Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)

Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)
Bab 25: Bukan Pernikahan Impian


__ADS_3

Ampon Din memasuki sebuah hotel berbintang. Langkah kakinya menggema. Diiringi dua orang asisten, ia memasuki ruangan khusus yang telah dibooking jauh-jauh hari.


Seorang pria matang berumur 50 an tahun dan tergolong tampan telah menunggunya. Asap membumbung tinggi mengelilingi pria tersebut. Ia tengah menikmati sisha.


“Tuan Arya, lama tidak bertemu!” Ampon Din mengulurkan tangannya. Sudut bibir Arya naik ke atas. Ia tersenyum misterius.


“Orang kampung dari lubang lumpur sepertimu… kini sudah bisa bergaya! Prok Prok Prok!” Arya menepuk tangan elegan. Ampon Din terenyak. Uluran tangannya terasa membeku.


“Hahaha… Jangan terlalu tegang! Rileks!” Arya bangkit dari duduk. Ia menarik sebuah kursi dan mendudukkan Ampon Din di atasnya. Arya memijat lembut pundak pria paruh baya yang ada di hadapannya. Namun perlahan pijatan tersebut berubah menjadi gerakan keras hingga Ampon Din mengaduh.


“Aku tidak suka basa basi! Mana tanah hutan yang kau janjikan itu? Juga...... apa yang aku titahkan 5 tahun silam sudah kau lakukan?” Bisik Arya. Ampon Din merinding. Tenggorokannya tercekat.


Ayah dari Hilman ini telah menduga bahwa Arya akan menuntut kepemilikan tanah hutan milik leluhurnya. Namun Ampon Din tidak menyangka pertanyaan tersebut akan meluncur secepat ini. Padahal Ampon sudah menyiapkan segepok ganja sebagai hadiah pertemuan pertama mereka setelah bertahun-tahun lamanya.


Ampon Din masih ragu menyerahkan tanah yang dijanjikan sebab seluruh warga desa pasti akan berontak. Entah apa yang akan Arya bangun di atas tanah tersebut nantinya.


Selama ini, bukan rahasia lagi jika seorang keturunan bangsawan sepertinya memiliki banyak tanah pusaka milik leluhur. Namun sayangnya tanah lahan tersebut tidak produktif, hanya beberapa sawah saja yang memberikan hasil. Hal ini tidak seimbang dengan gaya hidupnya yang mentereng.


Pertemuan Ampon Din dan Arya 2004 silam saat tsunami menerjang Aceh mengubah hidupnya. Tidak bisa dipungkiri bahwa Arya-lah yang membuatnya sampai di titik sekarang. Laki-laki tersebut mengucurkan banyak pundi-pundi padanya hingga saat ini ia telah memiliki toko mas, pabrik kilang padi juga toko bahan kain. Tapi tentu saja semua tidak gratis. Laki-laki paruh baya dari tanah Jawa tersebut pastinya memiliki misi terselubung.


“Rileks... Aku membawa Vodka dan wanita untukmu… Untuk pesta nanti malam!” Lanjut Arya menepuk-nepuk pipi Ampon Din. Ayah kandung Hilman tersebut mematung seketika.


***


Yahya dan Iqlima kini berada di kantor urusan agama (KUA) kecamatan Meuraxa, Banda Aceh. Mereka diarahkan ke sini setelah seorang pria yang ternyata adalah tokoh adat (Tuha Peut) bersikeras menikahkan mereka.


Adat bak Poteumeureuhom, Hukom bak Syiah Kuala, Qanun nibak Putroe Phang, Reusam bak Laksamana. Tuha Peut tiba-tiba datang menghampiri mereka sambil mendengungkan Hadih Maja (Filosofi kehidupan masyarakat Aceh) dengan menenteng sebuah buku tebal. Kedatangan beliau membalikkan keadaan menjadi 180 derajat.


Dinikahkan paksa? ini konyol! Iqlima dan Yahya sudah menjelaskan segamblang mungkin bahwa mereka tidak bersalah. Namun tuha peut tetap bersikeras. Sebab menurut hukum adat Desa Blang Oi yang termaktub dalam kitab reusam, pasangan yang belum menikah dan tertangkap basah wajib dinikahkan atau di serahkan ke Dinas Syari’at Islam untuk diadili oleh negara.


Tuha Peut ingin menghubungi orang tua mereka untuk menyelesaikan masalah secara kekeluargaan. Iqlima setuju. Kalau perlu keadilan harus ditegakkan dengan memanggil Dinas Syari’at Islam.


Namun Yahya serta merta mencegahnya. Sebagai orang terpandang dari kalangan Kiayi, berita ini pastilah akan mencoreng nama baik keluarga. Yahya tidak bisa membiarkan hal tersebut terjadi, apalagi jika berita mereka sampai diliput oleh media. Yahya tidak bisa membayangkan bagaimana masalahnya akan berimbas ke keluarga. Ummi-nya pasti sedih dan murka.


“Orang tua Iqlima sudah tiada. Pernikahannya bisa diwakilkan oleh wali hakim. Tidak perlu memanggil keluarga. Aku akan menikahi Iqlima sekarang dengan mahar…..!” Yahya tampak berfikir.


“Dengan mahar jam tangan ini!” Yahya melepaskan jam tangan pemberian rekan bisnisnya. Iqlima terperangah tak percaya. Yahya memutuskan menikahinya secara sepihak.


“Bang… Apa abang tau apa yang abang putuskan?” Bisik Iqlima dengan nada kuat. Gadis ini menggeleng.


“There’s no choice, aku akan membereskan masalah ini setelah kita menikah, okay?” Ucap Yahya menatap dalam netra Iqlima.

__ADS_1


Saya terima nikah dan kawinnya Iqlima Noor Azkiya binti Taufiqurrahman Ya’kub dengan mahar tersebut tuunai.


“Bagaimana saksi?”


“Sah”


“Sah”


“Sah”


Ijab Kabul sudah terucap. Secepat kilat, status mereka kini berubah.


Apa yang kau lakukan Yahya? Batin Yahya mengerang. Ada perasaan menyesal di sana. Yahya memijat pelipisnya yang terasa sakit. Ia seorang pria beristri sekarang.


Iqlima menitikkan airmata. Perasaannya bercampur aduk. Dua kali menikah, namun caranya menikah sama sekali bukan pernikahan yang ia impikan. Kini Iqlima hanya bisa pasrah menerima kemana takdir akan membawanya.


***


Yahya dan Iqlima keluar dari desa Blang Oi setelah semua perkara selesai. Kendati banyak hal yang masih menyisakan tanda tanya, namun mereka memilih untuk menjauh sekelak dari desa yang sudah mengubah hidup mereka dalam hitungan jam. Tidak ada komunikasi yang terjadi di antara keduanya saat ini. Yahya tenggelam dalam pikirannya sendiri. Sampai kemudian,


“Bang, masalah di kamar…” Iqlima mencoba memecah keheningan.


“Kita bahas nanti” Sahut Yahya dingin. Mulut Iqlima kembali mengatup.


“Bang…” Yahya kembali menoleh ke belakang dengan wajah kusut.


“Aku harus ke tempat Nyakwa Nur, beliau sakit keras!” Yahya menggeleng datar.


“Kamu dijebak, Nyakwa Nur baik-baik saja” Iqlima menggigit bibir bawahnya. Ia kembali diam. Iqlima bisa merasakan perubahan mood Yahya yang drastis. Langkah pemuda tersebut bergerak semakin cepat, maghrib akan tiba kurang dari sejam lagi.


Ddddrrrrttt Drrrrtttttt


Yahya merasakan handphone dalam kantong celana-nya bergetar. Hajjah Aisyah memanggil. Yahya memilih mengabaikan panggilan telepon dari ibunya dengan semakin melangkah cepat.


“Iqlima…” Panggil Yahya. Hening. Tidak ada sahutan.


“Iqlimaaa… Kenapa kamu….!” Yahya mengeraskan suaranya. Ia mendengus kesal lalu menoleh. Ternyata Iqlima sudah tidak didekatnya melainkan tertinggal jauh di belakang. Wanita yang baru saja menjadi istrinya tersebut berjalan perlahan dengan tertatih. Yahya berkacak pinggang, lalu terpaksa mundur ke posisi Iqlima.


“Sudah senja, kenapa jalannya lama banget, sih?!” Tanya Yahya kesal. Ia mengambil tas jinjing dari tangan Iqlima lalu berjongkok membelakangi gadis tersebut.


“Naik ke punggungku! Kalau jalannya seperti siput kita ga akan sampai ke tempat tujuan sampai malam nanti!” Ketus Yahya. Iqlima mengabaikannya, netra gadis ini menangkap becak yang kebetulan lewat di dekat mereka.

__ADS_1


“Paakkk, stop pak!” Iqlima melambaikan tangan. Yahya bangkit dari posisinya.


“Bang, kita naik becak ini saja ya!” Ucap Iqlima bertepuk tangan ringan lalu tersenyum sumringah. Ia sangat bersyukur menemukan becak tanpa harus berjalan kaki lagi. Jujur saja kakinya sudah sangat pegal karena seharian ini hanya digunakan untuk berdiri berjam-jam.


***


Yahya berbincang dengan resepsionis untuk memesan kamar. Pemuda ini memutuskan menginap di Hermes Palace Hotel. Ia mengambil kamar tipe suite room demi kenyamanan. Sedang Iqlima menunggu di lobi sambil membaca majalah destinasi wisata. Suara gemeletuk sepatu pantofel yang berlalu lalang sedikit mengganggu pendengarannya.


Seorang pria paruh baya dengan jas rapi dan berkacamata hitam menarik perhatiannya. Pria tersebut berjalan diiringi oleh beberapa bodyguards menuju lift. Iqlima mengedarkan pandangan ke sekeliling, namun seketika matanya membulat sempurna ketika seseorang yang Iqlima kenal dengan baik mendekat ke arah pria berjas tadi. Mereka berbincang.


Aa… Ampon Din? Tubuh Iqlima menegang. Dengan gerakan cepat, Ia mengambil majalah destinasi yang ada di tangan untuk menutupi wajah. Tepat di saat bersamaan, Ampon Din menoleh ke arah Iqlima. Pria tersebut berjalan mendekatinya.


Deg Deg Deg.


Jantung Iqlima berdegup kencang.


Langkah kaki Ampon Din terasa semakin dekat. Pria tersebut berhenti tepat di depan Iqlima.


“Hmhhhh” Ampon Din berdehem kuat.


"Kamu..... " Suara Ampon Din menggelegar.


“Bawa semua majalah destinasi ini ke ruangan!” Titah Ampon Din pada asistennya. Keringat dingin mengucur deras dari kening Iqlima. Pria paruh baya tersebut berlalu setelah memberikan perintah.


Hah Hah Hah.


Nafas Iqlima tersengal. Di saat bersamaan, Yahya yang baru memesan kamar menghampiri nya.


“Kamu kenapa?”


“A… Aku mau ke kamar!”


“Kita makan dulu, setelah itu kita shalat berjama’ah di kamar!” Sahut Yahya. Iqlima langsung menggeleng kuat. Yahya mengerutkan keningnya.


“Bang…..” .


"Kita makan dulu, aku lapar! " Ketus Yahya.


"Bang, kita ke kamar aja ya...!" Iqlima mengulang permintaannya. Mata pun mulai ber-air.


Melihat Iqlima memelas, Yahya menghela nafas lalu mengangguk. Gadis ini mengambil cadar dari dalam tas lalu memakainya. Lagi-lagi Yahya hanya bisa mengerutkan kening.

__ADS_1


Setelah memakai cadar, Iqlima bangkit dari duduknya. Dengan gerakan cepat Iqlima mengalungkan tangannya ke lengan Yahya. Entah darimana Iqlima mendapatkan kekuatan, Gadis ini mampu menyeret Yahya berjalan cepat.


***


__ADS_2