Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)

Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)
Bab 67: Status, Formalitas~


__ADS_3

Even when I see you, I miss you~


***


“Kemana saja kamu seharian ini?!” Tanya Hajjah sinis Aisyah tanpa basa basi.


“Iqlima masuk kelas, Mi! Hari ini perdana perkuliahan dimulai!” Sahut Iqlima ketika ia sudah mengambil tempatnya.


“Cih. Nyalimu besar juga ternyata!”


Sreeeeekkk


Hajjah Aisyah bangkit dan melempar sejumlah foto-foto ke hadapan Iqlima.


“Bukannya menjaga suamimu yang tengah sakit tak berdaya di rumah sakit, tapi kau malah kencan bersama laki-laki lain dibelakangnya! Kau memang wanita tak tak tau diri! Wanita tak tau diuntung!! Wanita jahiliyah yang tidak punya adab!!” Cerca Hajjah Aisyah menohok. Yahya tersentak.


Bang Yahya sakit?? Iqlima sontak menatap Yahya. Namun mata Iqlima terbelalak saat tatapannya beralih. Foto-foto-nya bersama Rafi di Yayasan sampai ke kediaman Bustanul Jannah.


“Bagaimana kencan-mu hari ini? Berjalan lancar?!” Todong Hajjah Aisyah. Tenggorokan Iqlima tercekat.


“Kenapa diam?! Mana nyali besarmu itu?! Jawab!!” Hardik Hajjah Aisyah. Iqlima terperanjat mendengar suara bentakkan. Posisinya menjadi serba salah.


Sreeeetttt


Yahya menarik kursi ke belakang dengan kasar. Ia bangkit dari duduknya. Dengan tanpa menoleh Yahya mulai melangkah keluar. Mata Iqlima membola menatap punggung Yahya yang menjauh. Ia bahkan belum mengatakan sepatah kata-pun.


“Bang Yahya…” Iqlima bangkit mengejar pemuda yang hampir menggapai daun pintu. Ia memegang lengan Yahya agar suaminya tersebut berhenti.


“Bang.. Tunggu!” Lirih Iqlima. Dada Yahya bergemuruh. Dengan membuang kasar nafas ke udara pemuda tersebut menghentikan langkahnya.


"Bang... A... Aku minta ma... "


“Kita menikah karena terpaksa kan?” Tanya Yahya tanpa berbalik. Ia membelakangi Iqlima.


“Bagimu, Aku hanya robot berjalan! Bagimu pernikahan kita ini tidak lebih dari status dan formalitas belaka!” Yahya menghempas tangan yang bertengger di lengannya dan berlalu begitu saja. Iqlima terperangah. Hajjah Aisyah tersenyum puas.


“Bersiap-siaplah dengan berita besar yang akan sampai ke telingamu! Entah itu pengumuman perceraian antara kau dan Yahya atau pengumuman pernikahan kedua putraku dengan wanita cantik bermartabat! Itu juga jika kau masih punya wajah untuk masih tetap menetap di sini! Yahya-ku sudah tidak menginginkanmu lagi!” Ucap Hajjah Aisyah tajam. Tubuh Iqlima bergetar.


“Sri, antarkan wanita tidak tau malu ini kembali ke pesantren! Katakan pada ustadzah asuh untuk memberikan-nya hukuman! Dia sudah terlalu lama meninggalkan Bustanul Jannah!”


“Ta.. Tapi Ummi..” Sri menggigit bibir bawahnya melihat Iqlima yang tampak tertekan.


“Sri, jangan membantah! Jika ia tidak tahan dengan aturan yang berlaku, ia bisa memilih untuk pergi. Toh kabur bersama laki-laki lain saja bisa! Pintu terbuka lebar dan aku tidak melarangnya! Asal jangan sekali-kali ia kembali dan menggoda putraku!” Tukas Hajjah Aisyah merentangkan kipas di tangannya. Beliau keluar dari ruangan dengan dada membusung dan dagu terangkat.


Allah membantuku! Allah memberikan solusi yang tidak terduga tanpa aku perlu bersusah payah! Aku harus berterima kasih pada kak Wirda! Aku akan mentransfer sejumlah uang sebagai ucapan terima kasih! Hajjah Aisyah mengangguk-angguk bahagia.


Sepeninggal Hajjah Aisyah tangis Iqlima pecah. Sri memberikan pelukannya.


***


Driiiit


Suara deritan pintu memecah konsentrasi Hajjah Wirda yang tengah menge-cek laporan keuangan milik yayasan. Namun beberapa saat tadi senyumnya sempat mengembang ketika mengetahui Hajjah Aisyah lagi-lagi mengirimi sejumlah dana yang tidak sedikit ke nomor rekeningnya.


"Sesuai permintaan nyonya, saya sudah memberitahu nyonya Aisyah tentang asal usul wanita tersebut! Saya juga memperkuat bukti dengan mendatangkan teman sekampungnya!" Ucap asisten bayaran yang bekerja pada Hajjah Aisyah namun nyatanya orang tersebut berada di bawah naungan Hajjah Wirda.


"Tapi kau tidak menyebutkan anak itu kaya raya kan?" Selidik Hajjah Wirda memicingkan matanya.


“Nyonya tidak perlu khawatir! "

__ADS_1


Dan... Penyelidikan-mu yang menyatakan bahwa wanita itu kaya raya, bisa dipercayakan?! "


"Tentu saja! Dia keturunan Wali Nanggroe Aceh yang harta kekayaannya melimpah ruah! Aset kekayaan keluarga mereka juga bertebaran dimana-mana!"


"Wow! Prok Prok Prok! " Hajjah Wirda bertepuk elegan. Jiwa materialistisnya meronta-ronta.


"Apa kekayaan mereka setara dengan Arya Pranawa?"


"Kekayaan Tuan Arya hanya seperempat dari kekayaan keluarga Nona Iqlima!" Sahut Asisten yakin.


"Woww Wooww... Hahahaha! Sepertinya aku memang harus memutar rencana!" Ucap Hajjah Wirda mengangguk-angguk. Pikirannya melayang tanpa batas.


"Wait.. wait... tunggu! Mengapa gadis itu tidak mengatakan pada Aisyah kalau ternyata ia kaya raya?! "


"Mungkin nona tersebut ingin menyembunyikan statusnya dan suatu saat akan membongkarnya di saat yang tepat! "


"Hmh... Masuk akal... Masuk akal! Kau memang pintar! Aku harus mengatur pertemuan dengan keluarga Iqlima!" Hajjah Wirda kembali mengangguk-angguk. Ia menutup laptop setelah mengakhiri pembicaraan bersama asisten bayaran tersebut.


Ceklek


Hajjah Wirda mendengus melihat Ilyas yang melamun di pojokkan jendela. Kematian Rumi sudah membuat wanita paruh baya tersebut gelabakan. Kocar Kacir bak anak ayam kehilangan induknya. Kini ditambah dengan putra satu-satunya yang berdiam diri seperti kehilangan gairah hidup.


"Ummi membawakan mu makan siang!" Tukas Hajjah Wirda mendekat. Ilyas hanya diam. Wajah datarnya sulit untuk diartikan.


"Makanlah! Kau sudah terlalu lama mendekam di kamar! Mau sampai kapan kau begini?! "


"Ilyas!!! Apa kau tidak mendengar Ummi bicara?!!" Hajjah Wirda meninggikan suaranya. Beliau jengah. Ilyas tetap bungkam.


"Yahya akan menceraikan Iqlima! Kau masih punya kesempatan!" Perkataan Hajjah Wirda sontak membuat Ilyas mendongak.


"Mereka ber...cerai?" Ilyas benar-benar terkejut.


"Mau sampai kapan kau begini? Bangun dan sambutlah Iqlima-mu!!" Titah Hajjah Wirda memberikan senyumnya.


"Ja... Jadi Ummi merestuiku?" Ilyas hampir tidak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Hhhh sebenarnya Ummi tidak merestui mu dan Iqlima karena gadis itu adalah istri sepupu mu sendiri! Tapi ternyata Iqlima tidak diterima di keluarga Yahya. Dia menderita di sana! Ummi ingin bertaubat, Ummi sadar bahwa sebenarnya Iqlima adalah wanita shaliha! Dia pantas untukmu!" Lirih Hajjah Wirda dengan Wajah dibuat sesedih mungkin. Wajah Ilyas berubah semakin cerah. Restu Ibu bagaikan suntikan vitamin booster bagi kejiwaan nya.


"Pasti... Aku pasti akan memperjuangkan-nya! Aku akan menebus kesalahan-kesalahanku dimasa silam!" Ilyas mengangguk, dengan penuh semangat pemuda tersebut mengambil piring dari tangan sang Ibu dan mulai melahap seluruh isinya. Hajjah Wirda tersenyum puas.


***


Sudah tujuh hari Iqlima menjadi asisten cuci piring menggantikan posisi khadimah yang bertugas dalam urusan cuci mencuci di Pesantren Bustanul Jannah.


Iqlima dihukum selama 30 hari berturut-turut mencuci peralatan masak dan makan seluruh santriwati yang ada di asrama. Kini Iqlima harus menjalani 3 minggu sisa hukumannya. Jika tidak, ia tidak boleh bergerak kemanapun dan akan dihukum dengan hukuman yang lebih berat.


Berkali-kali Iqlima mengusap peluh yang membanjiri keningnya. Keringat wanita bercucuran. Ia layaknya seorang pekerja yang tidak digaji untuk pesta hajatan besar di setiap harinya.


"Astaghfirullah Nonaa... " Asih terkejut bukan kepalang melihat Iqlima yang tengah menjalani hukuman. Tangannya terlihat mengeriput. Kulit telapaknya tampak menipis dengan bercak-bercak merah terkikis. Asisten pemasok obat-obatan dan ahli pijat tersebut menatap kasihan pada nasib wanita yang seharusnya menjadi tuan putri yang dihormati karena status Iqlima sebenarnya adalah istri dari seorang Gus.


"Sssstttt, jangan panggil nona, mbak! Panggil Iqlima saja!" Titah Iqlima melirik ke kanan dan ke kiri.


"Tapi non... eh mbak... Mbak mencuci sebanyak ini sendirian?! Sini saya bantu!! " Asih langsung menyingsingkan lengan bajunya. Mata asisten ahli tersebut berkaca-kaca.


"Tidak apa-apa! Nanti juga selesai kok! Kalau mbak Asih ikut membantu saya khawatir hukuman saya diperberat, nanti saya tidak bisa berangkat kuliah.. Hari ini saya ada jadwal masuk kelas! " Ucap Iqlima sambil membilas piring cuciannya.


"Masya Allah... Sudah begini mbak masih memikirkan pendidikan! Duh, tapi masa saya hanya melihat saja! Saya jadi tidak enak hati... nasib mu mbak... ya Rabb... " Asih menitikkan air matanya.


"Ini sudah kesalahanku... Sudah sewajarnya saya mendapatkan hukuman! Mbak Asih jangan khawatir... Insya Allah saya baik-baik saja!" Iqlima memberikan senyumnya. Dalam hati sebenarnya ia merasa sedih, sedih bukan karena hukuman berat yang tengah ia jalani, melainkan sudah tiga minggu ia dan Yahya terpisah. Mereka bertemu singkat hanya di ruang keluarga tempo lalu, dan itu tidak cukup mengobati segala kerinduan dihatinya.

__ADS_1


Tap Tap Tap


Iqlima dan Asih menoleh saat seseorang mendekati mereka.


"Nona, kali ini ada mobil angkutan sayur yang bisa mengantar nona ke kampus! Jika nona memang ingin masuk kelas, maka nona harus berada di gerbang paling telat 10 menit lagi! Nanti ada mang Ayyub, supir milik Bustanul Jannah yang bersedia menjemput! Saya sudah mengkonfirmasi kesediaan beliau!" Ucap Sri berbisik dengan mata berbinar. Asisten kepercayaan Hajjah Asiyah tersebut mengupayakan kendaraan yang bisa mengantar jemput Iqlima untuk bisa masuk kelas. Namun hati Sri berubah mencelos melihat piring dan wajan masih berserakan di lantai. Sri mematung. Ia melangkah keluar dan melirik jam yang ada di dapur. 9 menit lagi mobil angkutan berangkat.


Bagaimana ini? Dengan berpikir cepat Sri kembali pada Iqlima. Ia mengangkat lengan bajunya ke atas. Sri mengambil piring yang telah disabuni untuk dibilas.


"Mbak, apa yang mbak lakukan?" Iqlima terkejut. Dengan cekatan Sri membilas piring-piring yang berada dalam jangkauannya. Melihat pergerakan Sri, Asih tidak tinggal diam. Ia yang semula mengikuti keinginan Iqlima berbalik ikut membantunya.


"Mbak, kalau ketahuan bisa gawat! Bukan apa-apa, nanti karena saya mbak-mbak ikut mendapat hukuman!" Bisik Iqlima cemas.


"Tidak apa-apa mbak! Ada mbak Sri, InsyaAllah kalau ada mbak Sri semua akan baik-baik saja! " Sahut Asih ikut berbisik.


Kreekkk Kreeekkk


Sepasang mata muncul dari lubang angin.


Ada orang.


"Siapa ituu?! " Tanya Sri. Ketahuan, orang tersebut kabur.


"Ada yang mengintip kita! "


"Bagaimana ini mbak?! " Tanya Iqlima cemas. Jantung nya berdetak kencang. Ia khawatir orang yang mengintip tadi akan melapor pada Ayuni.


"Tidak apa-apa, mari gerakan mencucinya lebih kita percepat! " Ucap Sri menenangkan. Namun sejatinya, ia sendiri dilanda kecemasan yang luar biasa.


***


"Mbak Sri, terima kasih untuk pertolongan yang sudah mbak Sri berikan padaku, dari mencari kendaraan hingga meminta izin agar aku bisa berangkat kuliah! Aku tidak akan melupakan ini semua! " Ucap Iqlima terharu saat mereka berjalan menuju gerbang.


"Jangan berterima kasih nona, semoga semuanya berjalan lancar! Saya cuma bisa mengantar sampai di sini, Nona berjalanlah ke gerbang depan! mobil pengangkut sayuran sudah menunggu di sana! " Ucap Sri, ia berbalik arah hendak meninggalkan Iqlima.


"Mbak Sri, tunggu! "


"Ya nona? "


"Hmh... A.. Apa mbak Sri melihat bang Yahya? Apa bang Yahya baik-baik saja? " Lirih Iqlima menggigit bibirnya. Kelu.


"Hmh... Gus Yahya baik-baik saja nona! " Ucap Sri menatap Iqlima sendu.


"Oh, Alhamdulillah kalau begitu" Iqlima memaksakan senyumnya. Matanya mulai berkaca-kaca.


"Nona,,,," Sri menggenggam tangan Iqlima.


"Ayo kabur saja... Kalau nona mau kabur dari kediaman ini, saya bersedia membantu nona! Walau di kemudian hari saya mendapat masalah, saya rela!" Iqlima terenyak.


"Nona, hukuman yang akan nona terima semakin lama akan semakin berat! Ini baru permulaan! Ummi Hajjah tidak akan tinggal diam sampai nona tidak betah dan keluar dari pesantren ini dengan sendirinya! Nona akan menderita..." Ucap Sri dengan sungguh-sungguh. Iqlima menggeleng.


"Tidak apa-apa mbak, saya akan bertahan sejauh yang saya mampu. Selama bang Yahya tidak menyatakan pisah ataupun menceraikan saya, maka saya akan tetap berada di sini! " Ucap Iqlima tegas. Kini Sri yang terenyak.


"Baiklah nona! Tapi kalau nona membutuhkan bantuan, nona bisa mencari saya!" Iqlima mengangguk. Namun tiba-tiba dari jarak yang tidak terlalu dekat, mata Iqlima menangkap sosok yang sudah sangat ia kenal dengan baik.


Bang Yahya... Gumam Iqlima sigap tanpa berkedip. Dengan kemeja dan memakai kacamata hitam, pemuda tampan tersebut keluar dari pintu utama bersama Haji Zakaria. Mereka tampak berbincang-bincang. Mobil pribadi sudah menanti mereka di sana. Iqlima terus menatap Yahya. Tanpa sadar airmata-nya mengalir.


Even when I see you, I miss you~


***

__ADS_1


💙💙💙


__ADS_2