
Rusdi terdiam saat Iqlima memutuskan untuk tidak ikut pulang bersamanya ke Bustanul Jannah. Tidak ada yang bisa Rusdi lakukan. Pun Yahya di LA tidak ingin di ganggu. Rusdi tidak bisa mengambil keputusan apapun.
“Kalau begitu izinkan saya mengantarkan nona!” Tawar Rusdi.
“Terima kasih. Tapi Aku masih tidak punya tujuan. Sebaiknya kau menyelesaikan pekerjaanmu daripada bersikap baik pada ku dengan membuang-buang waktu” Sahut Iqlima bersiap-siap. Ia memasukkan dua helai pakaian dan sehelai kain ke tas ranselnya.
Bagaimana mungkin aku kembali ke Bustanul Jannah bersama Rusdi? Bukankah akan sangat memalukan? Ummi akan semakin membenciku dan menganggap aku benar-benar orang yang tidak punya malu! Aku juga tidak tahan tinggal di pesantren dalam waktu lama.
Mata Iqlima kembali basah. Diam-diam ia menghapusnya.
“Rusdi, apa lagi yang kau tunggu? Kau sudah mendengar keputusan Iqlima dengan jelas kan?” Todong Ilyas menaikkan sebelah alisnya ke atas.
“Kalau begitu, saya permisi nona”
“Terima kasih untuk waktu mu”
Rusdi mengangguk. Pemuda tersebut masih menoleh ke belakang sebelum ia benar-benar beranjak. Rusdi memijat pelipisnya. Rusdi berat melangkah. Ia tau persis bagaimana cinta Yahya ke Iqlima. Namun sekarang, keadaan benar-benar tidak sesuai harapan.
“Ustadz Ilyas, aku tidak tau bagaimana harus membalas kebaikan Ustadz… Tapi aku berjanji akan membayar semua biaya yang sudah kuhabiskan suatu hari nanti”
“Kau tidak usah memikirkannya! Yang terpenting sekarang kau akan kemana? Biarkan aku mengantarmu”
Iqlima terdiam.
“Ikut saja aku ke Yayasan. Tawaran ku di masa lalu masih berlaku. Kau bisa jadi pengajar di sana, jadi kau tidak perlu merasa berhutang budi”
Iqlima menggeleng. Ia tidak ingin Yahya dan keluarga nya berpikiran buruk sebelum mereka benar-benar bercerai.
“Iqlima akan ikut denganku!” Dara tiba-tiba muncul dari balik pintu.
“Iqlima, ikutlah denganku. Aku sendirian di apartemen”
“Aku akan sangat merepotkan kak Dara”
“Tidak. Aku senang ada teman. Daripada aku harus terus menerus merepotkan Laki-laki ini jika ku merasa kesepian!” Sindir Dara pada Ilyas. Iqlima tersenyum. Ia merasa Ilyas dan Dara memang serasi.
“Baiklah. Tapi untuk beberapa hari saja!”
“Terserah kau! Semuanya bebas… Sehari dua hari atau seumur hidup! Jangan terlalu sungkan. Sebagai sesama perantau, aku bisa merasakan apa yang kau rasa!” Tutup Dara merangkul Iqlima. Bersama-sama mereka menuju parkiran.
"Kalau begitu kau bawa Iqlima beristirahat! Aku akan mengunjungi kalian nanti! " Ucap Ilyas permisi. Ia naik ke mobil nya sendiri.
"Kak Dara dan Ustadz Ilyas... "
"Kenapa? "
"Sangat cocok! "
"Haha... Yang benar saja! Aku belum bisa move on dari Yahya! Bagaimana mungkin aku bisa jatuh cinta pada Ilyas! "
__ADS_1
"Ba... Bang Yahya? " Raut wajah Iqlima berubah.
"Hey jangan merengut, jangan menanggapinya dengan serius... aku hanya bercanda... bercanda...! Hahaha" Ucap Dara tertawa memegang perutnya dengan sebelah tangan. Sedang kan tangan yang satu dipergunakan untuk menyetir.
"Aku tidak merengut. Aku sekarang aku jadi penasaran bagaimana masa lalu kak Dara dan bang Yahya! Aku mau kak Dara menceritakan nya! "
"Masa lalu ku dan Yahya? " Kali ini raut wajah Dara yang berubah. Sejujur nya ia sudah tak ingin mengenang masa lalu pahit yang membuat Yahya trauma.
***
Kirimkan foto-foto Iqlima pada mas Yahya sekarang juga! Mas Yahya harus membenci Iqlima sebenci-bencinya! Nyai Wirda harus bermain dengan rapi jika ingin membuat Iqlima menjadi menantu Nyai Wirda selamanya.
Ketik Layla lalu mengirimkannya. Tak lupa ia menghapus pesan tersebut untuk menghilangkan jejak. Layla melirik Yahya yang tengah menyeduh teh Chamomile.
“Minumlah! Teh ini bisa menenangkan, mengurangi kecemasan dan membuat istirahatmu lebih berkualitas!” Ucap Yahya seraya membantu Layla bangun. Ia meminumkan teh tersebut perlahan. Layla menatap wajah serius Yahya. Wajah tersebut semakin ditatap tampak semakin tampan.
Dddrrrt Drrrttt
Nama “Nyai Wirda” tertera di layar. Nama tersebut berhasil membuat Layla panas dingin.
“Nyai Wirda? Bukankah beliau ibunya Ilyas?” Yahya mengerutkan keningnya.
“I… Iya…”
“Bukalah chatnya!” Tangan Yahya bergerak ingin membantu Layla mengambil handphone di nakas. Namun Layla dengan cepat mengambil handphone tersebut lebih dulu dan digenggam erat. Ia menggelengkan kepala.
“Ada apa? Apa lagi yang kau sembunyikan?!”
“Kalau begitu buka saja chatnya!”
Jengah. Suara Yahya meninggi. Wajah Layla yang pucat menjadi semakin pucat.
“Sepertinya banyak sekali rahasia yang kau simpan!” Tuding Yahya.
“Hiks Hiks Hiks…” Tangis Layla pecah. Yahya menghela nafas. Jujur, dalam menghadapi Layla ia sudah tak sabar.
“Berhentilah menangis! Berhenti bersikap kekanak-kanakkan!”
“Aku merasa sudah tidak lagi memiliki privasi! "
"Privasi? Apa saat ini kau akan benar-benar membahas tentang privasi?!"
"Bukan. Tapi Mas Yahya terus saja mencurigaiku! Sedemikian bencinya kah mas padaku? Hiks hiks hiks”
“……….”
“Aku ini istri mas yang lagi mengandung. Kita tengah bahagia di sini! Tolong jangan rusak ini semua dengan pikiran negative mas! Nyai Wirda tempo lalu memohon pada ku untuk bisa menyambungkan beliau pada papa! Usaha Nyai Wirda tidak sebaik dulu! Beliau butuh investor! Beliau tengah melayangkan proposal pada Papa. Jadi wajar saja kalau aku dan Nyai keep and touch di handphone! Kalau tidak percaya mas bisa menghubungi papa! ” Terang Layla. Ia terpaksa menggunakan senjata terakhirnya. Tentu ia berharap Yahya tidak menghubungi Arya.
“Maaf, emosiku sedang tidak stabil! Kau istirahatlah! Aku mau keluar sebentar mencari udara segar!” Lirih Yahya pada akhirnya. Ia kembali menyelimuti Layla sebelum keluar kamar dengan memakai coatnya.
__ADS_1
Sejurus kemudian dengan cepat Layla membuka pesan dari Wirda.
Mengapa kesepakatan berubah? Kita sudah sama-sama sepakat bahwa biar Aisyah yang akan memberitahu putranya perihal Iqlima. Di sini biar menjadi urusan mereka. Kita tidak perlu ikut campur dan hanya perlu cuci tangan! Dengan begini situasi dan kondisi nya akan semakin *******!
Shiii*t!! Umpat Layla kesal. Semakin kesini Wirda semakin tidak bisa diatur!
Di sini bos nya siapa? Yang memberikan dana siapa?! Layla mengepalkan tangannya.
Wirda belagak sok pintar! Layla benar-benar kesal.
Tap Tap Tap
Langkah kaki Yahya membawanya semakin jauh meninggalkan hotel mereka. Menjelang subuh, suhu kota semakin terasa dingin. Yahya mengatupkan tangan dan mengosok-gosokkannya.
Pikiran Yahya terbang melayang. Ia memikirkan segala kemungkinan. Rentetan peristiwa-peristiwa yang terjadi. Yahya masih harus mencari potongan-potongan lainnya untuk mengetahui gambar puzzle yang sebenarnya.
Yahya belum berencana kembali ke hotel. Ia menge-cek handphone nya. Yahya sudah melayangkan pesan pada Gibran dan kini mendapat chat balasan.
Saya dan teman baru selesai tahajud. Kita bertemu di cafe 24 jam di ujung jalan. Setelahnya kita akan ke mesjid kecil yang ada di dekat sana.
Yahya mematikan handphone nya. Setidaknya ada Gibran di LA, Yahya bisa sedikit melepas penat dari rasa suntuknya. Namun sebenarnya Yahya sedikit terganggu dengan kabar perjodohan sepupunya, Haris. Yahya telah mengetahui bahwa abah nya akan menjodohkan Haris dengan gadis yang disenangi oleh Gibran. Dalam hati Yahya berjanji akan berbicara pada abah. Yahya tidak ingin kelak sahabat nya Gibran merasa sedih.
"Gus, kenalkan ini teman saya dari Aceh... " Gibran memperkenalkan temannya saat mereka sudah berada di cafe.
"Kita... hmh... Kalau tidak salah kita pernah bertemu... "
"Maaf saya tidak ingat..." Yahya mengerutkan keningnya.
"Saya Raafi sahabat Iqlima. Kita juga pernah bertemu di sebuah cafe di Jakarta"
Yahya memutar memori nya namun gagal mengingat peristiwa tersebut.
"Tidak apa. Peristiwa itu sudah lama. Wajar kalau sudah lupa! Hehe" Ucap Raafi. Ia menjabat tangan dingin Yahya.
"Ah yaa! Sekarang aku ingat! Kau ternyata! " Yahya terpaksa memberikan sedikit senyumnya. Yahya tidak ingin mengenang peristiwa itu, peristiwa yang membuatnya dan Iqlima bertengkar.
"Alhamdulillah kalau sudah saling mengenal! By the way Terima kasih mas Yahya sudah melibatkan perusahaan kami di sini! Padahal perusahaan kami masih sangat kecil dan masih kalah pamor dengan perusahaan lainnya! "
"Tidak. Justru aku menilai kalian sangat berkompeten dan bisa berkontribusi lebih jauh! "
"Karena penilaian Gus Yahya yang sedemikian rupa, maka kami akan berusaha semaksimalkan semaksimal mungkin dalam menciptakan produk! "
"Good. Besok siang kita akan ke pabrik! Kita akan melihat bahan baku di sana! "
Gibran dan Raafi mengangguk setuju.
"Aku akan membawa serta Layla, istriku. Perusahaan milik keluarga istriku memiliki peran besar dalam memasok bahan baku. Besok di pabrik, Kalian bisa bertanya dengan leluasa! Doakan istri ku yang tengah mengandung itu agar besok bisa sehat dan bisa menemui kalian"
"Masya Allah... Semoga Allah memudahkan! " Sahut mereka serempak.
__ADS_1
Layla? Nama yang tidak asing. Pikir Raafi. Pikiran nya melayang pada peristiwa kelam malam itu. Raafi masih memikirkan wanita pemilik nama Layla hingga detik ini. Hidupnya masih tidak tenang. Raafi berjanji suatu saat akan menemukan wanita tersebut dan bertanggung jawab.
......................