
Suasana di ruang pertemuan tampak tegang. Sebagian besar keluarga menyetujui keinginan Hajjah Aisyah agar Yahya menceraikan Iqlima dan menikahi Layla. Apalagi mereka sudah membuat perbandingan. Baik secara rupa, nasab, bibit, bebet juga bobot, sudah dipastikan bahwa Layla jauh lebih unggul.
Semua itu diperkuat oleh pendapat Haji Musa sebagai orang yang paling dituakan untuk berbicara. Beliau menegaskan bahwa Yahya harus memilih salah satu opsi untuk menghindari aib juga demi kemaslahatan bersama. Bagi mereka, kini Yahya tengah terjebak oleh cinta semu sesaat. Tidak ada hal yang lebih baik saat ini kecuali mengakhirinya.
“Perjodohan, memilihkan putra dan putri kita pasangan dari keturunan yang baik sudah merupakan kewajiban. Tradisi yang mengakar dan sangat tabu untuk dilanggar!” Haji Musa melanjutkan orasinya. Keluarga yang hadir lagi-lagi mengangguk. Yahya benar-benar terpojokkan. Ia seperti seorang terdakwa yang di sidang namun telah mengetahui bagaimana akhir dari nasib hidupnya.
“Kak Wir, kok aku sepertinya kurang setuju dengan cara seperti ini ya? Kasihan nak Iqlima, dia pasti terluka! Bagaimanapun nak Yahya sudah memperistrinya” Bisik seseorang ke telinga Hajjah Wirda.
“Dik Fatma, kau tau apa? Jangan sesekali ikut campur urusan mereka! Kau harus sadar di mana kedudukanmu! Jangan mencari masalah apalagi suamimu sudah mati! Kau hanya akan dipandang sebelah mata! Cukup diam saja dan tunggu Haris, putramu akan dijodohkan dengan gadis mana!” Cerca Hajjah Wirda pada Fatma, adik kandungnya. Fatma yang sedari tadi berkaca-kaca hanya bisa bungkam. Wanita tersebut menunduk sedih mengingat almarhum suaminya.
Bruuuuk
Tiba-tiba Yahya berlutut. Semua atensi beralih padanya.
“Ananda sayang, apa kau kini telah menyadari kesalahanmu?” Tanya Hajjah Aisyah sendu. Seorang paman lainnya bangkit menghampiri Yahya.
“Bangunlah, Nak! Tidak ada kata terlambat untuk bertaubat!” Yahya tidak menggubris. Ia tetap berlutut.
“Izinkan ananda berbicara" Ucap Yahya sopan.
"Silahkan, Nak! "
"Maaf kalau apa yang akan ananda sampaikan saat ini bisa menyakiti hati Ummi serta keluarga yang hadir!” Mereka yang berada di dalam ruangan mengerutkan kening menanti apa yang akan Yahya sampaikan selanjutnya.
“Maaf jika ananda lancang! Sampai kapan-pun ananda tidak akan pernah menceraikan Iqlima! Ananda juga tidak akan berpoligami! Cukup Iqlima satu-satunya. Yang pertama dan terakhir!” Keluarga yang hadir sontak ternganga.
“Apa??! Istighfar Yahya! Jangan lancang di hadapan para Buya dan yang lainnya!!”
“Cepat mohon ampun!!” Titah Hajjah Aisyah murka. Yahya menghembuskan nafas tetap diposisinya
.
Apa yang Ummi lakukan? Setelah Ummi mendzalimi Iqlima, Ummi pun ingin aku ikut mendzaliminya! Demi ambisi, Kini Ummi mempermalukanku di hadapan keluarga besar.
Maaf Gus, saya merasa kasihan pada nona Iqlima yang terus tersakiti, maka saya juga mewakili Sri mengabarkan hal ini pada Gus! Tapi saya mohon, jangan katakan pada Ummi Hajjah bahwa Gus telah mengetahuinya. Saya mohon… Saya takut kehilangan pekerjaan sedang anak-anak masih sangat membutuhkan saya! Begitulah permintaan Asih pada Yahya. Pemuda tersebut memejamkan matanya. Dadanya terasa sesak.
“Ananda minta maaf telah mengecewakan semua yang hadir! Tapi apapun yang terjadi, keputusan ananda sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat!” Tegas Yahya.
“Astaghfirullah Yahya!! Apa karena wanita itu kamu benar-benar berubah menjadi anak durhaka?! Mana baktimu sebagai seorang anak?!” Hardik Hajjah Aisyah frustasi. Airmata Yahya mengalir setetes. Suasana berubah tidak kondusif. Keluarga yang hadir berbisik-bisik.
__ADS_1
“Nak, bangunlah… Jangan kau lawan ibumu! Kau sudah tau dan sudah khatam belajar berbagai kitab. Walau aku bukan pesohor agama, setidaknya aku tau bahwa dalam islam, kedudukan seorang ibu begitu mulia. Bahkan Rasulullah saw menyebut kata ibu tiga kali baru setelahnya menyebutkan kata Ayah!” Nasehat Haji Musa. Raut wajah beliau tampak kecewa.
“Buya, Wallahi. Demi Allah ananda sangat mencintai dan menghormati Ummi. Ananda menghormati semua yang ada di sini! Namun isu perceraian, poligami, benar-benar sangat sensitif. Ananda akui ananda bersalah, ananda telah melanggar tradisi keluarga. Tradisi yang menganggap pernikahan tidak sekufu merupakan sebuah aib! Kesalahan ini tidak bisa termaafkan. Maka dari itu ananda berlutut merendahkan diri di hadapan keluarga besar yang sudah ananda kecewakan….” Yahya menjeda kalimat panjangnya. Ia kembali menarik nafas dalam-dalam.
“Tapi maaf, sekali lagi ananda tegaskan! Ananda tidak bisa menceraikan Iqlima. Jika perceraian atau poligami terjadi, maka akan ada hati wanita yang tersakiti. Akan ada ketidakadilan. Memimpin satu istri saja masih banyak yang harus ananda pelajari apalagi jika sampai berpoligami. Seberapa keras pun mencoba untuk adil, ananda pasti tidak akan mampu karena ilmu ananda belum pada tahapan itu!” Ucap Yahya dengan suara parau. Sebagian yang hadir mengangguk-angguk membenarkan apa yang Yahya ucapkan.
“Yahya, kau membela wanita penggoda itu mati-matian! Hanya demi seorang janda kau sampai rela berlutut! Kau sudah sangat keterlaluan! Kau melebihi batasmu!!!” Hajjah Aisyah semakin berang.
Apa? Janda?! Astaghfirullah.. Jadi Yahya menikahi seorang janda?
Suara sumbang mulai terdengar memenuhi ruangan.
Janda memang lihai menggoda. Sekarang janda memang semakin di depan.
Heran ya, tidak menyangka sekelas Yahya bisa sampai tergoda. Miris! Mereka terus berbisik-bisik. Kuping Hajjah Aisyah terasa panas. Beliau tidak punya pilihan lain untuk meluluhkan hati batu Yahya.
“Mau sampai kapan aib ini akan kamu bawa dalam keluarga besar kita, Nak?” Hajjah Aisyah mulai melunak. Beliau menurunkan volume suaranya. Yahya bangkit berdiri.
“Ummi, sebenarnya Yahya sangat tidak ingin mengatakan hal pribadi di hadapan umum seperti ini... Yahya malu! Tapi ketahuilah... Iqlima tidak pernah menggoda Yahya. Namun Yahya-lah yang telah tergoda! Hati Yahya yang telah tergerak oleh pesona nya..." Ruangan serasa semakin mencekam.
Karena permasalahan ini tidak punya solusi dan titik temu. Maka baiklah... Yahya yang akan mengalah…”
“Yahya tidak ingin permasalahan pribadi Yahya menjadi beban di keluarga besar! Maka Yahya memutuskan untuk melepaskan ini semua. Malam ini Yahya resmi mundur dari jabatan Presiden Direktur El Zakaria Group, Yahya juga akan mundur dari posisi wakil direktur di Bustanul Jannah. Selain itu Yahya juga akan mengembalikan seluruh asset yang telah di amanahkan. Yahya akan pergi dari kediaman ini membawa serta Iqlima! Yahya hanya ingin menjadi laki-laki yang bertanggung jawab” Ucap Yahya. Ia membungkuk lalu berjalan mundur dengan sopan. Yahya keluar dari ruang pertemuan
meninggalkan Hajjah Aisyah dan keluarga besar dengan mulut ternganga. Keputusan Yahya serasa bagai petir di siang bolong. Airmata hajjah Aisyah jatuh berhamburan.
"Abah, bagaimana ini?" Tanya Hajjah Aisyah panik pada pamannya.
"Tenang Aisyah.., Yahya sudah terbiasa hidup mewah. Ia tidak akan tahan berlama-lama di luar dan akan segera kembali!" Sahut Haji Musa menenangkan.
Yahya keluar dari ruangan dengan perasaan bercampur aduk namun ia sudah sangat yakin dengan apa yang dilakukannya.
“Gus…” Langkah Yahya terhenti. Ia menoleh ketika suara Sri terdengar memanggilnya.
“Maaf Gus, Izinkan saya ikut dengan Gus dan Nona! Saya ingin mengabdi kemanapun Gus dan Nona pergi!” Ucap Sri menunduk. Yahya tersenyum.
“Aku sudah tidak memiliki apa-apa, Mbak Sri!”
“Saya rela tidak dibayar, saya rela asal bisa ikut bersama Gus dan Nona!” Sri mengusap airmatanya.
__ADS_1
“Sri, walau kau bukan saudari kandungku, tapi sejatinya kita dibesarkan dalam lingkungan yang sama! Kau sudah kuanggap seperti adikku sendiri…” Yahya menjeda kalimatnya.
“Tidak ada yang lebih berat dari meninggalkan ini semua kecuali meninggalkan Ummi. Maka apa pun yang terjadi aku mohon padamu untuk tetap berada di sisi Ummi! Bisakah jika aku meminta kau untuk tetap tinggal di sini?” Pinta Yahya dengan mata berkaca-kaca. Sri terpaku, lalu kemudian perlahan ia mengangguk. Yahya merasa sedikit lega. Ia kembali memberikan senyumnya lalu mulai melangkah meninggalkan Sri.
“Gus… Gus... Mohon tunggu sebentar…” Panggil Sri berlari kecil mengejar Yahya.
“Saya berjanji pada Gus. Tidak peduli apa pun yang terjadi, Saya akan tetap berada di sisi Ummi Hajjah!” Ucap Sri. Airmatanya ikut menetes. Yahya mengangguk-angguk seraya menepuk-nepuk puncak kepala Sri.
“Terima kasih, Sri! Aku percaya padamu..” Sri menatap punggung Yahya yang berlalu dengan perasaan sedih yang mumbuncah-buncah.
***
“Lihatlah dia! Wajahnya tampak seperti malaikat Ridwan, padahal.... Ia jelmaan malaikat Malik! Huh.... Ia sungguh pintar dan lihai!” Terdengar komentar sinis salah satu santriwati ketika melihat Iqlima tengah membereskan peralatan belajarnya. Pelajaran pada kelas bahasa malam ini baru saja usai.
Sejak pertama kali menginjakkan kaki ke dalam kelas, Iqlima bisa mendengar semua bisikkan-bisikkan negatif yang dialamatkan pada nya. Sebenarnya mereka memang tidak benar-benar berbisik. Suaranya menggema memenuhi ruangan.
“Huuss, jangan sembarangan! Dia itu anak emas! Ustadzah Ayuni dan Ustadzah Rahayu yang sudah lama di sini saja bisa di depak gara-gara dia. Apalagi kita? Serem ih!”
“Monster kalee serem... Hahahaha”
“Ganas... Hahahaha” Mereka tertawa terbahak-bahak. Iqlima dengan cepat membereskan peralatan nya. Tanpa menggubris mereka, Iqlima langsung melesat pergi.
Baru saja kebersamaannya bersama Yahya membuat Iqlima seolah lupa akan dunia. Namun hatinya kembali mencelos, moodnya menurun drastis mengingat beberapa peristiwa yang baru saja terjadi.
Di luar ruang kelas, masih dari lantai dua Iqlima menepi. Ternyata hujan telah turun dengan derasnya. Wanita tersebut mengulurkan tangan merasakan lembutnya butiran hujan yang jatuh dari langit.
Perkenalkan, aku Layla Asmarini Ningsih! Calon istri mas Yahya! Perkataan Layla terus terngiang-ngiang di benak Iqlima.
Tes Tes Tes
Air yang turun menetes dari atas sana bersamaan dengan turunnya air dari sudut matanya. Perlahan Iqlima menuruni satu persatu anak tangga. Ia menerobos hujan yang jatuh merambat-rambat. Iqlima tidak peduli pakaiannya basah. Ia hanya berharap kepenatan yang menghampiri nya luruh bersamaan dengan dengan tetesan air yang jatuh ke permukaan tanah.
Tap Tap Tap
Iqlima terus berjalan menerobos pekatnya malam hingga ia sampai pada perbatasan antara Bustanul Jannah dan kediaman Haji Zakaria. Namun alangkah terkejutnya Iqlima, di ujung jalan seorang pria sudah berdiri tegak. Dalam derasnya hujan, terlihat air menetes-netes dari sulur rambutnya. Orang tersebut memperhatikan Iqlima dengan tatapan sendu.
***
💙💙💙
__ADS_1