
Dini hari. Hilman berjalan terseok-seok. Ia merangkul seorang wanita muda memasuki halaman rumahnya. Semalam diam-diam ia menikmati dua buah linting ganja. Kini kepalanya terasa berat dengan mata yang berurat merah.
"Oh Rabbi Hilmaaan... Peu ka peugeot buet neuk?!(Apa yang kamu lakukan nak?!), perbuatan seperti ini dosa besar!! " Teriak Ibunya Hilman murka.
"Iqlima Lôn sayang (Iqlima ku sayang) ... " Ucap Hilman tanpa sadar mencium pipi wanita yang dirangkulnya.
"Astaghfirullah... kalau ketahuan polisi syari'ah kamu bisa ditangkap!" Ibu Hilman kehabisan kata-kata.
"Hei... Kamu wanita jal*ng! Pergilah! Bertaubat! " Ibu mengusir wanita yang Hilman rangkul.
"Jangan pergiiiii...." Titah Hilman dengan gerakan tangan. Suaranya terdengar parau. Ibu melototkan mata. Wanita itu langsung melesat tanpa membantah. Ibu mengambil air dingin dari guci tanah.
Byuuuurrrrrrr
Air dingin tersebut mengguyur tubuh Hilman. Setengah sadar, pemuda itu mengusap wajahnya.
"Cut Munirah...! Ada apa? Apa yang sudah Hilman lakukan?" Ampon Din muncul dari ruang tengah dengan sarung dan singlet. Beliau terbangun karena mendengar suara gaduh.
"Abu... lihatlah kelakukan anak Abu ini! Hilman kembali membawa wanita ke rumah! "
Plaaaakkkk.
Ampon Din menampar anak satu-satunya itu dengan pukulan yang keras.
"Memalukan!!"
Plaaaakkkk.
"Kita itu orang terpandang! Seharusnya kamu lebih bisa menjaga kelakuan!! Kalau ketahuan masyarakat, kamu tidak hanya dihukum cambuk tapi juga...." Ampon Din kembali menampar Hilman. Namun laki-laki itu bersikap acuh. Hilman malah melenggang pergi.
"Man... Hilman... Mau kemana kamu! Hilmaan... Abu dan Nyanyak belum selesai bicara!! " Panggil Ampon Din. Pemuda itu tidak mendengar. Malah keluar rumah.
"Bang Din... Bagaimana ini? Hilman sudah kelewatan batas! " Cut Munirah bertanya cemas.
__ADS_1
"Ini semua salah Yakob yang tidak berhasil mendidik Iqlima dengan baik. Anak itu sudah membuat anak kita berubah liar! Kita harus memikirkan cara untuk membuat mereka keluar dari kampung ini! "
"Ya Rabb... Tidak begitu bang! Ini bukan salah siapa siapa. Kita lah yang salah! Kita yang gagal mendidik anak! " Sahut Cut Munirah.
"Halah! " Ampon Din mendorong Cut Munirah hingga wanita tersebut terjatuh ke atas sofa.
"Kau tau apa Munirah?! Lebih baik kau diam saja dan urus penampilan mu sebaik mungkin agar aku tidak mencari gadis muda! " Ucap Ampon Din berlalu. Meninggalkan Cut Munirah yang menangis dengan hati yang penuh luka.
***
Dua buah mobil model pick up berjalan beriringan menuju pantai Lampu'uk di Kecamatan Lhoknga, Aceh Besar. Para relawan dibantu oleh beberapa penduduk lokal yang telah lolos seleksi membawa peserta dari rumah Qur'an untuk melakukan rihlah setelah sekian lama berkutat dengan berbagai kitab agama dan pelajaran umum.
Mobil laki-laki dan perempuan dipisah. Jarak tempuh dari Kecamatan Indrapuri ke Pantai Lampu'uk menghabiskan waktu kurang lebih satu jam perjalanan.
Sinar terik yang menusuk kulit menyebabkan mereka yang duduk di kabin harus memasang terpal demi menghindari diri dari sengatan matahari.
Dari atas kabin, Ilyas bisa melihat ujung kerudung Iqlima yang melambai-lambai diterbangkan oleh angin. Mobil mereka berjalan beriringan. Salah satunya terkadang berada di posisi depan atau juga sebaliknya. Sesekali mata mereka bertemu. Ilyas memberikan senyum nya. Iqlima berusaha menyambut senyum tulus tersebut. Namun entah mengapa ekor matanya selalu berakhir pada laki-laki yang berada di sebelah Ilyas, yaitu Yahya. Pemuda berkacamata yang sulur rambutnya melambai-lambai di terbangkan oleh angin itu sibuk dengan buku Science-nya tanpa mempedulikan sekitar. Sebagai pecinta ilmu, aktifitas yang Yahya lakukan saat ini cukup menyita perhatian nya.
"Cieee yang terus menerus menatap Ustadz Ilyaas.. mentang-mentang mau dilamar.. hihi" Goda Maryam, sahabat Iqlima yang hari ini terlibat dalam sesi konsumsi. Terlibatnya ia dalam menyediakan makanan untuk peserta rihlah membuat Maryam bisa menambah pemasukan hariannya. Sebagai seorang istri dari lelaki yang tidak memiliki rasa tanggung jawab dan gemar berjudi togel, kegiatan seperti ini merupakan sebuah rejeki nomplok.
"Mar, apa sebuah pernikahan membutuhkan cinta? "
"Ya butuh... Kalau tidak, ntar seperti suamiku, bang Helmi... terus menerus men-zhalimi aku! "
Lagi-lagi Iqlima terenyak. Jika nantinya ia menikah dengan Ilyas, apa ia juga akan menzhalimi suaminya itu?
***
Semua sudah berkumpul di pantai. Ilyas menjelaskan aturan main yang sudah panitia tetapkan untuk para peserta. Yahya melihat keadaan sekeliling. Ia menikmati panorama pantai dengan laut biru dan pasir putih. Pemuda tersebut menjauh dari keramaian. Ia memilih tempat yang lebih tenang untuk lebih bisa mentadabburi alam.
Di dekat sebuah tebing yang sedikit curam, Yahya menemukan sebuah ayunan gantung dengan pola jaring-jaring. Ia merebahkan tubuh di sana. Merasakan sentuhan angin pantai bersepoi-sepoi, ia memanjakan mata melihat nyiur melambai dan pepohonan padat yang menyelimuti gunung. Bak permadani hijau dengan segala keindahannya, Yahya dibuat terkagum-kagum sampai tidak sadar, ia pun tertidur.
"Astaghfirullah lepaskan bang!! Lepaskan!! " Iqlima meronta-ronta saat tangan kekar Hilman menyeretnya ke tempat sepi. Ia baru saja menyelesaikan hajatnya di toilet umum. Dikarenakan bukan hari libur, pengunjung pantai Lampu'uk menjelang siang hari tidaklah terlalu ramai. Hanya ada peserta Rihlah beserta panitia yang sibuk dengan berbagai kegiatan dan sedikit orang yang memancing saja. Posisi mereka juga tidaklah dekat.
__ADS_1
"Bang, Lepaskan... Abang mau apa?! " Hardik Iqlima. Ia hampir putus asa. Hilman mengambil lakban hitam dari kantong celananya. Mulut Iqlima dibekap tanpa bisa lagi mengeluarkan suara. Laki-laki berwajah seperti orang Bangladesh itu menyeretnya mendekati tebing lalu menyandarkannya ke sana.
"Kau tanya apa yang aku inginkan kan? Aku menginginkan mu, wanita sok suci! " Ucap Hilman dengan mata merah berurat. Wajah yang tampak sangar itu menyematkan senyuman bengis di sana. Iqlima menelan ludah yang terasa sulit melewati kerongkongan. Ekor matanya melirik ke kanan dan ke kiri. Sepi. Ia berada dalam bahaya.
"Mmppppp Mmmmmppp" Iqlima berteriak dalam dekapan.
"Berhenti melawan! Kalau tidak aku akan merobek pakaianmu! Tidak akan ada yang menolong!" Ancam Hilman memegang leher Iqlima yang terbalut kain kerudung. Gadis tersebut mematung seketika.
"Bagus anak manis... Kau melakoni peran dengan sangat baik.. Hahaha... " Hilman tertawa. Butir-butir keringat berjatuhan dari kening Iqlima.
"Karena adek ga mau menikah sama abang... Bagaimana kalau adek jadi teman main abang aja?! Kita akan bersenang-senang. Abang janji akan penuhi semua kebutuhan adek..." Tanya Hilman menaikkan sebelah alisnya. Suaranya melunak. Ia berkata dengan sangat lembut. Iqlima dengan cepat menggelengkan kepalanya. Hilman mengusap butir-butir keringat yang mengalir dari pelipis gadis yang ada dihadapannya lalu keringat tersebut ia jilat dengan penuh perasaan tanpa ada rasa jijik.
Yahya yang sedang tertidur pulas tak jauh dari mereka, sontak terbangun karena mendengar bunyi suara semak-semak dedaunan.
Jangan-jangan suara ular. Batin Yahya bergidik. Ia bangkit menjauh. Pemuda ini ingin kembali ke tempat orang-orang yang tengah melakukan kegiatan rihlah.
Sreg Sreg Sreg
Baru berjalan beberapa langkah, Suara dedaunan kering seperti ada kaki yang menginjak kembali terdengar. Suara tersebut terdengar semakin jelas. Penasaran, Yahya urung melangkah. Ia berbalik arah. Pelan-pelan menuju ke sumber suara.
Tap Tap Tap
Pelan-pelan Yahya mengayunkan langkah kakinya. Satu persatu. Agar entah itu binatang buas atau sesuatu yang tidak diinginkan tidak menyadari kehadiran nya.
Di sisi lain, Iqlima memejamkan mata. Ia begitu takut Hilman melakukan perbuatan keji. Bulu kuduknya sedari tadi sudah bergidik ngeri. Ia sudah tidak bisa menangis. Tenggorokannya tercekat. Iqlima hanya bisa mematung pasrah sambil memaksa hati dan pikirannya yang tidak bisa berpikir jernih mengucapkan kalimat tauhid dan melafalkan banyak doa. Ia berada dalam kondisi pasrah.
Hilman mendekatkan wajah sangarnya ke telinga Iqlima. Membisikkan sesuatu di sana. Mata Iqlima membulat sempurna. Pergerakan yang Laki-laki itu lakukan bersamaan dengan netra mata Yahya yang menangkap keduanya. Pemuda jebolan pondok pesantren itu terkejut bukan kepalang. Dari sebelah sudut pandang nya, Yahya seperti melihat dua manusia yang tengah melakukan ciuman bibir. Yahya bisa melihat kedua mata bening seorang gadis yang terbuka lebar.
Astagfirullah... Bukankah it... itu Iqlima? Calon istri nya Ilyas? Mereka melakukan perbuatan tidak senonoh di tempat sepi? Ya Rabb...Gumam Yahya kesulitan menelan saliva nya. Tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Laki-laki tampan berdarah Yaman ini terhuyung. Ia bergerak mundur.
***
Yuk dukung terus karya Alana dengan cara LIKE KOMEN VOTE, berikan HADIAHnya. Terima Kasih banyak ^^ Jazakumullah Khairal Jaza'. Semoga Allah memudahkan semua urusan kita ❤
__ADS_1
IG @alana.alisha
***