Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)

Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)
Bab 103: Ekslusif


__ADS_3

"Tunggu! Yahya.... tunggu... Yahyaaaa.... tungguuuu... " Kejar Hajjah Aisyah menarik punggung kemeja Yahya dari belakang setelah putranya tersebut membuat pernyataan mengejutkan. Yahya tercegat. Ia terpaksa berhenti melangkah.


"Kubur mimpimu dalam-dalam! Saat ini kau tidak boleh mengatakan apapun pada Iqlima! " Perkataan Hajjah Aisyah membuat Yahya berbalik arah. Ia menghela nafas.


"Di dalam rumah tangga kami, biarkan Yahya sendiri yang memimpinnya! Ummi boleh memberikan Yahya nasehat atau masukkan. Tapi biar lah Yahya yang membuat keputusan! Sebagaimana Ummi membiarkan Abah memimpin, izinkan ananda juga berlaku demikian! " Ucap Yahya tegas namun tetap dengan nada sopan. Ia masih memilih diksi kata yang tepat walau pun gemuruh hebat terasa menyesakkan di dada. Hajjah Aisyah menggeleng. Yahya mengambil ancang-ancang untuk keluar.


"Tidak untuk kasus ini Yahya! Kau jangan egois!"


"Ummi yang egois!! Ummi tidak pernah memikirkan bagaimana perasaan Iqlima! Bagaimana ia selalu memendam rasa sakitnya!" Sahut Yahya lantang. Gurat-gurat merah di wajah mencuat tak bisa di elak.


"Terserah kau mau balik menyebut ummi dengan sebutan egois atau sebutan lainnya! Tapi Yahya, kalau kau merealisasikan keinginanmu, maka bersiap-siaplah kau akan kehilangan dua bahkan tiga nyawa sekaligus! "


"A... Apa maksud ummi? " Yahya terenyak.


"Apakah kau lupa bahwa Layla tengah mengandung anak-anakmu?! Apa kau tidak mendengar dengan baik apa yang dokter katakan? Kandungan Layla itu lemah nak... Dia tidak boleh stress, tidak boleh menanggung beban pikiran... "


"Ini semua karena Ummi. Kalau saja Ummi tidak terlalu ikut campur dalam rumah tangga kami maka semua akan baik-baik saja...Tidak akan ada yang namanya penyesalan atau pengorbanan! " Tukas Yahya tajam.


"Kau boleh menyalahkan ummi untuk semua hal yang terjadi. Padahal Ibu mu yang sudah melahirkan mu ini hanya ingin melakukan yang terbaik. Ya., Kau sudah dewasa sekarang, sudah sangat pintar berbicara... Dan setelah kau pintar, sekarang kau malah menyerang orang yang begitu mencintai mu... Yang telah mengajarimu banyak hal... Yang telah meremukkan tulang-tulangnya agak kau bisa hadir di dunia ini! " Sindir Hajjah Aisyah tak kalah tajam. Yahya sontak terdiam. Ia menunduk. Hajjah Aisyah datang mendekat.


"Entah kau akan mendengar kan perkataan ummi-mu ini atau tidak, atau entah kau akan membenci ummi seumur hidupmu hanya demi seorang wanita asing, tapi yang jelas semua sudah terlanjur terjadi dan tidak bisa dielakkan...


"Nak, jika kau mengumumkan perasaan semu-mu itu pada Iqlima dan membongkar semua hal yang telah terjadi, bukan tidak mungkin kalau Iqlima akan menyesal. Ia akan menyesali semuanya... Dia akan mengatakan pada Layla fakta yang sebenarnya... Dia akan menguasaimu dan membuat Layla merasa buruk....


"Yahya, kau boleh mencintai Iqlima, tapi apapun yang kau katakan, Layla itu juga istrimu... istri sah yang juga harus kau pikirkan... Kau juga harus bertanggungjawab padanya! Kau harus berlaku adil walau kau lebih dulu menikahi Iqlima. Maka di sini... pengumuman yang kau beberkan dipastikan akan membuat Iqlima terpuruk... Ia akan semakin menderita. Kemungkinan terburuknya adalah... Kau bisa kehilangan si kembar bahkan mungkin ibunya sekaligus" Kali ini perkataan Hajjah Aisyah sukses membuat Yahya tidak hanya mematung namun juga tercenung.


"Jadi nak, tolong kau pikirkan dengan kepala dingin... Jangan gegabah, jangan egois... Ini bukan hanya sekedar perkara Layla mengandung buah hatimu atau sekedar perasaan cinta pribadi semata. Namun kemaslahatan besar ada di sini! Ini masalah keturunan... Jika di keluarga besar Abdurrahman kita hanya bisa mengharapkan Haris, Maka di penerus keluarga Zakaria... Hanya engkau yang bisa diharapkan, nak! Jangan pupuskan harapan keluarga besar juga masyarakat. Kau adalah seorang tokoh. Kau adalah pimpinan pesantren... Kita membutuhkan penerus-penerus untuk meneruskan estafet perjuangan Rasulullah dalam menegakkan Syiar Islam. Bahkan, andaikata nak Layla tidak bisa memberikanmu keturunan, maka kau harus menikahi wanita ketiga atau ke empat agar penerus keluarga tetap terjaga! Ini adalah hal yang tidak bisa dielakkan dari hidup mu! " Kalimat-kalimat dari Hajjah Aisyah lagi-lagi sukses membuat Yahya terperanjat.


...****************...


Driiiit


Suara deritan pintu membuat tatapan Layla teralihkan. Ia yang pundaknya tengah di pijat langsung sumringah melihat Yahya datang menghampiri. Suaminya tersebut langsung mengisyaratkan pada asisten untuk meninggalkan mereka berdua di kamar.


"Aku dengar wanita hamil suka buah-buahan. Aku tidak tau kau suka buah yang rasanya asam atau manis. Jadi aku menyuruh penjual membungkuskan banyak jenis buah-buahan untukmu! " Ucap Yahya meletakkan keranjang besar di atas nakas.


"Aku suka yang manis-manis! " Sahut Layla berbinar. Yahya membuka bungkusan plastik mengambil sebuah mangga madu dan akan mengupasnya namun Layla dengan cepat memeluk Yahya dari belakang.


"Aku merindukan mas... Sudah lama mas tidak pernah mendatangiku! " Bisik Layla. Tangannya bergerak mengusap-usap dada bidang Yahya dengan gerakan manja. Tak sampai di situ, tangan lincah nya juga membuka kancing kemeja yang Yahya kenakan. Mangga Madu yang tergenggam sontak terlepas.


"Hmh... " Yahya berdehem memecah kecanggungan. Ia memungut mangga berguling di lantai.


"Kau makan mangga dulu"


"Aku sedang tidak ingin makan buah... " Sahut Layla. Pergerakan Yahya terhenti. Ia kembali meletakkan buah-buahan di tempat dan mendekati Layla. Yahya menatapnya lekat-lekat.


"Ja.. jadi kau ingin makan apa? Apa yang kau inginkan? Aku akan membelikan nya! " Tanya Yahya lagi. Raut wajah Layla berubah. Ia memilih duduk di tepi ranjang dengan wajah bersungut. Layla berubah kesal. Suaminya benar-benar tidak peka.


"Kau marah? Aku minta maaf..." Lirih Yahya


"Hhhhh... " Layla mendengus.


"Katakan saja apa yang kau inginkan... Aku akan memenuhinya... " Ucap Yahya. Ragu-ragu ia mendekat dan duduk di samping Layla. Perkataan Hajjah Aisyah yang baru saja terlontar tentang berlaku adil masih melekat diingatan. Namun jujur saja Yahya bingung harus melakukan apa.


"Mas Yahya memperlakukan ku dengan sangat dingin. Sangat berbeda ketika saat mas Yahya memperlakukan Iqlima! Padahal aku sudah mengandung anak mas! " Ketus Layla.

__ADS_1


Memperlakukan Iqlima? Ah ya... Iqlima-ku... Sedang apa dia? Hati Yahya bertanya-tanya. Tuk sesaat ia termenung. Kalimat yang Layla lontarkan membawa pikiran nya melayang pada istri pertamanya tersebut. Betapa Hajjah Aisyah sudah membuatnya mengorbankan banyak hal. Yahya jadi teringat saat-saat indah di awal menikah.


"Aku ingin sekali diperlakukan sama... Dicintai sepenuh hati... Bahkan lebih... Tidak bisakah mas Yahya memenuhi keinginan ku... Keinginan istri yang telah mengandung pewaris untuk mas dan keluarga besar! " Lanjut Layla. Ia kembali memeluk Yahya. Kali ini tangan Layla merambah ke tempat yang lebih pribadi. Yahya tersentak. Lamunannya buyar. Yahya menyala. Sinyal ditubuhnya hadir. Yahya dengan cepat memegang tangan Layla menghentikan pergerakannya.


"Kenapa mas? "


"Ti... Tidak kenapa-napa... Hmh, kau ingat perkataan dokter kan? Kandungan mu masih lemah... Aku khawatir kau dan calon anak kita kenapa-napa! Beristirahatlah... A... Aku... Ada hal yang harus aku kerjakan! " Ucap Yahya bangkit berdiri dengan cepat. Sebelum pergi ia melirik perut datar Layla. Yahya mengulurkan tangan ke sana.


"Sehat-sehat ya nak...! Baik-baik kalian di sini dalam dekapan..! " Ucap Yahya kaku. Setelahnya laki-laki tersebut langsung melesat keluar meninggalkan Layla yang memendam kekesalan.


Di luar pintu, Yahya melihat Sri yang seperti nya akan menemui Hajjah Aisyah. Pandangan mereka bertemu. Yahya dengan cepat melambaikan tangan. Ia membawa Sri menjauh dari sisi kamar.


"Apa Iqlima berada di kamar pesantren? " Pertanyaan pertama terlontar. Sri mengangguk.


"Aku menelpon nya tapi tidak ada jawaban! "


"Demi ke kusyu' an belajar, nona Iqlima tidak diizinkan memakai handphone selama di pesantren oleh Jiddah Hajjah Maharani, Gus! "


"Ck. Pantesan saja... Jiddah benar-benar merealisasikan keinginannya! " Gerutu Yahya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Layla membuatnya membayangkan yang tidak-tidak tentang Iqlima. Hal ini cukup membuat nya merasa gerah. Yahya sangat kesal.


"Yasudah mbak Sri, Terima kasih! "


"Sebentar Gus...! " Sri mencegah Yahya yang hendak berbalik arah. Ia melirik ke kanan dan ke kiri.


"Ya? "


"Apa Gus Yahya mau bicara dengan nona Iqlima? " Bisik Sri berhati-hati.


"Tentu saja. Tapi saat ini tidak mungkin... " Sahut Yahya lesu.


"Benarkah? Bagaimana caranya? " Tanya Yahya tertarik.


...****************...


"Ummi tidak mengerti mengapa abah diam-diam membawa Iqlima pergi! " Protes Hajjah Aisyah ketika melihat suaminya baru saja menutup Mushaf dan meletakkan rapi di tempat nya. Ia yang baru saja memberikan Yahya banyak ultimatum masih belum puas terhadap apa yang terjadi.


"Abah hanya membawa putri abah makan, jalan-jalan dan mengunjungi universitas. Itu saja... " Sahut Haji Zakaria santai.


"Menantu abah bukan cuma Iqlima! Tapi juga Layla! Mengapa ummi merasa abah seperti tidak adil! "


"Ummi terlalu berlebihan dan membesar-besarkan! Bukankah saat ini baik nak Layla, Yahya, maupun Ummi... semua tengah berbahagia? Nak Layla Alhamdulillah berhasil mengandung. Ini bukan berita yang tidak baik, sangat baik! Sangat sangat baik... hanya saja abah hanya ingin menebar sedikit energi bahagia itu pada Iqlima. Tidak ada salahnya kan? " Ucap Haji Zakaria beranjak dari duduknya. Beliau siap-siap keluar kamar.


"Iqlima memang jenis orang yang mudah iri hati... Harusnya dia juga bahagia mendengar kabar baik ini, bukan nya malah mencari simpati dan merepotkan abah! " Ketus Hajjah Aisyah dengan wajah kusut.


"Ummi... oh Ummi... Abah tidak habis pikir mengapa istri abah punya pikiran sepicik itu... Sudah lah... Abah malas berdebat. Abah mau keluar dulu! "


"Apa abah mau mengajak keluar Iqlima lagi? " Tanya Hajjah Aisyah cepat namun sang suami tidak menggubris nya. Haji Zakaria tetap meneruskan niat untuk keluar dari kamar mereka.


"Bah... Abah! Benarkan? Abah mau mengajak Iqlima pergi kan?! " Todong Hajjah Aisyah tak menyerah. Haji Zakaria terpaksa menghentikan langkah dan menghela nafas.


"Abah sudah tidak pernah lagi mengajak ummi jalan-jalan... Ummi selalu saja abah abaikan..." Lirih Hajjah Aisyah menunduk sedih. Haji Zakaria mendekat. Beliau mengangkat wajah sang istri lalu kemudian menangkup kedua pipinya.


"Abah mau bertemu Haji Amiruddin untuk membahas perjodohan antara nak Haris dan nak Hana, putri beliau satu-satunya. Alhamdulillah respon Haji Amir positif. Setelahnya kita makan malam di luar, hm?" Ucap Haji Zakaria tersenyum hangat. Sebelum benar-benar keluar kamar, tak lupa beliau mengecup puncak kepala sang istri.


"A... Apa bah? " Hajjah Aisyah terhuyung. Masalah Iqlima belum sepenuhnya membuat beliau tenang. Kini Hajjah Aisyah sudah harus menghadapi calon menantu baru yang menurut nya juga tidak sepadan menjadi pendamping dari kerabat dekatnya tersebut. Apa mau dikata, haji Zakaria sudah lebih dulu melesat pergi.

__ADS_1


"Sri.... Sriii.... nak Sriii.... " Panggil Hajjah Aisyah memijat pelipisnya.


"Sriiii..... " Orang yang dipanggil tak kunjung hadir. Hajjah Aisyah melakukan panggilan telepon. Namun nomor yang dituju sedang sibuk.


Kemana Sri? Kepala Hajjah Aisyah terasa semakin sakit. Beliau berjalan perlahan menuju kamar mandi untuk mencuci muka, namun tiba-tiba...


Tuuuuk....


Aaaawwwww Astaghfirullah....


Hajjah Aisyah memekik kuat. Beliau duduk terjerembab di lantai setelah keningnya menabrak tiang yang ada di bagian pinggir kamar berasa dekat dengan pintu kamar mandi.


Sriiiiiiiiiiiiiiiiiiiii!!!! Lanjut Hajjah Aisyah memekik kuat.


Sementara Sri sendiri tengah berada di depan kamar Iqlima pada bagian luar. Ia meminjamkan handphone nya pada wanita tersebut agar Yahya dan Iqlima bisa melakukan video call ekslusif. Ia yang tadi memberikan ide segar pada Yahya, langsung di sambut dengan baik.


"Apa kau nyaman berada di sana? Jujur aku belum pernah melihat kamar nya..." Ucap Yahya perhatian.


"Kamarnya cukup nyaman untuk ditempati seorang diri... " Sahut Iqlima sambil membuat handphone menjadi mode kamera belakang dan mengedarkan nya ke sekeliling. Jujur saja, walau ia masih sangat kecewa pada Yahya, panggilan video dari sang suami cukup membuat hatinya merasa berbunga.


"Sudah sudah... Aku menelpon untuk melihat mu, bukan untuk melihat dinding! " Ketus Yahya. Iqlima dengan cepat mengganti mode kamera.


"Kenapa memakai mukena padahal sedang tidak shalat? "


"Sengaja di pakai karena tau bang Yahya menelpon..." Sahut Iqlima datar.


"Buka saja! Memakai kerudung/mukena di kamar akan membuat mu panas... rambut mu bisa ber ketombe! Lebih jauh... rambut mu bisa berkutu!" Titah Yahya berlagak bijak.


"Ketombe? Kutu? " Iqlima mengerutkan keningnya.


"Ya...! Sebagai pimpinan pesantren aku banyak mendengar rumor bahwa santri sering mengeluh kan kepalanya yang gatal karena tersengat kutu... Wabah yang aneh... "


"Nanti saja. Cuma dipakai sebentar kok... Setelah bang Yahya menutup panggilannya, aku akan langsung membukanya! "


"Kenapa begitu?! " Protes Yahya.


"Sebenarnya bang Yahya menghubungiku karena apa? Bukan untuk mendebat masalah mukena yang kupakai kan? "


"Hmh... " Yahya tampak berpikir.


"Apa menelpon karena ingin mendengar permintaan maaf dari mu atas peristiwa di apartemen"


"Aku tidak merasa melakukan kesalahan! "


"Bukankah istri meminta maaf adalah hal yang wajar? Siapa tau ada kesalahan yang tidak kau sengaja... Hmh, sebagai suami yang jauh dari sempurna... aku pun juga minta maaf... Walaupun kesalahanmu lebih besar... "


"Iya... Aku minta maaf... Hmh, terutama sikapku yang di apartemen... Aku sudah sangat keterlaluan... " Lirih Iqlima. Pucuk di cinta ulam pun tiba.


"Baiklah.... Aku akan memaafkan mu, asalkan kau.... " Yahya menjeda kalimat nya.


"Asalkan apa? "


"Asalkan kau mau..... " Ucap Yahya. Kalimat selanjutnya berhasil membuat wajah Iqlima memerah.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2