
Sreeeettt
"Iqlima....! " Panggil seseorang menarik lengan nya. Suara yang terdengar tidak asing. Iqlima terenyak melihat siapa yang memanggil.
"Maryaaaaam??!! " Pupil mata Iqlima melebar. Ia terkejut bukan kepalang.
"Aku sangat merindukan mu... Aku mencari mu kemana-mana... Aku mencarimu hingga ke pesantren Bustanul Jannah... Berkali-kali aku ke sana namun kata mereka kau tidak berada di sana... "
Ja... Jadi yang aku lihat di pesantren tempo lalu benar-benar Maryam? Iqlima mengerut kan keningnya.
"Mengapa kau di sini? Kau sedang apa sendirian di sini? " Tanya Maryam menggenggam erat tangan Iqlima.
"Aku benar-benar frustasi mencarimu... Hampir saja aku kembali ke Aceh, namun ternyata kita masih ditakdirkan untuk saling menyapa... Mengapa kau hanya diam? Mengapa kau tidak memeluk ku? " Tanya Maryam merentangkan kedua tangannya.
Maryam itu... Tidak sebaik yang kau duga... Dia penuh kepalsuan... Kata-kata Yahya tiba-tiba saja terngiang di kepala. Ah bang Yahya... Ingatannya tentang Yahya membuat Iqlima kembali bersedih. Dengan sedikit ragu wanita tersebut merentangkan tangannya. Maryam tersenyum lebar. Ia memeluk sahabatnya erat. Dengan gerakan lambat Iqlima membalas pelukan tersebut.
"Apa kau baik-baik saja? Nyak Agam Putramu bagaimana? "
"Alhamdulillah dia tumbuh dengan baik... Tapi Kau mau kemana? Mengapa kau ada di sini?" Tanya Maryam. Iqlima hanya bisa menggeleng sendu.
"Kau mau ke tempat tinggal ku? Aku kos di Jakarta Barat" Tawar Maryam. Iqlima berpikir sejenak. Tidak ada pilihan lain, ia mengangguk menerima tawaran tersebut.
"Ayo... " Ajak Maryam mengamit riang lengan Iqlima. Baru saja mereka melewati pertigaan, sebuah mobil sedan berdiri tepat di samping mereka. Seorang pemuda keluar dari pintu.
"Iqlima! " Panggil pemuda tersebut.
Ustadz Ilyas?
"Kalian mau kemana? Mari aku antar! "
"Tidak usah ustadz... Terima kasih! " Sahut Iqlima cepat tanpa menatap Ilyas.
Ini tidak akan berhasil. Aku harus mencari cara... Gumam Ilyas melirik Maryam.
"Kau.... Kau itu teman Iqlima ketika di Aceh kan? Kau masih ingat aku? Aku Teungku Ilyas! "
Maryam mengangguk.
"Hari hampir gelap. Sebaiknya kau mengajak Iqlima agar kalian ikut saja bersamaku! Aku akan mengantar kalian ke tempat tujuan" Tawar Ilyas tak menyerah. Maryam melirik Iqlima dan mengatakan apa yang pemuda tersebut katakan memang ada benarnya. Apalagi lokasi tempat tinggalnya memang lah jauh.
"Iqlima... Apa kau baik-baik saja? Maaf, apa kau pergi dari Bustanul Jannah?" Tanya Ilyas memecah keheningan saat mereka sudah berada di dalam mobil. Iqlima hanya diam.
"Hmm... maaf jika pertanyaan ku mengganggu mu! "
"Aku baik-baik saja, aku harap ustadz Ilyas tidak mengatakan kepergian dan pertemuan ini pada keluarga Bustanul Jannah" Sahut Iqlima yang tidak ingin menambah masalah. Ilyas mengangguk.
Ya Rabb... Aku harus bagaimana... Aku harus kemana? Gumam Iqlima cemas melihat ke sebelah jendela. Mobil yang menumpangi mereka terus melaju.
...****************...
"Ya Allaah Yahyaaaa,, mengapa ini bisa terjadi?! " Pekik Hajjah Aisyah mengguncang pundak putranya. Ia langsung ke rumah sakit ketika mendengar kabar Layla.
"Alhamdulillah Layla dan bayi yang dikandungnya baik-baik saja, Mi! "
"Apa katamu?! Bayi yang dikandungnya?! Itu BAYI-mu, Yahya!! " Sembur Hajjah Aisyah menunjuk dada bidang Yahya. Pemuda tersebut terdiam.
"Lalu sekarang dimana menantu kesayangan Ummi?! "
__ADS_1
"Layla masih diperiksa di dalam, Mi! "
"Kalau sampai Layla dan cucuku kenapa-napa, Kau akan menanggung akibatnya! Aku tidak akan pernah memaafkanmu!" Ketus Hajjah Asiyah mendelik tajam. Matanya menyala-nyala penuh amarah. Yahya mengikuti langkah kaki sang ibu masuk ke dalam ruangan.
"Bagaimana cucu kembar saya, Dok? "
"Alhamdulillah semua baik-baik saja. Namun ada sedikit guncangan pada psikologis nona Layla, kita tidak boleh meremehkannya. Jadi sekali lagi saya tekankan, mohon di perhatikan agar nona Layla tidak dalam kondisi stress dan tertekan! Semua harus dipastikan aman dan nyaman" Tukas dokter dengan nada tak ramah. Yahya langsung menatap Layla dengan perasaan bersalah.
Ceklek
Arya dan Cahyati tiba. Wajah kusut terpatri jelas di sana. Melihat kedua orang tuanya, Layla dengan cepat memegang erat tangan Yahya dan berlindung. Dengan langkah pasti Arya langsung menghampiri nya.
"Apa yang kau lakukan? Mengapa kau begitu ceroboh?! Kau akan menjadi seorang ibu! Bisa-bisanya masih seperti bayi merah! Sudah seharusnya kau menjaga kandungan mu dengan baik! " Sembur Arya.
"Kanjeng Besan... Sudahlah... jangan memarahi nak Layla. Ini juga salah Yahya yang tidak sigap menjadi suami hingga membuat putri dan calon cucu kita hampir celaka! " Ucap Hajjah Aisyah. Yahya semakin terpojok kan.
"Apapun itu, yang paling penting untuk saat ini semua nya sehat... Alhamdulillah tidak terjadi apa apa" Cahyati ikut angkat bicara. Arya menghela nafas dan memilih untuk keluar dari ruangan. Kamar rawat hening seketika.
Yahya yang tidak tau harus melakukan apa mengupas buah-buahan dan memberikannya pada Layla untuk mengusir kecanggungan. Melihat itu semua Hajjah Aisyah mengukir senyum. Beliau berharap sikap Yahya pada Layla bisa berubah. Hajjah Aisyah pun mengamit lengan Cahyati keluar untuk mengobrol.
"Maafkan aku..." Lirih Yahya.
"Mas tau? Di dunia ini... Aku tidak memerlukan apapun selain mas Yahya selalu di sisiku... Aku sudah mengucapkan kalimat ini seribu kali" Lirih Layla. Yahya terenyak.
"Aku akan berusaha untuk bisa bersikap lebih baik" Janji Yahya.
"Termasuk untuk tidak merasa jiijik padaku? " Todong Layla.
"A... Apa maksud mu? "
"Sudahlah Mas... Aku tau bagaimana caramu memandangku. Kau selalu melakukannya dengan sebelah mata" Layla tersenyum kecut.
"Sudah Layla... Ku mohon cukup! Maafkan aku... Maafkan... " Lirih Yahya yang tidak ingin lagi melihat Layla merasa kesakitan.
"Maaf saja tidak cukup, Mas! "
Drrrrttt Drrrttttt
Suara Handphone Yahya membuyarkan atensi mereka. Pemuda tersebut melihat nama Sri tertera di layar. Di saat bersamaan, Layla juga menerima pesan dari Nilam.
Gus Yahya, nona Iqlima tidak ada di pesantren. Selama satu jam ini saya sudah mencari ke seluruh tempat tapi beliau tidak ada. Saya mohon Gus Yahya mau mencari nona Iqlima. Saya khawatir beliau kenapa-napa.
Ning Layla, selamat! Saat ini pesantren sedang gempar karena Iqlima kabur. Semoga Iqlima tidak pernah kembali lagi.
Pesan dari Sri membuat mata Yahya terbelalak sempurna. Berbeda dengan Layla, wanita muda tersebut diam-diam terpekik girang.
Tapi.... Tunggu... Wait... Wait... Pasti.... Mas Yahya akan pergi mencari nya... Gumam Layla melirik Yahya.
"Mas Yahya kenapa? "
"Ha? Ya? "
"Tadi itu mas dapat pesan darimana?" Selidik Layla.
"Ah... hmh... ini hanya dari rekan... Oh iya, aku... hmh... aku permisi dulu... ada hal yang belum aku bereskan. Kau istirahatlah... sementara ada ummi dan mama yang menemani, hmh? " Ucap Yahya mengelus-elus puncak kepala Layla dan langsung berlalu pergi.
Mas Yahya pasti pergi mencari wanita itu... Chat barusan pasti dari mata-mata kaki-tangan nya di pesantren. Tapi siapa? Wajah Layla berubah kusut setelah menaruh curiga.
__ADS_1
...****************...
"Kau tinggal di dalam gang sana? " Tanya Ilyas sedikit terkejut saat memarkirkan mobilnya di ujung gang. Maryam mengangguk. Tampak wanita dan pria berlalu lalang sambil berpeluk mesra. Iqlima terlihat tak nyaman.
"Mengapa kau memilih kos di daerah ini? "
"I... Itu karena... Hmh.... Di sini kawasan yang terbilang murah" Aku Maryam.
"Oh O... Okay... " Sedikit menyesal, tidak seharusnya Ilyas menanyakan hal tersebut.
"Terima kasih telah mengantar kami, Ustadz Ilyas" Ucap Iqlima tanpa basa basi. Ia mengajak Maryam untuk segera pergi.
"Tu... Tunggu... "
"Bagaimana kalau kalian menempati vila ku untuk sementara waktu? "
"Tidak usah Ustadz... Terima kasih tawaran nya! " Sahut Iqlima cepat. Maryam menarik Iqlima dan menghentikan pergerakan nya.
"Tidak ada salahnya kita ikut ke Vila beliau" Bisik Maryam.
"Aku tidak ingin melibatkan beliau. Apalagi ustadz Ilyas dan bang Yahya bersaudara. Itu semua akan memperkeruh keadaan ku, Maryam!" Ucap Iqlima menggeleng tegas.
"Maryam, boleh aku meminta nomor handphone mu? " Ilyas kembali mendekat. Maryam langsung menyerah kan nomornya.
"Kalau ada sesuatu dan lain hal, atau mungkin Iqlima berubah pikiran... Kau boleh menghubungi ku! Insya Allah besok atau lusa aku juga akan kembali ke sini! " Bisik Ilyas pada Maryam. Hati nya begitu khawatir namun ia tidak bisa berbuat apapun. Iqlima adalah wanita keras kepala yang sulit untuk dibujuk.
"Maryam, apa mereka pasangan yang sudah menikah? " Bisik Iqlima saat mereka sudah berjalan beberapa langkah melewati gang.
"Bukan, mereka bukan pasangan resmi..." Sahut Maryam.
"Apa pergaulan para gadis dan wanita dewasa di sini itu memang begini? " Iqlima mengerutkan keningnya.
"Laki-laki itu... Mereka adalah pria hidung belang dan para wanita itu... mereka adalah wanita-wanita panggilan" Terang Maryam. Langkah kaki Iqlima sontak terhenti. Jantung nya berdegup kencang. Ia mengerti kemana arah tujuan dari perkataan Maryam.
"Apa kau benar-benar tinggal di lingkungan ini? " Tanya Iqlima berhati-hati dengan mata penuh waspada. Maryam mengangguk. Seketika Iqlima menyesal mengikuti Maryam pergi. Apalagi banyak hal yang harus ia konfirmasi dari Maryam terkait beberapa peristiwa di masa lalu.
"Maaf, kau mungkin merasa tidak nyaman. Tapi kau jangan khawatir... Kita tidak akan kenapa-napa! Kau hanya jangan mempedulikan mereka" Ucap Maryam. Iqlima masih ragu untuk melangkah.
"Ayolah... Ini lebih baik daripada kita harus mengikuti Ustadz Ilyas... Di kos, kau ceritakan padaku apa masalahmu... sebab aku juga tidak bisa lama di sini... Beberapa hari lagi aku sudah harus kembali ke Aceh... Kau mandi dan bersih-bersih di Kos lalu kita keluar mencari makan! " Ucap Maryam sembari menarik lengan Iqlima untuk berjalan lebih cepat.
Sementara di rumah sakit, Hajjah Aisyah kembali murka mendengar Yahya meninggalkan Layla begitu saja. Padahal menantu kesayangan nya tersebut baru saja mendapatkan perawatan karena sakit di perutnya.
"Mi,,, Mas Yahya pasti mencari Iqlima! " Lirih Layla sesegukkan setelah mengadukan apa yang terjadi.
"Dia lagi dia lagi! Kenapa Iqlima selalu saja mencari masalah?! " Tukas Hajjah Aisyah berkacak pinggang. Beliau mencoba menghubungi nomor Yahya namun nomor sang putra selalu saja sibuk.
"Bagaimana ini, Mi? "
"Biarkan saja Iqlima pergi! Kalau perlu tidak usah lagi bertemu Yahya! Yang harus kita lakukan adalah membawa Yahya kembali ke sini! Yahya tidak perlu mencari istri yang telah meninggalkan nya! " Tukas Hajjah Aisyah kembali memencet tombol di handphone nya.
Assalamu'alaikum Ummi Hajjah... Sahut orang di seberang.
"Bawa Yahya ke sini! Pesankan tiket penerbangan terdekat untuknya ke Amerika! Urus surat tugas dari kantor sekarang juga!! " Titah Hajjah Aisyah tanpa basa basi.
Baik Ummi Hajjah....
"Tenang nak Layla... Semua akan baik-baik saja! Yahya akan melupakan Iqlima seiring berjalannya waktu! " Ucap Hajjah Aisyah mengelus-elus kepala Layla penuh kasih sayang.
__ADS_1
Tidak bisa! Mas Yahya bukan orang yang bisa di setir dengan mudah! Aku harus mencari cara ku sendiri untuk membuang wanita pelakor itu dari hidup mas Yahya! Lihat saja apa yang akan kulakukan!! Gumam Layla dengan senyum menyeringai.
...****************...