Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)

Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)
Bab 9: Beginikah Surat Cinta Itu?


__ADS_3

"Kek... Kek... Mari kita nginap di rumah nyakwa Nur kek... " Ajak Iqlima ketika masuk ke dalam rumah dan mendapati kakek tengah menganyam tikar pandan.


"Kamu sudah pulang? Kalau sudah pulang berikan salam terlebih dahulu! " Sahut kakek masih terus meneruskan pekerjaannya.


"Maaf kek, tapi kita nginap di rumah Nyakwa Nur malam ini... mau ya kek?" Pintal Iqlima memelas. Kakek pun menghentikan pekerjaannya. Beliau perlahan menoleh menatap Iqlima.


"Ada apa dengan Nyak Nur? Kenapa tiba-tiba kamu mau menginap di sana? "


"Hmh Iqlima... Iqlima rindu beliau kek! Sudah lama kita tidak ke sana! " Ucap Iqlima beralasan. Nyakwa Nur adalah satu-satunya saudara sepupu dari ayah Iqlima yang paling bersikap baik pada mereka.


"Ya sudah besok saja! Ini sudah sore. Rumah Nyak Nur itu kan jauh di Saree sana. Kita harus naik gunung Seulawah dulu untuk sampai ke sana! " Sahut kakek.


"Andai kamu mau menikah dengan Hilman. Pasti sekarang dengan mobil nya kita sudah bisa mengunjungi Nyak Nur dengan mudah! " Tukas Kakek lagi. Mendengar penuturan kakek, lutut Iqlima lemas. Namun dengan bergegas ia mengunci semua pintu rumahnya dan memeriksa jendela. Takut kalau Hilman nekad mengejarnya.


Baaaaaaaa


Seseorang dari bawah jendela muncul mengagetkan Iqlima.


"Astaghfirullah... Maryam!!!! Jantungku mau copot!" Pekik Iqlima berpeluh.


"Hahaha maaf. Salah sendiri kenapa mau menutup jendela terlalu cepat! Kan masih sore!" Maryam masuk ke dalam melewati pintu yang kuncinya Iqlima buka.


"Aku kesini mengantarkan surat"


"Surat? Bukan dari Hilman kan?! " Sambar Iqlima cepat.


"Ya bukan lah. Dari Teungku Ilyas... Pujaan hatimu! Tadi baru saja dititipkan ke aku" Sahut Maryam. Hati Iqlima terasa sedikit sejuk. Setidaknya surat itu bukan dari orang yang sudah membuat nya bergidik ngeri.


"Sudah ya... Anakku lagi rewel-rewelnya! Aku harus segera pulang!" Maryam hendak pergi namun ia teringat sesuatu.


"Ah, aku lupa! Tadi kamu kemana saja? mengapa menghilang?! Semua orang sibuk mencarimu! " Tanya Maryam penasaran. Ia kembali menghampiri Iqlima.


"Panjang ceritanya. Besok insya Allah aku ceritakan. Kau pasti akan terkejut jika mendengar ceritaku! " Sahut Iqlima berbisik, Ia melihat ke kiri dan ke kanan takut kakek mendengar percakapan mereka. Lalu Iqlima beranjak mengambil sesuatu dari kamar.


"Ini sweater rajut buatanku! Berikan pada Sinyak Agam, anakmu! Semoga cocok untuknya" Iqlima menyodorkan hadiah yang sudah ia kerjakan dari bulan lalu.


"Iqlima.. Apa ini tidak berlebihan?!" Pekik Maryam penuh haru. Ayah dari anaknya saja tidak pernah membelikan anaknya pakaian. Namun Iqlima, dengan segala keterbatasan ekonomi masih mau memikirkan anaknya. Bukan sekali dua kali, Iqlima sangat sering berderma.


***


Ilyas duduk di sebuah batu besar dengan permukaan datar di pinggir sungai. Berkali-kali ia membasuh wajahnya dengan air yang mengalir. Maghrib hampir datang menjelang. Namun ia enggan berpindah. Sebuah keputusan melalui surat sudah menemui finalnya. Bahkan air yang ia basuhkan ke wajahnya itu tidak mampu membuat keadaan panas dihatinya berubah dingin.


Beberapa gadis yang sibuk mencuci pakaian dari jarak yang tidak terlalu dekat melihat kearahnya. Mereka heran mengapa Ilyas duduk menyendiri tidak seperti biasa. Bahkan wajah hangat tersebut terlihat begitu muram. Namun tiada satu pun dari mereka yang berani mendekat.

__ADS_1


"Yas..." Tiba-tiba Yahya menepuk pundaknya.


"Aku kacau... "


"No..."


"Aaarrghhh...." Ilyas menepuk air dengan keras.


"Kita pulang... Kita pulang ke Jakarta. Temui wanita yang lebih baik dari nya! " Ucap Yahya to the point.


"Kau tak mengerti karena kau tidak pernah merasakan yang nama nya jatuh cinta! " Sarkas Ilyas. Matanya memerah.


"Siapa bilang? Kau lupa pada Dara Keumala? Gadis Aceh satu kampus denganku dulu? Kau lupa bagaimana sakitnya aku ketika ditinggal menikah begitu saja?"


"Ja... jadi? "


"Ya, aku mencintainya, Yas! Aku bahkan sudah meminta Abah meminangnya untukku! "


Ilyas terenyak.


"Hhhhh sudahlah. Lupakan! Jujur saja, peristiwa itu sulit membuatku untuk jatuh cinta lagi. Apalagi dengan seorang gadis Aceh. Terserah kalau ada yang bilang aku rasis! Yang jelas aku sudah tidak berminat mencari gadis selain gadis Jawa dan gadis Arab!" Tukas Yahya. Ia merasa apa yang Ilyas alami saat ini mirip dengan apa yang menimpa nya dua tahun lalu.


"Perbanyak Istighfar. Mungkin ini cara Allah menghindari kita dari zina hati! Untuk ke depan... harus bisa lebih berhati-hati! Jangan sampai jatuh cinta berlebihan. Cinta itu hanya karena Allah. Letakkan cinta di sini ketika sudah ada kata SAH! " Yahya menunjuk ke dada Ilyas. Namun wajah sepupunya itu tetap tidak berubah. Masih saja muram. Apa yang Yahya katakan sama sekali tidak menyentuh hatinya.


"Tunggu! "


Yahya menoleh.


"Kontrak-ku di sini belum berakhir! " Lirih Ilyas.


"Lalu? "


"Please... Bantu aku! " Ilyas menatap Yahya dengan wajah penuh harapan.


"Besok aku akan pulang ke Jakarta. Aku ingin kau mau menggantikan aku untuk sementara waktu. Hanya sebentar, tidak lama. Sekarang ini Aku tidak bisa berada di sini. Aku tidak akan bisa melupakan wanita itu jika masih berada didekatnya!" Ucap Ilyas memohon.


Yahya hanya bisa menghela nafas. Bagaimana mungkin ia bisa menolak?


***


Iqlima masuk ke dalam kamar setelah memastikan semua pintu terkunci aman. Ia meletakkan kursi di depan pintu untuk sedikit mengganjal. Setidaknya ia bisa mengulur waktu untuk kabur dari pintu berbeda kalau saja Hilman akan nekad mendatangi nya.


Sepertinya Iqlima tidak akan bisa tidur malam ini. Ia meletakkan kitab suci al-Quran di sampingnya. Mungkin Iqlima akan berjaga sepanjang malam dengan bertadarus atau berdzikir menggunakan tasbih.

__ADS_1


Gadis muda itu juga sudah menyiapkan sebalok kayu juga pisau kecil untuk membela diri dan berjaga-jaga kalau saja dirinya benar-benar berada dalam bahaya.


Iqlima merasa ia butuh orang untuk bisa menumpahkan keluh kesahnya. Selain Maryam, mungkin Ilyas adalah orang yang tepat saat ini. Setidaknya, Ilyas adalah calon suaminya. Mungkin nantinya laki-laki itu akan punya cara melindungi nya dari Hilman atau mengambil tindakan untuk mau membawa nya dan kakek pergi dari kampung ini setelah mereka menikah. Begitulah harapan Iqlima untuk saat ini.


Mengingat Ilyas, seketika ia bangkit lalu dengan cepat mengambil surat yang laki-laki itu berikan melalui Maryam tadi. Iqlima tersenyum. Ia berharap rasa cinta pada Ilyas akan semakin tumbuh seiring berjalannya waktu apalagi setelah mereka menikah nanti. Ilyas pemuda baik. Pemuda shalih. Di-imami oleh nya kelak, Insya Allah laki-laki itu tidak akan menyakiti nya. Sebuah surat pertanda baik. Pikirnya kembali tersenyum.


Perlahan Iqlima membukanya. Inikah surat cinta itu? Apa memang begini rupanya? Tanya hati Iqlima penasaran. Ia membolak-balikan kertas putih sederhana yang ada di tangannya. Sesaat kemudian Ia pun mulai membaca kalimat pertama.


Bismillahirrahmanirrahim~


Iqlima Noor Azkiya, semoga kau selalu dalam lindungan Allah SWT. Semoga Rahmat dan Hidayah Allah selalu besertamu. Amin.


Iqlima, dalam surat singkat ini aku ingin menyampaikan bahwa aku membatalkan rencana pernikahan kita. Aku batal melamarmu. Sekarang kau bebas menentukan dengan siapa kau mau menikah. Aku resmi melepaskan mu!


Satu hal yang ingin aku tekankan, bahwa tidak ada wanita lain dihatiku. Aku membatalkan ini karena seperti nya kamu lebih cocok dengan laki-laki lain. Kamu tentu paham apa yang aku maksudkan.


Entah laki-laki seperti apa aku dimatamu. Yang jelas, aku bukan laki-laki bodoh pengemis cinta. Cinta dari Allah jauh lebih aku harapkan dibandingkan cinta dari seorang gadis seperti mu. Besok Aku akan kembali ke Jakarta dan aku tidak berniat sedikit-pun membawa kenangan tentang mu.


Kisah kita usai~


Tertanda: Ilyas Al-Ghazali Utsman


Iqlima membaca kalimat demi kalimat dengan tangan gemetar. Setelahnya, ia tersenyum dengan manis. Namun airmata nya malah menetes.


"Iqlima paham... Iqlima paham apa maksud Ustadz... " Gumam Iqlima yang tersenyum dengan mengusap air mata yang menetes-netes semakin deras.


"Iqlima paham.... "


"Iya... Iqlima paham... Hiks Hiks Hiks... "


Tiba-tiba perkataan kakek kembali terngiang di telinga nya,


"Apa yang kamu harapkan dari Ilyas? Pemuda Pulau Jawa itu hanya merantau sebentar ke desa kita...


Dia akan kembali ke kampung halamannya. Jadi tidak mungkin menikahimu! Apalagi kamu miskin dan yatim piatu!”


***


Yuk dukung terus karya Alana dengan cara LIKE KOMEN VOTE, berikan HADIAHnya. Terima Kasih banyak ^^ Jazakumullah Khairal Jaza'. Semoga Allah memudahkan semua urusan kita ❤


IG @alana.alisha


***

__ADS_1


__ADS_2