Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)

Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)
Bab 72: Iqlima Satu-Satunya!


__ADS_3

Yahya berbaring dengan mendekap Iqlima erat. Bersama-sama mereka baru saja kembali mereguk kenikmatan beribadah. Yahya masih terus mengusap puncak kepala Iqlima dengan lembut.


“Ini pertama kali kita melakukannya di sini! Dan… akan ada hari-hari berikutnya…” Bisik Yahya. Iqlima bersemu. Kupu-kupu terasa berterbangan diperutnya.


“A… Aku mau kembali berpakaian!” Ucap Iqlima terbata. Ia menarik selimut mulai beranjak menjauh.


“Tunggu sebentar, jangan pergi dulu! Seperti ini benar-benar sangat nyaman!” Yahya menarik Iqlima hingga wanita tersebut kembali dalam pelukannya. Iqlima semakin bersemu. Terlalu malu, Ia menghindari tatapan mata Yahya.


“Hey, lihatlah! Bagaimana bisa sekarang kau jadi malu-malu begini sedang baru saja kau membuatku tidak berkutik!” Iqlima mendongak.


“Ti.. Tidak berkutik?”


“Ya… Kau menerkamku dengan sangat lihai, kau benar-benar seperti singa! Auuum…”


“Auuumm Auuumm” Yahya membentuk tangannya menyerupai bentuk cakar.


“A… Aku tidak seperti itu!” Bantah Iqlima.


“Aku memperhatikanmu, Kau yang paling bersemangat dan menikmatinya!” Goda Yahya. Sontak Iqlima terduduk.


“Mana mungkin begitu! Bang Yahya jangan asal menuduhku! Tadi itu jelas-jelas bang Yahya yang memaksaku!” Protes Iqlima tak terima. Yahya mematung. Pergerakan Iqlima membuatnya kesulitan menelan saliva.


“Apa kau memang ingin memancingku, Hm? Kalau memang begitu aku dengan senang hati akan melanjutkannya!” Ucap Yahya tanpa berkedip melihat ke bagian tubuh Iqlima yang terbuka. Iqlima terperanjat saat menyadari apa yang sudah ia lakukan. Dengan cepat Iqlima menarik selimut membungkus tubuhnya dan berlari ke kamar mandi.


“Ayolaaah dik Imaa… Auumm Aumm” Teriak Yahya menggoda.


“Tidak! Bang Yahya-lah Macan ganas itu! Bukan aku!” Pekik Iqlima dari balik kamar mandi. Yahya mengusap wajahnya tersenyum. Deretan gigi rapinya terlihat. Lagi-lagi bibirnya membentuk senyuman. Senyumam yang sangat manis.


***


Matahari sirna di jalur barat. Malam datang menjelang. Ruang makan utama pada kediaman Haji Zakaria tampak sibuk. Para khadim dan khadimah sibuk berlalu lalang menyiapkan hidangan makan malam di atas meja. Sebab malam ini sangat spesial, para sanak kerabat, keluarga besar akan berkumpul bersama.


Namun haji Zakaria sendiri sedang tidak berada di tempat. Beliau tengah berada di Amerika untuk mengurus kepentingan bisnis. Permasalahan internal keluarga telah beliau percayakan sepenuhnya pada Hajjah Aisyah.


Terlihat berbagai macam makanan terhidang. Sesekali terdengar bunyi sendok dan garpu yang beradu. Namun suara yang terdengar hanya sesekali saja. Mereka bersikap elegan. Tata cara makan ala table manner telah mereka kuasai sepenuhnya.


Hajjah Aisyah sengaja mengundang sanak saudara dan kerabatnya untuk berkumpul pada kediaman megahnya. Bukan tanpa sebab, wanita paruh baya ini sudah merencanakan apa yang akan beliau sampaikan. Maklumat penting yang sebenarnya sudah sering menjadi buah bibir di kalangan mereka.


Selesai menyantap hidangan mewah yang disuguhkan, mereka diarahkan untuk berkumpul di ruang pertemuan. Mata Yahya berpendar. Ia melihat 90 persen keluarga besarnya hadir. Para petinggi, pesohor juga para sesepuh yang sangat dihormati. Yahya mengerutkan keningnya menduga-duga dalam rangka apa Umminya menyiapkan ini semua. Namun Yahya gagal menerka.


“Assalamu’alaikum wr wb…” Hajjah Aisyah membuka percakapan. Setelah mengucapkan kalimat pembuka secara resmi, beliau mulai mengatakan maksud dan tujuannya secara terang-terangan. Maksud dan tujuan yang sebenarnya telah diketahui oleh sebagian keluarga besarnya.


Hajjah Aisyah menjelaskan panjang lebar dengan begitu piawai. Anggota keluarga yang hadir mengangguk-anggukkan kepala tampak setuju. Hajjah Aisyah tampil bak seorang petinggi parlemen yang tidak pernah kehabisan bahan pembicaraan dengan orasi memukau. Tidak bisa dipungkiri, itu memang keahliannya.

__ADS_1


“Maka dari itu saya ingin Yahya menceraikan wanita yang asal usulnya tidak jelas tersebut. Lagipula, terhitung mereka sudah lama menikah. Namun belum juga memiliki anak! Yahya butuh penerus. Kita butuh pewaris tahta!” Yahya perperanjat tidak percaya dengan apa yang ibunya lakukan. Kini semua tatapan mengarah padanya.


“Astaghfirullah nak, malang benar nasibmu!” Salah seorang kerabat dekat berkomentar dengan menitikkan airmata.


“Hmh.. Izinkah saya menyampaikan pendapat!” Yahya melirik datar ke wajah kerabat ibunya yang tiba-tiba ingin bersuara.


“Ini sama sekali tidak bisa kita biarkan. Pernikahan mereka benar-benar sebuah aib yang mencoreng martabat keluarga. Bagaimana bisa ada pernikahan di bawah tangan dengan kondisi terpaksa? Belum lagi wanita tersebut bukan dari golongan kita! Keluarga kita akan dicemooh habis-habisan oleh orang banyak dan akan menjadi bahan gunjingan! Kehancuran pasti….!” Adik dari Kakek Yahya tersebut menjeda kalimatnya. Sebagai salah satu bangsawan pemegang asset terbesar di keluarga, suara Haji Musa sangat diperhitungkan. Suasana menjadi sangat tegang.


“Kehancuran pasti akan datang! Kalau memang dia tidak bisa menghasilkan keturunan, ya sudah! Bagus sejak dini kita menyadarinya sebelum semua terlambat! Yahya bisa menceraikannya secara langsung! Sebagai orang terhormat dan bermartabat, Kita akan tetap bertanggung jawab. Berikan dia sejumlah uang tunai! Kalau perlu berikan dia rumah, atau sejenisnya! Apapun itu, anggap sebagai kompensasi! Aku rasa ini jauh dari kata cukup!” Ucap Haji Musa enteng. Mata Yahya memerah.


“Tapi Abah Haji, Yahya sangat keras kepala dan tidak mau menceraikan Iqlima! " Wajah Hajjah Aisyah menekuk sedih.


"..... Maka dari itu Saya akan mengalah! Kalau memang Yahya tidak bisa menceraikan wanita itu, maka dia harus menikahi Layla. Putri kedua dari keluarga Pranawa!”


Keluarga Pranawa?


Ah keluarga hebat Pranawa?


Para kerabat yang hadir saling berbisik. Sebagai keluarga pengusaha yang diperhitungkan di Indonesia, mereka tentu sudah mendengar nama keluarga Pranawa. Nama pesohor yang memang tidak asing lagi.


“Apapun ceritanya kak, keluarga besar kita tidak bisa menerima wanita itu! Kalaupun Yahya menikah lagi, wanita bernama Iqlima tidak bisa menjadi istri resmi! Wanita itu harus disembunyikan dari public dan hanya bisa menjadi bayang-bayang Layla!” Sahut kerabat dekat lainnya.


“Aku sudah mengatakannya pada Yahya! Aku sudah menerangkan segalanya seterang cahaya rembulan malam!” Sahut Hajjah Aisyah. Beliau menatap tajam pada Yahya yang memasang wajah yang sangat rumit untuk diartikan.


***


Perlahan Iqlima membuka pintu kamar. Ia mengedarkan pandangannya ke kanan dan ke kiri. Kosong. Tidak ada orang di sekeliling. Malam ini Iqlima sudah meminta izin pada Yahya untuk mengikuti kelas bahasa Arab di pesantren. Suaminya tersebut dengan senang hati mengizinkan. Terlihat Sri sudah menunggunya di depan teras rumah yang berada di sisi timur.


“Mbak Sri, aku pasti akan dihukum karena terus keluar masuk pesantren seperti ini!” Lirih Iqlima.


“Insya Allah tidak. Jangan khawatir, Nona! Apalagi sebelum makan malam dimulai tadi Gus Yahya sudah mengatakan pada beberapa khadimah untuk mempersiapkan segala keperluan karena besok beliau akan mengumumkan kalau Gus dan Nona sudah menikah!” Sahut Sri.


Bang Yahya ternyata serius dengan perkataannya. Wajah Iqlima semakin terlihat berseri-seri. Mereka berjalan menyusuri jalanan terang benderang karena penerangan yang disediakan di sepanjang jalan sudah sangat maksimal.


“Berhenti!” Seseorang mencegatnya di jalan. Iqlima dan Sri mendadak berhenti.


“Kita sudah beberapa kali bertemu, tetapi aku ingin memperkenalkan diri secara lebih resmi!” Iqlima mengerutkan keningnya.


“Perkenalkan, aku Layla Asmarini Ningsih! Calon istri mas Yahya!” Layla yang ditemani oleh Nilam berbicara dengan mengangkat dagunya ke atas. Iqlima terenyak.


“Malam ini mas Yahya makan malam dengan seluruh keluarga besar dan kau tidak diajak kan? Mereka semua tengah membicarakan tentang rencana pernikahan kami! Nasib pernikahan kalian berada di ujung tanduk. Entah mas Yahya akan menceraikanmu atau tidak, aku tidak peduli! Yang jelas aku akan menjadi istri sahnya!” Iqlima ternganga. Layla begitu berani. Mendengar ini semua, Iqlima sedikit terguncang. Tubuhnya bergetar.


“Aku-lah istri satu-satunya mas Yahya. Pernikahan kami telah direncanakan jauh dari sebelum mas Yahya mengenalmu! Kau datang di kehidupan mas Yahya dan merusak segalanya! Akulah satu-satunya gadis yang direstui di keluarga ini!” Mata Iqlima mengembun. Sri merapat dan memegang tangan Iqlima. Ia melihat ekspresi wajah istri dari Gus-nya tersebut yang seperti sedang menahan tangis.

__ADS_1


“Maaf, aku harus menyampaikan hal ini lebih awal agar kau bisa mencegah diri mu agar tidak depresi hingga bunuh diri! Maka aku berinisiatif mengenalkan diri! Akulah Layla. Wanita cantik berkelas dan terhormat calon menantu utama di keluarga Zakaria! Bukan orang rendahan yang tidak memiliki asal usul seperti mu! Haha... Begitulah kalimat yang selalu didengungkan oleh keluarga hebat ini!” Ucap Layla bangga dengan tersenyum merendahkan.


“Baiklah... Sekian perkenalan awal dan singkat dariku. Aku permisi!” Lanjut Layla berjalan santai melewati Iqlima dengan membusungkan dada.


“Sebentar!” Layla menoleh. Perlahan Iqlima berjalan mendekatinya.


“Maaf. Sayang sekali, Kau sangat keliru!" Ucap Iqlima. Kali ini Layla yang mengerutkan keningnya.


"Aku tidak pernah mendatangi bang Yahya dan memintanya untuk membawaku bersamanya! Ti. Dak Per. Nah! Namun kami terikat oleh rantai takdir! Takdir Allah-lah yang membawa bang Yahya menikahiku” Ucap Iqlima lantang. Ia mendekat maju selangkah lagi lalu kemudian Iqlima mendekatkan wajahnya ke telinga Layla.


“Sekarang Aku tegaskan lagi agar kau tidak salah kaprah! Aku tidak pernah mengejar bang Yahya ke sini! Kami menikah di tanah kelahiranku! Dan bang Yahya yang membawaku ke rumah ini!” Bisik Iqlima. Layla terpaku.


“Satu lagi… Karena bang Yahya telah menikahi dan berani menunjukkanku sebagai istri di hadapan keluarganya, itu artinya bang Yahya memang memilih-ku! Wanita terhormat dan berkelas itu tidak akan pernah mau merebut milik orang lain! Kalaupun bang Yahya menceraikanku, wanita terhormat dan berkelas tidak akan pernah mau menerima bekas orang lain! Apalagi Laki-laki tersebut bekas orang rendahan sepertiku!” Ucap Iqlima menohok tajam. Layla mengangkat tangannya hendak melayangkan tamparan.


Seeettt


Namun dengan cepat Iqlima menahan tangan tersebut. Ia melepaskan tangan Layla dengan sedikit menghempaskan nya. Hempasan tangan Iqlima menyebabkan Layla jatuh terjerebab ke tanah. Iqlima memegang tangan Sri mengajaknya pergi.


Awwww. Sialaaaan!!! Pekik Layla tertahan. Nilam membantunya berdiri. Layla benar-benar murka.


Aku akan melenyapkan mu sampai kau menjadi debu!!!! Layla mengepalkan tangannya.


"Nona, nona... bagus nona... Saya salut dengan tindakan nona! " Puji Sri berbinar. Iqlima hanya diam, ia tidak menoleh. Namun suara isak mulai terdengar.


"Astaghfirullah... nona... nona menangis?! " Sri histeris. Lalu kemudian ia teringat bagaimana nasib Iqlima kedepannya.


"Mbak... Apa bang Yahya benar-benar akan menceraikanku? Atau menikahi Layla?" Iqlima bertanya dengan menggenggam tanya Sri. Airmatanya berlinang-linang.


***


Ruang Pertemuan


"Maaf jika Ananda lancang! Sampai kapanpun Ananda tidak akan pernah menceraikan Iqlima! Ananda juga tidak akan berpoligami! Cukup Iqlima satu-satunya. Yang pertama dan yang terakhir! " Sahut Yahya lantang dengan berlutut di hadapan fokum keluarga.


***


Akan ada event seru2an sesama pembaca novel Iqlima. Yang mau join boleh gabung di grup ya~ Klik profil alana alisha dan join di sana 🤗


Ada pulsa untuk 5 pemenang~


IG: @alana.alisha


Thank You 💙💙💙

__ADS_1


***


__ADS_2