
“Bangunlah… Aku minta maaf…” Lirih Yahya pada Layla yang menangis. Gadis tersebut menepis tangannya. Ia terus saja menangis pilu.
Drrrtt Drrrtt
Suara handphone mengalihkan perhatian Yahya. Jangan-jangan Iqlima menghubungiku! Seru hati Yahya yang langsung beranjak antuasias melihat handphone-nya. Perlahan pemuda tersebut membuka pesan yang menghias di sana. Diam-diam Layla juga melirik apa yang Yahya lakukan.
Iqlima sedang bersenang-senang dengan laki-laki lain.
Jantung Yahya nyaris melompat mendapati foto-foto Iqlima dan laki-laki lain saling berpegangan tangan dan menatap mesra satu sama lain. Hati Yahya mencelos. Yahya terhuyung.
“Astaaaghfirullaah…!” Pekikan Layla membuat Yahya terjingkat. Gadis tersebut buru-buru bangkit dengan menyeka airmatanya.
“Bisa-bisanya dia main gila dengan laki-laki lain di belakang mas Yahya!” Lanjut Layla dengan mimik wajah dibuat seterkejut mungkin.
“Ini tidak bisa dibiarkan! Kita tidak tau apa yang selanjutnya terjadi! Bisa saja mereka melanjutkan asmara di kamar hotel!” Pancing Layla.
“Diam!!” Hardik Yahya bernada tinggi dengan menahan gemuruh di dada. Ia langsung melangkah keluar dengan wajah kusut.
“Mas, tunggu… Mas mau kemana?!” Tanya Layla mengejar.
Tit Tit Tit
Yahya langsung mengetik nomor Rusdi tanpa melihat nomor kontak.
“Assalamu’alaikum Gus!”
“Rus, ambilkan tiket ke Aceh sekarang juga! Ambil jadwal penerbangan terdekat!” Titah Yahya tanpa basa basi.
“Ttta… Tapi Gus…!”
“Ini perintah!” Titah Yahya tanpa ingin adanya bantahan. Rusdi menghela nafas. Kepergian Yahya ke Aceh dipastikan akan mengacaukan semua jadwal meeting dan urusan internal perusahaan.
“Baik Gus!”
“Aku akan meminta bantuan Deputi untuk menangani perihal meeting dan lainnya! Kau jangan khawatir!” Ucap Yahya yang seolah mengerti apa yang Rusdi khawatirkan.
“Mas… Mas mau ke Aceh? Aku ikut… Mas, aku ikut!” Rengek Layla menarik-narik ujung kemeja Yahya. Pemuda tersebut tidak menghiraukannya. Dengan langkah gontai ia menuju parkiran mobil.
"Ada apa ini ribut-ribut? " Tanya Hj. Aisyah yang muncul tiba-tiba. Langkah Yahya terhenti.
"Iqlima selingkuh, Mi! " Lapor Layla cepat. Hj. Aisyah ternganga. Beliau terkejut bukan kepalang.
"Layla!! " Yahya melototkan mata mengisyaratkan agar istrinya tersebut mau menge-rem perkataan nya.
“Mas, kenapa harus menutupi hal penting seperti ini?! Mas jangan menutup mata terhadap sebuah kesalahan nyata hanya karena mas mencintai dia!! " Sahut Layla tajam. Yahya bungkam.
"Nak, apa benar apa yang Layla katakan?! "
"Mi... Yahya... "
"Yahya!! Katakan yang sebenarnya terjadi!!"
"Wanita yang mas Yahya puja-puja berpegangan tangan dan saling menatap mesra dengan laki-laki lain, Mi! Buktinya ada di handphone mas Yahya! " Terang Layla.
"Yahya tidak tau mi... Yahya permisi! " Ucap Yahya cepat dengan mulai melangkah setelah sebelumnya menatap Layla dengan tatapan menghujam. Ia hanya bisa memejamkan mata dan menghela nafas menghadapi pengaduan wanita tersebut. Saat ini ia juga tidak bisa membela Iqlima karena jujur saja, foto yang ia lihat sudah lebih dari cukup dalam menjelaskan semuanya.
"Kalau dia benar-benar selingkuh, ummi harap kau mau memberikan hukuman jera dan bertindak adil padanya!" Langkah kaki Yahya terhenti.
"Tidak ada gunanya kau mempertahankan benalu di dalam rumah tangga kalian! " Lanjut Hajjah Aisyah. Yahya langsung lanjut melangkah tanpa menoleh.
"Mas... Aku ikut"
"Mas...! "
“Ma'af aku harus pergi. Sen. di. ri. Okay?” Ucap Yahya meminta pengertian Layla. Gadis tersebut akhirnya mengangguk.
Pelakor tengik, skak mat! Gumam Layla tersenyum sumringah saat mobil yang membawa Yahya berlalu meninggalkannya.
...****************...
"Siapa yang memanggil-manggil abang tadi? Kenapa tidak abang gubris?" Tanya Cut Buleun pada Hilman saat mereka meninggalkan airport. Heran.
"My fans" Sahut Hilman santai tapi padahal jantungnya sedari tadi sudah berdegup kencang. Bertemu Iqlima dengan jarak sedekat itu membuat rasa cintanya semakin bertambah-tambah. Namun di satu sisi, kuduk Hilman meremang. Ia merinding mendapati kenyataan Ruwaida berada di sana. Hilman seperti melihat sosok Rais yang bangkit dari kubur.
__ADS_1
"Termasuk ibu-ibu dan perempuan cantik dengan wajah menyedihkan tadi? " Lanjut Cut Buleun menyelidik.
"Ya... "
Bruuukk
Hilman memukul stiur mobil.
Siiial!! Kenapa kebetulan sekali seperti ini sih?!
Tapi... Tenang... Tenang... Aku tidak bersalah. Aku tidak berniat membunuhnya! Memang dia nya saja yang bodoh! Besok aku dan Iqlima akan bertemu... Hilman mengangguk-angguk membenarkan pemikirannya.
"Bang, aku masih belum mendapatkan jawaban yang memuaskan! "
"Sayang... Mereka semua tidak penting! Kenapa kita harus membahas hal-hal yang tidak penting padahal kita baru saja bertemu! Apa kamu ga kangen aku, hm? " Hilman menggenggam tangan Cut Buleun mengalihkan perhatian nya.
"Bukan begitu, aku khawatir abang selingkuh! Kita sudah lama tidak bertemu! " Cut Buleun mengerucutkan mulutnya.
"Hahaha, kamu mengada-ada! Aku tidak mungkin meninggalkan gadis baik hati yang selalu menerima kondisiku apa adanya seperti mu! Bahkan saat wajahku berubahpun kau tetap berlaku sama!"
"Itu karena Aku benar-benar mencintaimu, bang Man! Benar-benar cinta" Cut Buleun berkaca-kaca.
"Oh sayaang, jangan menangis... Aku tidak akan menyia-nyiakan cintamu! "
"Apa cinta ini hanya aku yang merasakannya?! "
"Tentu saja tidak!" Sahut Hilman cepat.
"Sudah ya... stop membahas yang tidak perlu. Kita ke vilamu sekarang, hm? " Ajak Hilman. Cut Buleun menggeleng.
"Aku khawatir kita kebablasan! Kapan bang Man mau menghadap ibuku? Aku sudah tidak sabar mengenakan pakaian pengantin! " Tantang Cut Buleun.
"Huk Huk Huk... " Hilman terbatuk.
"Ma'af... Tenggorokanku mendadak kering... Huk Huk Huk! " Cut Buleun memicingkan mata melihat Hilman mengambil botol air mineral. Ini bukan pertama kali laki-laki tersebut menghindar ketika mereka membahas tentang pernikahan.
Aku menyerahkan cintaku secara tulus pada bang Man. Bertahun sudah aku menunggu kepastian. Bahkan aku menyerahkan bagian keuanganku untuk bang Man kelola. Kita sudah sampai ditahap ini. Tapi mengapa aku merasa bang Man seolah-olah tidak serius padaku? Tidak pernah serius! Lirih batin Cut Buleun mengerang. Ia hanya bisa menatap sendu laki-laki yang mengendarai mobil yang ada di samping nya sampai mereka sampai ke vila miliknya.
Drrrtttt Drrrtttt
"Good! Pantau terus pergerakannya! Jangan sampai HellMan SiluMan itu lolos!! " Titah Arya.
"Ba... Baik Tuan! " Sahut sang asisten. Arya membuang putung rokoknya.
...****************...
Matahari sepenggalah naik. Iqlima masih duduk di atas sajadahnya. Ia berdzikir dan bertahmid. Hatinya di penuhi oleh rasa syukur. Setidaknya saat ini yang ia ketahui Rais masih hidup. Itulah faktanya. Lagi-lagi airmata Iqlima menetes. Bayang-bayang masa lalu kembali menari-nari diingatan. Peristiwa kelam yang sebenarnya tidak ingin ia ingat namun tidak mungkin juga bisa ia lupakan.
Apa selama ini bang Rais sengaja bersembunyi karena trauma? Kalau benar begitu, alangkah malang nasib bang Rais. Andai pernikahan kami tidak pernah terjadi! Sesal Iqlima. Perasaan bersalah masih terus mendera.
"Nona, Gus Yahya sedang dalam perjalanan menuju hotel. Mungkin kurang dari 5 menit lagi sampai di sini! " Ucap Rina mengingatkan. Iqlima terenyak.
"Sebenarnya bang Yahya ke sini dalam rangka apa ya mbak Rin? Kok rasanya begitu tiba-tiba? " Iqlima baru sempat menanyakan perihal kabar kedatangan Yahya. Walau merasa heran, namun tak bisa dipungkiri, hatinya jelas berbunga kalau memang benar Yahya menyusulinya ke Aceh. Walau sebenarnya ia ingin menepi sejenak dari segala rasa lelah terutama dari hati yang terus saja dipaksa menerima.
"Tentang itu... Hmh ma'af nona, ketika semalam panik karena nona ingin ke kota lain maka saya mengatakan pada Mang Shaleh untuk menghubungi Gus Yahya" Aku Rina. Iqlima yang terkejut sontak bangkit berdiri. Bangkitnya ia bersamaan dengan suara dering handphone Rina yang bersahut sambut.
"Assalamu'alaikum Gus... "
"Mbak, saya sudah di lobi... Saya ke kamar menemui Iqlima sekarang! "
"Ba... Baik Gus" Rina meletakkan handphone nya ke tas setelah Yahya menutup pembicaraan sepihak.
"Nona, Saya permisi keluar... Gus Yahya sudah di sini! " Ucap Rina membereskan sedikit barangnya untuk dibawa serta keluar.
Deg.
Iqlima menggigit bibir bawahnya. Berpikir. Kedatangan Yahya secara mendadak terasa sedikit aneh. Suaminya tersebut mungkin menyusulnya karena khawatir, tapi kenapa begitu mendadak?
"Mbak, tunggu...! " Iqlima mengejar Rina dengan masih memakai mukenanya. Namun wanita berumur 35 tahun tersebut telah menghilang di balik tembok lorong-lorong hotel. Kini yang tampak hanyalah wajah Yahya yang berjalan mendekat. Bagai mimpi, suaminya tersebut ternyata memang menyusulnya.
Tuk
Satu suara sol sepatu terakhir menggema. Langkah Yahya terhenti. Ia dan Iqlima berdiri saling berhadapan. Wajah tak ramah Yahya terlihat berbeda.
__ADS_1
"Kita kembali ke Jakarta! " Ucap Yahya tanpa basa basi. Iqlima tercengang. Bukankah Yahya memberikan waktu dua tiga hari untuknya berlibur? Sontak Iqlima menggeleng.
"Kenapa? Apa laki-laki lain membuatmu betah berada di sini? " Tuding Yahya dengan nada yang masih terbilang normal.
Deg.
Ingatan Iqlima kembali pada Rais yang baru ia temui. Wanita tersebut bungkam.
Sreeg.
Yahya mencengkram pergelangan tangan Iqlima dan membawanya masuk ke kamar hotel.
"Sakit bang... Awww" Iqlima mengaduh.
"Katakan sejujurnya, apa benar semalam kau bertemu laki-laki lain?" Tanya Yahya seduktif. Iqlima menunduk lalu mengangguk. Tangan yang bertengger di lengan Iqlima terlepas. Yahya tersenyum pahit.
"Kau tau apa hukumnya berpegangan tangan dengan laki-laki yang bukan mahram?" Tanya Yahya lesu. Ia sudah kehilangan kekuatan untuk berdebat.
"Berpegangan tangan?"
"Jangan berpura-pura bodoh!!! " Hardik Yahya geram. Ia menunjukkan foto dan video yang memenuhi layar. Iqlima begitu terkejut saat mengetahui gambar-gambarnya dan Rais sudah berada di tangan Yahya.
"Oooh aku tau, wajar saja kau buru-buru ingin pulang ke Aceh dan menolak menunggu ku untuk pergi bersama! Ternyata ini semua alasannya!" Sarkas Yahya.
Prankkkk
Handphone tersebut Yahya lemparkan ke dinding dengan kekuatan penuh. Layar kacanya kembali terburai berkeping-keping di lantai. Iqlima menutup matanya erat-erat.
"Tapi kenapa? Kenapa Iqlima?! " Tanya Yahya tampak frustasi.
"Iqlima!! Jawab!!! "
"Laki-laki yang di foto itu... Laki laki-laki itu... Laki-laki itu adalah bang Rais... " Lirih Iqlima pada akhirnya. Lutut Yahya terasa lemas. Baginya Iqlima terlalu berhalusinasi dan mengada-ada.
"Apa kau begitu merindukannya hingga hilang kewarasan begini?! Sebesar itukah cintamu padanya?"
"Aku tidak mengada-ada... Semalam aku benar-benar bertemu bang Rais! Bang Rais masih hidup, bang! " Tukas Iqlima yakin.
"Baik. Lalu apa yang sebenarnya kau inginkan? Kau anggap aku apa, hah? "
"Iqlima, aku hanya manusia yang memiliki batas kesabaran! Seberapapun aku mempertahankanmu sebagai istriku, jika kau tidak ingin dipertahankan.... Aku bisa apa? "
"Kenapa bang Yahya mempermasalahkan hal sepele seperti ini? Aku sedang bersyukur karena bang Rais masih hidup! Setidaknya aku bisa meminta maaf dan berterima kasih setelah lebih dari 3 tahun didera perasaan bersalah! Sedangkan bang Yahya? Apa aku mempermasalahkan ketika bang Yahya dan Layla bersama-sama bermesraan hingga menginap di hotel? "
"Dia juga istriku, Iqlima! Jangan mencampur-adukkan antara hak dan batil! Kau itu istriku! Kau milikku! Aku menikahi mu secara sah!! Rais masih hidup atau sudah mati, itu semua tidak ada urusannya dengan mu! Kalian sudah lama terpisah! Kalian bukan lagi suami istri! Melihatmu berpegangan tangan dengan laki-laki yang bukan mahrammu, aku tidak ridha!! Sama sekali TIDAK!!! Istriku wanita terhormat!! Hanya aku yang boleh menyentuhnya!! Aku cemburu... Sangat cemburu... Padamu, aku benar-benar kecewa..." Ucap Yahya menyala-nyala. Adrenalin nya terpacu. Yahya bergejolak.
Bruuukkk
Iqlima menangis. Ia langsung bersimpuh di kaki Yahya.
"Bang Yahya... Aku minta maaf... Aku bersalah... Hiks hiks... Aku tidak bermaksud... Sungguh..." Ucap Iqlima dengan airmata berlinang. Perkataan Yahya membuat nya tersadar.
Sreeg
Yahya menepis tangan Iqlima dengan keras hingga wanita tersebut terduduk di lantai.
"Bagaimana bisa.... Iqlima... Bagaimana bisa kau.... " Yahya mengacak-acak kasar rambutnya. Frustasi.
"Bang... Maafkan aku... Aku hanya berpegangan tangan dengan bang Rais, tidak lebih. Aku bersumpah. Aku hanya terkejut hingga aku tidak bisa berpikir jernih! " Aku Iqlima tidak menyerah.
Sreeggg
"Hanya berpegangan tangan katamu?! " Yahya mengangkat tubuh Iqlima dan menatap tajam ke arah tangannya.
Sruuuggg
Yahya menghempaskan Iqlima ke atas kasur.
"Aku benci jejak orang lain berada pada tubuhmu!" Ucap Yahya melepas mukena yang Iqlima kenakan dan menarik kasar pakaiannya. Hingga sobekan kain tidak bisa dielakkan.
"Bang... Bang Yahya... " Iqlima berusaha menghindar dan menutup bagian tubuhnya yang terbuka dengan tangan gemetar. Yahya dengan brutal menariknya. Ia tidak hanya mengunci tubuh wanita tersebut, namun juga tatapannya.
"Kenapa? Kau keberatan? " Tanya Yahya sendu dengan mata memerah. Yahya benar-benar mengunci Iqlima dengan kuat hingga membuatnya kesakitan.
__ADS_1
...****************...
IG: @alana.alisha