Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)

Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)
Bab 22: Ini Negeri Syari'ah!!


__ADS_3

Haji Zakaria menemui Yahya yang tengah bersiap. Pemuda ini satu jam lagi akan menuju bandara.


“Ananda…” Yahya menoleh.


“Maaf, abah sudah tergesa-gesa menanggapi permintaanmu kemarin!” Haji Zakaria mengambil tempat di sofa yang tersedia di kamar.


“Karena Ummi kan, Bah?” Todong Yahya.


“Jujur saja abah sedikit surprised kamu mengatakan keinginanmu secara gamblang di hadapan Ummi. Padahal kamu sudah tau betul apa keputusan Ummi-mu itu, sebab perkara perjodohan sudah menjadi tradisi turun menurun yang mendarah daging di keluarga kita” Ucap Haji Zakaria memperbaiki letak sorbannya.


“Nak, gesture tubuh dan perkataanmu menjelaskan bahwa kamu tidak serius ingin meminang gadis tersebut. Mungkin ini tidak adil, bahkan abah belum melihat gadis pilihanmu secara langsung…” Haji Zakaria menjeda kalimatnya dengan menarik nafas sejenak.


“Sebenarnya abah ingin melakukannya, abah ingin memberikan kesempatan itu. Melihatmu memperjuangkan pilihan terbaikmu. Kau sudah cukup dewasa dalam menilai! Tapi itu tidak mungkin abah realisasikan... karena kamu sendiri… kamu sendiri tidak tau apa yang sedang kamu lakukan! Kamu tidak mengerti permohonan apa yang sedang kamu ajukan!” Lanjut Haji Zakaria. Yahya terenyak. Dalam hati, Pemuda ini membenarkan apa perkataan abahnya.


“Bertakwa-lah kepada Allah, Nak! Pernikahan adalah ibadah seumur hidup. Jangan sembarangan mengambil keputusan! Memang benar, Perkara perjodohan memang bukan perkara agama, melainkan tradisi yang coba dipertahankan. Tapi yang pasti… Ummi-mu juga tidak akan mungkin menjerumuskan buah hatinya. Sampai di sini, apa kamu paham?” Yahya yang sedari tadi menunduk perlahan mengangguk.


***


Yahya mengerutkan kening saat mendapati kediaman Iqlima kosong. Pemuda ini langsung mengambil gawai.


“Dok, dimana Iqlima?” Todong Yahya.


“Iqlima? Seharusnya ia berada di rumah!” Sahut Dokter Jelita.


“Kosong dok! Iqlima tidak di sini!”


“Benarkah? Saat ini aku tengah menangani pasien. Sebentar lagi aku akan ke sana. Mungkin Iqlima sedang ke market depan! Tunggu-lah sebentar!” Yahya menangguk lalu mengakhiri pembicaraan mereka. Pemuda ini memilih untuk duduk di teras depan.


Tolong dokter katakan pada bang Yahya, Terima kasih untuk niat baiknya. Tapi ma’af, Iqlima akan tetap di sini. Iqlima tidak akan pergi kemana-mana.


Iqlima tidak bisa terus menerus bergantung dengan orang lain apalagi dengan seorang laki-laki!


Kata-kata Iqlima terus terngiang-ngiang di benak Yahya. Tanpa sadar pemuda ini tersenyum.


Besar sekali nyali gadis itu! Gumam Yahya masih terus tersenyum mengingatnya.


Bosan menunggu Iqlima yang tidak kunjung kembali, Yahya berkeliling di sekitaran komplek. Ia mengedarkan pandangannya. Sepi. Hanya ada satpam komplek yang berjaga di gerbang.


“Maaf mas, rumah yang di ujung gang itu sedang kosong. Apa mas tau pemiliknya kemana?”


“Oh kakak yang langsing cantik pakek jilbab panjang tu ya, bang?” Satpam balik bertanya dengan logat khas Medan.


“hmm…” Yahya berdehem. Entah mengapa ia tidak senang dengan pertanyaan yang Satpam ajukan.


“Kalau kakak cantik tu bang, hm.. ga jelas kemana. Tapi tadi tenteng-tenteng tas besar keluar komplek. Kakak tu jalan kaki. Ga tau juga aku kemana perginya!”


“Ha?” Yahya terperangah.


“Awak tengok-tengok kayaknya pulang kampung, Bang! Cobalah abang telpon-kan dulu!” Saran petugas Satpam.


“Eh, sini kelen!” Satpam tiba-tiba melihat rekan kerjanya yang mendekat. .


“Ada kelen liat kakak yang di rumah pojok?”

__ADS_1


“Oh udah naik bus Putra Pelangi. Jurusan Aceh!”


“Bersama siapa?!” Sambar Yahya kaget.


"Kakak itu sendirian aja bang!” Jawab teman satpam yang menghampiri mereka.


Iqlima pulang ke Aceh? Untuk apa?! Pikir Yahya merasa heran.


Drrrttt Drrrrttt


Handphone Yahya bergetar. Nama Maryam menghiasi layarnya. Maryam menelfon? Gumam Yahya lagi. Ia langsung mengangkat panggilan dari Maryam setelah mengucapkan terima kasih pada petugas satpam.


***


Iqlima terbangun saat mobil memasuki terminal Batoh kota Banda Aceh setelah menempuh 14 jam perjalanan. Sepucuk surat yang pagi-pagi buta diantarkan oleh tukang pos berhasil membuatnya limbung. Entah siapa pengirimnya, yang jelas surat tersebut memberitakan bahwa saat ini Nyakwa Nur tengah sakit keras. Tanpa berpikir panjang Iqlima langsung ke terminal setelah meninggalkan surat pada dokter Jelita di ruang tamu.


Berbagai macam perasaan. Kenangan indah, kepahitan, penyembuhan luka, rasa takut, kecemasan bercarut marut menjajahi hatinya saat ini. Tapi Iqlima tak punya pilihan selain harus kuat dan mengikuti alur kehidupan dengan kepala tegak.


Welcome to Banda Aceh.


Iqlima melangkah menenteng tas jinjing-nya. Wanita ini mengenakan cadar dan kacamata agar tidak mudah dikenali. Saat ini, Maryam menjadi satu-satunya nama yang ada dipikiran Iqlima. Ia ingin meminta sahabat karibnya itu untuk menemaninya menemui Nyakwa Nur.


Iqlima meminjam salah satu handphone milik seorang wanita yang ditemuinya secara acak untuk menelepon Maryam. Gadis ini mengisikan beliau pulsa sebagai gantinya.


“Iqlimaaaa… Ini beneran kamu?? Rabbi,, Aku sangat merindukanmu! Aku memang menantikan telpon darimu karena aku tau hari ini kamu pasti akan menelpon!” Pekik Maryam dari seberang.


“I miss you too, I miss you too…” Mata Iqlima berair.


“Sayangku… Kau harus segera membeli handphone baru! Baiklah,,, Sekarang katakan apa yang bisa ku bantu?” Tanya Maryam. Iqlima mulai menjabarkan keinginannya.


“Okay, datanglah ke gedung evakuasi tsunami yang ada di Blang Oi, aku berada tepat di rumah berwarna cream yang ada di sebelah gedung tersebut. Aku menitipkan Nyak Agam di sana. Setelah itu bersama-sama kita ke rumah Nyakwa Nur, bagaimana?”


“Maryam, aku tidak tau bagaimana harus membalas semua kebaikanmu!” Lirih Iqlima merasa terharu.


“Ah... Kita ini sahabat karib. Kau terlalu sungkan! Baiklah, aku menunggumu di sana!” Maryam mengakhiri percakapan mereka. Wanita yang telah menyandang status sebagai janda tersebut tersenyum bahagia. Ia akan bertemu dengan Iqlima-nya. Sahabat yang sudah lama ia rindukan.


Puk.


Tiba-tiba seseorang menepuk bahu Iqlima.


“Allahu Akbar!” Ucap Iqlima terkejut. Wajahnya berubah pucat.


“Maaf kak, handphone-nya sudah selesai? Maaf saya buru-buru!” Iqlima meraba detak jantungnya. Dengan cepat Ia langsung memberikan handphone tersebut pada empu-nya lalu mengucapkan terima kasih. Iqlima menghembuskan nafas lega lalu gadis ini langsung melesat naik transportasi umum jurusan Blang Oi seperti yang Maryam alamatkan.


***


Desa Blang Oi di siang hari tampak sepi. Hanya ada satu dua kendaraan yang berlalu lalang di sana. Iqlima melangkah dengan masih menenteng tas jinjing besarnya. Namun langkah gadis muda tersebut sudah ringkih. Ia kelelahan.


Iqlima berhenti di depan gedung evakuasi tsunami, duduk sebentar meneguk air mineralnya. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling. Siapa tau Maryam sudah menunggunya. Namun beberapa lama mata berpendar, batang hidung sahabatnya tersebut sama sekali belum terlihat. Iqlima memutuskan untuk langsung ke rumah yang tadi Maryam katakan.


“Assalamu’alaikum…” Iqlima mengetuk pintu depan. Rumah yang besar.


“Wa’alaikumsalam… Iqlima ya? Silahkan masuk!” Sahut pemilik rumah dengan nada ramah.

__ADS_1


“Apa Maryam ke sini, bu?”


“Maryam lagi beli sesuatu di market depan, masuklah ke dalam! Kata Maryam kamu Lelah baru sampai dari Medan!” Iqlima menurut.


“Kamu Istirahat dulu di dalam kamar ya, sudah saya persiapkan! Rumah ini kosong kok! Tadi ada suami saya cuma beliau baru saja berangkat kerja!” Iqlima masih mematung di tempat.


“Sudah, jangan sungkan! Itu kamar nya didekat jendela ruang tengah. Kamar kedua dari sebelah kanan” Penghuni rumah menunjukkan kamar.


“I.. Iya…” Sahut Iqlima masih sungkan. Namun perlahan gadis ini membuka pintu kamar. Ukurannya lumayan luas. Mungkin ada 7.5 x 8 meter. Iqlima sedikit mengerutkan kening saat mendapati sudah ada tas ransel yang bersandar pada kepala tempat tidur. Seprainya juga terlihat seperti baru saja ada yang menduduki karena terlihat acak di bagian tertentu.


Merasa pegal, Iqlima meletakkan tas jinjingnya di atas meja hias. Ia sedikit menguap. Kepala juga terasa berat. Sepertinya beristirahat di sini selagi menunggu Maryam tidak ada salahnya. Iqlima langsung mengunci pintu kamar. Baru saja ia akan membuka kerudungnya, namun sudah terdengar suara gaduh dari luar.


Mana yang berzina?!


Mana laki-laki dan wanita tersebut?!


Seret mereka keluar!!!


Suara gaduh silih berganti tersebut semakin terdengar keras memenuhi telinga. Sepertinya mereka menerobos masuk ke dalam rumah. Iqlima gemetar. Wajahnya memucat. Bayang-bayang kejadian kelam 6 bulan lalu kembali terngiang.


Driiiit


Terdengar suara deritan pintu. Seorang laki-laki keluar dari dalam kamar mandi yang ada di dalam kamar yang sama dengan kamar Iqlima berada. Alangkah terkejutnya ia ketika mendapati Iqlima yang duduk di dekat meja hias dengan menutup kedua telinga. Tubuh gadis tersebut gemetar kuat. Sementara suara di luar semakin riuh terdengar.


Ini negeri syari’at!!! Jangan biarkan ada orang yang melakukan zina!!!


Bawa pezina keluarrr!!!


Seret mereka!!!


Iqlima semakin gemetan. Wajahnya semakin pucat.


“Iqlima, kenapa di sini? Ini aku… Yahya!” Yahya setengah berjongkok melihat Iqlima yang gemetaran. Gadis tersebut spontan mendongak.


“Ba… Bang Yahya?!”


Tok Tok Tok


“Pezina!! Buka pintunyaa!!!!” Orang-orang sudah berada di depan pintu kamar. Mereka menggedor dengan kuat.


Bruk Bruk Bruk


Ketukan berubah semakin liar dan bar-bar. Iqlima dan Yahya saling menoleh.


"Pezinaaaa!!! Keluarlah"


Tak sabar,


Braaakkkk


Mereka langsung mendobrak pintu tersebut dan menangkap basah Yahya dan Iqlima yang sedang berduaan di dalam kamar dengan saling menatap bingung.


***

__ADS_1


__ADS_2