Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)

Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)
Bab 77: Menemukan Permata Yang Hilang~


__ADS_3

Tes Tes Tes~


Iqlima tidak bisa membendung air matanya yang jatuh tertumpah ruah. Pun ia yang mati-matian memaksa Yahya untuk menikah lagi, tetap saja kenyataan yang sebenarnya terjadi adalah Iqlima merasa sangat tersiksa. Perasaan cemburu, sakit, frustasi namun harus merelakan bercampur aduk tak terperi. Iqlima merosot ke lantai. Angin dingin yang mendesau-desau tak juga membuat perasaannya membaik.


Tap Tap Tap


Kreeekkk Kreeekkk


Tiba-tiba terdengar suara tapak kaki dan dedaunan kering yang terpijak. Perhatian Iqlima teralihkan.


Ia menghentikan tangisnya.


Sepertinya suara kucing. Pikir Iqlima. Ia hendak bangkit berdiri. Namun suara jejak kaki yang bukan seperti dugaannya dan menyerupai langkah kaki manusia semakin terdengar jelas.


Di tengah gelombang rasa cemas, mata Iqlima menangkap sebuah balok kayu. Dengan gerakan cepat namun tetap berhati-hati ia mencoba menjangkaunya. Dalam keadaan duduk, Iqlima menyeret tubuh nya menuju kolong tempat tidur.


Ceklek


Terdengar suara pintu terbuka.


"Iqlima.... Iqlima... "


Bang Yahya?


"Kenapa kau di bawah kolong tempat tidur?" Tanya Yahya mengerutkan kening.


"Ssssttttt Di luar ada orang! " Bisik Iqlima. Yahya dengan cepat menuju ke arah jendela yang terbuka. Mata elangnya menelusur waspada.


Wuuussss


Angin kencang menampar wajahnya. Yahya mengedarkan pandangan keluar sana. Kosong. Hanya ada riuh ricuh suara jangkrik yang terdengar. Dengan cepat Yahya menutup daun jendela.


"Abang ke... kenapa di sini? " Tanya Iqlima heran. Diam-diam ia menyempatkan diri menghapus air matanya. Yahya menatap Iqlima tajam.


"Kenapa jam segini kau malah membuka jendela? Cuaca di luar sangat dingin! Hujan baru saja berhenti. Kalau kau masuk angin bagaimana?" Cerca Yahya. Iqlima menatap Yahya lekat-lekat. Seperti mimpi, saat ini suaminya memang berada dihadapannya. Namun seketika ia tersadarkan.


"Bang Yahya jangan di sini! La... Layla pasti... " Ucap Iqlima terbata. Tenggorokan nya tercekat. Iqlima serasa tidak mampu meneruskan kalimat nya.


"Aku hanya melihat mu sebentar lalu akan kembali menemuinya" Perkataan Yahya membuat hati Iqlima serasa teriris.


"Ooh... " Iqlima mengangguk lalu memaksakan senyumnya.


"Mengapa kau belum tidur?" Tanya Yahya mendekat.


"A... Aku tidak bisa tidur"


"Apa kau tidak bisa tidur karena memikirkan ku bersama dengannya?" Tanya Yahya seduktif. Tatapannya begitu mengintimidasi.


"Ti... Tidak... Su.. Sudah seharusnya abang ber... sama dengannya... " Sahut Iqlima dengan tanpa menatap Yahya.


Haapp~


Yahya menggenggam pergelangan tangan Iqlima dan mencengkramnya. Pemuda tersebut menggiring nya merapat ke dinding.


"Kalau memang begitu, mengapa matamu sembab? Dik Ima... Jangan berbohong..." Tangan kanan Yahya mengusap pelan pipi Iqlima. Tangan kirinya ikut bekerja dengan mencoba menarik ke bawah resleting Jepang yang berada di belakang baju blouse.

__ADS_1


"Kau membantu Ummi membuatku menikahinya... Dan kalian berhasil..." Bisik Yahya. Iqlima terenyak. Hembusan nafas yang membelai kulit wajahnya membuat Iqlima meremang. Yahya tidak tinggal diam. Jari jemari tangannya ikut mengusap lembut punggung halus Iqlima hingga membuat wanita tersebut sedikit menggeliat.


"Bang... Ja.. Jangan begini... I... Ini kan malam pengantin ka.. kalian... Hhhh... " Iqlima tidak bisa menahan suara lenguhan yang tidak sengaja keluar dari mulutnya akibat perlakuan Yahya. Pemuda tersebut dengan cepat menggiring Iqlima ke atas kasur. Ia berhasil melucuti pakaian sang istri dengan membuangnya ke sembarang arah.


"Bang..." Iqlima menyilangkan kedua tangannya ke dada. Ia menatap Yahya dengan tatapan sendu seraya menggeleng.


***


"Tadi Gus Yahya menuju kamar nona Iqlima, Non! " Asisten mengabarkan Layla melalui saluran telepon.


Shiii*t! Layla mengepalkan tangannya.


Gadis tersebut memakai kembali pakaiannya dengan bersungut kesal. Bisa-bisanya ia ditinggal di malam pengantin mereka. Padahal Layla benar-benar sudah mengerahkan kemampuannya untuk memikat Yahya. Tapi semua serasa sia-sia.


"Tunggu tunggu... Tapi Aku baru mengerahkan 30 persen dari kemampuanku! Aku belum benar-benar all out dalam meluluhkan hati si kepala batu!" Layla tampak berpikir. Ia berjalan mondar-mandir seraya menatap ke arah pintu kalau-kalau Yahya benar-benar kembali dan meminta maaf.


Ck.


Layla kembali berdecak saat menyadari angan-angan nya keliru. Dengan cepat Ia mengambil pisau buah di atas nakas dan menusuk-nusukkannya ke sebuah bantal empuk berisikan bulu angsa yang telah dihias dengan indah. Mulutnya bergetar menahan amarah.


Pelakor sialan! Pelakor sialan! Gumam Layla sembari menusuk-nusuk bantal dengan lebih keras.


Aku bersumpah akan membuat suamiku menjauhimu! Aku bersumpah! Mata Layla memerah. Bulu-bulu angsa bertebaran dimana-mana memenuhi seisi ruangan kamar.


Braakkk


Terdengar daun jendela yang dibuka paksa. Layla langsung menoleh ke sumber suara.


Hooppp


Seseorang yang sudah dikenalnya menapakkan kaki ke dalam kamar.


"Tutup mulutmu, Manis! Aku Osman, bukan Hilman!"


"Ya ya! Kau sudah gila! Kalau Mas Yahya tau kau berada di sini dia pasti akan membunuhmu!!" Pekik Layla berbisik. Sepertinya dalam waktu kurang dari dua tahun dua orang berlainan jenis ini sudah saling akrab.


"Dia tidak akan kesini! Karena dia sedang bersenang-senang bersama istri pertamanya!" Ucap Hilman dengan rahang mengeras. Dadanya bergemuruh setelah mengetahui kenyataan yang sebenarnya. Puing-puing kepingan puzzle sepertinya berhasil ia susun. Layla mendengus sebal.


"Sesuai dugaanku, ada yang tidak beres dengan pernikahan kalian! Aku menyelinap setelah seorang pembantu menyebut nama istri pertama Yahya. Aku penasaran dan memeriksanya! Ternyata orang itu memang...."


"Jangan bertele-tele! Mau apa kau kesini?! Ini malam pengantin ku! Jangan coba-coba merusaknya!!" Sembur Layla memotong pembicaraan Hilman.


"Aku baru tau ternyata iblis itu memang nyata adanya. Dan kaulah wujud nyata dari iblis tersebut!" Ucap Hilman tajam.


"Kau jauh lebih iblis dari ku!! Sebagai budak ayahku, kau tidak perlu terlalu lancang!! Cepat katakan apa mau mu!! " Layla mengangkat dagunya ke atas.


Sreeggg


Hilman menarik lengan Layla. Ia memutarnya dengan keras.


"Aawww... Sakiiit... Lepaskan... Lepaskan...!!"


"Jangan angkuh!! Kau berhutang budi padaku... Aku telah melumuri kedua tanganku dengan darah hanya demi menyelamatkan gadis liar sepertimu dari laki-laki malang bernama Ridho! Dan Aku... Memegang kartu As-mu!" Ucap Hilman berbisik di telinga Layla. Gadis tersebut berdehem gelagapan.


"Kau memang punya segala yang laki-laki inginkan! Keindahan tubuh dan kecantikan paras wajah. Aku bisa paham kenapa laki-laki brengs*k itu memilih menikahimu dan menduakan istri pertamanya!" Hilman menatap liar tubuh Layla dari atas ke bawah.

__ADS_1


"Entah aku harus bersyukur atau tidak atas pernikahanmu dengan laki-laki baj*ngan itu! Yang jelas, pernikahan kalian membuatku menemukan permataku yang hilang"


"Permata yang hilang?" Layla mengerutkan keningnya.


"Iqlima... Dia kekasihku! Dia hidupku!!" Layla terperangah.


"Jadi wanita itu kekasihmu?!" Layla benar-benar terkejut dengan pernyataan yang Hilman katakan.


"Aku akan segera menjemputnya! Kuperingatkan... agar kau tidak menyentuhnya seujung jari-pun!! Apa kau mengerti?!" Ancam Hilman bersungguh-sungguh. Ia mengeratkan remasan tangannya pada pergelangan tangan Layla hingga membuat gadis belia tersebut mengaduh kesakitan.


***


"Bang..." Iqlima menyilangkan kedua tangannya ke dada. Ia menatap Yahya dengan tatapan sendu seraya menggeleng.


Hhhh Hhhh. Nafas Yahya terdengar memburu. Perlahan ia mundur. Penolakan Iqlima benar-benar membuatnya kecewa.


Dengan cepat Iqlima menarik selimut menutupi tubuhnya. Diam-diam ia kembali menitikkan air mata. Hatinya terasa tercabik-cabik karena ulahnya sendiri.


"Bang Yahya mau kemana?" Tanya Iqlima memberanikan diri saat Yahya sudah menuju ke arah luar.


"Aku mau kembali ke kamar, lelah! " Sahut Yahya. Ia membanting pintu dengan keras. Iqlima kembali menangis sejadi-jadinya.


Bukankah ini kamarnya? Aaaa aaaa hiks hiks... Iqlima kembali tersedu-sedu.


Ya Rabb... Iqlima sesegukkan dengan meringkuk seorang diri.


Yahya keluar kamar masih dengan dada bergemuruh. Ia melangkah ke dapur mengambil minuman bersoda di kulkas lalu menenggaknya habis. Ia meremas botol kosong di tangannya. Dengan langkah gontai Yahya kembali ke kamar Layla. Baru saja ia akan menarik gagang pintu, namun handphone-nya terasa bergetar. Sebuah pesan menghias di sana.


Aku tau kau sibuk dengan istri mudamu, aku yakin kau tidak punya waktu menanggapi pesan bodoh ini. Tidak apa-apa. Aku hanya ingin mengabarkan kalau sekarang aku berada di depan pintu gerbang Bustanul Jannah. Menunggu kalau-kalau aku punya kesempatan mencekik leher mu! Jelita~


Kening Yahya mengerut. Dengan cepat ia memutar haluan. Menghampiri Jelita yang sudah menunggu nya dengan bersandar pada sebuah mobil sedan mini. Tampak ia masih mengenakan seragam putih khas dokter dengan wajah lelah.


"Yahya kau.... " Jelita mengangkat telunjuk nya. Hampir saja wanita tersebut akan mencerca laki-laki yang berada di hadapannya. Namun sesaat ia tersadar kalau raut wajah Yahya menunjukkan ekspresi yang sedang tidak baik-baik saja.


"Kenapa kau menduakan Iqlima?!" Yahya hanya diam.


"Apa Iqlima menyetujuinya?" Yahya mengangguk.


"Tapi kenapa? Kenapa kau melakukan ini?! Kenapa?? " Suara Jelita meninggi. Yahya masih diam.


"Maaf kalau aku lancang dan terlalu mencampuri urusan rumah tanggamu. Tapi kau sudah tau bahwa sejak awal aku terlibat di dalam hubungan kalian.. Aku menjadi saksi perjalanan kalian hingga saat ini!" Jelita tidak bisa menahan air matanya.


"Aku tau kau mampu, sudah kapasitas mu untuk melakukan poligami. Tapi... hati wanita mana yang sanggup diduakan? Kalaupun ia berkata sanggup dan menyanggupi, ia hanya berpura-pura! Apa lagi Iqlima pernah bermasalah dengan kesehatan mentalnya! Coba lihat dari sisinya, Yahya! " Jelita mengusap air matanya.


"Maaf, Aku harus kembali... Layla sudah menunggu!" Sahut Yahya tanpa ekspresi.


"Apapun yang kau katakan tidak akan mengubah apapun. Aku sudah menikahinya. Ia sudah menjadi istriku, tanggungjawab-ku. Selama ia tidak melakukan kesalahan fatal yang dilarang oleh agama dan syari'at, aku tidak akan pernah menceraikannya... aku akan berada disisinya sampai akhir! " Sahut Yahya tegas. Jelita terhuyung.


"Pulanglah... sudah malam... aku akan menyuruh supirku mengantarmu! " Lanjut Yahya dingin. Jelita menatap punggung Yahya yang berjalan menjauhinya dengan air mata berderai-derai.


Iqlima... Jelita menggigit bibir bawahnya.


***


Berikan komentar terbaikmu 💙

__ADS_1


#event_5


***


__ADS_2