
“Mi, mas Yahya pulang! Mas Yahya pulang!” Ucap Layla dengan berjinjit-jinjit mengintip ke jendela. Hajjah Aisyah ikut serta mengintip di belakangnya. Mereka saling menatap satu sama lain, tatapan tersebut mengisyaratkan bahwa mereka sama-sama saling mengerti dan memahami tanpa harus berbicara.
Posisi mereka yang berada di ruang keluarga membuat Layla dengan cepat mengamit lengan hajjah Aisyah untuk duduk. Ia mengambil beberapa tisu dan mencecerkannya di meja, kursi dan lantai.
“Mi, tetaplah menangis!” Titah Layla. Hajjah Aisyah mengangguk. Wanita paruh baya tersebut menangis di dekapan nya tepat saat Yahya masuk.
“Huhuhuu…. Malang sekali Nasib keluarga ini… Huhuhuu…” Suara besar hajjah membuat Yahya yang baru masuk menoleh.
“Huuuhuu… Mengapa keluarga kita begini, nak?”
“Semua akan baik-baik saja mi, itu mas Yahya sudah pulang! Kita semua pasti bisa melalui semuanya dengan baik!” Bujuk Layla lembut yang tatapannya tetap mengarah ke Yahya.
“Hmh…” Yahya berdehem. Layla melepaskan dekapannya. Tampak wajah Hajjah Aisyah yang sedari awal memang sudah bermata sembab.
“Ummi, istirahatlah!”
“Yahya, kau mau kemana? Kau sudah ke kantor polisi?!”
“Yahya ingin menemui abah, mi!” Sahut pemuda tersebut hendak melangkah.
“Yahya, apa kau sudah menceraikannya?!”
Langkah kaki Yahya terhenti.
“Nak, kau sudah menceraikan Iqlima kan?!” Lanjut Hajjah Aisyah penuh harapan dengan full intonasi.
“Belum mi…”
“Kalau begitu tunggu apalagi?! Ceraikan Iqlima hari ini juga!” Titah hajjah Aisyah geram.
“Ummi tenang saja, tanpa ummi pinta jika Iqlima bersalah Yahya tetap akan menceraikannya! Tapi sayang nya foto-foto yang beredar, itu bukan foto Iqlima!”
“Apa?!” Hajjah Aisyah dan Layla berjingkat kaget.
“Nak, bagaimana bisa itu bukan Iqlima? Wanita yang di foto itu jelas-jelas Iqlima!”
“Yahya adalah suami Iqlima. Jadi Yahya tau persis bagaimana seluruh keadaan Iqlima! Yang jelas ummi tenang saja! Ummi hanya perlu mencabut semua laporan, karena Yahya akan membersihkan nama Iqlima sebersih-bersihnya!”
“Kau hanya peduli dengan nama Iqlima?! Bagaimana dengan nama keluarga kita?!”
__ADS_1
“Jika Iqlima tidak bersalah maka semua akan baik-baik saja mi!”
“Tidak bisa! Ummi tidak akan mencabut tuntutan ummi karena Iqlima memang sudah mencemarkan nama baik kita semua!”
“Mi, mengapa ummi malah memperkeruh keadaan?!” Suara Yahya meninggi.
“Mas, sudah mas… Jangan menekan ummi. Ummi sudah cukup tertekan dengan semua ini!” Pinta Layla mencengkram erat lengan Yahya.
“Maafkan Yahya mi…” Pinta Yahya memeluk hajjah Aisyah. Ia menggiring ibunya tersebut untuk masuk ke kamar. Suasana memang sedang tidak kondusif. Yahya sendiri juga tengah kelelahan dan belum sempat beristirahat akibat perjalanan panjang dari LA.
“Dik, tolong jaga ummi ya…” Pinta Yahya setelah ia membaringkan ibunya di atas kasur.
“Nak, kamu mau kemana?!”
“Yahya masih harus mengurus banyak hal, mi!”
“Ummi tidak akan mencabut laporan!” Kekeh hajjah Aisyah.
Yahya menghentikan langkah kakinya dan berbalik.
“Mi, mengapa ummi jadi begini?”
"Mi.... "
"... Sebagai laki-laki, kau sama sekali tidak tegas! Laki-laki macam apa yang membiarkan istrinya minggat, lalu malah berurusan dengan polisi? t/Terlepas orang yang ada di dalam foto itu adalah istrimu atau bukan, tapi kesalahannya sangat fatal! Mengapa kau masih saja bisa memaafkan?! Bagaimana caramu memimpin istri-istrimu? Bagaimana caramu menjadi kepala keluarga yang baik?!” Cerca hajjah Aisyah menohok. Yahya terdiam. Hatinya memang masih tidak bisa memaafkan kelakuan Iqlima yang dinilai terlalu semena-mena.
“Menurut ummi, apa yang harus Yahya lakukan? Bukankah membebaskan Iqlima dari penjara dan membersihkan nama baik kita semua adalah bagian dari usaha Yahya menegakkan keadilan untuk kita semua?”
“Tapi bagaimana kau bersikap terhadap Iqlima? Buka mata hatimu Yahya! Ya Rabbi… Anakku sayang….. Jangan sampai karena cinta kau dibutakan oleh seorang wanita, jangan sampai harga dirimu sebagai keluarga diinjak-injak olehnya! Dia sangat zholim dan semena-mena! Kita semua tidak tau apa yang sudah di lakukannya di luar sana! Bisa jadi dia bersenang-senang dengan laki-laki lain di belakangmu!”
“Cukup ummi!” Pinta Yahya memegang dadanya yang terasa sesak.
“Walaupun kau marah, ummi harus mengatakan ini padamu! Ummi wajib mengingatkanmu nak…! Kau lihat Layla, dia tidak pernah menimbulkan masalah apapun! Cintanya padamu tulus,, sejak menikah ia tidak pernah macam-macam. Ia gadis rumahan yang shalihah, gadis pintar dengan cinta yang murni! Tapi kau selalu mengabaikannya dan hanya melihat istri yang hanya bisa membuat masalah hingga dia benar-benar membuat petaka di hidupmu! Sekarang ummi mohon kau cerna perkataan ummi ini baik-baik!” Pinta hajjah Aisyah menggebu-gebu.
Yahya terdiam. Ia mulai melirik Layla yang memainkan rambutnya.
Mungkin sikap kasar nya terhadap Iqlima karena ia ingin ku perhatikan... Gumam hati Yahya.
"Ummi tenang saja. Semua akan baik-baik saja! Percayakan semua pada Ananda" Lirih Yahya pada akhirnya. Pemuda tersebut menarik istrinya ke dalam pelukan dan mengecup puncak kepala Layla sebelum ia benar-benar keluar dari kamar.
__ADS_1
"Mi... Apa mas Yahya akan memperhatikan ku setelah ini? "
"Insya Allah nak... Walau ia tanpa tidak peduli, tapi nak Yahya itu memiliki hati yang lembut... Bersabarlah! Sebentar lagi kau akan sepenuh nya mendapatkan cinta Yahya! "
"Ummi benar! Terima kasih ummi... " Ucap Layla menyunggingkan senyum kemenangan.
Kemenangan? Sebentar... Aku belum menang! Ada yang harus ku selesaikan! Mengapa foto-foto yang tersebar bukan foto Iqlima?! Ada apa ini?! Aku harus menanyakan nya pada Wirda!
...------------------------------...
Polisi membuka kunci salah satu sel yang ada di sana. Para penghuni yang terdiri dari 5 orang langsung antusias.
"Noor Iqlima! Selamat Anda dibebaskan! " Ucap polisi tersebut. Iqlima yang tengah memijat salah satu tahanan merasa terharu.
Bebas? Alhamdulillah...
"Cuma dia saja pak pol? Bagaimana dengan nasib kami?! "
"Kalian tunggu jadwal sidang! "
"Yaaah" Mereka terlihat kecewa. Iqlima dengan cepat keluar dari sel mengikuti gerak langkah polisi.
"Sejak awal saya tau saya akan bebas karena saya tidak merasa melakukan apapun! Terima kasih sudah mempercayai saya pak!"
"Tuntutan pada anda di cabut! Dan Gus Yahya menyerahkan bukti-bukti bahwa anda tidak bersalah! " Sahut polisi lugas.
Bang Yahya yang membebaskanku? Iqlima sedikit terkejut. Pasalnya terakhir kali pada saat Yahya mengunjungi nya, suaminya tersebut terlihat marah dengan sikap begitu dingin.
Sreeett
Yahya dan Haji Zakaria telah menunggu. Iqlima langsung memberikan salam takzim pada ayah mertuanya tersebut.
"Masya Allah... Alhamdulillah... Abah yakin kamu tidak bersalah anak ku...! Alhamdulillah ya Allah..." Ucap Haji Zakaria dengan senyum sumringah. Senyuman yang sehangat mentari pagi tersebut membuat air mata Iqlima meleleh. Haji Zakaria benar-benar bersyukur.
"Maaf Abah... Iqlima tidak berbakti...Iqlima salah..." Sahut Iqlima mengusap air mata nya. Haji Zakaria selalu memperlakukan nya dengan lembut. Bahkan di saat-saat genting ketika ia melarikan diri dan kembali dalam keadaan sudah diringkus polisi, haji Zakaria tetap saja mempercayai dan memperlakukan nya dengan baik.
"Jangan berkata begitu... Sudahlah... Ayo salam pada suamimu... Suami mu memiliki peran yang besar dalam membebaskanmu... " Ucap Zakaria masih tersenyum. Iqlima yang masih sangat canggung menghadapi Yahya hanya bisa menunduk namun tetap menyodorkan tangannya.
...****************...
__ADS_1