Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)

Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)
Bab 89: Peperangan, Bidak Catur


__ADS_3

Pukul 21.30 WIB. Yahya membuka pintu kamar Layla. Terlihat gadis tersebut tengah menelpon seseorang. Layla sontak menutup pembicaraan saat Yahya berjalan mendekat.


Sreg


Tanpa aba-aba Yahya langsung memeluk Layla dan menggiringnya ke atas tempat tidur.


"Kamu sudah siap, hm? " Tanya Yahya mengusap pipi Layla seperti yang sudah-sudah ia lakukan. Istrinya tersebut tersenyum.


Apa hatinya sudah tergerak untukku? Pikir Layla masih dengan senyum mengembang.


“Oh iya... Mas… Mas darimana?” Tanya Layla saat Yahya hampir saja mengecup bibirnya.


“Aku baru pulang dari kantor”


“Kata supir, mas nganter perempuan itu ke Bandara?!” Todong Layla berubah cemberut.


“Ya... Iqlima kembali ke Aceh siang tadi” Sahut Yahya datar.


“Pulang ke Aceh?? Kenapa?!” Selidik Layla penasaran.


“Berlibur. Sudah ya… Nanti lagi diskusinya. A… Aku… Hmh Aku menginginkanmu…” Ucap Yahya sedukif. Ia kembali menyentuh pipi Layla yang bersemu lalu mengecup kening dan merebahkannya ke atas kasur. Mendengar perkataan dan perlakuan lembut yang berbeda dari malam-malam sebelumnya, tubuh Layla bagai melayang tinggi. Ia tersenyum begitu bahagia. Layla tidak hanya membiarkan Yahya membuka seluruh kancing piyamanya, bahkan gadis tersebut membantu memudahkan aksesnya.


“Apa aku cantik?” Tanya Layla berbisik manja. Ia begitu bangga dengan kemolekan yang ada padanya. Yahya membalas pertanyaan Layla dengan tersenyum mengangguk.


Bismillah, maafkan aku Iqlima… Maafkan aku,,, Diam-diam Yahya menitikkan airmatanya. Ia kembali membayangkan wajah sendu Iqlima ketika tadi mengantarkannya ke Bandara. Wajah tersebut terlihat begitu lesu dan rapuh. Namun ia sendiri tak kuasa berbuat apapun. Demi apapun, Yahya merindukannya. Benar-benar rindu.


Hhhh. Yahya menghela nafasnya sejenak. Dengan tangan bergetar Ia mulai menyentuh bagian sensitif pada tubuh Layla.


“Mas, mengapa begitu? Lakukan begini…” Protes Layla menuntun Yahya yang terasa begitu kaku. Ia dengan lihai melepas kemeja yang pemuda tersebut kenakan dan menyambutnya dengan penuh semangat.


“Maafkan aku... " Bisik Yahya.


"Kita ini suami istri... Aku milikmu mas...! Maka perlakukan aku sebagaimana seharusnya suami memperlakukan istrinya... Perlakukan aku dengan dengan sepenuh g*iraah... " Ucap Layla semakin mendesa*aah. Ia merangkul Yahya dengan diam-diam mengambil handphone yang ada didekatnya.


Layla diam-diam mengambil gambar mereka dari arah belakang. Gambar yang menunjukkan pose Yahya yang sedang merangkulnya begitu m*sra. Pose yang jika siapa saja melihat, akan mengerti apa yang tengah mereka lakukan.


"Se... Sebentar... Aku minum dulu! " Ucap Yahya menjauh. Ia beranjak mengambil air di atas nakas. Perkataan Layla membuatnya begitu canggung. Ia kembali mengingat Iqlima. Yahya nelangsa.


Tit Tit Tit. Klik. Send. Layla mengirimkan foto semi v*lgar mereka ke nomor Iqlima. Diam-diam ia tersenyum puas.


Iqlima, jika pernikahan segitiga ini adalah sebuah peperangan, maka aku akan membuatmu mundur sebelum bertanding!


Jika pernikahan ini adalah sebuah permainan catur dan mas Yahya adalah Rajanya (Koning/King), maka Aku adalah Perdana Menteri (Dame) yang bisa menendang (kau) bidak/pion dari arah manapun. Sebab... Akulah yang paling berkuasa! Gumam batin Layla. Tatapan sens*ualnya sudah dipersiapkan menyambut Yahya merapat dalam pelukkannya.


***


Aceh, Indonesia


Bruuukk


Iqlima tidak sengaja menyenggol botol Aqua yang berada di atas meja dalam kamar hotel pasca menerima kiriman pesan dari Layla.

__ADS_1


"Nona, apa nona baik-baik saja? " Tanya Rina khawatir melihat perubahan pada wajah Iqlima. Ia sendiri dititahkan oleh Yahya untuk menemani wanita tersebut hingga kembali ke Jakarta 3 hari mendatang.


"I.. Iya.. Aku tidak kenapa-napa! " Sahut Iqlima tegang. Perlahan Ia kembali memaksakan diri melihat gambar-gambar yang Layla kirimkan.


Bang... Bang Yahya... Bibir Iqlima gemetar menahan tangis. Yahya tengah berbahagia. Yahya menemukan kebahagiaan sejati dan melupakannya. Setidaknya begitulah yang Iqlima pikirkan saat ini. Melihat potret mereka yang begitu in*tim membuat jantung Iqlima serasa meloncat keluar dari tempatnya.


Iqlima merasa sakit, Iqlima merasa marah. Iqlima merasa benci. Namun Ia tidak tau harus membenci siapa. Ia dengan cepat masuk ke dalam kamar mandi dan mengguyur tubuhnya dengan air dingin di sana. Iqlima menghidupkan keran air untuk mengalihkan suara dan menangis sejadi-jadinya.


Bayang-bayang Hilman akan menodai dirinya tiba-tiba saja kembali ke ingatan. Peristiwa pembunuhan Rais hingga kakeknya yang telah tiada membuat Iqlima semakin histeris. Ia merasa rendah diri. Ia merasa begitu terpuruk. Kini Ia merasa tidak lagi memiliki pegangan. Ia tidak menemukan cinta. Ia sendirian. Benar-benar sendirian. Iqlima merosot di bawah air pancuran shower. Ia tidak peduli dengan dinginnya suhu air.


Set


Iqlima terpaku. Tiba-tiba ia menutup kran air. Dengan mengusap airmata yang masih berlinang-linang Iqlima mengambil handuk dan memakai pakaian ganti.


"Mbak Rina... Aku mau kembali ke Bandara sekarang! " Ucap Iqlima dengan mata sembab.


"**... Tapi nona... ini sudah terlalu malam...Nona mau kemana?" Sergah Rina terkejut.


"Aku mau ke kota lain..." Ucap Iqlima mempacking semua barang-barang miliknya. Panik.


"Nona, sekarang kita sudah sampai di Aceh dan besok kita akan ke kampung halaman seperti yang Nona inginkan! " Cegah Rina berusaha menahan Iqlima.


"Aku tidak bisa di sini... Tidak bisa!! Aku harus ke kota lain...! " Sahut Iqlima dengan nada gusar. Ia benar-benar tidak bisa mengontrol kondisi psikisnya.


"Nona... Saya akan menyuruh Mang Saleh memesankan tiket ke kota lain untuk Nona... Nona tidak perlu ke Bandara... Kita akan berangkat besok pagi! " Ucap Rina ikut panik.


"Mbak, saya tidak mengajak mbak! Mbak tetaplah di sini! Saya mau ke kota lain sendirian! Semoga mbak mengerti!" Tukas Iqlima menaikkan nadanya. Ia dengan cepat keluar dari kamar hotel menuju Bandara tergesa-gesa.


Mang Saleh.. Ya. Aku harus menghubungi Mang Saleh! Ucap Rina menyambar handphone yang ada di dalam tasnya.


***


Yahya kembali mendekati Layla. Ia mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur. Kondisi kamar menjadi remang-remang. Layla semakin tampak ranum setelah menggerai rambut pirang berkilaunya.


"Kemarilah mas-ku sayang... Imamku... Kekasih hatiku... " Lirih Layla sendu. Ia tau pasti bagaimana membuat lawan jenisnya merasa nyaman. Layla memasang pose paling s*nsuaal. Yahya bergerak semakin mendekat dan menipiskan jarak. Pemuda tersebut menutup mata hendak melanjutkan kembali ritual sakral mereka.


Dengan bibir yang terus basah karena dzikir dan tasbih, Yahya meniatkan apa yang Ia perbuat sepenuhnya karena mengharap ridha Allah dan semata-mata menunaikan kewajiban nya sebagai seorang suami. Yahya telah menikahi Layla. Apapun yang terjadi, Yahya tidak boleh menzhaliminya.


Dengan wajah yang terus sumringah, Layla sudah siap menyerahkan segala-galanya pada Yahya seorang. Ya. Segala-galanya.


Segala-galanya? Tu...Tunggu!


A... Aku sudah tidak p*raw*n lagi... Bagaimana ini... Tiba-tiba Layla mengingat kejadian kemarin malam ketika ia tengah mabuk. Kesuciannya telah direnggut oleh laki-laki asing yang tidak dikenal.


Kalau mas Yahya tau Aku sudah tidak gadis lagi, pasti nilaiku berkurang dan mas Yahya akan kembali dikuasai oleh pelakor itu! Pikir Layla menggigit bibir bawahnya.


"Bismillah... Ma... Maaf... Maafkan aku... A... Aku akan melepaskan ini! " Ucap Yahya bergetar di telinga Layla. Ia merasa bersalah, sebab sedari tadi, jujur saja Yahya terus membayangkan malam pengantinnya bersama Iqlima. Membayangkan wanita tersebut, gair*h Yahya benar-benar hadir. Tubuhnya bereaksi. Tubuhnya menyala seperti genderang yang ditabuh.


Kerinduan, pelampiasan, Yahya sudah tidak dapat membedakannya.


"Mas... Stop... Sebentar! Tunggu sebentar!" Ucap Layla menghentikan aktivitas yang Yahya lakukan. Ia menarik kembali bagian pakaian yang sudah terbuka.

__ADS_1


"Hhhh Hhhh Ke...Napa? " Tanya Yahya tersengal. Lamunan nya buyar.


"Aku... Aku lupa kalau aku lagi haid... " Ucap Layla berbohong.


Tidak bisa, aku harus mencari cara terlebih dulu untuk membersihkan namaku!! Gumam batin Layla.


"A... Apa?! "


"Maafkan aku mas... " Ucap Layla menunduk. Yahya menarik mundur tubuhnya.


"Hmh... Baiklah... Selamat malam, Layla! " Ucap Yahya menarik selimut menutup tubuh Layla sepenuhnya tanpa basa basi. Yahya mulai memakai pakaiannya kembali.


"Tunggu mas... Aku bisa membantu mas menuntaskan apa yang mas inginkan walau kita tidak benar-benar melakukannya" Tawar Layla.


"I am fine. Aku baik-baik saja, Layla! Tidurlah... Aku akan tidur di kamar lainnya. Aku khawatir tidak bisa menahan diriku jika berada di dekatmu! " Ucap Yahya mulai melangkah meninggalkan Layla yang mematung menatap kepergian nya.


Aku harus menelpon Iqlima~


***


Bandara Sultan Iskandar Muda.


Hilman landing dengan selamat. Walau dengan tubuh penuh luka, namun ia tetap harus kembali ke kampung halaman demi sebuah misi penting mengenai hidup dan mati~ Yaitu membalikkan nama tanah perkampungan Krueng Lam Kareung menjadi atas nama Arya Pranawa. Laki-laki paruh baya tersebut ingin memperluas wilayah kekuasaan nya. Kerajaannya. Dinasti Agung nya.


"Ayo salam tangan Abah! " Titah Mawar pada anak-anaknya yang hanya diam. Bengong. Hilman sudah merentangkan tangannya dari setengah menit yang lalu. Namun anak-anaknya tetap bergeming di tempat.


"Ayo, Nak... Bungông, Mawöe, Kayéé, Apui... Cepat salam Abah! " Titah Mawar jengah.


"Dia bukan Abah!! " Sahut salah satu dari anak tertua Hilman. Mereka malah kabur ke pelukan neneknya. Hilman bangkit menghela nafasnya.


"Salah abang... Demi wanita bodoh itu... kenapa harus operasi segala!" Cerca Mawar mempoutkan bibirnya.


"Kau selalu terlihat menggairahkan... Ma... War" Ucap Hilman mengusap bibir Mawar.


"Awww..." Tiba-tiba Mawar mengaduh karena Hilman mencubit bibir tersebut.


"Tutup mulutmu! Wanita yang kau sebut bodoh itu lebih berharga daripada harga dirimu! " Sambar Hilman berubah marah.


"Ma... Maafkan aku bang... Tapi malam ini abang harus menginap bersamaku.... Aku punya cara baru menyenangkan abang" Bisik Mawar terdengar manis di telinga Hilman.


"Hahahahahaha" Hilman tertawa terbahak-bahak.


Bruuuuuk.


Suara barang-barang jatuh ke lantai terdengar. Seorang wanita langsung berlari ke arah Hilman.


"Rais... Nak Raisss... Anakku Rais... Allahu Akbar... Anakku masih hidup... Allahu Akbar...." Ucap Wanita tersebut masih mengejar walau tertatih. Ia tidak mempedulikan barang-barang yang berserakan di lantai


Di saat yang sama, Iqlima yang baru saja tiba di Bandara langsung beralih menatap ke arah seruan sang ibu. Jarak dan posisi mereka tidak terlalu jauh. Namun alangkah terkejutnya Iqlima ketika mendapati Rais yang juga berada di Bandara.


***

__ADS_1


IG: @alana.alisha


__ADS_2