Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)

Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)
Bab 28: Tidak Bisa Menjanjikan Apapun!


__ADS_3

Plakkk.


Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Rani. Tanpa basa basi Maryam langsung menyerang hingga Rani jatuh terjerebab di lantai teras.


“Maryam! Apa yang kau lakukan?! Kau sudah gila!” Rani meringis memegang pipinya.


“Kau yang gila!! Tidak ku sangka tampang alim-mu ternyata palsu!!” Semprot Maryam.


“Katakan apa motif mu menjebak Iqlima?” Maryam mengangkat tubuh Rani mencengkram kerahnya.


“Sa.. Sakit Maryam… Huk Huk Huk!”


“Katakan apa tujuanmu menggunakan ku untuk menjebak Iqlima!!” Maryam mengulang pertanyaannya.


“Rani, jangan mentang-mentang kau anak pejabat desa lalu kau bisa seenaknya terhadap orang lain!! Kau pikir aku takut?!” Maryam menghempas tubuh Rani hingga gadis tersebut terduduk di kursi. Maryam benar-benar murka.


“Sumpah, aku tidak mengerti apa yang kau katakan Mar!! Kau wanita Tarzan!!” Seru Rani memegang lehernya yang sakit.


“Kau menyuruhku menelpon bang Yahya dengan mengatakan Iqlima menunggunya di rumah ibu Thur kan? Bang Yahya sepenuhnya mempercayaiku dan langsung terbang ke Aceh. Tapi lihatlah, sekarang pasti beliau berpikir bahwa aku telah menjebaknya!” Ucap Maryam dengan mata melotot tajam.


“Benar. Aku memang menyuruhmu! Lalu kenapa? Masalahnya apa? Aku hanya menyampaikan amanah! Kenapa kau menyerangku?!”


“Amanah?”


“Iya, Amanah dari Abu-ku! Kalau kau mau protes, protes saja pada beliau!”


A... Amanah dari Pak Keuchik? Gumam Maryam terperangah.


“Abu ada di kantor desa! Temui Abu di sana! Sekali lagi kau menyentuhku, aku akan mengusir seluruh keluargamu dari kampung ini!” Ancam Rani.


“Rani, ada tamu ya? Kok tidak disuruh masuk, Nak?!” Suara istri Pak Keuchik terdengar dari dalam. Rani bersungut. Hati Maryam mencelos, keberaniannya menciut. Ia berjalan mundur.


Apa benar Pak Keuchik menjebak Bang Yahya dan Iqlima? Tapi untuk apa? Hhhhh Tidak mungkin! Maryam menggeleng. Sejauh yang ia ketahui, pak Keuchik adalah orang baik. Selain berprofesi sebagai kepala desa, beliau juga seorang Teungku Mukim.


Mungkinkah orang sepertinya menuduh Teungku Mukim yang sangat disegani itu? Maryam nelangsa. Berulang kali ia berpikir mencari keburukan Pak Keuchik namun ia gagal menemukan nya.


Di perjalanan pulang, tanpa Maryam sadari ia berpas-pasan dengan mobil Ampon Din. Konglomerat Desa Krueng Lam Kareung tersebut diam-diam tersenyum misterius. Pria paruh baya dengan gaya mentereng akan mengunjungi anaknya yang masih terkurung di Lapas Kajue.


***


“Apa? Iqlima dinikahkan?!” Hilman terkejut bukan kepalang saat Ampon Din menceritakan kronologi kejadian penjebakan yang 50 persen nya gagal.


“Abu, ini bukan setengah gagal. Tapi gagal total!!” Protes Hilman. Matanya mulai mengembun.


“Anak sial*n kau menangis hanya demi wanita murahan itu?!” Damprat Ampon Din.


“Abu tau aku mencintai Iqlima!! Kalau aku tidak bisa mendapatkannya. Aku juga tidak akan membiarkan orang lain bisa memiliki nya!!” Hilman meradang.


“Dia hanya gadis kampung biasa! Apa yang kau suka darinya?! Di dunia ini banyak wanita yang lebih cantik darinya!” Ampon Din memijat pelipis menghadapi putra satu-satunya yang benar-benar menyusahkan.

__ADS_1


“Di dunia ini memang banyak wanita cantik. Tapi bagiku, hanya Iqlima wanita yang menarik. Abu pikir, aku membunuh Rais karena apa? Karena aku mendengar dia menyebut Iqlima sebagai istrinya. Padahal malam itu aku sama sekali tidak berniat membunuhnya! Untuk sesaat Aku gelap mata!”


“Abu… Huuu hhuuu” Hilman mulai menangis seperti anak kecil.


“Hilman… Daripada kau memikirkan gadis tidak tau diri itu, lebih baik kau pikirkan Melati. Asal kau tau, Istri durhaka-mu itu main gila di belakangmu!!” Ampon Din kehabisan ide menenangkan Hilman.


“Aku sudah mengetahuinya!” Lirih Hilman.


“Apa?! Lalu kau membiarkan nya hidup tenang dengan statusnya sebagai istrimu?! Di mana kau letakkan harga dirimu Hilman?!” Ampon Din benar-benar marah.


“Selain Iqlima, aku tidak mempedulikan siapapun! Selama ini aku menerornya untuk membuat wanita itu sadar akan keberadaan ku. Tapi Abu dengan eloknya merusak semua rencana yang sudah ku susun matang!!!


Buuggghh


Hilman meninju dinding dengan kuat. Ampon Din memejamkan matanya.


“Tentang Melati, Aku tau ia seorang wanita penghibur jauh dari sebelum aku menikahinya. Aku membebaskan Melati melakukan apapun di luar sana asal….” Hilman menjeda kalimatnya.


“Asalkan…. Melati bersedia membayar sejumlah uang padaku!” Sahut Hilman.


Abu… Melati membutuhkan status dariku. Sebenarnya Aku hanya menolongnya dari kejaran Mafia. Batin Hilman. Pemuda ini malas menceritakan kejadian sesungguhnya. Ia sedang tidak ingin berdebat lebih dalam.


“Kau gila!!!” Rahang Ampon Din mengeras mendengar pengakuan blak-blakan sang putra.


“Kau benar-benar gila!!! Apa kurang uang yang kau dapatkan?! Selama ini Aku bekerja keras untukmu?! Aku kecewa padamu Hilman!!!” Ampon Din nestapa.


“Abu… anak Abu hanya mau Iqlima seorang. Abu… Aku tau Abu bisa melakukan apapun. Abu mampu. Aku mohon… Keluarkan aku dari penjara dan bawa Iqlima kembali padaku!” Tiba-tiba Hilman berlutut. Ampon Din tersenyum pahit. Ia tidak mengerti apa yang ada dipikiran putranya.


“Kau harus menceraikan Melati dan Mawar!” Sahut Ampon Din. Hilman mendongak.


"Dan kau..... Kau juga harus menyesuaikan tampang dan kelakuan mu!" Tambah Ampon Din.


***


Bandara Kuala Namu, Medan.


“Seperti yang terlihat… Akhirnya aku menikahi Iqlima…” Ucap Yahya pada dokter Jelita. Mereka duduk berhadap-hadapan pada sebuah cafe sembari menunggu Iqlima yang sedang ke toilet.


“Ajaib! Jangan katakan kalau ini kutukan dariku!” Dokter Jelita menyeruput milkshake-nya. Yahya tersenyum hambar.


“Aku akan menyelidiki kasus ini! Aku akan membersihkan nama kami, terutama namanya!”


“Lalu setelahnya? Apa kau akan menceraikan Iqlima?” Pancing Dokter Jelita. Yahya terenyak.


“Kau belum menyentuhnya kan, Yahya?” Dokter Jelita memicingkan mata menyudutkan. Wanita ini memang terlalu blak-blakan.


“Haha… Jenis pertanyaan apa itu?” Yahya gelagapan. Tiba-tiba pikirannya melayang pada ciuman yang ia berikan pada Iqlima semalam.


“Hemm” Yahya berdehem menghalau rasa gugupnya.

__ADS_1


“Bagaimana Yahya?” Desak Dokter Jelita.


“Aku akan memusyawarahkan hal ini pada Ummi dan Abah terlebih dahulu! Kau jangan bertanya yang tidak-tidak!”


“Yahya, Iqlima itu sudah seperti adikku sendiri. Tidak, bahkan aku adalah ibunya. Aku harap kau tak akan pernah mengecewakan anakku!” Yahya terdiam. Matanya menangkap Iqlima yang bergerak mendekati mereka.


“Seru sekali… Dokter Jelita dan Bang Yahya membicarakan apa?” Tanya Iqlima penasaran.


“Benar. Pembicaraan kami sangat seru! Kata Yahya, ia ingin kau memberikannya 10 orang anak. 2 diantaranya kembar!” Dokter Jelita menunjukkan senyum smirknya.


“Ha? Kapan aku berkata begitu?” Protes Yahya. Iqlima langsung menunduk. Pipinya bersemu merah.


Jelita sial*n. Umpat Yahya.


“Baiklah, aku ke rumah sakit dulu. Iqlima, nanti malam kita akan berbicara all night long, hm?” Dokter Jelita memeluk Iqlima lalu melesat pergi.


Iqlima masih menunduk. Ia terlalu malu mengangkat wajahnya menatap Yahya. Padahal sebentar lagi suaminya sudah harus take off ke Jakarta.


“Duduk dan angkat-lah wajahmu!” Titah Yahya. Iqlima mengangkat wajahnya perlahan namun melihat ke sembarang arah. Kesempatan ini Yahya gunakan untuk menatap wajah gadis yang ada di hadapannya lekat-lekat. Tingkah malu-malu Iqlima serasa menggemaskan.


“Aku pulang untuk membicarakan tentang nikah dadakan kita pada Abah dan Ummi. Baru setelah itu aku akan menjemputmu! Jadi untuk selanjutnya kita akan berkomunikasi dengan handphone yang sudah aku berikan tadi!”


“Berapa lama abang di sana?”


“Jangan mengharapkan apapun dariku karena Aku tidak bisa berjanji!” Sahut Yahya.


“Ma.. Maksud bang Yahya?”


“Kita masih harus menyesuaikan diri dengan pernikahan yang tidak pernah kita impikan ini! Entah sampai kapan kita bisa bertahan!” Sahut Yahya. Iqlima mengangkat wajahnya tercenung. Kejujuran Yahya membuat hatinya terasa kebas.


“Maka aku tidak bisa menjanjikan apapun!” Lanjut Yahya hati-hati. Pemuda ini tau, sama sepertinya. Iqlima pasti juga merasa tertekan dengan pernikahan dadakan yang mereka alami.


“Kau paham apa yang aku maksudkan, kan?” Iqlima terdiam. Gadis ini menunduk menyembunyikan kesedihannya.


“Iqlima, katakan-lah sesuatu!” Desak Yahya.


“Iya, Aku paham. Itu artinya sewaktu-waktu bang Yahya bisa saja menceraikanku! Setelah memintaku menyetujui pernikahan ini, sewaktu-waktu bang Yahya bisa saja mencampakkan ku!” Iqlima tersenyum pahit.


“Iqlima, Maksudku…”


“Tidak masalah. Aku sudah terbiasa hidup sendiri! Lagipula aku belum meminta izin bang Rais untuk menerima kehadiran bang Yahya di hidupku! Aku bisa menganggap masa-masa ini sebagai masa uji coba!” Sahut Iqlima menohok.


“Tidak ada sangkut pautnya dengan Rais!” Sambar Yahya.


“Bang Rais suamiku!” Sahut Iqlima cepat.


“Sekarang aku-lah SUAMI-mu!! Kau lupa kita sudah menikah?!” Yahya bangkit menarik tangan Iqlima dengan kuat. Gadis tersebut sedikit meringis.


“Dengar! Selama statusmu adalah istriku, jangan pernah aku mendengarmu menyebutkan nama laki-laki lain!” Ucap Yahya. Entah mengapa emosinya memuncak. Moodnya berubah.

__ADS_1


***


__ADS_2