Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)

Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)
Bab 39: Menerobos Pekatnya Malam


__ADS_3

Yahya, Hajjah Aisyah dan para asisten tiba di lokasi pemandian bertepatan dengan Iqlima yang tengah mengaplikasikan limbah lumut di wajah ustadzah pengasuh dan beberapa rekan sejawat. Mereka yang terduduk di lantai tampak mengenaskan.


“Ada apa ini?” Suara Hajjah Aisyah terdengar berwibawa. Sontak semua yang hadir menunduk.


Haha… Ingin sekali ku gigit wajah bodohnya itu! Hmh… Boleh juga kemampuannya! Gumam Yahya namun ia terus menatap Iqlima dengan ekspresi datar. Pemuda itu hanya mensedekapkan tangan dan menyilangkan kaki dengan cool menikmati apa yang ada dihadapannya.


Perasaaan Iqlima bercampur aduk. Kesal dan marah diperlakukan semena-mena tapi juga malu karena tertangkap basah tengah melakukan perbuatan tidak pantas oleh Mertua dan suaminya. Iqlima hanya bisa menunduk dalam.


“Ummi Hajjah, maafkan Ayi yang telah gagal mendidik santriwati baru! Hiks hiks” Ucap Ayi dengan air mata berlinang. Ia menggigil.


“Potret dan ambilkan beberapa gambar mereka!” Titah Hajjah Aisyah pada asistennya.


“Bubarlah kalian semua!” Lanjut beliau lagi pada para santri yang tengah berkerumunan.


“Ustadzah Yumna, adili mereka besok! Adili seadil-adilnya. Bila perlu keluarkan yang bersalah dari pondok ini dan jangan beri ampun!” Titah Hajjah Aisyah.


“Ba.. Baik Ummi Hajjah!”


“Lain kali, untuk kasus seperti ini tidak perlu menganggu waktu istirahatku! Kalian bisa melerai dan menjatuhkan hukuman sesuai dengan aturan yang berlaku! Apa kalian mengerti?!”


“Me… mengerti Ummi Hajjah!” Hajjah Aisyah langsung berbalik arah diikuti oleh para asisten setelah sebelumnya menatap tajam lagi membunuh pada Iqlima. Para santri satu persatu ikut bubar. Mereka menyempatkan diri mencuri pandang ke wajah tampan Yahya. Ayi dengan cepat bangkit menghampiri putra dari haji Zakaria tersebut.


“Gus, saya… saya di dzolimi!” Yahya masih menatap Iqlima yang berjalan menunduk melewatinya dan Ayi.


“Padahal saya hanya memberikannya peringatan untuk tidak memakai parfum secara berlebihan tapi santriwati itu…” Ayi mencoba menjelaskan duduk persoalan yang terjadi, namun Yahya malah beranjak pergi.


“Gus… Tunggu Gus… Gus Yahya!” Yahya berhenti. Iqlima yang sudah berjalan jauh menyempatkan diri menoleh ke arah mereka yang sepertinya sangat asik berbicara. Iqlima membuang kasar nafasnya ke udara. Hatinya terasa kebas.


“Gus… Santriwati itu…”


“Jadi menurutmu Iqlima bersalah karena memakai parfum berlebih ya?” Tanya Yahya menaikkan sebelah alisnya ke atas.


“I.. Iya Gus, selain itu…”


“Oh begitu” Yahya mengangguk-anggukkan kepala.


“Selain itu…”


“Seharusnya adili dia di mahkamah, bukan malah main hakim sendiri! Dan perlu kau ketahui, Aku mengenalnya dengan sangat baik. Jadi, Kau tidak perlu memberitakan padaku apapun tentangnya!” Ayi tercengang.


“Sampai di sini paham?” Tanya Yahya menekankan.


“Iya, pa… paham Gus” Lirih Ayi menunduk. Yahya berbalik. Ia berjalan cepat menjauhi gedung santriwati.


Iqlimaaaa. Kau!! Ayi menyentak-nyentakkan kasar kakinya ke permukaan tanah. Kesal. Ayi benar-benar marah.


Ya Rabb, bahkan Gus Yahya menyebut nama wanita itu dengan mulut beliau sendiri! Kali ini air yang mengalir di pipi Ayi adalah sungguhan. Bukan air mata palsu seperti yang tadi ia keluarkan.


***


Hajjah Aisyah duduk di ruang keluarga. Beliau dipijat oleh asisten sembari menunggu Yahya masuk ke rumah.


“Sri, apa pendapatmu tentang Iqlima?” Tanya Hajjah Aisyah pada khadimah setianya.


“Maaf Ummi Hajjah, Sri ndak berani menilai istri seorang Gus” Sahut Sri menunduk. Hajjah Aisyah menghela nafas.

__ADS_1


“Ah, sejatinya akhlakmu memang lebih baik dibanding gadis itu, miris sekali nasib putraku!”


Di saat bersamaan, Yahya melangkah masuk dan mendapati hajjah Aisyah menatapnya seolah meminta penjelasan. Yahya menghentikan langkahnya.


“Apa memang gadis liar begitu yang kau peristri?” Sindir Hajjah Aisyah.


“Pasti ada sesuatu yang membuat Iqlima bersikap demikian, Mi” Sahut Yahya cepat.


“Berhenti membelanya, Yahya! Kau harus fair dalam menilai sesuatu! Perbuatan nya fatal! Dimana mau kau letakkan wajah Ummi dan Abah?” Cebik Hajjah Aisyah.


"Tapi... "


“Kau pikir Ummi-mu ini buta dan tidak bisa melihat?! Begitu?” Suara Hajjah Aisyah meninggi. Yahya bungkam. Percuma mendebat ibunya yang keras kepala.


“Ceraikan dia!” Yahya terenyak.


“Ceraikan gadis liar tidak tau diri sepertinya! Ummi tidak sudi memiliki menantu yang tidak memiliki adab dan sopan santun!”


“Mi…”


“Yahya, Apa kamu akan membiarkan orang sepertinya melahirkan keturunan untukmu? Seorang Ibu merupakan tonggak negara. Mau jadi apa putra-putrimu kelak jika memiliki ibu rendahan sepertinya?” Tanya Hajjah Aisyah menohok.


“Aku menunggumu menceraikannya!” Ucap Hajjah Aisyah pada akhirnya. Beliau bangkit mengambil ancang-ancang untuk beranjak pergi.


“Bagaimana mungkin Yahya menceraikannya, sedang Yahya sendiri sudah mengambil banyak keuntungan dari nya?” Tiba-tiba Yahya bersuara.


“Bagaimana jika memang ternyata Iqlima tengah mengandung buah hati Yahya?”


“A.. Apa? Ja.. Jadi kau sudah…” Hajjah Aisyah terhuyung.


Apa Iqlima benar-benar akan hamil? Tidak, ini tidak boleh terjadi! Aku harus melakukan sesuatu! Wajah Hajjah Aisyah merah padam. Beliau berubah panik.


Perempuan kampungan itu benar-benar telah meracuni pikiran murni putraku. Aku harus menghubungi Wirda. Aku harus meminta pendapatnya.


"Yahya, sampai kapan pun aku tidak akan mengakuinya sebagai menantuku! Camkan itu!!" Hajjah Aisyah langsung melesat pergi meninggalkan Yahya yang berlutut di ruang keluarga.


***


"Mbak Wir, Aku tidak menyangka perempuan itu sudah menyerahkan tubuhnya pada Yahya! Padahal mereka menikah tanpa cinta! Dia benar-benar sudah melampaui batas! Padahal kami belum merestuinya! Yahya juga keterlaluan, kenapa sih harus gadis itu?!" Keluh Hajjah Aisyah melalui telepon seluler. Beliau kembali menempelkan koyo dan menghirup balsem untuk meredakan rasa sakit di kepala yang begitu mendera.


"Sudah kuduga! Mana mungkin ia melepaskan nak Yahya begitu saja! Berhentilah bermimpi dik Aisy! Lagipula ikan mana yang tidak mau jika diberi umpan? Wanita itu telah mengumpan Yahya hingga masuk ke dalam perangkapnya! Dia seperti benalu yang hinggap di keluarga besar kita! " Sahut Hajjah Wirda. Iqlima benar-benar seperti ancaman bencana yang akan singgah di Kerajaan megah mereka.


"Lalu apa yang harus aku lakukan, Mbak? Apa aku harus memberikan mereka ramuan setiap saat? "


"Untuk sementara lakukan ini..... " Hajjah Wirda mengatakan rencana nya.


"Ini hanya sebuah ide lho, Dik! Tapi kembali lagi, keputusan ada di tanganmu! Aku sebagai seorang kakak, hanya bisa menyarankan saja! " Hajjah Aisyah menggigit bibir berpikir keras.


Tap Tap Tap


Ilyas memasuki kediamannya. Pemuda ini baru selesai mengantar Runi pulang setelah berjanji padanya akan menjodohkannya dengan Yahya. Seperti ada titik terang, mereka bersama-sama akan berjuang untuk mengagalkan rencana pernikahan yang akan berlangsung tidak lama lagi.


Terlihat Hajjah Wirda yang baru mengakiri percakapan melalui via telepon. Ilyas langsung menghampiri dan memeluk hangat umminya.


“Kamu darimana saja, Nak?”

__ADS_1


“Ilyas baru mengantar Rumi pulang, Mi!” Hajjah Wirda menyunggingkan senyumnya. Beliau mengangguk-angguk bahagia.


“Ummi beruntung memiliki anak yang berjalan di jalan yang lurus sepertimu! Tidak seperti Yahya yang pembangkang!” Ilyas melonggarkan pelukannya.


“Yahya? Pembangkang!” Ujung Alis milik Ilyas tertaut.


“Ah, hubungan-mu dan Yahya sangat dekat! Apa Kamu tidak tau kalau diam-diam Yahya telah menikahi gadis Aceh yang tidak jelas asal usulnya?”


“A… Apa?! Menikah? Dengan gadis Aceh?! Siapa gadis tersebut, Mi?” Tanya Ilyas penasaran. Jantungnya berdegup kencang.


“Kata dik Aisyah sih namanya Iqlima”


Praaankkk


Handphone yang ada dalam genggaman Ilyas terjatuh ke lantai. Layar depannya pecah terburai. Namun kondusi hatinya lebih daripada itu. Seperti ada yang meremas kuat, hati Ilyas terasa sakit.


“Nak, kamu mau kemana?!” Panggil Hajjah Wirda yang melihat anaknya langsung melesat begitu saja.


“Yas, Ilyaaaas!” Hajjah Wirda mengerutkan keningnya. Bingung akan apa yang terjadi tiba-tiba.


Ilyas kenapa?


Ilyas kembali ke parkiran, ia mengambil mobilnya.


Vrooooom


Pemuda berdarah Yaman tersebut langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


***


“Huuussttt Huuusssst, Mbak Sri! Huuuussst” Diam diam Yahya memanggil Sri yang baru keluar dari kamar umminya. Pemuda ini dari sejam yang lalu sudah berdiam diri menunggu di dekat pintu.


“Ikuti Aku!” Sri mengikuti langkah Yahya.


“Mbak, tolong bawa Iqlima ke sini!” Ucap Yahya berbisik. Sri terperangah.


“Bawa Iqlima kekamarku, Aku ingin menanyakan langsung padanya apa yang tadi terjadi! Pinta Yahya. Sri melirik ke arah jarum jam. Pukul 23.45 pm.


“Maaf Gus. Bukannya saya ingin membantah perintah Gus. Maaf sekali, tapi ini terlalu beresiko. Bagaimana kalau santriwati lain curiga? Bagaimana kalau Ummi Hajjah sampai tau?” Sri tidak kalah berbisik.


“Makanya jangan sampai Ummi tau! Kalau santriwati lain aku tidak peduli. Besok pagi-pagi buta kau harus mengembalikan Iqlima ke pesantren! Itu tugasmu, Mbak Sri!” Tukas Yahya. Sri mematung cemas. Tugas yang diberi Yahya terasa sangat berat.


“Ayolah Mbak Sri…” Sri jadi tidak tega.


“Baiklah. Tapi untuk malam ini saja ya, Gus! Benar-benar tidak lebih ya, Gus?!” Sri mewanti-wanti.


“Ya ya, memang untuk malam saja! Memang nya mau berapa malam?! Dasar!! Sudah-sudah, cepat sana ke pesantren!” Titah Yahya. Sri mengangguk cepat.


Ibu sama Anak kenapa kepribadian nya sama tapi jauh beda. Jauh berbeda tapi sama ya? Sama-sama memaksakan kehendak. Gumam Sri.


Astaghfirullah. Bisa kualat aku ini membicarakan istri dan anak kiayi. Astaghfirullah. Astaghfirullah. Sri berulang kali beristighfar. Ia memilih langsung melesat menerobos pekatnya malam.


***


Selesai dibaca jangan Lupa Like nya 🥰

__ADS_1


***


__ADS_2