Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)

Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)
Bab 78: Jauh Lebih Dalam~


__ADS_3

Yahya membuka pintu kamar. Ia sangat terkejut melihat ruangan yang acak-acakan. Bulu-bulu angsa bertebaran serta sebuah pisau buah menancap di salah satu bantal yang terkoyak. Yahya mengedarkan pandangannya lebih luas. Terlihat Layla yang sudah berganti pakaian dengan piyama.


Ia terlelap di atas kasur dengan selimut yang terjatuh di lantai.


Yahya mendekat. Tiba-tiba perasaan bersalah pada Iqlima menyergap. Seperti ada benda yang mengganjal dihatinya. Benar-benar terasa tidak nyaman. Yahya mengambil selimut yang ada di lantai tersebut dan perlahan membaluti tubuh Layla. Ia berbalik dan hendak melangkah ke arah sofa.


Sreg.


“Mas, mau kemana lagi?” Yahya terkejut. Tidak sengaja ia menepis tangan Layla yang memegang lengannya.


“Hmh Aku….” Yahya mencoba mencari alasan.


“Mas, tidak bisakah jika malam ini mas tidur di sampingku? Kalau seperti ini tiba-tiba aku merasa seperti menjadi pengantin yang malang” Ucap Layla dengan raut wajah sedih. Yahya nelangsa. Tidak punya pilihan lain, Ia hanya bisa mengangguk. Layla sumringah seketika. Senyuman manis mengembang di bibir tipisnya. Yahya langsung mengambil tempat. Ia berbaring kaku menatap langit-langit kamar.


“Mas…” Panggil Layla.


“Hmh…”


“Mas…” Layla melembutkan suaranya. Ia bergeser merapat. Perlahan Layla memeluk tubuh harum Yahya. Pemuda tersebut sontak terduduk. Keringat dingin sebesar biji jagung keluar dari pelipisnya.


“Ma.. Maaf!" Ucap Yahya merasa tidak enak pada Layla.


"Aku merasa kepanasan… AC sepertinya rusak! Malam ini aku tidur di sofa saja!” Ucap Yahya langsung bangkit berdiri. Tak lupa ia mengusap bulir-bulir air yang keluar dari kelenjar keringatnya. Raut wajah Layla kontan berubah. Ia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat hingga tanpa sadar mengeluarkan darah.


***


Di dampingi oleh Sari, Iqlima berjalan memasuki ruang makan. Hari ini merupakan kali pertama ia di undang sarapan pagi bersama setelah lebih dari dua tahun menyandang gelar sebagai istri dan menantu.


Iqlima melihat haji Zakaria sudah berada di kursi utama. Di sebelah kanan beliau terdapat Hajjah Aisyah. Yahya duduk pada sisi kiri dan selanjutnya ada Layla yang mendampingi Yahya.


Seketika Hati Iqlima mencelos saat melihat rambut agak basah Layla. Sepertinya gadis tersebut sengaja untuk tidak me-hairdryer rambutnya.


Sudah seharusnya bang Yahya menyentuhnya. Mereka memang sudah menikah. Gumam Iqlima mencoba membesarkan hati. Ia mati-matian tegar agar airmatanya tidak mengalir. Yahya langsung menatap Iqlima sejak awal istri pertama nya tersebut melangkahkan kaki dan lebih memilih untuk duduk di sebelah hajjah Aisyah. Yahya memanfaatkan situasi tersebut dengan menatapnya intens dari arah depan.


Jamilaaa Shalihaa. Mengapa Aku tidak puas-puas menatapnya? Yahya menopang tangan di dagu memandangi wajah Iqlima dengan tidak berkedip.


“Ehemm” Hajjah Aisyah menyadari gelagat Yahya. Beliau langsung membuyarkan suasana dengan berdehem.


“Nak Iqlima, pagi ini ada Ummi atau Jiddah Maharani. Ibunya Abah. Neneknya Yahya yang sengaja datang jauh-jauh dari Solo untuk melihat cucu menantunya yang baru saja menikah! Maaf ya nak, di tempat yang kau duduki itu adalah tempat beliau. Kau boleh mengambil tempat di sebelahnya” Iqlima tersentak. Ia terkejut bukan karena titah Hajjah Aisyah yang menyuruhnya untuk berpindah tempat melainkan karena selama ini ia sama sekali belum pernah melihat nenek dari Yahya. Dan beliau bersedia datang hanya demi Layla. Dengan tergugu Iqlima bergeser ke satu kursi di sebelahnya. Layla menaikkan salah satu sudut bibirnya ke atas. Meremehkan.


Tuk Tap Tuk Tap

__ADS_1


Suara tongkat yang berbenturan dengan marmer (batu pualam) dan langkah kaki terdengar mendekat. Seorang wanita yang sudah sepuh namun masih terlihat segar tiba dengan dampingi oleh tiga asistennya. Semua yang ada di ruang makan bangkit menyambut dengan menyalami beliau satu persatu.


Makanan dihidang. Tidak ada yang memulai percakapan. Suasana hening. Para anggota keluarga yang telah mengambil tempat mulai makan dengan khidmat. Walau Hajjah Maharani sudah sepuh, namun terlihat beliau sangat menguasai table manner. Beliau makan perlahan-lahan dengan elegan.


Ting


Iqlima tidak sengaja membenturkan sendok ke piringan porselen. Suara yang ditimbulkan cukup nyaring hingga berhasil menyita perhatian. Hajjah Aisyah berhenti menyendok.


"Tidak sopan! " Ucap Hajjah Maharani tanpa menoleh. Kening beliau mengerut.


"Maaf Ummi, nak Iqlima berasal dari kampung. Jadi sedikit tidak mengerti tata krama! " Ucap Hajjah Aisyah.


"Siapa Iqlima? "


Triiing


Mendengar perkataan Hajjah Aisyah, Yahya menghempaskan sendoknya ke piring.


Deg.


"Istri pertama Yahya, Mi..." Sahut Hajjah Aisyah menatap tajam pada Yahya. Beliau mengisyaratkan agar putranya tetap bersopan santun.


"Apa?! Istri per..tama??" Hajjah Maharani tampaknya terkejut hingga tidak memperhatikan wajah kusut Yahya.


"Jaka, Ummi sudah tidak selera! Kalian lanjutkan saja! Ummi tunggu kalian di ruang tengah! " Ucap Hajjah Maharani dengan wajah berkerut pada Haji Zakaria, putranya. Iqlima menunduk dengan menggigit bibir bawahnya cemas.


"Kamu itu makannya harus bisa mencontoh nak Layla! Belajar dari nya. Walau usianya lebih muda darimu, tapi nak Layla lebih tertata dan pengalamannya tentang bersopan santun di meja makan jauh lebih mumpuni!" Layla sumringah. Ia melirik Yahya jika-jika pujian yang mertuanya alamatkan padanya berhasil membuat pemuda es batu tersebut mencair dan terpesona.


"Mi...Sudah, Mi! Jangan sampai ada lagi orang yang kehilangan selera makan karena perkataan Ummi!" Sambar Haji Zakaria yang berhasil membuat Hajjah Aisyah manyun.


Selera makan Iqlima memang sudah memuai sejak awal. Sejak tadi dengan tanpa sengaja ia membuat suasana makan jadi kacau. Entah mengapa sejak mendesak Yahya untuk menikahi Layla dalam rentang waktu lebih dari satu setengah tahun lalu, kepercayaan diri Iqlima seperti meredup. Hajjah Aisyah terus menerus meneror dan menjatuhkan mentalnya.


"Sssss... " Tiba-tiba Layla mendesis saat mengunyah. Atensi beralih padanya. Hajjah Aisyah yang berada tepat di hadapannya baru menyadari bahwa bibir Layla pecah.


"Ya Rabb... bibirmu bisa sampah pecah begitu, nak?"


"Tidak apa-apa mi, nanti juga sembuh sendiri! " Layla memberikan senyumnya dengan masih sedikit meringis. Hajjah Aisyah tampak berfikir, lalu beliau berubah sumringah.


"Nak Yahya, Ummi tau kalau kamu dan nak Layla baru saja menikah... Semangatmu begitu menggebu-gebu. Kamu persis abahmu.. hehe" Suara Hajjah Aisyah melunak. Beliau tertawa ringan.


"Tapi ya tolong perhatikan juga bagaimana kondisi istrimu, hm? Memang memetik bunga segar yang kuncupnya baru saja mekar itu rasanya berbeda, lain dengan bunga yang madunya telah lebih dulu dinikmati oleh kumbang lain" Sindir Hajjah Aisyah.

__ADS_1


"Huk Huk Huk... " Yahya terbatuk. Iqlima yang tengah meneguk minuman serasa menelan duri. Ia diam-diam melirik Yahya yang ternyata juga menatapnya. Melihat suaminya, suasana hati Iqlima semakin bertambah buruk. Layla merasa berada di atas angin. Perlakuan Yahya yang semalam menghindarinya sedikit terobati dengan melihat wajah Iqlima, pesaingnya yang kini menekuk tertekan.


***


"Datang, tidak, datang, tidak, datang... " Tanpa sadar Iqlima menghitung biji tasbih yang ada ditangannya sambil melirik ke arah pintu menanti kedatangan Yahya. Sedari tadi airmatanya terus mengalir. Peristiwa di ruang makan memenuhi pikiran dan membuat hatinya terasa sakit.


Astaghfirullah. Iqlima memijat pelipis menyadari kekeliruan nya. Seharusnya ia bertasbih usai menunaikan shalat dhuha. Iqlima menghapus air matanya.


Apa bang Yahya menemui Layla dan kembali melanjutkan ibadah mereka semalam? Pikiran Iqlima mulai kacau kembali. Ia sama sekali tidak bisa berkonsentrasi.


Ceklek.


Pintu terbuka. Iqlima sontak mendongak dengan berdebar-debar. Namun seketika ia kembali kecewa karena ternyata yang menemuinya bukan Yahya melainkan Sari yang datang membawa jus mangga.


"Mbak, Apa mbak melihat bang Yahya berlalu lalang diluaran sana? " Tanya Iqlima.


"Gus Yahya lagi bersama Ummi Hajjah dan Nyonya besar di ruang keluarga, nona! " Iqlima mengangguk-angguk.


"Oh iya, silahkan diminum! Alhamdulillah jus mangga ini sudah diracik dengan berbagai ramuan penyubur" Ucapan Sari memperburuk suasana hati Iqlima. Airmatanya kembali mengalir.


Permasalahan anak juga merupakan permasalahan utama yang selalu didengung-dengungkan di keluarga besar Yahya selain status dan kedudukannya yang rendah. Dan, masalah ia dan Yahya yang belum dikaruniai anak adalah masalah yang paling membuat Iqlima merasa sesak. Membuatnya kerap menangis, menghilangkan nafsu makannya serta membuat berat badannya menyusut drastis.


Iqlima menyuruh Yahya berpoligami bukan hanya karena permasalahan balas budi dan cinta Yahya pada Layla semata. Jauh lebih dalam daripada itu. Desakan, intimidasi, teror nyaris membuatnya menyerah dan hampir mengakhiri hidup.


"Terima Kasih, Sari! " Sahut Iqlima parau.


"Apa nona menangis? " Tiba-tiba Sari merasa tidak enak hati.


"Aku hanya merasa tidak enak badan. Aku ingin beristirahat" Sahut Iqlima diplomatis. Sari mengangguk. Ia paham apa yang majikan nya inginkan. Sari pun pamit keluar tanpa banyak bertanya.


***


"Apa?? Istri pertamanya mandul?? " Hajjah Maharani terkejut akan perkataan Aisyah, menantunya. Mereka sudah menghabiskan waktu 30 menit berbincang mengenai asal usul Iqlima dan mengapa Yahya bisa sampai melakukan poligami.


"Mi, tidak pernah ada yang mengatakan Iqlima begitu! Yahya mohon jaga perkataan Ummi! " Yahya mengeraskan suaranya. Hatinya terasa sakit.


"Jiddah bersyukur kamu memutuskan untuk menikahi Layla, Nak! Putraku Jaka memang keras kepala! Beruntung ia memiliki istri seperti ummi mu yang berhasil membujuknya. Gadis seperti Layla ini langka. Selain ia tau sopan santun, anggun dan bukan dari keluarga sembarangan. Ia mau menerima keadaanmu, Cucuku!" Ucap Hajjah Maharani di iringi senyum puas yang terukir di wajah cantik Hajjah Aisyah.


***


Berikan Komen Terbaikmu ❤

__ADS_1


#Event_6


***


__ADS_2