Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)

Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)
Bab 55: I believe in You! I Trust You!


__ADS_3

“Yahya, dimana Iqlima?” Todong dokter Jelita ketika ia dan Yahya bertemu.


“Aku juga belum menemui Iqlima, tapi dia sudah berada di kamar salah seorang asisten”


“Lho? Kenapa dikamarnya bukan dikamarmu?!”Sambar dokter Jelita.


“Masih mending di kamar asisten daripada di kamar pesantren” Sahut Yahya sekenanya.


“Ha? Kamar penganten?” Dokter Jelita mengerutkan keningnya.


“Astaghfirullah Jelita… Kamar Pe. San. Tren bukan penganten!” Yahya memijat pelipisnya.


“Yahya, Aku bisa membunuhmu jika kau semena-mena terhadap Iqlima. Kau tidak tau sedang berhadapan dengan siapa?” Tukas dokter Jelita dengan nada tinggi. Ia mengacungkan telunjuknya ke wajah Yahya.


“Ssssstttt, jika Ummi mendengar suara cempreng-mu semua bisa runyam. Kau tenang dulu. Simpan ancaman-mu, Ikuti aku!” Dokter Jelita mau tidak mau mengikuti gerak langkah Yahya. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling.


Rumah yang begitu luas dan indah namun terlihat sangat sepi. Hanya ada dua tiga orang asisten. Mereka menenteng kain dan menge-lap barang-barang yang sebenarnya tidak berdebu.


Yahya membawa dokter Jelita masuk semakin dalam ke area belakang. Terlihat Sri sudah berada di depan kamarnya.


“Aku membawa dokter untuk mengobati Iqlima!” Sri mengangguk. Ia melirik dokter muda cantik yang berada di dekat Yahya lalu memberikan senyumnya. Senyum tersebut langsung memudar ketika Yahya membuka pintu kamar.


Seberapa besar keinginanku untuk mencurangi nona Iqlima, tapi aku tetap tidak bisa! Aku tidak mampu melakukannya. Untuk sesaat Sri memejamkan mata dan kemudian berlalu.


Ceklek.


Terlihat Iqlima yang berbaring memainkan handphone-nya.


“Dokter Jelitaaa?!” Iqlima berbinar. Ia mengangkat tangan setinggi-tingginya. Hampir saja ia meloncat dari tempat tidur saking bahagianya, namun rasa sakit ditubuh membuatnya harus tetap berada di atas kasur.


Huh. Bertemu Jelita saja dia langsung girang, kalau bertemu suami sendiri tingkahnya tidak begitu! Gerutu Yahya.


“Hey, My Sweety Pie.. How are you?” Dokter Jelita hendak memeluk Iqlima namun gadis tersebut malah menahannya.


“Dok, aku merindukanmu... ta... pi... aku bau bensin. Jangan mendekat!” Walau ia telah berganti pakaian, namun Iqlima masih saja mengendus-endus.


“Bau bensin?” Dokter Jelita melirik Yahya yang tampak acuh.


“Aku tergelincir di pesantren karena tanahnya licin. Entah bagaimana caranya bensin bisa berada di sana” Iqlima bersungut.


“Yahya, kau harus mengusut perkara ini!" Lagi-lagi dokter Jelita melirik Yahya yang masih sangat acuh.


Huh.


"Jadi bagian mana yang sakit? Tadi Yahya menelfonku. Dia sangat mengkhawatirkanmu! Kata Yahya kalau aku datang mengobatimu, dia akan merasa sangat tenang!”


“Be… Benarkah?” Iqlima bersemu. Ia melirik Yahya yang pura-pura membaca majalah.


“Tentu saja! Dia memohon-mohon padaku dengan nada yang terdengar serius. Padahal hatinya tengah diselimuti gemuruh yang sangat besar!” Lanjut Dokter Jelita.


“Ge.. Gemuruh?”

__ADS_1


“Ya, gemuruh karena merindukanmu dan gemuruh karena mengkhawatirkanmu!” Ucap dokter Jelita meyakinkan dengan suara berbisik. Namun ia tidak benar-benar melakukannya. Yahya dapat mendengar seluruh perkataan dokter tersebut dengan sangat jelas.


Jelita sialaaa*n!! Aku menyuruhnya mengobati Iqlima kenapa malah bergosip?! Yahya benar-benar jengah. Namun ia tidak bisa melakukan apapun.


Perkataan dokter Jelita membuat hati Iqlima terasa sejuk. Rasa sedih akibat pengabaian Yahya lenyap seketika. Dengan malu-malu Ia kembali melirik Yahya. Di saat yang bersamaan, pemuda tersebut juga meliriknya. Netra mereka bertemu namun dengan cepat Yahya memindahkan matanya untuk kembali fokus pada majalah resep dapur yang ada dalam genggaman.


Tingkah Yahya dan Iqlima tidak lepas dari pengamatan. Dokter Jelita menggelengkan kepala melihat tingkah malu-malu dua sejoli yang masih seperti pasangan remaja yang baru pendekatan dan belum menikah.


“Iqlima… kau tidak mengalami kekerasan dalam rumah tangga kan? Kenapa kakimu lebam begini? sakit tidak?!” Tanya dokter Jelita menggerakkan kaki Iqlima dengan gerakan memutar. Yahya bangkit, ia penasaran.


Iqlima terjatuh sampai begini?! Bisa-bisanya ada bensin lalu jejaknya lenyap secepat kilat. Sangat mencurigakan. Tapi siapa yang melakukannya? Yahya terkejut.


“Tidak. Sakit hanya kalau berjalan saja, sakit ketika digunakan untuk menumpu. Sebenarnya, sakitnya itu di sini. Aku terduduk ketika terjatuh” Iqlima menunjuk pinggangnya.


“Berbaliklah! Aku akan melihatnya!” Iqlima terpaku melihat Yahya yang sudah ada didekatnya.


“Iqlima, ayo!”


“I.. Iya…” Dokter Jelita sedikit menyibak baju blouse. Ia menekan permukaan pinggang Iqlima.


Sssss. Gadis tersebut meringis.


“Hmh… Tidak dapat menahan beban dan nyeri di sekitar sendi, namun tidak terdapat adanya tanda bengkak atau lebam. Kau mengalami keseleo!” Dokter Jelita memberikan diagnosa.


“Apa sakitnya parah?!” Tanya Yahya khawatir.


“Alhamdulillah tidak, aku akan meresepkan anti nyeri juga obat oles! Tolong bantu Iqlima mengolesi obat tersebut setiap 2 x sehari, siang dan malam”


“Setelah mengoleskannya, Lakukan seperti ini. Lakukan dengan gerakan memutar!”


“Insyaallah sakitnya akan menghilang dalam beberapa hari!” Yahya mengangguk.


“Malam ini kita tidur bersama di kamar! Karena kau sakit, aku sudah memberikanmu izin keluar pesantren untuk berobat!”


“Ti... Tidur bersama?! Duh, kenapa kau membahas pembahasan 21+ di hadapan seorang gadis seperti ku begini sih?! Kenapa terlalu terburu-buru, kau bisa menunggu ku pulang terlebih dahulu... Baru setelah itu....." Dokter Iqlima pura-pura menutup wajah dengan telapak tangan, ia mengedipkan sebelah matanya pada Iqlima.


"Pikiran mu harus dibilas dengan dengan deterjen hingga bersih dari kuman dan kotoran! Dasar!! " Hardik Yahya. Pelan-pelan ia mengusap tengkuknya. Jujur saja, pose Iqlima ketika diperiksa oleh dokter Jelita sudah membuatnya cukup merasa gerah.


“Oh iya dok, aku ingin bertanya tentang yang dokter katakan ketika ditelepon beberapa waktu lalu!”


“Hmh, tentang itu ya.. Rumahmu yang di Medan dimasuki oleh Maling!” Sahut dokter Jelita.


“Apa?! Kenapa kau baru mengatakannya sekarang?!” Sambar Yahya.


“Aku tidak terlalu panik karena memang tidak ada barang berarti yang diambil. Hanya saja ada beberapa pakaian milik Iqlima dan sebuah lukisan yang ikut di bawa serta!”


“Pakaian bekas? Untuk apa?!” Iqlima merasa heran. Dokter Jelita mengendikkan bahunya.


“Mungkin untuk diberikan pada istrinya!”


“Lukisan apa yang dibawa?” Tanya Yahya. Dokter Jelita melirik Iqlima.

__ADS_1


“Apa lukisan yang selalu dibawa serta?!” Tanya Yahya lagi. Dokter Jelita mengangguk. Beliau sendiri sebenarnya juga tidak tau siapa orang dalam lukisan tersebut.


“Siapa yang kau lukis spesial pada canvas-mu, Iqlima?”


Deg.


“Dia seorang laki-laki kan?” Todong Yahya.


“I.. Itu..” Iqlima gelagapan.


***


Seoul, Korea Selatan.


JK Plastic Surgery Center.


Hilman duduk di hadapan seorang dokter bedah. Ia tengah melakukan konsultasi terhadap rencana pembedahan yang akan dilakukan terhadapnya. Dokter tersebut memberikan berbagai teori dan catatan agar Hilman kembali memikirkan keputusannya dengan matang.


“Keputusanku sudah final, Dokter Lee!” Sahut Hilman dalam bahasa Inggris yang fasih. Walau hanya seorang tamatan STM, namun Hilman mahir berbahasa Inggris. Oleh Wali Nanggroe, Ia terpilih untuk dikirim ke Swedia saat kelompok GAM (Gerakan Aceh Merdeka) dan RI (Republik Indonesia) memanas.


“Baiklah, ini ada beberapa referensi bentuk wajah! Aku sudah melihat dan mempelajari bentuk rangka wajahmu, almost perfect. Mungkin kau hanya perlu mengubah sedikit bentuk hidung agar terlihat lebih lancip dan bentuk dagu agar bertambah gagah!” Dokter Lee memberikan saran. Beliau mempresentasikan beberapa bentuk wajah melalui monitornya. Hilman menggeleng.


“Dok, aku ke sini bukan ingin melakukan operasi ringan dengan menyempurnakan beberapa bagian tampilan wajahku agar terlihat tampan, sama sekali bukan”


"Lalu? "


“Aku ke sini untuk mengubah seluruh wajahku. Sulap wajah ini menjadi seperti ini…” Tunjuk Hilman pada lukisan yang ia pegang. Dokter Lee terperanjat.


“Ubah wajahku persis seperti ini, seperti orang yang ada di dalam lukisan ini!” Ucap Hilman penuh penekanan pada dokter ahli bedah plastik tersebut.


“Whaatt? Are you sure? O Man, Tampilan wajahmu jauh lebih baik dari pada wajah yang ada di lukisan ini!”


"Operasi mengubah seluruh bentuk wajah sangat beresiko, anak muda! " Lanjut Dokter Lee lagi.


"Berapa persen tingkat keberhasilan nya, Dok? "


"Hampir 65 persen! Aku akan memberikan mu waktu untuk pulang dan berfikir dengan lebih matang! " Hilman tampak berpikir, ia jadi sedikit ragu.


"Aku akan memberikan dokumen prosedur bedah ini untuk kau pelajari. Kau boleh membatalkan jika meragukan operasi bedah ini! "


"No, jangan membuatku goyah. Aku yakin 1000 persen!” Sahut Hilman mantap.


“Baiklah. Tapi ada hal yang harus kau ketahui, sekali kau melakukan operasi maka kau tidak akan pernah lagi mendapatkan wajah aslimu. Wajah asli mu yang terbedah tidak akan pernah kembali. Kau akan hidup dengan wajah plastik seumur hidup dan tentu saja kau membutuhkan biaya dan waktu untuk merawatnya agar tetap selalu awet!” Hilman kesulitan menelan salivanya. Ia meraba wajah tampannya. Alis tebal yang menyatu, mata setajam mata elang, hidung mancung khas India, dagu lancip yang sedikit terbelah. Wajah yang membuat siapa saja yang melihat akan terpana. Kecuali Iqlima. Siial.


"In the name of Allah. Do the best! I believe in you, I trust you, Mr. Lee! " Mr. Lee mengangguk-anggukkan kepala akan keteguhan hati orang yang ada di hadapannya. Beliau menjadi kagum. Orang yang ada di dalam lukisan pasti sangat berharga bagi Hilman hingga ia rela mengambil resiko sejauh ini.


Jika bukan karena mu, karena siapa lagi? Jika bukan untukmu, untuk siapa lagi? Lihatlah aku! Hiduplah bersamaku! Aku akan menjadikanmu sebagai satu-satunya Ratu dihatiku~


Hilman mengambil gawainya,


Berikan pelajaran pada orang yang bernama Ilyas. Ini fotonya. Jangan sampai membunuhnya, hanya berikan saja ia pelajaran! Ketik Hilman melayangkan pesan pada asistennya.

__ADS_1


Siapa saja yang berani mendekati my Queen, maka akan berhadapan denganku!!


***


__ADS_2