
Hmh Hmh Hmh 🎶
Iqlima tengah berbahagia. Statusnya sebagai istri sah Yahya telah menampakkan hilalnya. Seminggu yang lalu Hajjah Aisyah juga memberikannya sebuah gelang yang terbuat dari emas putih sebagai tanda bahwa ia telah diterima menjadi menantu di keluarga Zakaria. Tanpa sadar wanita tersebut berdendang merdu.
Tak henti Iqlima mengusap gelang pemberian sang ibu mertua. Ia begitu terharu. Walau tergolong sederhana bagi keluarga sekelas keluarga Yahya, namun Iqlima sudah sangat tersentuh dan menghargainya. Kebahagiaan yang dirasakan juga begitu membuncah-buncah. Suasana hatinya sedang sangat baik, Iqlima begitu bersyukur hingga kerap kali matanya berkaca-kaca.
“Nona, Biar saya bantu masukkan semua pakaian-pakaian Nona dan Gus ke dalam lemari!” Tawar Sari, wanita yang kini ditugaskan menjadi asisten pribadi Iqlima.
“Terima kasih, tapi untuk yang satu ini biar saya yang mengerjakannya sendiri!” Sahut Iqlima memberikan tersenyumnya. Sari hanya bisa mengangguk.
Ceklek.
Iqlima menoleh ke arah jam dinding. Masih pukul 10.00 pagi. Terlihat Yahya sudah masuk ke dalam kamar dengan menenteng sebungkus plastik yang entah apa isinya. Pemuda tersebut langsung memeluknya. Yahya meletakkan hidung perosotan-nya ke celuk leher Iqlima yang terbuka.
“Bang, bang… Ada Sari di sini…” Bisik Iqlima merasa risih. Sontak Yahya melepaskan pelukannya. Pemuda tersebut mengerutkan kening dan menoleh ke arah Sari yang mematung.
“Ma...Ma'af... Sss… Saya permisi!” Ucap Sari terbata canggung. Iqlima mengangguk dengan menahan rasa malu. Sepeninggal Sari, Yahya kembali menarik Iqlima untuk mendekat padanya.
“Bang Yahya, harusnya kalau mau seperti ini berikan aba-aba terlebih dahulu..” Protes Iqlima.
“Kenapa kau tidak memaakai kerudung?” Tanya Yahya mengalihkan pembicaraan dengan melonggarkan pelukannya. Tak lupa ia memicingkan mata.
“Ha? Aku kan hanya di kamar dan tidak kemana-mana”
“Tapi ada orang lain selain kamu di kamar ini!”
“Ha? Siapa? Hanya ada Sari… Dan bang Yahya saj. Lagipula Sari itu seorang wanita. Bukankah Batasan aurat sesama wanita itu dari atas pusar sampai ke bawah lutut?”
“Sari itu orang baru. Belum teruji kesetiaannya! Kalau dia menceritakan kondisimu pada orang lain bagaimana? Pada laki-laki lain bagaimana?” Iqlima mengerutkan keningnya.
“Pokoknya hanya boleh membuka kerudung ketika di depanku saja atau di depan orang yang sudah benar-benar teruji seperti kesetiaan nya seperti saudarimu sendiri!” Titah Yahya. Iqlima mengerjap-ngerjapkan matanya. Walaupun sedikit membingungkan entah berlebihan, pada akhirnya wanita tersebut memilih untuk mengangguk. Samar-samar Yahya menyunggingkan senyumnya.
"Hahahaha... ah... geli..." Tiba-tiba Iqlima tertawa sembari menghindar saat tangan Yahya mulai menyusup ke dalam balutan baju kaos longgar yang ia kenakan.
"Huh! Baru begitu saja geli!" Yahya kembali menjangkau pergelangan tangan Iqlima dan melakukan sejumlah penyerangan.
"Hahaha... Bang Yahya.... ampun, geli ih... jangan begini... Hahaha" Iqlima semakin menggeliat saat Yahya memang benar-benar menggelitiki pinggang rampingnya. Dengan wajah penuh senyuman pemuda tersebut dengan cekatan menggiring Iqlima ke atas kasur.
"I... Ini... masih jam se.. sepuluh pagi... Bukannya tadi malam, malam kemarin dan kemarinnya lagi su.. dah?" Tanya Iqlima dengan kembali mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia menarik selimut menutupi tubuhnya.
*Pletakkk
Sebuah sentilan kembali mendarat di keningnya. Sepertinya wanita tersebut sudah lebih terbiasa menghadapi perlakuan Yahya.
"Aku jadi penasaran... Selain tentang itu, apa lagi yang ada di dalam isi kepalamu, Huh?" Sembur Yahya. Iqlima mempoutkan bibirnya.
"Tapi tadi kan... Bang Yahya.... "
"Aku hanya ingin memastikan sesuatu! " Sahut Yahya cepat.
__ADS_1
"Memastikan apa?!" Yahya mengambil bungkusan plastik yang tadi dibawanya. Ia mendekat dan membisikkan sesuatu ke telinga Iqlima.
"Titipan mbak Asih? " Kening Iqlima mengerut. Wanita tersebut mengingat-ingat. Yahya kembali membisikkan kalimat lainnya. Sontak pipi Iqlima merona.
"Ya Rabb... Bang Yahya nakaaal!" Iqlima menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Bodoh! Begitu saja malu! Bukankah setiap malam... aku... "
"Stop stop... " Iqlima bangkit menutup mulut Yahya dengan telapak tangan. Gerakan tergesa menyebabkan tubuhnya oleng dan menimpa Yahya.
"Hmh...." Yahya berdehem. Ia dengan cepat melingkarkan tangannya ke atas tubuh Iqlima.
"Jaaadi benar-benar se..... gitu?" Tanya Yahya mengangkat sudut bibirnya ke atas. Pupil matanya membesar.
"Ha?! Apaanya??!!" Pekik Iqlima panik menanggapi pertanyaan absurd Yahya. Cepat-cepat ia bangkit duduk.
"Ayoo sini biar ku pastikan!! "Yahya kembali menggoda. Ia mulai menarik baju kaos yang mati-matian Iqlima pertahankan.
" Tidak... Tidak!"
"Ayolah... Besok aku sudah harus berangkat ke Aceh... Jangan membuatku penasaran! " Kalimat Yahya sontak membuat Iqlima mematung.
"Berangkat ke Aceh? Bersama siapa?"
"Bersama Pak Arya dan Mr. Osman.. Ah, percuma juga kuberitahu. Kau juga tidak kenal mereka... Aku ada urusan bisnis di sana, hanya untuk tiga atau empat hari saja! Selama aku tidak di sini, kau akan diantarkan oleh Mang Ayyub dan Sari ke kampus! " Ucap Yahya. Entah mengapa tiba-tiba ada sedikit perasaan gundah yang hinggap di hati Iqlima.
***
Iqlima membalikkan tubuhnya hendak kembali masuk ke rumah. Namun penglihatan nya sedikit terganggu. Ia seperti melihat seseorang yang dikenalnya dengan baik.
Maryam? Gumam Iqlima mengerutkan kening.
Maryam di sini? Iqlima mulai berjalan mengikuti wanita yang berjarak 35 meter darinya. Langkah kakinya dipercepat sebab wanita yang menyerupai Maryam tersebut juga berjalan dengan tergesa. Iqlima terus mengikutinya namun tiba-tiba,
Hah? Kemana perginya Maryam? Iqlima kebingungan saat menyadari bahwa ia telah kehilangan jejak Maryam. Tapi Iqlima malah menyunggingkan senyumnya.
"Haha... Ini konyol! Mana mungkin Maryam di sini! Aku terlalu merindukan nya hingga tanpa sadar berhalusinasi!" Iqlima menggeleng geli. Walau berulang kali telah diingatkan oleh Yahya bahwa Maryam bukanlah orang yang baik, namun Iqlima tetap saja sulit untuk bisa mempercayainya. Bagaimanapun mereka telah bersahabat sejak kecil.
"Nona... nona..." Baru beberapa langkah Iqlima melangkah, Sari sudah memanggilnya.
"Ummi Hajjah sudah menunggu nona pada ruangan yang berada di dekat tangga!"
Ummi mencariku? Ada apa? Iqlima menuju ke ruangan yang dituju sesuai arahan Sari. Di sana sudah terlihat Hajjah Aisyah yang sedang memeluk sebuah lukisan.
"Assalamu'alaikum Ummi!" Sapa Iqlima sopan.
"Yahya sudah pergi? " Tanya Hajjah Aisyah tanpa basa basi.
"Sudah Ummi"
__ADS_1
"Bagaimana rasanya berada di negeri dongeng? " Iqlima tersentak tidak mengerti apa yang mertuanya katakan.
"Kau bahagia menjadi istri Yahya? " Perlahan Iqlima mengangguk.
"Haha, jelas kau bahagia! Punya suami tampan, sholeh dan kaya raya! Namun kebahagiaan mu adalah kebahagiaan semu. Kau sedang membuat putraku terluka! Kau bahagia di atas penderitaan orang lain! " Ucap Hajjah Aisyah menohok.
"Ma.. maksud Ummi bagaimana? Iqlima tidak paham... "
"Ini lukisan mu kan? " Hajjah Aisyah menunjukkan lukisan yang beliau dekap. Iqlima terkejut saat melihatnya.
"Kemarilah... Ikuti Aku!" Hajjah Aisyah membuka pintu kamar yang cukup luas namun ukuran nya hanya seperempat dari kamar utama Yahya. Barang-barang yang tidak asing berjejer rapi di sana.
"Itu semua lukisan-lukisan mu yang putraku beli dengan harga yang fantastis!" Kali ini Iqlima benar-benar terkejut. Ia tidak pernah menyangka pria dingin seperti Yahya ternyata telah membeli begitu banyak lukisan miliknya.
"Yahya membeli lukisan bodohmu hanya untuk membuat kau bisa bertahan hidup dan tidak menjadi wanita gila di jalanan! Yahya menghidupimu dengan mengeluarkan uang bermilyar-milyar banyaknya! Ia menguras waktu dan dana yang tidak sedikit... Sebagai ibunya, di sini aku merasa bangga namun hatiku juga terasa sakit!" Ucap Hajjah Aisyah dengan wajah memerah. Iqlima terhuyung.
"Kau hanya seorang wanita gila yang tidak waras lalu kemudian ditolong oleh Yahya karena sebuah alasan kemanusiaan namun dengan tidak tau diri kau berlagak menjadi putri mahkota untuknya! Padahal Yahya terpaksa menikahimu karena keadaan! " Air mata Iqlima sukses mengalir.
"Sebelumnya kami sudah akan menikahkan Yahya dengan Layla. Putri dari keluarga terhormat dan sangat terpandang. Namun kehadiranmu telah merusak kebahagiaan banyak pihak! Karena kerumitan hidupmu... Kau membuat membuat Layla patah hati. Kau merebut apa yang sudah seharusnya menjadi miliknya!" Tenggorokan Iqlima terasa tercekat. Seluruh tubuh nya menjadi kebas.
"Kau tau? Sebenarnya Yahya pun terluka... Sebagai seorang Gus yang paham agama, Ia terpaksa menafikan perasaan cintanya pada Layla karena sudah terikat pernikahan terpaksanya denganmu. Lagi-lagi ia berkorban!" Hajjah Aisyah berkata dengan menangis. Suara beliau yang terdengar parau benar-benar menyayat hati Iqlima. Perasaan bersalah yang besar menghampiri jiwanya.
"Iqlima... Mau sampai kapan Yahya berkorban untukmu?! Mau sampai kapan kau bersenang-senang di atas penderitaan orang lain?! Jangan kau pikir Yahya bersikap manis mendatangimu di malam hari karena ia mencintai mu! Kau salah besar! Ia sangat tertekan dan perlakuannya padamu adalah sebagai wujud dari pelampiasan semata! Juga sekedar memenuhi kewajiban nya sebagai seorang suami! " Perkataan Hajjah Aisyah yang begitu menohok membuat Iqlima merasa sesak. Dadanya terasa sakit. Iqlima benar-benar kesulitan bernafas.
"Aku beritahukan padamu, dampak dari pernikahan konyol kalian berefek pada hubungan bisnis, merenggangnya hubungan kekerabatan, juga banyaknya hati yang tersakiti. Benar, ini bukan salah mu. Sama sekali bukan! " Hajjah Aisyah menggenggam tangan Iqlima.
"Tapi, sebagai seorang ibu... sebagai seorang wanita yang peka terhadap situasi dan kondisi, bolehkah jika aku memohon padamu sedikit saja untuk mau berkorban demi Yahya? Demi keluarga ini setelah semua pengorbanan dan kesakitan selama berbulan bulan bahkan bertahun-tahun yang Yahya lakukan untukmu, demi hidupmu?" Hajjah Aisyah tersedu-sedu. Ia menatap netra Iqlima dan semakin menggenggam erat tangan menantunya tersebut.
"A... Apa yang bisa Iqlima lakukan untuk bang Yahya dan keluarga ini, Mi? Apa Iqlima harus pergi dari sini? " Tanya Iqlima tak kalah tersedu. Wanita ini tak ubahnya seperti pesakitan yang tidak bisa mendeteksi dimana rasa sakit teramat sangat yang dirasakan.
"Tidak, jangan pergi dari sini! Kau akan membuat Yahya merasa gagal sebagai seorang suami..."
"Iqlima... Bujuklah suamimu untuk menikahi Layla. Beri mereka kesempatan agar cinta mereka tidak sebelah bertepuk. Runtuhkan lah dinding yang memisahkan mereka. Hanya kau yang bisa melakukannya! " Tubuh Iqlima serasa remuk. Jantung nya seolah berhenti berdetak. Dunianya terhenti.
"Jika Yahya dan Layla menikah, kamu tidak hanya menyelamatkan perasaan mereka. Namun banyak hal besar yang kamu selamatkan... Seperti yang sudah aku jabarkan panjang lebar padamu tadi"
"Bolehkah jika kali ini kau sedikit berkorban? Hanya sedikit dari semua hal yang telah Yahya korbankan untukmu! "
Setelah menyelesaikan kalimat permintaan nya, Hajjah Aisyah keluar dari ruangan meninggalkan Iqlima dengan 1000 macam perasaan yang bercampur aduk. Ia terduduk di lantai dan menangis sejadi-jadinya.
***
#Berikan Komen Terbaikmu
#event_3
ig: @alana.alisha
💙💙💙
__ADS_1