
Yahya keluar dari kamar mandi dengan air yang menetes-netes dari ujung sulur rambutnya. Pemuda ini baru selesai mengambil wudhu’. Matanya menangkap keberadaan Iqlima. Gadis tersebut tengah duduk di mini pantry yang ada di pojokkan kamarnya. Mini pantry yang disekat dengan kaca transparan lengkap dengan exhaust fan.
“Makan saja! Tidak perlu menungguku!” Ucapan ketus Yahya membuyarkan lamunan Iqlima.
“Bang, ini... bisa dimakan sama orang sekampung Krueng Lam Kareung!” Lirih Iqlima yang bingung mau mencomot makanan yang mana. Yahya mendekat.
“Cerewet! Pilih saja makanan yang kamu suka! Selebihnya bisa dimakan oleh para asisten!” Yahya duduk mengambil tempat. Setelah membaca Bismillah, Iqlima mulai menikmati makanannya.
Belum mandi tapi kenapa tubuhnya masih harum?Dia pakai parfum apa sih? Kenapa berada di dekatnya aku jadi kikuk begini!
“Hm… Untuk sementara waktu kamu tinggal dulu di pesantren sampai konferensi pers! Kita harus menyembunyikan pernikahan ini dari publik hingga waktu yang kondusif” Yahya membuka percakapan. Iqlima berhenti mengunyah.
Itu artinya hari ini adalah hari terakhir aku melihat bang Yahya. Setelah ini mungkin lama baru bisa bertemu kembali. Gumam hati Iqlima. Gadis ini berubah sedih.
“Kau lulusan Madrasah ‘Aliyah, kan? Aku akan menyuruh bagian kurikulum mengarahkanmu memegang beberapa materi untuk mengajar di Ibtidaiyah jika kau merasa bosan tanpa kegiatan!”
"Kalau melanjutkan kuliah, boleh?” Iqlima memberanikan diri bertanya.
Kuliah? Hmh... Tidak kemana-mana saja sudah menjalin hubungan dengan Ilyas, apalagi kalau kuliah? Sudah pasti akan banyak pemuda tanggung tidak jelas yang mengincarnya. Yahya menatap intens Iqlima dengan memicingkan mata tampak berfikir.
“Kenapa Abang menatapku begitu?” Iqlima meraba bagian pipi dan mulutnya. Khawatir ada sisa makanan yang menempel.
“Kau mau kuliah kan?” Iqlima mengangguk cepat.
“Baiklah, Aku akan mengabulkannya! Tapi hanya kuliah. Benar-benar hanya kuliah”
“Ma.. Maksudnya?” Iqlima mengerutkan kening.
“Kau tidak boleh mengikuti organisasi atau kegiatan lainnya, hanya boleh menghadiri kelas regular tidak lebih! Nanti akan ada yang mengawal untuk mengantar dan menjemputmu pulang!” Sahut Yahya.
Ha? Yang benar saja! Kalau begini bagaimana mau maju dan berkembang? Kan Aku harus berpendidikan dan memiliki pengalaman. Hmh, untuk sementara Aku iya kan saja dulu, nanti aku akan memikirkan cara untuk meluluhkan hati bang Yahya! Iqlima mengangguk-angguk. Yahya langsung mengambil gawainya.
Rus, tolong daftarkan Iqlima di Kampus Trisakti atau Universitas Indonesia! Nanti semua berkas nya akan di kirimkan ke emailmu! Tidak usah jalur regular, ribet dan prosedurnya lama. Daftarkan via jalur mandiri! Ketik Yahya pada Rusdi asistennya. Pemuda ini menyempatkan diri melirik Iqlima yang masih asik menguyah makanannya.
Tapi kalau jalur mandiri harus membayar lebih mahal, Gus! Biasanya akan menambah biaya pembangungan puluhan hingga ratusan juta apalagi kalau kampus swasta seperti Trisaksi, dan itu semua tergantung jurusan yang dituju
Daftarkan saja!
__ADS_1
Baik Gus. Siap laksanakan!
Tok Tok Tok
Terdengar suara ketukan pintu. Yahya menekan tombol unlock wireless intercom yang dipasang di depan pintu kamarnya untuk memudahkan dalam berkomunikasi dengan para asisten.
“Siapa?”
“Maaf Gus, saya Asih. Tadi kata mbak Sri, nona Iqlima membutuhkan jasa pijat body massage. Saya juga membawa berbagai macam aroma terapi”
“Oh okay, masuk saja dan tunggulah di sofa!” Titah Yahya.
“Iqlima, body massage termasuk fasilitas yang disediakan di sini. Apalagi untuk orang yang baru menempati kediaman ini! Tujuan nya adalah untuk menghilangkan energi negatif atau bau bau yang tidak diinginkan!” Ucap Yahya berbisik. Ia menatap Iqlima dengan tatapan serius.
“Jadi, kau nikmati saja! Aku mau shalat dulu!” Yahya bangkit. Iqlima mengerutkan kening, perlahan ia menatap dirinya. Untuk sejenak ia mulai mengendus endus aroma yang ada ditubuhnya.
Apa aroma tubuhku tidak sedap?
***
Gadis itu harus secepatnya didepak dari sini. Ia sama sekali tidak pantas untuk Yahya. Aku harus segera bertindak sebelum semua nya terlambat!
Layla sayangku, maafkan Ummi yang gagal menjaga Yahya untukmu. Hajjah Aisyah benar-benar merasa terpukul.
“Bagaimana Dik Aisyah? Apa ramuannya sudah diminum oleh gadis itu?” Tanya Hajjah Wirda via handphone. Ibu dari Ilyas ini adalah sahabat karib Hajjah Aisyah, tempat beliau berkeluh kesah.
“Aku sudah menyuruh asisten untuk mengantarkannya mbak, nanti akan kupastikan dulu apa sudah diminum atau belum!”
“Haha Aku benar-benar penasaran dengan menantu dadakan mu itu! Aku jadi ingin sekali melihatnya!” Hajjah Wirda tertawa lepas.
“Tidak usah mbak, memalukan! Benar-benar kampungan. Bahkan asal usulnya saja tidak jelas. Aku sampai stress parah memikirkannya!” Hajjah Aisyah memijat pelipisnya. Koyo dan balsem menghiasi kepalanya.
“Memang wajib kamu singkirkan! Nak Yahya itu berhak mendapat wanita yang jelas bibit bebet bobotnya! Aku tau persis bagaimana Nak Yahya itu. Kalau bukan karena di rayu habis-habisan atau dijebak, bagaimana mungkin Nak Yahya akan tergoda!” Ucapan Hajjah Wirda membuat Hajjah Aisyah berpaku.
“Maaf banget lho dik Aisyah… Maaf banget ini... Untung saja Ilyas patuh, penurut dan akan menikah dengan Rumi! Walau sudah lebih dari setahun merantau keluar Jakarta, tapi hati dan pendirian nya teguh dan tidak mudah goyah! Tidak mudah dirayu oleh wanita apalagi wanita murahan seperti Iqlima!” Kata-kata Hajjah Wirda yang menohok membuat kepala Hajjah Aisyah bertambah sakit. Beliau semakin ingin memisahkan Yahya dan Iqlima.
***
__ADS_1
Setelah shalat dua rakaat, Yahya duduk membaca majalah bisnis di sofa. Iqlima sudah menyelesaikan makannya. Semua sisa makanan juga sudah dibawa keluar oleh para asisten yang bertugas.
“Maaf Nona, semua pakaian yang nona kenakan harus dilepas terlebih dahulu!” Ucap Asih yang tidak menyadari bahwa Yahya masih berada di kamar.
“Ha?!” Iqlima berubah pucat. Ia melirik Yahya yang membaca santai dan tampak acuh.
“Tt Tapi…”
“Tidak apa-apa nona, biar pijatannya maksimal! Silahkan gunakan kain ini!” Asih menyodorkan selembar kain putih. Ia mulai menutup tirai tipis transparan yang memisahkan tempat tidur dan sofa.
Ganti pakaiannya dimana ya? Iqlima menggigit bibirnya gundah. Lagi-lagi Ia melirik Yahya yang masih membaca. Tidak ada tanda-tanda suaminya akan keluar dari ruangan.
“Ayo nona, jangan malu! Kan tidak ada siapa-siapa di sini!” Desak Asih yang melihat Iqlima masih saja berdiam diri. Ia tengah meracik berbagai oil untuk diaplikasikan ke tubuh Iqlima.
Apa Mba Asih ga liat ada Bang Yahya yang gede benget di situ? Ya Rabbi… Bagaimana ini? Iqlima semakin gelisah. Tidak ada pilihan lain, gadis ini bangkit dari atas tempat tidur untuk mengganti pakaian.
“Mba Asih, itu jenis minyak apa?” Iqlima menghalau rasa gugupnya.
“Ini adalah jojoba oil, juga ada almond oil untuk full body. Kalau nanti ada stretch mark dan bekas luka, akan saya kasih carrot seeds oil untuk memudarkannya. Ah, tapi saya yakin nona Iqlima ini pasti licin, halus dan mulus. Dari tangannya saja sudah keliatan kok! Gus Yahya tidak mungkin salah pilih istri!” Ucap Asih gamblang. Wanita berumur 40 an tahun ini mengedipkan sebelah matanya.
Yahya yang sedari tadi sudah merasa gerah bertambah gerah namun ia tetap bersikap cool. Hanya saja, sesekali pemuda ini mengganti posisi duduknya agar semakin nyaman. Iqlima menepi, ia bersandar di balik lemari dan mulai membuka satu persatu kancing bajunya dengan ragu.
"Nona, karena nona itu pengantin baru jadi saya kasih resep spesial untuk nona dan gus! "
"Resep apa mba Asih? "
"Resep untuk membuat Gus Yahya bahagia! Aku sudah tau kok kalau kalian itu pengantin baru. Hubungan R. A. N. J. A. N. G pasti lagi hot-hot nya kan... hihihi" Asih cekikikan. Ia mengeja satu persatu huruf dengan jelas. Muka Iqlima langsung berubah seperti kepiting rebus.
Praaaaankkkk
Segelas susu kambing jatuh. Airnya berceceran ke lantai. Gelasnya hancur berkeping-keping. Yahya bergetar. Ia tidak sengaja menyenggol gelas tersebut. Pemuda ini spontan bangkit keluar dari kamar.
"Non... Guu.... Gus Yahya dari tadi masih di kamar??" Kali ini berganti Asih yang gemetaran. Iqlima mengangguk.
Mati aku! Tamat Riwayat ku! Aku kudu piye?
***
__ADS_1