Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)

Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)
Bab 113: Andai Tidak Ada Iqlima Di Antara Kita


__ADS_3

“Are you okay?” Tanya Yahya pada Layla setibanya mereka di Bandara Los Angeles. Gadis tersebut tampak pucat. Sedari tadi Layla sibuk mengusap-usap lengannya.


“Entah mengapa aku merasa kedinginan padahal suhu di sini terpantau hanya 20 derajat” Lirih Layla merasa mual. Yahya langsung membuka coat dan membalutkan ke tubuhnya.


“Setelah urusan di imigrasi selesai, kita langsung ke rumah sakit”


“Tidak. Aku baik-baik saja, mas! Aku hanya merasa sedikit kedinginan”


“Bagaimanapun kita tetap harus memeriksa keadaan mu dan bayi kita” Tegas Yahya memegang kedua pundak Layla dari belakang. Menggiring wanita tersebut menuju imigrasi.


“Mas, aku kepengen makan Gudeg”


“Gudeg?” Yahya sedikit terkejut. Layla mengangguk. Yahya terdiam. Layla menarik-narik ujung baju Yahya. Ia merengek seperti anak kecil yang tengah meminta permen.


“Tidak ada Gudeg di sini. Bagaimana kalau nasi padang saja? Aku pernah nemu Restauran Padang yang enak di sini” Bujuk Yahya. Ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal saat Layla menggeleng tegas.


“Pokoknya aku mau gudeg, mas!”


“Gus, koper dan tas lainnya sudah di mobil. Gus dan Ning akan di antarkan menuju hotel oleh Mr. Franklin!” Ucap asisten Yahya yang tergopoh-gopoh menghampiri mereka.


“Kami akan ke rumah sakit ibu dan anak terlebih dulu” Ucap Yahya membantu Layla masuk ke dalam mobil.


“Oh iya, istriku ingin makan Gudeg. Tolong bawakan Gudeg ke hotel!”


“Gu… Deg?” Asisten Yahya sejenak mematung. Ia mencerna kata-kata atasannya tersebut. Hampir saja ia akan mengajukan protes namun mobil yang ditumpangi Yahya sudah lebih dulu melesat jauh. Meninggalkannya di LAX (Los Angeles World Airport) seorang diri dengan tugas berat.


Oh Tuhan…. Aku harus mencari gudeg dimana?


Tit tit tit


"Halo... "


“Ning Layla ingin makan gudeg, tolong periksa semua restaurant Indonesia yang ada di LA… pastikan gudeg ada dan bisa di beli”


“Apa?! Gudeg? Yang benar saja?! Kalau tidak ketemu bagaimana?!” Protes yang lainnya dari seberang telepon.


“Kau tidak ketemu ya kau masak saja! Pokoknya bagaimana caranya harus ada gudeg!” Tegas asisten Yahya dan langsung mematikan panggilan nya.


Tut tut tut


Huh. Menyusahkan saja!


Mobil yang Yahya dan Layla tumpangi keluar dari pintu utama bandara megah menuju pusat kota.


Drrrttt Drrrtttt


Handphone Layla bergetar. Gadis tersebut mengabaikannya. Ia lebih memilih bergelayut manja di lengan Yahya seraya melihat ke luar jendela. Pemandangan pohon-pohon Palem berjajar di jalan Beverly Hills selalu saja menyihir mata. Padahal ini bukan pertama kalinya ia ke LA.

__ADS_1


Layla bahkan pernah berlibur berdua saja bersama kakaknya yang sudah almarhumah di temani oleh para bodyguards yang Arya sewa. Bayangan masa lalu seketika memenuhi pikirannya. Layla berkaca-kaca. Aneh. Ia selalu menguatkan hati untuk tidak menangisi hal-hal pahit di hidupnya. Bahkan saat kakaknya meninggal, Layla tidak sedikitpun mengeluarkan airmata. Tapi entah mengapa, saat ini bahkan airmatanya mengalir deras.


“Kau menangis?” Bisik Yahya menyadari lengannya basah.


“Mas janji tidak akan meninggalkanku kan?” Tanya Layla. Mata indahnya menatap manik Yahya lekat-lekat. Pemuda tersebut terpaku sejenak lalu kemudian mengangguk.


“Apapun yang terjadi?”


“Selama kau adalah ibu dari anak-anakku, aku tidak akan pernah meninggalmu”


“Aku takut mas, aku takuut… hiks hiks” Lanjut Layla. Yahya membawa istri mudanya tersebut ke dalam pelukan. Harum segar menguar.


Iqlima… Gumam Yahya tak bersuara. Ia spontan melepaskan pelukan nya pada Layla. Harum Iqlima memenuhi penciumannya.


“Kenapa mas?”


Mengapa harum Iqlima ada pada Layla? Pikir Yahya memegang kepalanya. Tiba-tiba ia merasa pusing.


"Mas... mas kenapa? " Layla mengguncang lengan Yahya.


“Tidak.. jangan menangis lagi. Sekarang kita ke rumah sakit untuk menjenguk bayi-bayi kita. Bertemu dengan mereka, perasaanmu harus bahagia, hmh?” Sahut Yahya lembut dengan mengusap pipi Layla. Gadis tersebut hanya bisa mengangguk.


Ah, andai tidak ada Iqlima diantara kita, mas….!


Drrrttt Drrrttt


Assalamu’alaikum Nona...


Saya Raafi, kita pernah bertemu di club beberapa bulan yang lalu. To the point saja... maaf, saya memiliki beban moril setelahnya. Sampai sekarang peristiwa yang terjadi di malam naas itu selalu saja menghantui saya. Semoga nona bisa membalas pesan ini dan mengabarkan bagaimana kabar dan keadaan nona sekarang. Apapun itu saya merasa kita harus menyelesaikan permasalahan ini. Jika pun harus mempertanggungjawabkannya, insyaAllah saya akan siap sedia. Terima kasih.


Note: Saya benar-benar berjuang mencari nona beberapa bulan terakhir.


Layla membelalakkan matanya membaca pesan Raafi.


Shiiit. Umpat Layla.


Jantungnya hampir saja meloncat keluar. Ia murni sudah melupakan kejadian yang paling tidak ingin di ingat nya itu. Kejadian kelam itu sudah Layla kubur dalam-dalam. Ia sudah mendoktrin seluruh tubuhnya bahwa Yahya-lah ayah dari anak kembar yang tengah ia kandung.


Semua memang belum sah selama Yahya belum menyentuhnya. Namun di negeri paman SAM ini Layla sudah bertekad bahwa ia akan mencetak rekor baru. Namun seketika Raafi merusak segala mood baik nya.


......................


“Astaghfirullah…. Memang menantu bej*d! Bisa-bisanya Yahya jatuh cinta dengan wanita murahan seperti dia! Dari awal aku sudah tidak setuju dengan gadis yang tidak jelas asal usulnya itu! Firasat seorang ibu memang tidak pernah salah!” Geram Hajjah Aisyah setelah melihat foto-foto dan video yang ada digenggamannya. Tak lama, wanita paruh baya tersebut langsung menelepon orang yang memberikan rekaman.


“Bagaimana Ummi Hajjah? Apa saya sudah bisa mengirimkan bukti-bukti ini kepada Gus Yahya?”


“Darimana kau dapatkan bukti-bukti ini?” Selidik hajjah Aisyah to the point.

__ADS_1


“I… itu dari…”


“Siapa kau sebenarnya?!”


“Saya orang yang berpihak pada ummi hajjah dan keluarga”


“Kalau begitu Aku ingin kita bertemu! Kau pasti mengharapkan imbalan atas kerja kerasmu kan?” Todong hajjah Aisyah tanpa basa basi. Beliau tidak ingin musuh mencuri start atas apa yang menimpa keluarganya.


“Jangan kirimkan foto dan video apapun pada Yahya saat ini! Putraku sedang mengurus urusan penting. Biarkan saja dulu. Nanti setelah semua urusan selesai, baru kita lanjutkan tahapan berikutnya! Kalau kau benar memihak padaku, ikuti arahanku!”


“Foto dan video apa mi? Ummi tengah menelpon siapa?” Tanya haji Zakaria yang tiba-tiba muncul. Hajjah Aisyah dengan cepat menutup panggilannya.


Tap Tap Tap


“Mengapa ummi diam? Apa yang ummi sembunyikan dari Yahya?!”


“It… itu….”


“Itu apa?!”


“Hmh... Kolega kita bah, kolega kita mau minta bantuan pada Yahya. Ummi tidak ingin konsentrasi putra kita selama di LA terganggu. Jadi ummi katakan agar sabar menunggu” Karang Hajjah Aisyah. Suaminya mengangguk-angguk mengerti.


“Abah ingin menemui mahasiswa bimbingan dulu. Setelah itu abah ingin kembali mencari Iqlima”


“Tidak perlu, Bah! Iqlima bukan wanita yang baik! Biarkan saja dia di luar melakukan apapun sesuka hatinya!” Tukas hajjah Aisyah.


“Abah tidak bisa mengikuti keegoisan ummi! Mengkhawatirkan anak yang belum pulang adalah bagian dari hati Nurani. Baiklah, di sini abah tidak ingin membicarakan tentang hati nurani. Tapi setidaknya kita harus memiliki tanggung jawab! Tanggung jawab sebagai orang tua!” Sengit Haji Zakaria.


“Huh. Pada akhirnya abah akan mengerti siapa yang benar dan salah di sini! Abah akan mengerti siapa yang sebenarnya malaikat pemilik hati Nurani dan siapa wujud iblis yang bersemayam di tubuh manusia!” Sengit hajjah Aisyah tak kalah tajam. Haji Zakaria hanya bisa menghela nafas dan keluar dari ruangan dengan perasaan kecewa.


Kak Wirda… Ya, aku harus berkonsultasi dengan kak Wirda… Aku bingung harus melakukan apa! Hajjah Aisyah dengan cepat mengambil kunci mobil yang ada di dekatnya. Tak lupa ia menyambar tas dan keluar kamar.


“Ummi Hajjah mau kemana? Saya akan menyuruh mang saleh mengantar ummi!” Tawar Sri yang melihat hajjah Aisyah terburu-buru keluar.


“Tidak usah. Aku akan menyetir sendiri!” Ucap Hajjah Aisyah tanpa melihat Sri. Beliau dengan cepat menghidupkan mobil dan melajukannya dengan kecepatan tinggi.


Tit Tit Tit


"Kak, aku dapat bukti tentang kebusukan Iqlima! " Ucap Hajjah Aisyah menelpon hajjah Wirda.


"Benarkah? "


"Ya... aku sedang menyetir mobil menuju yayasan kak Wirda"


"Okay dik Aisyah. aku akan menunggu mu. Aku tidak kemana. Tapi kau harus waspada. Jangan sampai musuh-musuh mu mengetahui ini semua. Hati-hati, terutama pada Indah dan Inggrid... Keburukan Keluarga kita tidak boleh sampai bocor ke media..."


"Indah dan Inggrid? " Hajjah Aisyah mengerutkan keningnya. Peringatan dari Hajjah Wirda sedikit mengejutkan nya.

__ADS_1


......................


__ADS_2