
Dddrrrrtttt Dddrrrrtttt
Handphone Yahya bergetar. Rusdi menelponnya. Tanpa mempedulikan Hajjah Aisyah dan Layla, Yahya langsung keluar kamar menerima telepon. Pergerakan Yahya membuat Layla dan Hajjah Aisyah saling menatap.
“Ada apa Rus? Apa kau mengetahui Iqlima dimana?”
“Alhamdulillah saya menemukan titik terang, Gus!”
“Cepat katakan dimana Iqlima?!”
“Nona Iqlima sedang berada di sebuah hotel”
“Ho… tel?”
“Benar Gus!”
“Hotel mana?!”
“Saya masih menyelidiki. Foto dari informan yang saya dapatkan, ada dua hotel yang mirip dengan tempat keberadaan nona Iqlima. Sekarang saya sedang menge-cek nya"
Aku benci dengan ketidakadilan mas!! Bisa saja Iqlima melarikan diri dari mas dan bersenang-senang dengan laki-laki lain!!!! Tapi lihatlah apa yang mas lakukan?? Mas hanya bisa memikirkan, memikirkan dan memikirkan wanita itu!!! Kata-kata Layla terngiang-ngiang di benak Yahya.
"........... "
"Gus, Gus Yahya akan menunggu atau tetap berangkat ke Amerika?” Tanya Rusdi berhati-hati. Yahya melirik jam tangannya.
“Hmh… Iqlima… Kau saja yang mengurusnya…”
“A.. Apa Gus?”
“Aku harus berangkat sekarang” Tegas Yahya menutup pembicaraan mereka. Rusdi menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ia bingung dengan sikap Yahya yang sebelumnya begitu menggebu-gebu mancari Iqlima. Kini istri pertamanya tersebut sudah hampir mereka temukan, namun Yahya malah menunjukkan sikap sebaliknya.
Klek
“Ayo kita berangkat!” Ajak Yahya menarik tangan Layla dengan raut muka yang sulit untuk diartikan. Mereka dengan cepat menuju bandara.
“Aku memperpanjang hari kunjungan kita di US. Kita akan menetap di sana beberapa saat setelah kunjungan kerja” Ucap Yahya saat pesawat mereka sudah take off mengudara.
“Memperpanjang hari di Amerika? Memangnya ada acara lanjutan ya?” Tanya Layla mengerutkan keningnya.
“Tidak. Aku ingin kita sedikit menghilangkan penat dari hiruk pikuk Jakarta. Mungkin Amerika bukan pilihan yang tepat. Tapi misal kita bisa ke Chicago, tempat yang lebih tenang. Kau juga sedang mengandung… Ibu hamil butuh banyak refreshing agar janin bisa tumbuh dengan baik” Terang Yahya menarik tangan Layla dan menggenggam nya. Wanita tersebut terpana. Untuk sementara ia terdiam tanpa berkedip.
“Layla… Dik Layla…” Panggil Yahya membuat gerakan lambaian tangan dari kursi first class nya.
“Hihihi…” Layla cekikikan dengan menutup mulutnya.
__ADS_1
“Kenapa?Apa ada yang aneh?”
“Tidak. Aku cuma tertawa bahagia. Mood ku langsung melejit 1000 persen!”
“Kenapa bisa begitu?”
“Bukankah dengan kata lain mas mengajak ku melakukan babymoon? Aku merasa seperti sedang terbang tinggi di angkasa. Eh, tapi sekarang kita memang sedang berada di angkasa kan... Hahaha” Layla berbinar-binar. Yahya tersenyum. Ah, gadis ini selalu mengatakan apa yang ada di pikirannya. Layla berbeda dengan gadis Jawa lain yang pada umumnya bersifat pemalu, namun ia selalu bisa blak-blakkan mengutarakan apa yang ia rasakan.
Blak-blakkan? kata yang sangat familiar. Yahya menghela nafas. Tidak bisa dinafikan, ia masih tidak tenang memikirkan Iqlima. Yahya ingin segera mendarat di LA dan menantikan kabar dari Rusdi. Yahya penutup jendela kaca di sebelahnya. Awan Cumulus bergulung-gulung di luar sana. Bayang-bayang Iqlima memenuhi pikirannya. Hati Yahya terasa nyeri. Ia berharap keputusan ke Amerika bukanlah suatu kesalahan.
Hmh…. Good Job, Layla! Mas Yahya mu mulai on the way melupakan Iqlima… oh Rabb ku... Apa sekarang Kau mulai berpihak kepadaku? Yesss!!! Gumam Layla mengepal-ngepal kan tangan kegirangan. Ia melirik suaminya yang sudah tertidur. Awal mula yang baik. Perjalanan ke Amerika jadi terasa begitu menyenangkan.
***
Iqlima perlahan membuka mata. Ia terbangun. Kepalanya terasa berat. Iqlima merasa pusing. Ia memperhatikan sekeliling. Wanita tersebut masih berada di kamar hotel yang sama. Ia juga masih terbaring di lantai semula.
“Huk Huk Huk” Iqlima terbatuk. Dengan bersusah payah ia bangun mencoba untuk duduk. Namun sayang, Iqlima terjatuh. Tubuhnya kembali terkulai di lantai. Ia merasa lemas. Energi nya terkuras habis. Ia seperti habis dari lari marathon.
“Ada apa ini?” Iqlima meraba-raba pakaiannya. Set baju lengkap masih dipakainya. Ia juga meraba bibirnya yang terasa perih karena pecah-pecah. Iqlima butuh air. Ia seperti mengalami dehidrasi hebat.
“Apa aku bermimpi? Semalam aku merasa seperti tidak sadarkan diri. Seseorang membiusku!” Lirih Iqlima hampir tak bersuara. Ia terpaksa berdiam di tempat untuk memulihkan energinya.
Airmata Iqlima kembali menetes. Bibirnya gemetar hebat. Ia melirik sekeliling. Kamar hotel mewah yang megah. Namun Iqlima tidak berminat menikmati nya. Kamar crystal gold tersebut terasa sangat sepi. Hanya ada ia seorang. Iqlima merasa sendirian. Pikiran buruk menyerangnya. Iqlima gemetar ketakutan.
“Tapi sekarang sudah jam berapa? Apa sudah subuh?” Dengan cepat mata Iqlima melihat ke arah jam dinding. Di sana tertera pukul 17.05 wib.
“Masih menjelang maghrib? Tidak mungkin. Sepertinya jam dinding itu rusak” Pikir Iqlima. Ia yang berpikir baru saja selesai melakukan shalat isya merasa janggal.
“Ssssss…” Iqlima mendesis nyeri. Ia kesulitan menggerak-gerakkan tubuhnya. Ototnya masih terasa kaku. Namun perlahan ia sudah bisa duduk normal bahkan berdiri. Iqlima masih mencerna apa yang terjadi padanya. Dengan tertatih-tatih ia berjalan ke arah jendela kaca.
Sreeeett
Iqlima menyibak tirai gorden. Pemandangan terhampar. Namun alangkah terkejutnya ia saat melihat kota masih dalam keadaan terang benderang. Sinar senja menyemburat dari atas langit.
“Ya Rabb.. Ada apa ini? Berapa jam aku tertidur?!” Iqlima memegang kepala nya yang masih terasa berat. Ia merasa sangat lemas. Dengan sekuat tenaga ia memutar arah dan mengambil handphone nya yang berada di atas nakas. Sebelum benar-benar pergi meninggalkan hotel, Ia harus menghubungi Rais terlebih dulu.
***
Hajjah Aisyah tengah membereskan berkas saat sebuah pesan sampai ke handphone-nya.
Ceklek
“Abah?” Perhatian wanita paruh baya tersebut teralihkan saat sang suami masuk menemuinya di ruang kerja.
“Mi, apa sudah ada kabar tentang nak Iqlima?”
__ADS_1
“Abah… Abah… Iqlima kan sudah besar. Dia sudah tau arah dan bisa pulang sendiri!” Sahut Hajjah Aisyah santai dengan acuh tak acuh.
“Ummi ini bagaimana? Masa sedikitpun tidak memiliki rasa cemas pada menantu!” Abah menggeleng-gelengkan kepala. Heran.
“Pokoknya kalau Iqlima mau pulang ya silakan... Kan tidak ada yang melarang... Kalau tidak ya bagaimana bah? Toh Ummi bukan ahli nujum yang bisa menerawang keberadaannya!” Ketus Hajjah Aisyah. Haji Zakaria hanya bisa menghela nafas. Handphone beliau turut bergetar. Sebuah pesan masuk.
Assalamu'alaikum Prof, artikel yang harus direvisi sudah saya selesaikan. Saya berharap bisa menemui Profesor Yahya dalam waktu dekat ini untuk konsultasi. Semoga Profesor berkenan Meng-approve nya 🙏
From: Jelita.
Haji Zakaria terdiam sejenak. Sekarang ini beliau sedang tidak mood bertemu mahasiwa dan sedang memusatkan perhatian beliau pada kasus kepergian Iqlima.
Temui saya besok pagi pukul 09.00.
Demikian balasan haji Zakaria. Bagaimanapun beliau tidak boleh menghambat mahasiswa bimbingan nya. Masih dengan rasa kekhawatiran yang sama, haji Zakaria memilih untuk keluar dari ruangan. Hajjah Aisyah yang diam-diam memperhatikan tingkah suaminya langsung melengkungkan senyum sinis.
Dddddrrrrttttt Drrrtttttt
Handphone Hajjah Asiyah kembali bergetar. Kali ini berulang kali. Beliau yang memang lagi mengurus laporan bisnis harus berdecak sebal. Hajjah Asiyah terpaksa mengambil handphone dan mengangkat panggilan tersebut.
"Assalamu'alaikum Ummi Hajjah"
"Ya, ada apa? "
"Apa Ummi Hajjah sudah melihat pesan yang terkirim? "
"Memangnya ada apa? "
"Sudah diduga, Ummi Hajjah belum melihat. Ummi Hajjah harus segera melihat nya! "
"Cepat katakan ada apa?! Aku tidak punya waktu berbasa basi! "
Tuuuttt Tuuuttt Tuuuttt
Panggilan diputuskan.
"Huh. Edan!! Orang jaman sekarang tidak punya sopan santun! " Umpat Hajjah Aisyah semakin sebal. Tapi beliau memilih untuk tetap memeriksa pesan yang masuk. Sedetik, dua detik, sepuluh detik berlalu. Hajjah Asiyah membolakan matanya. Beliau terkejut bukan kepalang. Foto-foto dan video Iqlima memenuhi handphone nya.
......................
Cek Ombak 🌊
Untuk yang sudah lama menanti lanjutan kisah Yahya dan Iqlima~ Terima Kasih 💕🙏
@alana.alisha
__ADS_1