
Yahya terbangun karena Iqlima mengeliat. Rambut panjang sang istri menyapu wajahnya. Pelan-pelan Yahya mengambil sulur-sulur rambut yang menutupi wajah dan meletakkan nya ke samping. Ia menatap wajah tersebut lekat-lekat. Yahya tersenyum melihat wajah polos Iqlima yang masih tertidur. Mahakarya ciptaan Allah yang sempurna. Setidaknya, begitulah yang Yahya pikirkan. Ia ingin berlama-lama menatap. Namun konsentrasi nya terganggu karena suara dentingan. Satu jam sudah ia berada di kamar tersebut. Membersamai Iqlima dengan penuh kasih sayang dan suka cita. Sudah saatnya ia keluar dari asrama santriwati bersama para Asatidz lainnya.
"Nur Azkiya-ku... Cahaya Penglihatan... Terima kasih..." Lirih Yahya tersenyum haru.
"Hmh... Sekarang aku tinggal dulu ya... Nanti aku pasti akan mencari cara agar kita bisa lebih sering bertemu... Di sini, di tempat ini... jaga dirimu baik-baik, hm? Kau tau...? Di malam-malam ku yang dingin dan terasa sepi, aku pasti akan sangat merindukan mu... Cup..." Lirih Yahya mengecup puncak kepala Iqlima. Ia menarik selimut semakin mengeratkan nya di sana. Sebelum benar-benar pergi, Yahya berpesan pada Sri agar jangan sampai ada satu orang pun yang diizinkan masuk ke kamar Iqlima sampai saat istrinya nanti terbangun. Sri mengangguk.
Yahya melangkah kembali ke kediaman Zakaria melalui pintu utama. Alangkah terkejutnya ia ketika mendapati Hajjah Maharani dan Hajjah Aisyah sudah berdiri tegak menunggunya. Wajah Kusut Hajjah Maharani sudah tidak bisa dikondisikan.
"Jiddah? Ummi? "
"Bawa Jiddah Hajjah ke dalam! " Titah Hajjah Aisyah tanpa basa basi pada asisten Hajjah Maharani.
"Dan kau Yahya... Ikut kami! "
Dengan menghela nafas Yahya mengikuti langkah kaki ibu nya.
"Kau sudah sangat-sangat keterlaluan!" Sembur Hajjah Aisyah. Yahya terpaku di tempatnya. Ia mengendus bau-bau bahwa aksinya tadi sudah diketahui oleh ibu dan neneknya.
"Katakan kalau kali ini kau benar! Katakan kalau kau tidak bersalah! "
"Ayoooo katakan!! Mana mulut besarmu?!" Desak Hajjah Aisyah.
"Kenapa kau diam Yahya? Kau mengaku kalau kau salah kan?! " Lanjut Hajjah Aisyah. Yahya tak berkutik. Perlahan ia mengangguk.
"Ck. Kau menggunakan otoritas mu untuk kepentingan pribadi. Kau sangat memalukan! Apa kau pantas disebut sebagai pemimpin teladan? Kau sangat mengecewakan! " Hajjah Aisyah memijat pelipisnya kehabisan kata-kata. Sakit di punggung nya belum pulih kini ia sudah harus menghadapi tingkah polah sang putra.
Tuk
Hajjah Maharani mengetukkan tongkat ke lantai. Dibantu oleh asisten nya, Beliau bangkit berdiri.
"Sudahlah nak Aisyah, tidak usah banyak berbasa basi pada putramu! Kali ini Yahya harus mendapatkan hukuman. Kalau kemarin-kemarin aku masih berbelas kasih padanya karena mengingat bahwa ia adalah adalah cucu kesayanganku, tapi kali ini perbuatan nya sudah tidak bisa ditolerir! Hukuman pada Iqlima saja belum dijalankan, sekarang ia malah seolah menantang ku dengan menemuinya!"
"Yahya, kali ini dan seterusnya sampai setahun mendatang, kau tidak boleh lagi menginjakkan kakimu di asrama santriwati kecuali atas seizinku! Aku akan memerintahkan pada penjaga gerbang dari segala sisi penjuru yang bertugas untuk mencegat mu jika kau nekad melakukannya! " Tegas Hajjah Maharani.
Yahya hanya bisa menunduk. Ia mengakui kesalahannya. Bagaimana pun ia sudah bersikap tidak profesional. Yahya sudah bertekad menjalani semua hukuman sebab rasa rindu pada Iqlima juga tidak bisa dicegah. Tadi itu, walau ide menginspeksi asrama santriwati muncul secara dadakan, namun ia sudah mengantisipasi nya. Rencana nya terbilang sempurna. Namun siapa yang telah lancang memberitahukan pada Ummi dan Jiddah bahwa ia menemui Iqlima? Yahya mengerutkan keningnya heran. Hanya ia dan Sri saja yang mengetahui hal ini. Tapi Sri...? Apakah Sri? Mungkinkah....? Yahya bertanya-tanya.
Kini Hukuman yang diberikan oleh sang nenek malah membuat semuanya semakin runyam. Hukuman ini akan membuat ia dan Iqlima semakin jauh. Yahya tau bahwa Hajjah Maharani sangat disiplin, namun jenis hukuman seperti ini di luar perkiraaannya.
Setelah semua hukuman dan kesepakatan ia terima, Yahya kembali ke kamar dengan keadaan lesu.
Tap Tap Tap
Tok Tok Tok
__ADS_1
"Iqlima...! "
Tok Tok Tok
"Iqlimaaa..." Panggil seseorang dengan suara keras di luar. Ketukan pintu secara brutal membuat Iqlima yang baru saja selesai keramas terang terkejut.
"Tunggu sebentar... " Iqlima dengan cepat mengusap-usapkan handuk ke kepala mengeringkan rambut dan memakai kerudungnya.
Tok Tok Tok
Suara ketukan pintu tak juga mau berhenti.
Ceklek.
Iqlima dengan cepat membuka pintu. Namun belum sempat ia bertanya dua orang wanita yang tidak dikenal langsung mencengkram kuat tangannya.
"Ada apa ini!? " Tanya Iqlima panik.
"Ikut kami! "
"Lepaskan aku! Kita mau kemana?! "
"Jangan banyak bertanya! Ini titah dari Hajjah Aisyah dan Hajjah Maharani! " Ucap mereka terus menarik Iqlima. Jantung nya berdetak kuat. Hampir saja Iqlima berteriak, namun nama-nama yang disebutkan membuat nyalinya ciut.
Puk
Ha? Ayi terkejut saat seseorang menepuk pundaknya.
"Ni... Nilam?! "
"Kau yang melaporkan Gus Yahya kan? Kau tau ada hal yang tidak beres antara Gus Yahya, Ummi Hajjah dan Iqlima, kan? " Todong Nilam.
"Tidak. A.. Aku tidak tau! "
"Aku akan mengatakan pada Gus Yahya kalau kau melaporkan nya! Kau akan ditendang dari sini! " Ancam Nilam. Ia dengan cepat berbalik arah.
"Nilam...! Nilam tunggu! Dengarkan dulu penjelasan ku!" Ayi mengejarnya setelah sempat mengusap hidungnya yang berair.
Braaakkk
Suara pintu dibuka keras. Iqlima dimasukkan ke dalam ruangan gelap dan tertutup. Wanita tersebut didudukkan ke atas kursi kayu. Lampu di hidup kan tepat di atas kepalanya. Iqlima menatap ke sekeliling. Ruangan tersebut adalah ruangan yang biasa digunakan untuk mengintrogasi santriwati yang ketahuan mencuri.
Tuk Tuk Tuk
__ADS_1
Suara gemeletuk kaki terdengar. Hajjah Aisyah di dampingi oleh Sri memasuki ruangan.
Ha? Mulut Sri ternganga. Ia terkejut bukan kepalang. Tadi Hajjah Aisyah hanya mengajaknya untuk masuk ke pesantren. Ia tidak menyangka Hajjah Aisyah akan menyergap Iqlima dalam ruangan tertutup tersebut.
"Sri, lihatlah! Menantu kuraang aj*r ini telah melanggar peraturan! Bagaimana menurut mu? " Tanya Hajjah Aisyah. Sri terdiam.
"Sri! Aku bertanya padamu!! "
"Peraturan a... apa? Ss saya.. Saya tidak tau, mungkin ummi salah mendengar berita" Sahut Sri ketakutan. Ia melirik Iqlima yang sudah tampak pasrah.
"Berita yang mana yang salah kudengar, Sri? Berita tentang ia menggoda Yahya dan menyimpan putraku di kamarnya padahal ia masih berada dalam masa hukuman?! " Todong Hajjah Aisyah. Sri sontak mendongak. Ia juga terlibat.
"Sri, cepat tampar dia! " Titah Hajjah Aisyah. Sri pucat pasi. Ia berlutut.
"Sri, apa kau tidak bisa mendengarkan aku?! "
"Saya mohon jangan Ummi... Kalau Abah haji tau... apalagi kalau Gus Yahya tau semua akan runyam! Bagaimana pun nona Iqlima adalah istri Gus Yahya..." Pinta Sri. Tutur katanya sudah tidak beraturan. Keringat dingin bercucuran dari keningnya.
"Begitu ya! Benar juga yang kau katakan! Kalau begitu, apa aku harus memaafkan nya begitu saja?! Kau sangat pintar mendikte-ku, Sri! Kau benar-benar pengikut seee... tia-ku! " Sindir Hajjah Aisyah. Sri menggigit bibir bawahnya. Cemas.
Tap Tap Tap
"Tapi apa mungkin aku memaafkan nya begitu saja?! Sebuah tamparan atas ke lancangan nya rasa-rasa nya juga tidak cukup! " Ucap Hajjah Aisyah bergerak mendekati Iqlima.
"Sri, cepat tampar dia!!!! " Titah Hajjah Aisyah dengan suara nyaring. Suara mautnya sangat menggelegar. Hajjah Aisyah terlihat berbeda dari biasanya yang selalu tampil anggun, berlemah lembut dan bertutur kata penuh welas asih. Sri terguncang. Posisinya serba salah. Ia menatap Iqlima yang mengangguk. Wanita tersebut mengisyaratkan agar Sri menampar nya.
"Sri, apa yang kau tunggu?!!!! Apa kau juga ingin menentang ku?!!! " Tantang Hajjah Aisyah. Sri perlahan maju. Dengan wajah penuh rasa maaf ia mengambil ancang-ancang.
Plak
Sri menampar Iqlima dengan gerakan pelan.
"Sri, apa kau belum makan? Mana tenagamu? Apa seharusnya aku memerintahkan mereka semua untuk menampar Iqlima?! " Ancam Hajjah Aisyah. Sri melirik ke kanan dan ke kiri. Para asisten wanita Hajjah Aisyah berwajah sangar dan bertubuh gempal. Tangan tangan mereka tampak perkasa. Sri bersusah payah menelan ludah. Dengan gerakan cepat ia kembali mengayunkan tangannya.
Plaaaaakkkk
Sri terpaksa menampar Iqlima dengan kuat. Wajah Iqlima memerah hingga kerudung bergeser dari posisinya. Hajjah Aisyah diam-diam tersenyum puas. Tubuh Sri terasa kaku. Ia nyaris tidak kuat menapak. Tiba-tiba ia merasa menjadi wanita paling jahat di muka bumi.
"Kau menjalankan tugas mu dengan baik, Sri! " Hajjah Aisyah menepuk-nepuk pundaknya.
"Iqlima... Kau sudah tau apa kesalahanmu kan? Seorang ibu wajar menghukum anaknya! Apalagi anak yang keterlaluan sepertimu! " Hajjah Aisyah mengangkat dagu Iqlima ke atas.
"Aku hanya merasa heran, Kau sudah tau Yahya tidak mencintai mu... Yahya memiliki anak bersama Layla. Tapi kau masih saja bertahan dan menjadi benalu di hubungan mereka! Kau hanya menjadi bahan pelampiasan Yahya ketika ia butuh. Tidak lebih! Hanya sebagai pelepas dahaga ketika tubuhnya bergejolak! Sewaktu-waktu kau bisa di tendang kapan saja yang ia mau! Kau benar-benar tidak punya harga diri! Kau mengagungkan cinta dan kesetiaan! Tapi coba kau pikir, apa ini cinta yang kau agung2kan itu? Apa ini kesucian cinta? Bertahan untuk menyakiti banyak orang. Kau terlalu merepotkan dan tidak punya malu! " Cerca Hajjah Aisyah menusuk tajam. Kali ini perkataan Hajjah Aisyah benar-benar membuat Iqlima sakit. Jauh lebih sakit dari tamparan Sri. Bahkan jauh melampaui itu semua.
__ADS_1
...****************...