
“Stooop!” Pekik Iqlima panik saat Yahya mendekat.
“Jangan mendekat!” Iqlima mewanti-wanti namun Yahya tidak mengubrisnya. Pemuda tersebut terus melangkah. Iqlima sontak memejamkan mata dengan erat sampai langkah Yahya tak lagi terdengar. Sekian lama, suaminya tersebut belum juga menjangkaunya. Iqlima memberanikan diri membuka kelopak matanya perlahan.
Sreeeeg.
Ternyata Yahya sudah berada dibelakangnya, menarik tirai menutupi full kaca yang ada di sana.
Duh.
“Sebenarnya orang-orang dari luar tidak bisa melihat kita. Walaupun kacanya bening, namun cukup riben untuk menjangkau aktifitas di sini!” Terang Yahya santai.
“Kau harus menyegarkan tubuh terlebih dahulu. Besok aku akan mengantarmu ke kampus untuk pengenalan!” Lanjut Yahya lagi. Iqlima mengerutkan keningnya.
“Hmh.. Bukannya nanti ada ospek pengenalan kampus untuk mahasiswa baru, Bang?” Iqlima tampak berpikir.
“Tidak perlu. Ingat kesepakatan awal kita, kau tidak boleh mengikuti kegiatan apapun diluar jadwal regular!” Iqlima langsung bungkam.
“Berendamlah! Aku akan menunggumu sambil berenang di sana!” Tunjuk Yahya.
Hhhhh. Akhirnya.
“Tapi bang Yahya jangan mengintip, janji ya!” Yahya yang sudah berjalan ke ujung pintu sontak menghentikan langkah kakinya.
“Sudah kukatakan aku tidak berminat! Tidak berminat ya tidak berminat!! Kau yang harus menahan diri untuk tidak mengintipku!” Sembur Yahya.
Huh. Iqlima hanya bisa mendengus setelah Yahya melesat keluar. Ia bersiap-siap untuk berendam. Gadis tersebut mulai melepas kerudung dan gamis. Namun baru saja ia akan ke tahap berikutnya, handphone yang berada di kantung gamisnya terasa bergetar.
“Iqlimaa..” Panggil seseorang dengan ceria dari seberang.
“Aaa dokter Jelitaaaa” Iqlima tak kalah heboh.
“Besok aku akan ke Jakarta untuk melengkapi registrasi jurusan”
“Woaa Alhamdulillaah, apa kita bisa bertemu?”
“Aku tidak yakin karena masih ada ujian praktik tahap akhir, tapi akan aku usahakan! Hmh, sebenarnya selain ingin mengabarkan hal ini, aku ingin membicarakan tentang rumahmu yang di Medan sini!”
“Ada apa, Dok?”
“Hmh, sebaiknya nanti saja aku kabarkan setelah sampai di Jakarta. Ada banyak hal yang ingin ku katakan. Banyak sekali, tentang kejadian-kejadian aneh akhir-akhir ini!” Keluh dokter Jelita.
Kejadian aneh? Iqlima mengerutkan keningnya penasaran.
“Lalu, bagaimana hubunganmu bersama Yahya? Apa berjalan lancar?” Pancing dokter Jelita.
“Huft, Tidak ada kemajuan. Bang Yahya sangat dingin terhadapku!” Bisik Iqlima menunduk.
“Berikan umpan langsung! Berikan umpan langsung! Tambah kan dosisnya, maka kau akan merasakan perubahan sikap drastis Yahya. Percayalah!” Perkataan dokter Jelita lagi-lagi membuat pipi Iqlima bersemu.
Di luar ruangan, Yahya tengah asyik berenang dengan lincahnya. Mantan altet lempar lembing ini memang gemar berolahraga. Ia berenang dari Selatan ke Utara mencoba berbagai macam gaya. Ini pertama kalinya ia kembali ke kolam air setelah setahun berlalu.
Tenggorokan yang terasa kering membuat Yahya melirik air mineral yang berada tidak jauh dari ruangan bath-up. Ia mendekat ke sana. Mengambil sebotol air berukuran sedang lalu menenggaknya setelah duduk terlebih dahulu.
Benar Dok! Kalau ustadz Ilyas, aku jsjahjh djjjlakaji aushhas Ustadz Ilyas.
__ADS_1
Ilyas? Iqlima bicara dengan siapa? Yahya terkejut. Ia meletakkan air mineralnya. Dari luar, sayup-sayup Yahya bisa mendengar Iqlima menyebut nama Ilyas berulang kali. Walau samar-samar, pemuda ini tau pasti nama yang disebut memang benar-benar nama Ilyas.
Brakkk
Pintu tiba-tiba terbuka. Iqlima tercengang mendapati tubuh basah Yahya yang hanya mengenakan celana pendek sudah berdiri di depan pintu menatap tajam ke arahnya. Gadis ini memalingkan wajah langsung berjongkok menutupi tubuhnya karena ia hanya mengenakan tanktop dan rok dalaman transparan. Iqlima cepat-cepat menutup panggilan telepon dari dokter Jelita.
“Kau bicara dengan siapa?!” Tanya Yahya dengan tatapan tidak ramah.
“De... Dengan Dokter Jelita. Beliau menelpon” Lirih Iqlima merasa risih. Ia menarik-narik rok tipisnya menutupi lutut yang terbuka.
“Apa memang begitu kelakuanmu? Membicarakan laki-laki lain di belakang suamimu, Hah?!” Tuding Yahya. Ia menarik tubuh Iqlima hingga gadis itu berdiri. Netra mereka bertemu. Iqlima menggeleng kuat.
“Dokter Jelita hanya menanyakan kabar beliau. Aku menjawab bahwa aku tidak mengetahuinya”
“Benarkah?” Iqlima mengangguk cepat.
“Aku menyuruhmu berendam di sana, bukan bergosip! Tampaknya kau memang benar-benar harus diberi pelajaran!” Wajah Yahya terlihat tidak senang. Walau tidak bisa dipungkiri, melihat siluet tubuh Iqlima yang sudah berbentuk itu membuat nafasnya sukses memburu. Ia mendamba. Yahya dengan cepat menarik Iqlima masuk ke dalam bath-up. Mendudukkannya di sana. Iqlima dengan bergetar langsung memerosotkan diri menutup tubuhnya dengan busa sabun.
“Ba… Bang Yahya mau apa?” Iqlima sangat gugup ketika melihat Yahya ikut masuk ke dalam bath up. Jantung yang berdetak benar-benar tidak bisa ia kondisikan.
“Menjagamu di sini agar tidak mencuri waktu untuk bergosip dan konsentrasi dalam berendam!” Ketus Yahya.
“Berbaliklah!” Iqlima mengikuti titah Yahya dengan memunggunginya. Pemuda tersebut dengan cepat menarik tubuh sang istri bersandar pada tubuhnya.
“Bang, Ta.. Tangan Abang…” Lirih Iqlima sendu saat tangan nakal Yahya mulai menyusuri kulitnya.
“Apa yang salah dengan tanganku? Aku hanya membantu menyabunimu!” Sahut Yahya sekenanya. Perlahan ia menarik tanktop Iqlima ke atas. Gadis tersebut pasrah saat Yahya membuangnya ke sembarang arah.
“Ini kenapa?” Yahya ingin melakukan lebih jauh namun tiba-tiba tangannya merasakan permukaan kulit di pundak kanan Iqlima yang sedikit tidak rata. Yahya mendorong tegak tubuh tersebut perlahan. Mendudukkan untuk melihatnya dengan jelas.
"Apa?! " Kuping Yahya langsung panas mendengarnya.
“Tapi Alhamdulillah ketika itu aku menggenakan kain basahan. Aku tidak tau apa jadinya kalau saja.....!”
“Siapa orang yang mengintipmu?! Katakan siapa dia?!! Biar aku beri dia pelajaran!” Gigi Yahya gemeletuk menahan amarah. Penjelasan Iqlima benar-benar memicu adrenalinnya.
"Aku sudah tidak ingin mengingat nya, bang. Dia hanya seorang pemuda nakal! " Sahut Iqlima mengambil tangan Yahya lalu digenggamnya. Yahya mendekatkan wajahnya perlahan ke bekas luka tersebut, ia mengecupnya dengan penuh perasaan. Hatinya tersentuh.
Pemuda sialaan itu! Rasanya Ingin sekali aku menghajarnya!!! Yahya menahan amarah.
***
Hajjah Aisyah tengah bersiap-siap menuju dapur utama saat Sri masuk membawakan teh rempah yang baru saja di seduhnya.
"Sri, apa gadis itu sudah kembali ke pesantren?" Sri membantu Hajjah Aisyah memakai bros pada kerudung nya.
"Belum, Mi! Pesantren tengah ricuh karena nona Iqlima menghilang"
"Huh. Sudah kuduga mereka lupa diri! Gadis itu mana mungkin melepaskan Yahya begitu saja! Ia akan membuat putraku masuk ke dalam perangkapnya!" Hajjah Aisyah kesal.
"Aku berharap para ustadzah di sana akan menghukum Iqlima dengan hukuman berat ketika ia kembali ke pesantren nanti" Sri hanya diam dan melanjutkan pekerjaannya membantu Hajjah Aisyah berdandan.
"Oh iya Sri, kau sudah memberikan obat yang kutitipkan padanya kan? " Hajjah Aisyah menyelidik.
"Sudah Ummi Hajjah! Sudah saya berikan! "
__ADS_1
"Terima kasih kau telah memberikan informasi sekaligus membantuku, Sri! Tidak percuma kau berada di sisiku sejak kecil. Kau benar, Menghadapi Yahya memang harus dengan cara yang halus! Anakku tidak bisa di keraskan! "
Semoga gadis itu tidak akan pernah bisa memberikan Yahya keturunan! Batin Hajjah Aisyah meradang.
"Ummi, Poltik adalah perang tanpa pertumpahan darah sedangkan perang adalah politik dengan pertumpahan darah! Ummi Hajjah tidak perlu stress hingga jatuh sakit. Nikmati perang politik ini" Sahut Sri dengan tatapan datar. Ia terus mengerjakan tugasnya. Hajjah Aisyah mengangguk-angguk setuju.
"Ya sudah. Daripada pusing, lebih baik Aku masak memasakan special untuk anak dan calon menantuku yang sesungguhnya!" Hajjah Aisyah beranjak pergi meninggalkan Sri.
Seharusnya Ummi bersyukur punya suami yang sangat setia dan romantis seperti abah. Punya anak yang sholeh seperti gus Yahya. Sedangkan aku? akan terus seperti ini. Posisiku terus begini. Aku sudah sangat setia mengikuti Ummi dari kecil hingga sekarang. Tidak cukupkah semua pengorbanan dan pengabdian ku? Tidak bisakah jika sedikit saja Ummi memandangku? Kenapa harus Layla? Tidak bolehkah jika aku saja?! Apa aku harus mengambil Abah dari Ummi baru setelah itu Ummi menyadari keberadaan ku?! Batin Sri meronta. Airmatanya mengalir.
***
Dengan gerakan cepat, Yahya membalutkan tubuh Iqlima dengan handuk. Bagai menerima ribuan mega volt, Ia sudah tidak bisa mentolerir aliran listrik yang menyengati tubuhnya. Yahya membawa Iqlima ke ruangan yang ada di sebelah dan merebahkannya ke single bed yang ada di sana.
"Puasa panjang ini ingin aku akhiri. Aku akan berbuka. Aku ingin sekali melakukannya, bolehkah jika aku melakukannya sekarang? " Lirih Yahya menghujamkan tatapan dalam-dalam pada istri yang sudah berada dikungkungannya. Deruan nafas yang bersahut sambut terdengar memenuhi ruangan kecil berukuran 3x4 meter tersebut.
Pertanyaan Yahya terdengar begitu manis. Ini adalah kali pertama Yahya mengeluarkan sisi lembut nya. Yahya begitu membutuhkannya. Yahya menginginkannya. Iqlima tidak tau harus bahagia atau tidak dengan kenyataan ini, sedangkan ia sendiri tidak tau persis bagaimana perasaan sesungguhnya yang Yahya rasakan padanya saat ini.
"Kenapa harus? Padahal sejatinya abang tidak membutuhkan izin dariku untuk melakukannya. Aku hanya berharap apa yang terjadi hari ini, abang menghargainya sebagai sebuah kepatuhan bukan karena hawa nafsu semata" Sahut Iqlima berkaca-kaca. Sudah seharusnya ia memberikan hak suaminya. Yahya menyambut perkataan Iqlima sumringah. Dengan hati yang terus memanjatkan do'a, pemuda ini melakukan apa yang ingin ia lakukan. Mereka larut dalam perasaan suka cita.
Namun tiba-tiba,
"Aaaaa Iqlimaaaa!!!" Suara menggelegar Yahya terdengar memenuhi ruangan.
"Ke... kenapa abang berteriak? Kan adek yang kesakitan?!" Iqlima bersungut.
"Apa Kau tidak sadar telah menggigit kuat lengan ku?! Apa kau titisan drakula, hah?!" Sembur Yahya meringis. Darah beku membiru bercap di sana. Lukanya lumayan dalam.
"Ma.. Maaf.. Ta... tapi... I.. Ini benar-benar sakit..." Iqlima nyengir menunjukkan deretan gigi putihnya.
Huh. Seperti seorang gadis saja!
"Bersabarlah! Kita coba lagi! I...Ini yang pertama kalinya untukku! "
"Hemmm" Yahya berdehem menghalau rasa gugupnya.
***
Dengan perasaan haru yang memenuhi dada, Yahya kembali menghujani Iqlima dengan ciuman yang bertubi-tubi. Wajahnya menyapu air yang mengalir dari sudut mata sang Istri.
"Iq... Iqlima... Ternyata... Ka Kau... Masih...." Ucap Yahya terbata-bata. Matanya membelalak sempurna ketika mendapati kenyataan bahwa Iqlima belum pernah tersentuh sebelumnya. Ternyata Ia-lah yang pertama. Iqlima mengangguk dengan memejamkan matanya.
Jadi Rais? Seketika rasa bangga memenuhi ruang di hati Yahya.
Dengan segenap perasaan, Yahya kembali membawa Iqlima menuju puncak kenikmatan. Tidak hanya sekali. Tapi berkali-kali. Kulit mereka saling bersentuhan satu sama lain. Yahya dan Iqlima saling berebutan oksigen yang sama, juga keringat mereka yang saling bercampur baur. Yahya dan Iqlima meledak-ledak seirama.
Suara khas yang hanya bisa mereka dengar menambah semangat berkali lipat untuk masuk semakin dalam pada kegiatan yang mereka buat. Ruangan sempit 3 x 4 meter menjadi saksi penyatuan 2 hamba Allah yang tengah bersuka cita.
Yahya dan Iqlima berbuka setelah puasa panjang mereka.
***
Masih banyak Typo, belum di edit maksimal 🙏
***
__ADS_1