuat Yahya menyala. Tanpa aba-aba Iqlima langsung meloloskan kaos ketat tersebut dari tubuhnya. Yahya terpana.
"Ka... Kau... " Yahya dengan cepat menarik selimut menutup bagian tubuh Iqlima yang terbuka. Ia melihat ke arah jendela takut-takut ada bagian yang belum tertutup rapat.
"Lakukanlah... Bang Yahya menginginkan ku kan? Aku sudah siap! " Ucap Iqlima bergetar. Yahya menyambut nya dengan tersenyum penuh haru. Ia mengusap pipi Iqlima dan membawa wanita tersebut ke peraduan. Yahya menarik selimut menutupi tubuh mereka. Ia memperlakukan Iqlima dengan sangat baik dan penuh kelembutan. Ia mencurahkan segala kerinduan yang sudah bertumpah ruah di sana. Mata Iqlima basah. Hatinya resah. Jiwanya gelisah.
Apakah bang Yahya juga memperlakukan Layla begini?
...****************...
"Apa?! Sri mengatur pertemuan Yahya dan Iqlima?! Nilam, apa kau benar-benar yakin?"
"Saya sangat yakin, Ummi Hajjah! "
"Anak bau kencur itu... Huh! " Hajjah Aisyah benar-benar menahan geram.
"Baik! Pergi dan kembalilah ke tempatmu! "
"Baik Ummi Hajjah! " Ucap Nilam langsung beranjak pergi. Ia diam-diam tersenyum. Informasi yang ia dapatkan dari Ayi tidaklah sia-sia. Karena cintanya, gadis itu benar-benar ingin melenyapkan Iqlima. Ia menggali informasi kilat sebanyak-banyaknya. Kini selain menjadi pesuruh Layla, karir Nilam sudah merambah sampai ke Hajjah Aisyah.
"Yahya benar-benar sudah tidak bisa diatur! Ucapan dan peringatan ku benar-benar hanya angin lalu untuknya!" Hajjah Aisyah memijat pelipisnya.
"Dik Aisyah... Sri itu... dia sangat kurang aj*r! Usir saja dia! " Ucap Hajjah Wirda yang datang berkunjung karena Hajjah Aisyah menghubungi nya.
"Tidak bisa kak Wirda... Anak itu menyimpan semua rahasiaku! Aku masih tetap harus bersikap manis padanya! Tapi aku sangat tidak menyangka ia bisa se lancang ini! Aku akan mencari cara bagaimana mengatasinya kelak! " Sahut Hajjah Aisyah menggigit bibirnya menahan marah. Hajjah Wirda menghela nafas.
"Aku merasa kasihan pada Yahya. Ia tidak berkutik seperti kerbau yang di cucuk hidungnya menghadapi Iqlima. Padahal seharusnya ia memperhatikan Layla. Satu-satunya orang yang mengandung buah hatinya! "
"Aku benar-benar pusing memikirkan Yahya kak! Aku tidak tau cara apa lagi yang harus kugunakan untuk memisahkan mereka! Iqlima seperti pohon nafas yang kokoh! Akarnya mencengkram kuat jiwa, raga dan juga mental Yahya! Lama-lama akar yang kokoh tersebut bukan hanya sekedar mencengkram, namun juga menjalar ke seluruh tubuh Yahya dengan cara melilitkan nya! " Ucap Hajjah Aisyah. Hajjah Wirda merinding. Pesona Iqlima sangat luar biasa. Wanita kaya raya itu memang sangat mahal. Ia benar-benar bibit unggul yang bisa menarik perhatian siapapun.
Iqlima... Calon memang menantu paripurna ku... Tenang Ilyas... Aku akan membawa Iqlima untuk mu... Hajjah Wirda menaikkan sebelah alisnya ke atas.
__ADS_1
"Dik Aisyah... Apa kau mau mendengarkan aku? Aku akan membisikkan sesuatu yang akan membuat rasa sakit di kepalamu lenyap seketika... " Tawar Hajjah Wirda. Hajjah Aisyah sontak mendongak.
...****************...