Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)

Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)
Bab 90: Takdir Yang Berpihak?


__ADS_3

Ceklek


Yahya masuk ke dalam kamar utama yang biasa Iqlima tempati. Seperti tersugesti, aroma wanita tersebut menguar memenuhi indranya. Aroma Floral bercampur Citrus yang kuat, entah mengapa Yahya seperti benar-benar bisa menciumnya. Tak sabar, Yahya duduk menepi di tempat tidur mengambil gawainya.


Nomor yang anda tuju tidak dapat dihubungi.


Seruan dari operator membuat Yahya mengerutkan kening. Apa Iqlima telah tidur? Dia pasti kelelahan karena perjalanan panjang. Pikir Yahya memijat pelipis nya. Tak bisa dipungkiri, pemuda ini merasa kecewa. Ia hendak menghubungi Rina namun Yahya mengurungkan nya.


Ck.


Yahya memilih untuk ke kamar mandi dan mengguyur tubuhnya dengan air dingin.


Iqlima... kenapa kau selalu saja menghindariku? Yahya memejamkan matanya erat. Air menetes-netes dari sulur rambutnya.


Diary mu mengatakan bahwa aku adalah orang pertama yang membuat hatimu tergerak, tapi mengapa kau begitu ingin aku menikahi Layla? Mengapa kau begitu ingin pergi dariku?


Tok Tok Tok


"Mas Yahya... Mas... Ini aku Layla...!" Ketukan Layla membuyarkan lamunan Yahya. Ternyata gadis tersebut menyusulnya ke dalam kamar. Bunyi guyuran masih terdengar nyaring.


"Mas... Mas... " Panggil Layla lagi. Yahya mematikan kran air.


"Mas, boleh aku masuk? Aku juga ingin mandi! "


"Sebentar... Sebentar... Aku hampir selesai! " Sahut Yahya.


"Ayolah mas, seperti Rasulullah dan Aisyah ra... Mandi bersama berarti menghidupkan sunnah Nabi yang mulia! " Bujuk Layla.


"Iya, benar... tapi lain kali saja ya! Aku benar-benar sudah mau selesai! " Tolak Yahya sambil kembali menghidupkan kran air untuk menyelesaikan ritualnya.


Huh. Kepala batu! Gerutu Layla. Ia menepi menunggu Yahya dengan duduk di sofa.


Drrrrtt Drrrttt


Getaran handphone di atas tempat tidur menganggu pendengarannya. Layla mendekat. Nama Mang Shaleh menghias di sana.


Dia bukannya supir perempuan itu? Layla tampak tidak senang. Dengan cepat ia menolak panggilan dari Mang Shaleh. Berkali-kali. Layla berpikir sejenak, Ia ingin menghapus nada dering pada handphone tersebut namun Ia takut Yahya curiga.


Tunggu, ada apa Mang Shaleh malam-malam begini menelepon? Berkali-kali? Layla tampak berpikir. Ia dengan cepat menghubungi orang suruhannya untuk memantau pergerakan mereka.


Layla bertekad akan mengalihkan perhatian suaminya agar tidak sempat mengingat Iqlima.


***


Bandara Sultan Iskandar Muda


Bruuuuuk.


Suara barang-barang jatuh ke lantai terdengar. Seorang wanita langsung berlari ke arah Hilman.


"Rais... Nak Raisss... Anakku Rais... Allahu Akbar... Anakku masih hidup... Allahu Akbar...." Ucap seorang wanita paruh baya mengejar Hilman walau tertatih. Ia tidak mempedulikan barang-barang yang jatuh berserakan di lantai.


Di saat bersamaan, Iqlima yang baru saja tiba di Bandara langsung beralih menatap ke arah seruan sang ibu. Jarak dan posisi mereka tidak terlalu jauh. Namun alangkah terkejutnya ia ketika mendapati Rais yang juga berada di Bandara.


Bang Rais? Gumam Iqlima bergetar. Ia menatap sosok Rais dengan mata membola basah.

__ADS_1


"Maaf Bu, Saya bukan Rais... Saya Othman" Ucap Hilman sopan. Ia tau pasti siapa orang yang mengejarnya. Ruwaida, Ibu Rais menggeleng.


"Kau putraku... Kau masih hidup! " Ruwaida memeluk Hilman erat-erat.


Sssssss... Hilman mendesis. Tubuh penuh luka akibat serangan algojo Arya masih terasa perih.


"Katakan kalau kecelakaan mengubah suara dan tampilanmu... kau terlihat lebih kurus sekarang! Hiks Hiks" Ruwaida menangis tersedu-sedu. Mawar yang berada tak jauh dari Hilman hanya bisa menatap drama dihadapannya dengan tatapan sinis. Iqlima perlahan berjalan mendekat.


"Suuttts Bang, lihat tuh... " Tunjuk Mawar berbisik. Hilman terkejut melihat Iqlima bermata sembab sudah berada di dekat mereka. Wanita cantik tersebut terus menatapnya.


"Iq... Iqlima-ku?! " Seru Hilman spontan. Ruwaida sontak melepas pelukannya.


"Ka... Kau mengenal istrimu dengan baik... sudah pasti kau Rais... Tapi kenapa kau tidak mengenal mamak, nak? " Tangis Ruwaida terdengar pilu.


"Bang Rais... Abang masih Hi... Hidup? " Tanya Iqlima mengeluarkan suara bersusah payah.


Seet.


"Hah Hah Hah... Nona, ayo kita kembali ke hotel! "Tiba-tiba Rina datang memegang lengan Iqlima dengan nafas terengah-engah.


"Bang Rais... Kenapa begini bang? Kenapa? " Lirih Iqlima pelan dengan airmata bercucuran. Ia tidak menggubris seruan Rina. Segala kesakitan yang mendera semakin bertambah melihat sosok Rais dihadapannya yang begitu segar bugar namun selama ini tidak pernah memberikannya kabar. Padahal peristiwa kelam beberapa tahun silam tersebut membuat Iqlima begitu menderita karena perasaan bersalah dan penyesalan.


"A... Aku bu... Bukan... "


Tap Tap Tap


Hampir saja Hilman mengatakan bahwa dirinya bukan Rais, namun ia melihat kekasihnya Cut Buleun sudah berada di ambang pintu masuk dengan melambaikan tangan sumringah. Sontak Hilman berjalan mendekat dan menghadapkan Iqlima ke arahnya hingga menutupi pandangan Cut Buleun.


"Sayang, kita akan bertemu kembali... Karena sekarang Aku buru-buru... Temui aku besok pagi di gedung evakuasi tsunami desa Lambung! Ingat, kau harus datang.. Kalau tidak, aku yang akan menemuimu! Aku akan menjelaskan semuanya..." Seru Hilman dengan mata yang tidak kalah berkaca-kaca. Lebih dari dua tahun penantiannya, baru kini membuahkan hasil. Takdir berpihak padanya. Ancaman Arya untuk menghabisinya serasa lenyap seketika. Kini yang ada hanya semangat untuk melanjutkan hidup bersama kekasih tercinta.


"Rais.. préh mak neuk... tunggu mak...! " Dengan bertatih Ruwaida kembali mengejar Hilman yang begitu acuh. Wanita paruh baya tersebut masih menangis pilu.


Ck. Palak kali aku! Gerutu hati Mawar berdecak melihat suaminya diperebutkan oleh banyak wanita.


"Nona, ayo kita kembali! Saya bisa dipecat Gus Yahya kalau Nona seperti ini..." Ajak Rina. Iqlima masih tidak mengubris. Ia terus saja memandangi sosok Rais yang berjalan menjauh walau sesekali pemuda tersebut masih saja memalingkan wajah ke belakang melihatnya. Hilman pergi bersama Cut Buleun setelah memberikan pengertian pada Ruwaida dengan mengobral janji pada wanita paruh baya tersebut bahwa ia akan kembali menemuinya.


"No... Nona... " Rina yang tidak mengerti apa yang terjadi menahan lengan Iqlima agar tidak mengejar Hilman. Karena seperti nya Iqlima terus saja melangkah mengikuti pemuda berwajah malaikat namun dengan senyum aneh misterius penuh kejanggalan tersebut.


"Bang Rais... Tunggu... Bang... Bang Rais..." Panggil Iqlima tetap berusaha mengejar. Ia masih belum merasa puas. Setidaknya malam ini ia harus memastikan bahwa pemuda tersebut memang Rais, pahlawan hidupnya. Namun Rina benar-benar menghalangi langkahnya hingga sosok Rais menghilang ditelan kegelapan malam, meninggalkan Iqlima dengan segudang tanda tanya.


Apa dia kakaknya Nona Iqlima? Tapi mengapa tatapannya seperti menatap kekasih? Dan genggaman tangan tadi... Rina bertanya-tanya penasaran.


Ti... Tidak mungkin... Nona Iqlima tidak mungkin.... Rina menggelengkan kepala tak percaya. Ia terlalu takut menduga-duga. Namun semakin ia menyangkal penafsiran isi kepalanya, maka Rina semakin bisa menyimpulkan bahwasanya Iqlima memang memiliki kekasih selain Yahya.


***


Driiit


Deritan suara pintu mengejutkan Layla. Yahya keluar dari kamar mandi sudah memakai kaos putih ketat dan celana sejengkal di bawah lutut.


Gerakan Yahya yang mengusap-usap rambut basahnya menggunakan handuk kecil membuat Layla menggigit bibir bawahnya.


Aww.. So s*xy...


Abs yang terbentuk sempurna....

__ADS_1


Kulit bersih...


Harum maskulin...


Uuughhh... Mas Yahyaku memang tiada dua-nya... Pekik hati Layla terpana.


"Katanya mau mandi, kenapa masih duduk di situ? " Tegur Yahya memakai lotion di tangannya. Kini ia sudah merasa lebih segar. Walau sakit di kepala akibat Iqlima tidak mengangkat panggilan darinya belum sepenuhnya pulih.


"Eh... iya... Aku mau mandi... Tapi sebentar lagi..." Layla mengusap-usap tengkuk dan lehernya. Tiba-tiba Yahya menyodorkan sebotol air mineral.


"Minumlah... Biar lebih fresh" Ucap Yahya. Wajah Layla berubahsumringah seketika. Perhatian mahal dari Yahya tidak mungkin tidak membuatnya berbunga.


"Bukain... " Ucap Layla manja. Yahya mengabulkannya. Dengan sigap pemuda tersebut membuka segel tutup botolnya.


"Makasiiiih mas!" Ucap Layla memekik girang.


"Setelah minum, sebaiknya langsung mandi... jangan kemalaman... nanti kamu bisa masuk angin... " Layla mengangguk senang.


"Hm... Aku mau istirahat... " Layla kembali mengangguk. Ia memberikan senyum manisnya dengan berlama-lama menatap Yahya.


"Hmh... Aku ingin istirahat sen. diri. an" Ucap Yahya berhati-hati.


Deg. Layla sontak menoleh.


"Jadi mas tidur sendirian di sini?! " Tanya Layla bangkit dari duduknya. Yahya mengangguk jujur.


"Tapi kenapa?! Kenapa harus di sini?? Kenapa tidak di kamar lain??" Suara Layla meninggi.


"Kau... Kau lagi datang bulan. Aku hanya tidak ingin... "


"Alasan!!! Wanita itu sudah tidak di sini tapi mas terus saja memikirkannya. Sebenarnya mas anggap aku apa?? Aku juga istri mas!!" Amarah Layla tiba-tiba saja meledak berikut dengan tangisannya.


"Sedari awal aku memang sudah curiga... Maka dari itu aku mengikuti mas sampai ke sini!!" Layla sesegukan.


"Mas memilih kamar ini untuk membayangkan wanita itu, kan?! Jangan-jangan mas mau menelepon nya dan kalian akan membicarakan pembicaraan kotor bersama!!" Tuding Layla dengan mata menyala.


"Layla!! Kau keterlaluan!!" Hardik Yahya.


"Mas yang keterlaluan!! Kenapa menikahiku kalau hanya menganggapku sampah!! Kenapaa?? Kenapa mas mendzalimi ku??!!!" Layla merosot ke lantai. Tiba-tiba Yahya merasa iba, Lagi-lagi perasaan bersalah menyelimuti hatinya.


"Bangunlah... Aku minta maaf... " Lirih Yahya pada akhirnya. Layla menepis tangan Yahya. Ia masih terus saja menangis.


Drrrrttt Drrrrrtt


Suara handphone mengalihkan perhatian Yahya. Jangan-jangan Iqlima menghubungiku! Seru hati Yahya yang langsung beranjak melihat handphone nya. Perlahan pemuda tersebut membuka pesan yang menghias di sana. Diam-diam Layla melirik apa yang Yahya lakukan.


Iqlima sedang bersenang-senang dengan laki-laki lain. Jantung Yahya nyaris melompat mendapati foto-foto Iqlima dan laki-laki lain saling berpegangan tangan dan menatap mesra satu sama lain. Hati Yahya mencelos. Yahya terhuyung.


***


IG: @alana.alisha.


Bonus Foto Rais a. k Hilman/Othman/Osman 👇:


__ADS_1


__ADS_2