Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)

Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)
Bab 12: Kobaran Api


__ADS_3

Hah Hah Hah


“Kami gagal menemukannya tuan!” Ucap salah seorang anak buah Hilman ngos-ngosan. Tubuh buntalnya membuat ia kesulitan bernafas.


Buuuuggghh


Buuuuughhh


Hilman menendang kaki kedua utusannya.


“P*pma!! GOBL*K!!” Hardik Hilman. Ia berpikir sejenak sambil melihat ke arah hutan yang apinya berkobar-kobar. Mereka telah membumi hanguskan harta benda milik Rais beserta jasadnya.


“Kita harus bagaimana tuan? Apa kita masih harus mencari wanita itu?” Seorang anak buah lainnya ikut bertanya. Takut polisi akan mengendus pergerakan mereka.


“Biarkan untuk malam ini. Terlalu riskan. Aku berharap ia mati dimakan Harimau atau binatang buas lainnya di hutan ini! Masih ada beberapa jam lagi sebelum pagi menjelang. Mengingat suhu gunung seulawah yang sangat dingin ini, Aku juga tidak yakin dia akan bertahan” Ucap Hilman berpidato di hadapan para bawahannya. Setiap kata-kata yang terucap seperti mengandung aliran listrik yang menyetrum roma mereka.


“Bagaimana kalau wanita itu selamat? Ia bisa melaporkan ini semua pada polisi tuan!”


Hilman mengernyitkan kening lalu mengangguk setuju.


“Benar juga! Kalau begitu arahkan mobil ke sana! Kita harus segera menemukannya!” Titah Hilman.


Iqlima, akhirnya kau tau apa hukuman dari menolak seorang Teuku Hilman. Aku sudah berulang kali memberikan mu peringatan. Andai kau mau jadi istri ketigaku, semua ini tidak akan terjadi. Harga diri yang terlalu kau banggakan itu menjerumuskan dirimu sendiri.


Hilman naik ke dalam Jeepnya. Ia mengusap-usap kedua tangan yang sudah terasa sangat dingin. Kabut semakin mengaburkan pandangan. Tapi Hilman dan para bawahan-nya harus segera meringkus Iqlima sebelum pagi datang menjelang.


Di sisi lain, Iqlima sedang bersandar pada sebuah pohon. Ia terengah-engah. Suasana gelap gulita. Handphone-nya tertinggal di dalam mobil. Tidak ada penerangan di sekitar nya kecuali api besar yang berkobar dalam radius kurang dari satu kilometer dengan bau asap hangus yang dengan cepat menyebar memenuhi indra penciumannya.


Rabbi… Apa yang terjadi… Iqlima memegang dadanya yang terasa sesak. Bermain kejar-kejaran dengan orang bertopeng dan berseragam serba hitam cukup memicu adrenalinnya. Ia menatap nanar ke api yang membumbung. Sepertinya kobaran api tersebut bertambah besar. Mata Iqlima mengawas ke kanan dan ke kiri. Waspada.


Tubuhnya masih tetap gemetaran. Namun tubuh yang gemetar itu bukan karena suhu dingin yang kian menggigit. Iqlima sudah tidak memikirkannya.


Apa hutan ini terbakar? Gumam Iqlima sendu. Dimana bang Rais? Bagaimana kalau beliau mencariku? Aku harus kembali! Ucap Iqlima. Ia sudah tidak bisa berpikir jernih. Dengan berjalan terseok gadis ini melangkahkan kakinya setapak demi setapak.


Iqlima yang berada dalam hutan gelap gulita jelas tidak tau dimana badan jalan berada. Ia melangkah mengikuti insting alaminya saja.


“Harusnya wanita itu tidak bisa lari jauh, Tuan! Pasti masih di sekitaran sini!” Mobil yang membawa Hilman dan tim berjalan perlahan. Mereka mengarahkan lampu senter ke sekeliling hutan.


Gggggrrrr Gggggggrrrr.


Deg.


Iqlima yang berjalan tertatih bisa mendengar suara binatang yang mengerang. Jantungnya kembali berdegup. Sepasang mata bundar kecoklatan menyala dalam gelap. Bulu kuduk Iqlima berdiri. Ia terpaku. Perlahan Iqlima berjongkok. Gadis ini tiba-tiba juga bisa melihat lampu senter yang mengarah ke pohon tepat dua jengkal di atas kepalanya.

__ADS_1


“Di sini tidak ada, Tuan!!” Ucap suara laki-laki. Suaranya terdengar tidak asing di telinga Iqlima yang berjarak kurang lebih 50meter itu. Lampu senter melayang-layang di sekitar. Gadis ini dengan cepat melakukan gerakan tengkurap. Jantung Iqlima kembali berpacu. Nyaris saja ia ketahuan jika tidak menunduk.


Tap Tap Sregg Sreegg


“Siapa ituu?!!” Mendengar suara tapak kaki yang menginjak dedaunan menyebabkan teriakan Hilman pecah. Secepat kilat Ia turun dari mobil dan mengintai ke kanan dan ke kiri.


“Iqlimaaaaa.. Keluarlaaah!!!” Teriak Hilman semakin keras. Uap mengepul-ngepul keluar dari mulutnya. Iqlima semakin bergetar. Ia ketakutan. Bajunya basah terkena embun dari dedaunan. Tubuhnya terasa beku. Hilman berjalan semakin dekat. Selangkah demi selangkah tapaknya ia angkat semakin masuk ke dalam hutan. Mata elangnya mengawasi tiap penjuru.


Rabbi… Aku pasrahkan segalanya hanya padamu… Laa haulaa wa laa quwwata illaa billaah. Gumam Iqlima memanjatkan doa dengan memejamkan mata. Bibir yang sudah membiru itu dipaksakan untuk berkomat kamit.


Hilman terus mendekat. Ia melihat sebuah gundukan yang tidak terlalu jelas namun mirip dengan tubuh manusia. Rasa penasaran membawa kakinya terus melangkah. Gundukkan yang dicurigai tubuh manusia itu sedikit bergerak. Hilman mempercepat langkahnya.


Tap Tap Tap


Ngiiiuuuuuuu Ngiiiuuuuu Ngiuuuuuu


Tiiiiiiiiiittttttt Tiiiiiiiiiiittttt Tiiiiiiiittttttt


Pemadam kebakaran dan penyidik dari kepolisian datang bersamaan. Suara sirine yang berasal dari mobil mereka menyita atensi Hilman. Pemuda beringas ini mematung. Berpikir sejenak lalu putar haluan. Ia balik arah. Hilman berlari cepat. Seketika seekor anjing lewat di hadapannya.


“Kita harus pergi secepatnya dari daerah ini!” Ucap Hilman. Ia kembali naik ke dalam Jeep.


“Tapi wanita itu bagaimana, Tuan?!”


Alhamdulillah. Hhhhh. Iqlima bernafas lega. Ia menggerakkan tubuhnya bersusah payah. Iqlima bangkit dan berjalan limbung. Ia berjalan ke arah kobaran api.


Tes....


Setetes air jatuh tepat di puncak hidung Iqlima. Hu.. Hujan. Gumamnya. Gadis ini menyilangkan tangan mengusap-usap kedua bahunya. Menggigil. Ia berharap api yang melahap hutan itu segera padam.


"Bang Rais..." Panggil Iqlima. Sia-sia. Suara yang keluar begitu kecil. Sirine yang menggema keras menciutkan nyalinya. Apa bang Rais masih di sana? Batin Iqlima bertanya. Ia terus saja memaksa untuk menyeret kakinya.


Bruuukkk


Akhirnya Iqlima terjatuh, kakinya tidak sengaja tersandung batu. Ia merasa ada sesuatu yang mengalir. Seperti nya darah. Iqlima mengusap air yang jatuh dari sudut matanya.


Iqlima kuat kok! Iqlima ga apa-apa! Gadis muda ini bersugesti menguatkan dirinya sendiri.


***


"Lapor Komandan! Sebuah mobil terbakar! "


"Apa pemicunya? "

__ADS_1


"Seperti nya mobil tersebut mengalami kecelakaan yang menyebabkan tangki bensin nya bocor! Sementara hanya itu yang bisa saya beritahukan!" Sahut penyidik. Komandan mengangguk-anggukan kepala.


"Lihatlah! Apa yang saya temui ini! " Penyidik mengangkat sebuah benda. Komandan mengerutkan keningnya.


"Handphone? "


"Saya menemukan ini di pinggir jalan! " Penyidik menyodorkan sebuah handphone yang sudah ia letakkan dalam plastik. Masih menyala.


"Kemungkinan handphone ini milik salah seorang penumpang. Mungkin ketika pintu terbuka benda ini ikut terjatuh! Tapi nanti akan kita selidiki lebih jauh! Ini bisa kita jadikan barang bukti!" Ucap penyidik lagi.


"Berapa orang yang tewas dalam kecelakaan ini? "


"Saya harus menyelidiki nya lagi! " Penyidik menggeleng


"Baiklah! Siarkan kabar kecelakaan ini besok pagi ke seluruh penjuru negeri! Undang wartawan untuk meliput beritanya! " Titah komandan.


Di sisi lain, Iqlima masih berusaha untuk bisa berjalan. Ia harus segera bertemu dengan suaminya. Gerimis yang turun ditambah para pemadam kebakaran yang berusaha keras memadamkan api sukses membuat kobaran perlahan padam.


Perlahan namun pasti, Iqlima menemukan jalan beraspal. Luka di lututnya ia beri dedaunan hutan yang sudah diremuk kasar dengan kedua telapak tangan. Ia bisa melihat baju safety oranye para pemadam kebakaran yang menyala di tengah kegelapan. Jarak Iqlima dan mereka hanya 100 meter lagi. Iqlima tersenyum. Semangatnya bertambah. Ia mempercepat langkahnya walaupun masih dengan tertatih. Iqlima harus meminta bantuan.


Tapi kemana bang Rais-nya? Kemana suami-nya itu? Kenapa dari tadi tidak muncul? Apa bang Rais berhasil kabur dan pergi untuk sementara lalu akan menjemput nya kembali? Pertanyaan ini sedari tadi sudah berputar di kepala Iqlima, namun belum ia temukan jawabannya.


Tiba-tiba mobil petugas kebakaran yang ia lihat dan segelintir orang lain yang seperti nya polisi itu kembali menghidupkan sirine. Mereka naik ke dalam mobil.


"Paaak... Kembali pak!!! Paaakkk!!! Tolong kembaliiii!!!" Teriak Iqlima serak. Volume suaranya sungguh tidak bisa menjangkau mereka. Namun Iqlima masih berusaha untuk memanggil.


"Paaakkk... Hiks hiks hiks.. Paaaakkkk!!! " Iqlima melambai-lambaikan tangan. Bibirnya sudah semakin biru keunguan. Mereka yang dipanggil semakin menjauh, tenggelam di balik jalanan menurun yang curam di balik jalan sana. Lutut Iqlima tidak lagi sanggup menopang tubuhnya. Ia terduduk di tengah jalan.


Air yang turun dari langit kian membasahi tubuhnya. air tersebut menetes-netes dari atas kerudung. Iqlima semakin lemas. Kekuatan nya terkuras habis. Ia merebahkan tubuhnya di jalan. Pasrah.


Ciiiiiitttttt


Terdengar suara mobil berhenti. Seseorang menge-rem-kan mobil tepat di belakang Iqlima. Siapa itu? Apa itu bang Rais? Atau Hilman yang kembali? Gumam Iqlima yang sudah tak berdaya walau hanya sekedar mengangkat kepala.


"Iqlimaaaaa!!!! " Seorang wanita memekik kuat.


Itu Maryam.... Gumam Iqlima tanpa suara.


Iqlima bisa merasakan seorang laki-laki mengangkat tubuhnya ala bridal untuk dimasukkan ke dalam mobil. Samar-samar Iqlima memperhatikan wajahnya.


Ternyata Laki-laki yang mengangkat tubuhnya tersebut adalah Yahya.


***

__ADS_1


__ADS_2