Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)

Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)
Bab 40: Tuduhan Yahya


__ADS_3

Warning!!! Yang lagi Shaum Kamis jangan baca bab ini ya! Pending dulu! 🙏


***


Ilyas melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi membelah pekatnya malam. Sudah menjelang dini hari, pikirannya kacau. Pria bertempramen tinggi ini benar-benar merasa marah, merasa dikhianati juga dicurangi. Ilyas tidak menyangka, kebodohan membuat kisah cintanya berakhir nelangsa.


Yahya!!! Berengs*kkk!!! Umpat Ilyas. Tangannya berkali-kali memukul stiur dengan kasar. Ia kehilangan akal sehat untuk beberapa saat namun pemuda ini tetap terus melajukan mobilnya. Kediaman keluarga Zakaria adalah tujuan utama. Ia tidak peduli jika nantinya akan membuat kehebohan di sana.


Ciiiiiiittttt


Allahu Akbar!! Teriak Ilyas menge-rem mendadak ketika seorang wanita tiba-tiba melintasi mobilnya. Wanita tersebut menutup kedua wajahnya dengan tangan menyilang.


“Kalau mau nyebrang pakai mata!!” Damprat Ilyas yang memang berada dalam emosi setelah menurunkan kaca mobilnya. Namun alangkah terkejutnya Ilyas setelah mengetahui siapa wanita yang hampir ditabraknya tersebut.


“Dara, Kenapa kau di sini? Dimana suamimu?” Kening Ilyas mengerut. Dara menggeleng. Mata sembabnya kembali berair. Wanita ini terduduk di aspal. Ia menangis tersedu-sedu. Ilyas terpaksa turun dari mobilnya.


“Dara, bangunlah! Kenapa kau jadi begini?”


“Aku hancur Yas, aku hancur. Mas Danu mengkhianatiku, Mas Danu memukulku! Hiks hiks” Keadaan sepi. Tangisan pilu Dara membuat Ilyas iba. Ia berpikir sejenak.


“Dara, Ikut aku!” Ajak Ilyas.


***


Sri mengendap-ngendap memasuki asrama santriwati. Suasana sudah hening mencekam. Sri melihat ke kanan dan ke kiri. Bukan karena merasa tidak aman berada di lingkungan pesantren, namun karena rumor makhluk halus yang beredar di lingkungan tersebut membuat kuduknya berdiri.


Duaaarrrr


Subhanallah!! Tiba-tiba seseorang mengagetkannya. Jantung Sri nyaris meloncat dari tempatnya.


Kik kik kik. Hahaha. Orang yang mengagetkan cekikikan.


“Nilam? Kamu ngagetin!” Pekik Sri.


“Haha Mbak yang ngagetin, malem-malem kaya maling! Kenapa mbak Sri di sini? Mbak Sri kan kerjanya sama Ummi Hajjah!” Tanya Nilam penasaran.


“Huh, kamu mau tau saja. Sudah tidur sana! Nanti kamu bisa dihukum. Tengah malam begini malah berkeliaran!” Sri tidak mempedulikan keberadaan Nilam. Ia langsung menunaikan tugasnya. Sri masuk lebih jauh ke dalam asrama menjemput Iqlima, istri Gus Yahya.


Nilam yang masih penasaran terus memperhatikan aksi Sri. Wanita ini mengerutkan kening ketika asisten dari Hajjah Asiyah tersebut membawa Iqlima keluar dari asrama.


Mereka mau kemana?


“Bagaimana kalau kita ketauan mbak Sri?” Iqlima yang merasa khawatir mengedarkan pandangannya ke sekeliling.


“Ini titah Gus Yahya, Nona! Siapa posisinya yang lebih tinggi dari Gus Yahya di sini kecuali Ummi Hajjah dan Abah Haji? Jadi Nona tenang saja ya!” Sri mencoba menenangkan. Iqlima terdiam.


Sebenarnya ada yang membuatnya lebih deg-deg an, yaitu aroma tubuhnya yang masih berbau tidak sedap akibat kotoran dari limbah lumut. Sebelum peristiwa ini saja Yahya sudah menyindir harum tubuhnya yang tidak sesuai standar apalagi sekarang ini? Iqlima menggigit bibirnya cemas.


“Nona, ini ada beberapa pakaian tidur, gunakan salah satunya malam ini. Lebih baik pakai yang warnanya merah saja!” Saran Sri menyodorkan beberapa pakaian setelah mereka tiba di kediaman.


“Terima kasih banyak mbak Sri!”


“Satu lagi, seduh bubuk teh ini dan minumlah sebelum tidur agar kondisi kesehatanmu prima!” Iqlima mengangguk.

__ADS_1


“Ya sudah, nona masuk saja ke dalam. Gus sudah menunggu!” Sri mengambil ancang-ancang untuk pergi.


“Mbak Sri…”


“Ya nona?”


“Mbak Sri ikut masuk juga yuk!” Ajak Iqlima dengan wajah yang sulit diartikan.


“Hhhmmppff Hmmmppff” Sri menahan tawanya.


“Ada ada saja! Mana mungkin saya menganggu pengantin baru!” Sri menutup mulutnya dengan tangan.


“Mbaaa” Iqlima memelas dengan berbisik.


“Sudah... Masuk saja, Nona! Sama suami sendiri kok takut.... Hihihi” Tidak ada pilihan lain, Iqlima memberanikan diri masuk ke dalam kamar.


Driiiit


Deritan pintu berbunyi. Iqlima masuk diam-diam dan memperhatikan keseliling. Kosong. Alhamdulillah Aman!


“Wow Sang Jagoan akhirnya muncul!” Terdengar suara Yahya menggelegar. Pemuda tersebut tengah melipat sajadah. Ia baru saja menyelesaikan Qiyamul Lail nya.


Sejak kapan bang Yahya di sana? Apa beliau memanggilku cuma untuk dibully? Huh. Iqlima manyun. Yahya mendekat.


“Bang Yahya, ma.. mau apa?” Iqlima tersentak saat tanpa ancang-ancang Yahya meletakkan telapak tangan ke atas ubun-ubunnya. Pemuda tersebut mulai berkomat kamit. Seperti membaca do'a.


“Jangan banyak tanya, cepat ambil wudhu kita shalat sunnah!” Titah Yahya kemudian. Iqlima jadi mengerti kemana arah tujuan suaminya. Ia bersusah payah menelan saliva, namun ketusnya ucapan Yahya membuat gadis tersebut dengan cepat bergegas mematuhi apa yang diperintahkan.


Cara menggauli istri dengan baik.


Hemm. Yahya berdehem menghalau rasa gugupnya.


Janganlah salah seorang diantara kalian menggauli istrinya seperti binatang. Hendaklah ia terlebih dahulu melakukan pendahuluan, yakni ciuman dan cumbu rayu (HR. Tirmidzi).


Aku sudah pernah membaca dan mengupas hadits ini. Tapi kenapa sekarang otakku tidak bisa berfungsi dengan baik? Keluh Yahya.


Ia kembali ke halaman pencarian, namun suara deritan pintu membuat Yahya sedikit kaget dan buru-buru mematikan handphonenya. Pemuda tersebut bangkit membentang kembali sajadah untuknya dan kali ini di tambah untuk Iqlima. Lalu ia mulai mengimami shalat. Yahya sama sekali tidak bisa khusyu’ walau sudah sekeras mungkin ia berusaha. Rasa gugup dan keinginan yang meng-ubun membuatnya lupa ayat apa yang harus dibaca.


“Wajah bang Yahya kenapa merah?” Tanya Iqlima spontan setelah mereka selesai menunaikan shalat bersama.


“Aku memang begini kalau udara dingin. Kulit beningku langsung bereaksi!” Sahut Yahya sekenanya. Iqlima mengangguk-angguk. Suasana kembali hening. Ia baru akan bangkit untuk mengganti mukenah namun Yahya dengan cepat menarik pergelangan tangannya.


Deg.


Iqlima langsung terduduk di atas pangkuan Yahya. Posisi mereka jadi saling berhadapan.


“Bang… Ta.. Tangan Abang…” Iqlima berusaha menepis tangan Yahya yang melingkar di pinggang. Jantungnya berdetak lebih kencang. Ia berusaha bangkit berdiri. Namun rasanya sia-sia. Yahya malah semakin mengeratkannya.


“Memangnya kenapa dengan tanganku?” Perlahan Yahya menggerakkan satu jarinya mengusap-usap bibir Iqlima. Gerakan lembutnya berhasil membuat gadis tersebut merasa gerah.


Huuuufff. Yahya meniup wajah sang Istri, kelopak matanya berkedip kedip. Yahya mendamba.


Posisi Iqlima yang duduk di atas pangkuannya membuat Yahya harus mengangkat sang istri dengan posisi cuddle hug. Dengan cepat Iqlima mengalungkan tangannya karena takut terjatuh. Gadis tersebut bergelayut di tubuh Yahya.

__ADS_1


Perlahan-lahan Yahya membawa Iqlima melangkah menuju tempat tidur. Netra mereka saling bertemu dalam jarak yang begitu dekat. Kesempatan ini tidak Yahya sia-siakan. Ia langsung mengecup hingga ******* bibir gadis yang ada di hadapannya.


“Bang…” Lirih Iqlima sendu. Namun Yahya tidak menghiraukannya. Ia masih asyik menikmati bibir yang terasa begitu manis dan enggan melepasnya.


Yahya terus membawa Iqlima, mukena yang terasa mengganggu dengan cepat ditarik lepas dari atas kepala.


Rambut panjang Iqlima seketika terurai. Yahya tidak bisa untuk tidak terpesona. Semangatnya bertambah. Yahya kembali mempertemukan bibir mereka dan menyesapnya berkali-kali hingga perlahan-lahan pada akhirnya pemuda tersebut merebahkan Iqlima di atas kasur dengan posisi yang tetap sama. Bibir yang sama-sama masih terpagut.


Perlakuan yang Yahya berikan benar-benar menghipnotis. Leng*han sang istri membuat Yahya enggan mengakhiri. Iqlima tidak ingin pasrah. Ia mencoba membalas ciuman menuntut tersebut dengan bersusah payah. Namun dirinya masih sangat kaku. Yahya menyunggingkan senyum kala menyadari usaha Iqlima.


“Bang… A.. Aku belum ganti baju ini dengan baju tidur” Celetukan spontan Iqlima membuyarkan konsentrasi Yahya. Pemuda ini berhenti sejenak meraup oksigen. Deru nafas terdengar bersaut sambut memenuhi ruangan.


“Tidak perlu! Sebentar lagi juga tidak akan ada yang tersisa dari tubuhmu!” Ketus Yahya.


Deg.


Dengan sekali gerakan, Yahya melepaskan kaos putih yang melekat. Tubuh kekarnya terlihat, ototnya telah terbentuk. Iqlima langsung memalingkan wajahnya. Malu. Wajah yang berpaling 90 derajat tersebut membuat leher jenjang Iqlima terekspos sempurna. Yahya tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut, ia mulai menggeluti dan membuat beberapa tanda kepemilikan di sana. Sungguh! Iqlima benar-benar menikmatinya.


Tangan Yahya tidak tinggal diam. Tangan nakal tersebut mulai bergerilya dibalik balutan baju blouse milik Iqlima. Tangannya bergerak kemana saja dengan liarnya.


Kini Yahya sudah mulai mencoba melucuti pakaian Iqlima. Satu persatu kancing mulai terbuka. Namun,


"Hhh Hhh Ke... kenapa?" Tanya Yahya dengan nafas menderu. Entah mengapa tiba-tiba Iqlima menahan tangan tersebut bergerak lebih lanjut.


Iqlima please.... kali ini aku tidak akan mampu menahannya. Gumam hati Yahya yang menatap Iqlima dengan sorot mata memelas. Ia kembali menuntut dan mencoba melakukan nya kembali. Namun sayang, Iqlima tetap saja memegang kancing bajunya hingga membuat hati Yahya mencelos. Kesal.


Keringat berjatuhan setetes demi setetes.


Hhhhh. Yahya mendengus. Dengan nafas yang masih tidak beraturan Ia langsung beringsut mundur dan dengan cepat kembali memakai baju kaos yang tadi diletakkan ke sembarang arah. Yahya mematikan lampu dan langsung tidur memunggungi Istrinya.


“Bang… Ma... Maaf” Lirih Iqlima. Matanya berkaca-kaca.


“Tidurlah!” Titah Yahya dingin. Gemuruh di dada membuatnya merasa sesak. Kepalanya terasa pusing. Matanya kembali berkunang-kunang. Ia memejamkan mata dengan kuat untuk meredakannya.


“Bang… A.. Ayo kita mencobanya sekali lagi. Maaf, a.. aku… ti... tidak...”


“Aku sudah tidak berminat! Menjauhlah!” Hardik Yahya keras. Ia menduga Iqlima tidak rela melakukan nya.


“Bang..” Panggil Iqlima lagi. Gadis ini tidak menyerah dan memegangi tangan Yahya. Iqlima menghalau rasa takut yang tiba-tiba saja menyergap. Pemuda tersebut langsung menepisnya. Ia bangkit berdiri.


“Kenapa?" Tanya Yahya nelangsa. Mata sendunya mengatakan bahwa ia sangat tertekan.


"Kenapa????! Kau lebih suka jika Rais yang menyentuhmu bukan?!” Tuduh Yahya tiba-tiba dengan nada tinggi. Ia membentak dengan keras.


“Kau tidak bisa move on karena kau telah menyerahkan segala-galanya pada pria itu!! Kau membiarkannya menyentuhmu!! Dan kau tidak rela aku mengulangi hal yang sama!!!” Yahya benar-benar murka. Emosinya meledak. Matanya memerah. Rahangnya mengeras. Ia tidak pernah semarah ini sebelumnya. Dengan amarah yang masih membuncah-buncah pria ini melangkah keluar kamar dengan membanting pintu dengan keras meninggalkan Iqlima seorang diri.


Tangis Iqlima pecah.


***


Jangan Lupa berikan Like setelah membaca ya 🥰


***

__ADS_1


__ADS_2