
Bruuuuggg
Arya Pranawa menghempas tubuh Hilman yang sudah tidak berdaya. Darah segar mengucur di mana-mana.
"Kau pantas mendapatkannya! inilah yang aku inginkan! " Ucap Arya bengis. Ia sangat menikmati adegan demi adegan pemukulan yang sengaja ia lakukan pada Hilman. Pasalnya kini laki-laki tersebut tengah bosan. Hilman yang dinilai "agak" tak patuh cocok menjadi sasaran empuknya.
Ck. Arya berdecak saat telpon masuk mengganggu konsentrasi nya. Layla. Gadis yang sekarang menjadi putri satu-satunya tersebut memanggil.
"Pa, aku ingin menemui Hilman! "
"Ada apa? Kau temui dia nanti! "
"Tidak bisa pa! Aku mau menemui dia sekarang! Aku akan menerobos ke tempat papa! "
Tiit Tiit Tiit.
Layla memutuskan panggilan sepihak.
Dasar keras kepala! Umpat Arya yang diikuti oleh suara gedoran pintu dan bel yang berkali-kali ditekan. Ia terpaksa membuka ruangan yang sudah terlanjur bersimbah darah.
"Layla, ada apa denganmu? Mengapa kau sangat marah? "
"Pa, laki-laki tidak tau diri ini tidak menjalankan tugasnya dengan baik!! Dia penipu!! Hhh hhh" Todong Layla ngos-ngos an.
Plaaaakkk
Layla menampar Hilman yang sudah tak berdaya dengan kekuatan penuh. Hilman sudah tidak bisa membedakan rasa sakitnya. Sebab sekujur tubuhnya sampai ke tulang memang terasa ngilu.
"Mengapa kau menipuku?! " Tanya Layla menarik rambut Hilman dengan ke-5 jari tangannya.
"Aku tidak menipu" Sahut Hilman bersusah payah. Suaranya tercekat di tenggorokan.
"Lalu mengapa foto Iqlima palsu?! Mengapa!?"
".... "
"Jawab bodoh!! Mengapa kau tidak mengerjakan tugasmu sesuai perjanjian?! Kau menyukai wanita jalaa*ng itu! Mengapa kau tidak langsung mengeksekusi nya?! " Tanya Layla frustasi. Kelakuan Hilman yang bermain dengan editan komputer benar-benar di luar prediksi nya.
"Aku mencintainya. Aaargh... A... Aku mencintainya. Kalaupun aku melakukan itu terhadap nya, harus di saat yang tepat! Aaarrgg" Sahut Hilman mulai terbata. Layla menginjak kakinya.
"Bohooong! Kau penjahat! Jangan berlagak suci! Kau pembunuh!!! Kau pembunuh suami pertama wanita itu!!! Jadi sekarang kau jangan berlagak menjadi laki-laki alim yang suci!!!" Teriak Layla brutal sampai terbatuk. Ia benar-benar kesal.
"Saat itu aku masih sangat muda. Aku terpaksa melakukan nya. Kini aku menyadari, cinta ku pada Iqlima memang sungguh-sungguh. Aarrghhhh" Hilman mengaduh kesakitan. Layla menginjak semakin dalam.
"Aku bersumpah akan membunuhmu! Dasar pengecut!!! Rasakan ini bodoooh!! "
"Aaaaaargh.... Kau sedang hamil, kalau kau membunuh ku, kau tidak takut jika kelak anakmu jadi pembunuh seperti mu?! Aaaargh... "
__ADS_1
Layla sontak menghentikan tindakannya.
"Kau tidak perlu mengajariku!!! Aku tau apa yang harus kulakukan!!! " Layla mulai menginjak kembali telapak tangan Hilman dengan sepatu semi heels nya. Namun belum sempat ia melakukannya, Hilman sudah jatuh pingsan.
"Paaa, Hilman mati! Bukan aku pelakunya... Paaa, Hilman mati! Tapi aku bukan pelakunya" Teriak Layla dengan mata membola ketakutan. Arya yang awalnya duduk tenang mengisap cerutu di pojok ruangan langsung bangkit menghampiri Hilman. Wajah bengisnya langsung mendekat. Arya memeriksa denyut nadi laki-laki tersebut.
Masih berdetak. Anak ini tidak boleh mati begitu saja. Gumam Arya tenang.
"Paaa, aku tidak melakukan apapun! Aku bersumpah tidak melakukan nya! Papa harus percaya padaku!!!" Pekik Layla semakin ketakukan.
"Dia belum mati! "
Belum mati?
"Aku harus menghubungi dokter sebelum dia benar-benar tewas! " Ucap Arya. Layla langsung mengambil langkah kaki seribu sebelum Hilman benar-benar mati. Sebelumnya ia menyempatkan diri mengambil cairan alkohol dan membasuh kepala Hilman serta tangannya untuk menghilangkan jejak. Layla khawatir jika jika Hilman memang benaran mati.
...----------------...
Iqlima perlahan menyodorkan tangan pada Yahya dengan penuh kecanggungan. Untuk sesaat tangan mereka saling tertaut. Dingin. Tangan Iqlima terasa dingin. Wanita tersebut terhenyak dengan genggaman Yahya yang terasa kuat namun cendrung menyakitkan. Dengan cepat Iqlima menariknya.
"Kau sudah makan, Nak? " Tanya Haji Zakaria.
"Iqlima masih kenyang, Abah! "
"Yahya, bawa Iqlima ke Restoran terdekat! Abah masih ada meeting sebentar lagi! " Titah Haji Zakaria membuat Iqlima sedikit tersentak. Yahya melihat ke arah jam tangannya.
Yahya langsung melajukan mobil mereka menuju restoran terdekat.
Di meja dengan kursi yang saling berhadapan, Yahya sedikit melirik Iqlima. Namun dengan cepat Pemuda tersebut mengalihkan tatapannya setelah Iqlima menyadari bahwa ia menatapnya.
"Hmh... Kau mau makan apa? "
"Ya? "
"Kau mau makan apa? " Yahya mengulang pertanyaan nya.
"A... Aku sebenarnya memang benar-benar kenyang! Tadi Aku makan dua roti sekaligus! " Sahut Iqlima berhati-hati. Ia bukan nya tidak mendengar pertanyaan Yahya, namun suasana benar-benar tidak menguntungkan.
"Kau sedikit demam. Aku akan memesankan semangkuk sup untuk menghangatkanmu! "
Aku? Demam? Iqlima spontan meraba dahinya. Sedikit perhatian membuat hatinya tersentuh. Kini diam-diam Iqlima balik melirik Yahya. Tatapannya benar-benar tak teralihkan sampai Yahya memanggilnya.
"Mengapa kau kabur?"
".... "
"Mengapa kau melarikan diri? "
__ADS_1
Iqlima lagi-lagi tersentak. Ia tidak menyangka Yahya akan menginterogasi nya secepat ini.
"Sudah ku katakan kalau Aku ingin bang Yahya menceraikanku" Sahut Iqlima tanpa berani menatap.
"Apa yang sebenarnya kau inginkan?! " Tanya Yahya menahan diri. Jawaban Iqlima yang tidak masuk akal lagi-lagi membuat nya serasa mendidih.
"Katakan apa yang kau inginkan! Kenapa hanya diam?!"
Bentakkan Yahya mambuat Iqlima bungkam.
"Apa kau ingin kita berpisah karena ingin kembali pada laki-laki bodoh itu, ha?! "
"Kau selingkuh dibelakangku, kan? Ck! " Tuding Yahya bertubi-tubi. Iqlima menggelengkan kepala nya.
"Semua yang bang Yahya tuduhkan tidak benar! Aku hanya ingin mengalah atas perasaan bang Yahya. Aku ingin bang Yahya fokus pada Layla. Fokus pada Pesantren. Fokus pada pekerjaan. Aku merasa kehadiran ku hanya menjadi beban! Aku ingin kita berpisah"
"Kau benar-benar menguji kesabaran ku, Iqlima! Sikap dan pernyataan mu sangat tidak masuk akal! Mengapa kau membuat masalah di saat kita semua dalam keadaan baik-baik saja?!"
"Aku mengatakan yang sebenarnya! Aku... Aku hanya mengatakan yang aku rasakan! Aku hanya tidak ingin jatuh lebih jauh lagi. Aku hanya ingin merasa damai. Aku hanya ingin melihat bang Yahya damai, keadaan damai dan tentram tanpa aku didalamnya! " Terang Iqlima berusaha menjelaskan. Namun sebenarnya ia sendiri tidak tau pasti apa yang tengah ia beberkan. Jiwa dan perasaan nya masih tidak baik-baik saja. Iqlima masih terguncang dengan rentetan peristiwa yang terjadi secepat kilat dalam hidupnya.
"Kau... !!" Yahya bangkit dari duduknya. Ia mengusap kasar puncak kepalanya. Speechless. Iqlima yang sudah paham bagaimana tempramen Yahya hanya bisa menunduk sambil menahan tangis. Lagi-lagi ia kesulitan dalam menjelaskan. Orasi Iqlima tidak berjalan lancar hanya ketika ia berhadapan dengan Yahya.
"Kau sudah bertindak di luar batas! Kau keterlaluan Iqlima!! Kalau begini Aku bersumpah tidak akan menceraikanmu sampai kapanpun! " Tegas Yahya frustasi. Iqlima tersentak. Beberapa detik tatapan mereka bertemu. Yahya menatap dalam-dalam manik mata Iqlima, berusaha menyelami apa yang sedang istrinya tersebut khawatirkan. Iqlima mendorong kursinya ke belakang. Ia bangkit berdiri.
"Kau mau kemana? "
"A... Aku mau ke toilet sebentar! " Ucap Iqlima gugup. Yahya mengangkat tangan mencegah Iqlima pergi. Namun buru-buru ia berbalik arah. Namun sayang, ia berbalik bertepatan dengan pramusaji membawa sup panas.
"Ya Allaah.... Ssssss... " Pekik Iqlima kepanasan. Air sup panas terlempar ke dadanya. Beruntung kerudung dan baju tebal sedikit menghalangi rebusan air panas menghanguskan kulit. Namun efeknya cukup terasa.
"Maaf nona... " Pramusaji panik memohon maaf. Kegaduhan sedikit tercipta. Yahya dengan cepat menarik Iqlima.
"Kita ke rumah sakit! " Ajak Yahya mengamit lengan Iqlima. Dengan cepat mereka ke mobil. Yahya mengambil baju kaos lengan panjangnya di kursi belakang. Iqlima masih mengibas-ngibas pakaian nya.
"Ganti bajumu! " Titah Yahya. Iqlima menggigit bibir menahan perih.
"Tidak usah. Baju ini saja! "
"Baju mu basah. Kau bisa masuk angin! "
"I... Iya... " Tatapan intimidasi Yahya membuat Iqlima mematuhinya. Dengan Ragu-ragu Iqlima mengambil baju tersebut. Ia melirik Yahya yang masih menatapnya intens.
"Tunggu apalagi? Mengapa diam saja?! Cepat ganti!! "
"Di sini? Sekarang? " Tanya Iqlima penuh keraguan.
...----------------...
__ADS_1
Maaf telat update~ Author sakit dan baru keluar dari Rumah Sakit. Stay Healthy semua~ Jaga Kesehatan. Sehat-sehat selalu 💕💕💕