Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)

Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)
Bab 98: Menyesali Setiap Hari, Menangisi Setiap Malam~


__ADS_3

Dua garis merah. Layla gemetar melihat testpack yang ada dalam genggaman tangan nya. Testpack tersebut menyatakan bahwa ia positif hamil.


"Ini gila! Ini benar-benar gila! " Layla menggigit bibirnya tak percaya.


"Aku harus bagaimana? Ya Allah... Aku bisa ditendang oleh mas Yahya tanpa ampun! " Layla memeluk perutnya yang masih datar.


"Tidak boleh! Aku bahkan belum memenangkan pertandingan ini! Aku belum memenangkan hati mas Yahya!" Layla benar-benar panik.


"Siaaaal... Badjingaan!! Laki-laki tengiik! Bisa-bisanya aku hamil! Pantas saja aku belum pernah datang bulan 2 bulan terakhir ini! Aaargh!!!" Layla mengacak kasar rambutnya.


"Sebelum ketahuan... Aku harus menggugurkan anak sialaan ini! Ya! Aku harus mendapatkan obat penggugur kandungan! Harus!!!"


Ceklek


Layla dengan cepat keluar dari kamar mandi. Namun di saat bersamaan, Hajjah Aisyah sudah berada di hadapannya.


"Umm... Ummi... " Lirih Layla terkejut. Ia berusaha menyembunyikan testpack nya.


"Ummi ke sini mau menanyakan proyek dari papa-mu..." Hajjah Aisyah sumringah. Ia berjalan mendekat. Namun beliau langsung mengerutkan kening melihat tingkah aneh Layla.


"Apa yang kau sembunyikan itu nak?! "


"Bu... Bukan apa-apa mi... " Layla semakin menggenggam erat benda tersebut di belakang punggung nya. Namun Hajjah Aisyah semakin penasaran.


"Ayoo tunjukkan pada Ummi...! " Layla menggeleng. Wajahnya pucat pasi.


"Ayolah sayang....! " Bujuk Hajjah Aisyah. Layla bersikeras menyembunyikan nya.


"I... itu alat pendeteksi kehamilan kan? " Tanya Hajjah Aisyah lagi. Testpack sedikit menyembul dari balik punggungnya.


...****************...


Yahya menatap pergerakan Ilyas dengan tanpa ekspresi. Mantan sahabat karibnya tersebut membalutkan jaket kulit ke tubuh Iqlima dengan gagah setelah mencercanya habis-habisan.


"Aku akan membawa Iqlima pergi bersama kami!" Ucap Ilyas penuh penekanan. Dara mulai menggiring Iqlima menjauh. Namun baru beberapa langkah berjalan, Yahya sudah lebih dulu menarik pergelangan tangan Iqlima.


"Lepaskan dia! Kalian semua sudah terlalu ikut campur! " Sembur Yahya menatap Dara dan Ilyas satu persatu dengan tatapan membunuh.


"Apa kau tidak mendengar bahwa tadi Iqlima memintamu menceraikannya?! " Ilyas mendorong tubuh Yahya.


"Aku sudah sangat bersabar! Jangan sampai aku mematahkan tulang-tulangmu menjadi patah tebu! " Ucap Yahya membalas dorongan Ilyas hingga pria tersebut benar-benar terjatuh di lantai.


Yahya siaalan! Umpat Ilyas yang melihat Yahya menyeret Iqlima keluar dari bandara.


"Kau tidak apa-apa? " Tanya Dara khawatir.


"Aku harus membawa Iqlima pergi! " Ucap Ilyas tiba-tiba.


"Apa maksudmu? Yahya tidak akan melepaskan gadis itu! "


"Aku akan membawanya pergi diam-diam! Cukup sekali aku membuatnya terluka! Aku tidak akan membiarkannya menderita! Tidak akan pernah! Apalagi dengan orang seperti Yahya! Aku tidak akan membiarkan nya!" Sahut Ilyas bangkit berdiri. Dara terdiam.


Sreeg


Brukk


Yahya membawa masuk Iqlima ke dalam mobil dan membanting pintunya. Wanita tersebut sudah pasrah menghadapi kemarahan Yahya.


"Kau sudah terlalu pintar sekarang! Aku tidak tau bagaimana lagi cara menghadapimu! " Ucap Yahya kecewa. Iqlima menunduk dalam.


"Apa kau benar-benar mencintai Rais? Aku ingin mendengar kalimat itu keluar langsung dari mulutmu! Dengan begitu baru aku bisa melepaskanmu pergi. Demi kebahagiaan mu, aku akan melepaskan mu! Karena seperti nya laki-laki itu juga menginginkanmu" Ucap Yahya pada akhirnya. Iqlima menggeleng.


"Maafkan aku... Maafkan aku..." Lirih Iqlima masih menunduk.


"Aku bersumpah tidak mencintai nya!"


"Hhhh ck! " Yahya berdecak malas.


"Aku hanya merasa bersalah. Aku hanya ingin memastikan keselamatan nya! Beberapa tahun lalu itu... Peristiwa yang sangat tidak ingin untuk aku ingat tapi terus saja menghantuiku! Aku hanya ingin tenang... Ini bukan tentang cinta... Ini hanya alasan.. Hati nurani.. " Terang Iqlima mengusap air matanya.


"Di saat semua orang meninggalkanku. Di saat aku dikejar-kejar oleh pemerkosa, hanya bang Rais yang sudi mendekat. Hanya beliau yang berani mengambil resiko menikahiku hingga mendapat celaka! Sampai kapanpun aku berhutang budi dan nyawa pada beliau! Di tengah hutan gelap itu, beliau menyuruhku kabur dan memilih menghadapi para preman sendirian. Jika saja ketika itu aku tidak dinikahi dan melanglangbuana sendirian, sudah dipastikan aku akan menjadi santapan buas para penjahat!! Bukankah sudah seharusnya aku mempedulikannya dan berterimakasih?" Kali ini Iqlima benar-benar menangis tersedu. Ia merasa sangat emosional. Perkataan Iqlima membuat Yahya terenyuh.

__ADS_1


"Lihat saja! Aku akan memastikan penjahat itu membusuk di penjara! " Ucap Yahya dengan dada bergemuruh. Tiap kali mendengar Iqlima akan dilecehkan, ia benar-benar marah. Iqlima mendongak.


"Bang Yahya bisa mengerti posisiku, kan? Aku sama sekali tidak mencintai nya! Aku sudah bersumpah! " Yahya mengangguk.


"Aku akan mewakili mu berterimakasih padanya! Aku akan memastikan keselamatannya, jika saja... Jika saja dia benar-benar Rais yang masih hidup! " Ucap Yahya menggenggam tangan Iqlima. Wanita tersebut mengusap air matanya penuh haru. Setidaknya, sedikit pengertian dari Yahya membuat hatinya lega.


"Tapi... mengapa barusan kau minta cerai?! Semudah itu kah?! " Tanya Yahya tiba-tiba memicingkan matanya. Permintaan Iqlima tadi seperti menyumbat aliran nafasnya.


"Eh hah? "


"Tadi mengapa kau minta cerai?! Kau membuatku merasa sesak!!" Sembur Yahya.


"Tentang itu... A... Aku khilaf... Aku tidak tahan dengan semua tuduhan yang bang Yahya ucapkan... Aku marah... Aku sedih... Aku... Hhhhh" Iqlima menghela nafasnya.


"Juga... Bang Yahya menyeretku seolah aku hanya benda mati tanpa perasaan! "


"Kau lah yang lebih dulu memancing amarahku, Iqlima! "


"Bang Yahya menuduhku yang bukan-bukan! Itu artinya bang Yahya menghina harga diriku! Dan bang Yahya... Apa yang bang Yahya lakukan?! Bang Yahya... Bang Yahya... " Iqlima menggigit bibir bawahnya.


"Apa?! "


"Bang Yahya selalu bermesraan dengan Layla tidak kenal waktu!! Siapa yang lebih parah di sini?!" Ucap Iqlima dengan nada cepat. Ia membuang wajahnya ke arah jendela. Iqlima harus mengutuk dirinya karena sudah membuat alasan yang tidak masuk akal.


"Bermesraan?! Siapa yang bermesraan?! "


"Bu... Bukan... mak... maksud ku... " Iqlima berkilah.


"Kau cemburu! " Todong Yahya.


"Aku tidak cemburu! "


"Kalau tidak mengapa kau marah?! "


"Pokoknya aku tidak cemburu! "


"Kau cemburu, Iqlima! Kau cemburu! " Yahya bersikeras.


"Kau cemburu pada orang yang kau kasihi! "


"Orang yang ku... kukasihi? " Iqlima mengerutkan keningnya. Yahya mengangguk.


"Ya... bukannya kau yang mendorongku menikahinya? Sekarang kau sendiri yang nelangsa! " Yahya menggeleng merasa heran.


"Ya... Layla juga istri bang Yahya. Aku tidak akan marah. Aku tidak berhak untuk marah.. " Kali ini Iqlima menunduk sedih. Ia membenarkan apa yang Yahya katakan. Iqlima tidak bisa lagi menyembunyikan air matanya yang terus saja mengalir deras.


"Setelah mati-matian mengatur pernikahanku dan Layla... Kau menyesalinya setiap hari dan menangisinya setiap malam, iya kan? " Todong Yahya lagi tepat sasaran. Iqlima terenyak.


"Apakah aku sangat egois...? Maafkan aku! Tidak seharusnya aku begini!" Lirih Iqlima menyesal.


"Bang Yahya, untuk seterusnya jangan pedulikan aku! Sudah seharusnya bang Yahya memperhatikan Layla. Apalagi kalian pengantin baru! Bang Yahya harus memberikan perhatian yang besar padanya! Bang Yahya harus.... "


Cuup


Yahya membungkam mulut Iqlima dengan kecupan.


"Kau cerewet sekali! Kau jangan mendikte-ku! Aku sudah tau apa kewajibanku!" Sembur Yahya.


"Ya. Tapi mengapa bang Yahya bergerak tanpa aba-aba! Pergerakan bang Yahya yang begitu tiba-tiba membuatku terkejut! " Protes Iqlima. Ia menghapus jejak kecupan Yahya di bibirnya.


"Apa? Huh! Di satu sisi kau meluluhkanku, di sisi berbeda kau begitu menjengkelkan! Kau menghapusnya! Kau bisa berdosa besar! " Ucap Yahya dengan nada tinggi. Ia merasa sangat kesal.


"Bang Yahya baru saja mendatangi Layla! Maka jangan sekali-kali mendekati ku! " Ucap Iqlima menutup mulutnya cepat.


"Apa? Coba katakan sekali lagi!!! "


"Aaaa.. Bang Yahya jangan...Bang... Nanti kalau kedapatan petugas bagaimana?!" Tanya Iqlima panik. Yahya melonggarkan tempat duduknya ke belakang. Ia memundurkan letak kursi dan mengangkat Iqlima untuk duduk di atas pangkuannya.


"Kau benar-benar membuatku gila! Kau tau? Aku tidak pernah menyentuh wanita mana pun! Aku belum pernah se-gila ini pada perempuan! " Aku Yahya membawa Iqlima ke dalam pelukannya. Sapuan udara dari mulut Yahya ke pipinya membuat Iqlima meremang. Iqlima tidak bisa menghentikan suara yang keluar begitu saja dari mulutnya. Yahya benar-benar tidak bisa mengkondisikan dirinya.


"Bang... ja... jangan begini... "

__ADS_1


"Aku ingin membuat jejakku di manapun yang aku mau! Kalau begini, apa kau akan mampu menghapusnya? " Tantang Yahya. Ia memindahkan kerudung panjang Iqlima yang serasa mengganggu ke belakang. Yahya mulai membuka satu persatu kancing bajunya.


"Bang Yahya belum pernah menyentuh wanita manapun? " Lirih Iqlima tersadar dengan apa yang Yahya katakan. Ia memegang tangan Yahya mencegah agar suaminya berhenti bergerak.


"Kecuali kau! Kau yang pertama dan masih seperti itu! " Aku Yahya lagi sambil kembali bekerja. Iqlima terenyak. Kali ini ia membiarkan Yahya meloloskan kancing kemeja blouse ketiganya.


Be... Benarkah? La... Lalu Layla? Tanpa sadar Iqlima sedikit menyunggingkan senyum. Ia bingung harus bahagia atau prihatin menghadapi pengakuan Yahya.


"Bang Yahya... Apa yang bang Yahya lakukan! Ini siang hari ... dan ini di dalam mobil! " Ucap Iqlima namun Yahya sama sekali tak menggubrisnya.


"Hahaha... Geli... jangan begini! " Iqlima tidak bisa untuk tidak tertawa. Yahya benar-benar melakukan apa yang ingin di lakukan. Namun tiba-tiba,


Tok Tok Tok


Tok Tok Tok


Seorang satpam mengetuk kasar kaca jendela.


Bruuuukkk


Awwwww


Terkejut. Kepala Iqlima membentur atap mobil. Ia langsung kembali ke tempat duduk dan dengan panik memperbaiki tampilan nya yang sudah sangat acak-acakkan. Beruntung kaca mobil Yahya berwarna buram sehingga orang di luar tidak bisa melihat segala aktivitas di dalam. Setelah memastikan Iqlima telah kembali rapi, Yahya pun menurunkan jendela setelah sebelumnya ia pun mengusap mulut yang belepotan dan memperbaiki tampilannya.


"Ada apa ini? "


"Tidak ada apa-apa pak! " Ucap Yahya. Iqlima sama sekali tidak berani melihat ke wajah petugas.


"Kalau kalian mau pacaran ya menikah dulu! Jangan membuat malu orang tua! Pergaulan anak jaman sekarang sudah sangat kelewatan batas! " Cerca petugas. Yahya hanya mengangguk-angguk, meminta maaf dan cepat-cepat kabur dari bandara.


Bang Yahyaaaaa!!!~


...****************...


Tap Tap Tap


Iqlima mengamit lengan Yahya memasuki kediaman Haji Zakaria. Mereka baru saja mengucapkan salam perpisahan. Iqlima tetap akan menetap di Bustanul Jannah sesuai keinginan Hajjah Maharani. Namun Yahya berjanji akan membereskan masalah Rais. Pemuda tersebut juga berjanji untuk mencari banyak waktu agar mereka bisa lebih sering bertemu.


"Jadi benar kau menyukaiku? " Goda Yahya sejak sepulang mereka dari bandara. Iqlima mati-matian menyangkalnya.


"Aku tidak akan melupakan pengakuan bang Yahya tadi..." Iqlima menjulurkan lidahnya.


"Pengakuan yang mana? Memangnya aku mengakui apa, hm? " Tanya Yahya terus tersenyum. Suasana berubah hangat. Rasanya Iqlima ingin menjerit kuat sanking merasa bahagianya. Yahya-nya nyata! Sangat nyata. Iqlima berbunga-bunga. Namun baru saja mereka memasuki pintu utama, Hajjah Aisyah sudah berdiri tegak menyambut mereka. Senyum yang mengembang redup seketika.


"Um... Ummi...? "


"Darimana saja kamu? " Todong Hajjah Aisyah.


"Yahya hanya membawa Iqlima keluar menghirup udara sebentar sebelum masuk ke pesantren, mi! "


"Bagus! Jatah pertemuan kalian untuk minggu ini jadi berkurang! " Sambar Hajjah Aisyah.


"Tapi Mi....! "


"Kau bersenang-senang di luar sana dengan istri tidak berguna mu ini! Tapi kau mengabaikan Layla! Istri sah mu itu tengah berbaring di kamar! " Ucap Hajjah Aisyah menatap tajam Iqlima yang menunduk. Perkataan beliau terasa seperti sengat lebah bagi Iqlima.


"Layla kenapa mi? "


"Menantu Ummi tersayang tengah diperiksa oleh dokter! Ia tengah mengandung pewaris untuk keluarga kita! Layla mengandung buah cinta kalian, nak! " Sahut Hajjah Aisyah.


"Apa mi?! Layla ha...hamil? " Yahya benar-benar terkejut. Terlebih Iqlima. Ia yang baru saja mendengar pengakuan Yahya serasa kesulitan menapak.


Layla hamil? Iqlima menggigit bibir bawahnya.


"Selamat Gus!!"


"Selamat Nak! "


"Selamat!! Kau menjadi ayah! Kau sangat beruntung!" Para asisten dan kerabat mengucapkan selamat. Iqlima serasa ingin lenyap saja dari hadapan mereka.


"Kau hebat nak! Layla juga hebat... Ummi sangat bahagia! Ummi bangga padamu! Temuilah Layla... Jangan biarkan kehamilannya terganggu! Dia benar-benar memenuhi harapan semua orang! Dia benar-benar menantu idaman! " Ucap Hajjah Aisyah mendorong Yahya untuk masuk ke dalam kamar menemui Layla. Pemuda tersebut menyempatkan diri melirik Iqlima yang berdiri sendiri. Mematung dan terabaikan.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2