Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)

Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)
Bab 21: Pernikahan Yang Telah Di Atur


__ADS_3

Haji Zakaria dan Yahya duduk saling berhadapan. Beliau menatap putranya dengan raut wajah serius. Perkataan Yahya yang mengatakan bahwa ia sudah siap untuk menikah membuat haji Zakaria menyadari bahwa putranya memang-lah sudah dewasa.


“Habibi… yaa Habibi” Terdengar suara Hajjah Aisyah memanggil dari balik dedaunan hokian tea yang merimbun tinggi.


“Aku di sini sayang… Kemarilah” Sahut Haji Zakaria. Istrinya datang menghampiri.


“Yahya? Kamu di sini, Nak?” Yahya dan haji Zakaria saling menatap.


“Iya mi, Yahya punya keperluan dengan Abah. Karena ada Ummi di sini, jadi sekalian bicara sama Ummi juga” Hajjah Aisyah duduk di sebelah suaminya.


“Siapa gadis tersebut, Nak?” Tanya haji Zakaria to the point.


“Ia bernama Iqlima” Sahut Yahya.


Iqlima... Gumam haji Zakaria.


“Kamu benar-benar menyukainya?” Yahya mengangguk walau ia sama sekali tidak yakin.


“Tunggu-tunggu! Ini apa maksudnya bah? Gadis mana yang Yahya sukai?! Apa maksud dari pembicaraan ini?”


“Tenang dulu Mi…” Haji Zakaria mulai memberitahukan niat Yahya yang ingin meminang seorang gadis.


“Apa?! Dari keluarga mana dia? Apa latar belakangnya?!” Sambar Hajjah Aisyah tanpa basa basi.


“Namanya Iqlima, orang Aceh. Ia hanya sebatang kara” Sahut Yahya. Hajjah Aisyah menggeleng cepat.


“Buang jauh-jauh niatmu itu, Yahya! Jangan melakukan hal konyol! Pernikahanmu dengan putri dari keluarga Pranawa telah di atur! Kamu tidak harus bersusah payah memikirkan dengan siapa kamu akan menikah. Calon istri yang telah dipersiapkan untukmu adalah yang terbaik!” Veto Hajjah Aisyah penuh penekanan. Beliau tidak memberikan kesempatan pada sang anak untuk menjelaskan niat baiknya. Yahya hanya bisa tersenyum hambar. Sebenarnya ia sudah tahu bahwa jawaban ini sudah pasti meluncur dari mulut ibunya.


“Bah…” Yahya menatap Abahnya. Hanya Haji Zakaria lah harapan terakhirnya saat ini.


“Nak, Dulu abah dan ummi mu menikah karena dijodohkan, perasaan cinta tumbuh subur dalam pernikahan. Semakin tua, tidak sedikitpun rasa cinta berkurang. Bahkan Allah menambahnya berkali lipat” Haji Zakaria menggenggam erat tangan hajjah Aisyah di depan Yahya.


“Abah yakin, apa yang abah alami saat ini akan terulang kepada mu. Sakinah mawaddah warahma adalah pencapaian tertinggi dari sebuah pernikahan. Tentu dengan ridha dari banyak pihak termasuk orang tua” Jawaban dari haji Zakaria resmi menutup semua pintu harapan.


***


“Dari sekian banyak benda, mengapa kau memilih mencuri kambing?! Main mu kurang jauh! Pengalaman mu masih belum seberapamana! Lebih baik kau mencuri emas dan perhiasan. Hmh tapi mencurinya jangan di toko emas! Emh… di rumah orang. Ya ya di rumah orang saja!” Hilman tampak berfikir.


“Setelah itu, kau jual perhiasan tersebut lalu beli-lah mobil pick up! Ciptakan koloni dan tim yang solid! Nah, baru setelahnya kau bisa tingkatkan kejahatanmu dengan mencuri lebih banyak! Sapi, kambing, sepeda motor dan lain-lain!” Lanjut Hilman berkhotbah. Ia menurunkan ilmu ngawurnya dalam dunia kriminal dengan mimik wajah serius kepada para napi. Mereka mengangguk-anggukkan kepala memandang penuh kekaguman atas setiap gagasan yang Hilman lontarkan.


“Dengar! Dalam dunia kriminal, kita tidak hanya membutuhkan otot tapi juga otak dan ketangkasan! Jangan pernah menyepelekan 2 hal ini!” Tukas Hilman menunjuk ke arah otak nya.


“Hmh... Maaf Master! Tapi kalau Master sudah begitu lihai, mengapa master bisa berada di dalam sel tahanan ini?!” Tanya seseorang yang terlihat lebih cerdas dari yang lain. Hilman spontan berdiri.


“Aku? Hahahaha Aku?” Hilman gelagapan. Mereka menantikan jawaban.

__ADS_1


“Aku sengaja menyerahkan diri karena ingin memantau situasi! Aku akan bebas sebentar lagi.. Lihat saja! Hahaha” Hilman berdalih.


“Mana mungkin kalau sudah masuk ke sini bisa keluar begitu saja!”


“Diam kau! Aku bilang bisa ya bisa! Kalau aku keluar, kau tidak akan ku-ajak! Biar saja kau membusuk di sini!” Hilman mendelik tajam.


“Aa… Ampun Master…”


Seorang petugas datang menghampiri. Tiba-tiba perhatian mereka beralih ke petugas yang tengah membuka gembok sel.


“Untuk yang bernama Hilman, ada tamu yang datang berkunjung!” Hilman keluar dengan kembali menatap tajam ke anggota tahanan yang membangkang. Ia menaikkan ujung dagunya ke atas.


Ampon Din sudah duduk di ruang tunggu. Hilman mendekat lalu duduk di hadapan beliau.


“Bersabarlah sebentar lagi Kau akan segera bebas!” Ampon Din memegang kumisnya.


“Apa Abu sudah mengurus semuanya?” Ampon Din mengangguk.


“Aku ingin abu mengabulkan satu lagi permintaanku!”


“Apa itu?”


“Tolong Abu cari Iqlima! Ia kabur dengan laki-laki bernama Ilyas….” Hilman pun mulai merincikan permintaan nya.


“Abu, Baru setelah itu... Setelah aku keluar dari penjara ini… Aku sendiri yang akan mengurusnya!” Pinta Hilman.


“Hanya untuk yang satu ini! Hanya untuk urusan Iqlima saja.. Untuk seorang wanita sampah murahan yang sudah mengoyak harga diriku! Setelah itu aku pasti akan berhenti!” Ucap Hilman sungguh-sungguh. Ampon Din tampak berpikir.


“Baiklah! Tapi jika kau gagal meng-ekskusi Iqlima dan kembali ke sel tahanan, aku sendiri yang akan membunuhmu dengan kedua tanganku sendiri!” Tutup Ampon Din.


***


Yahya mengirimkan rekaman percakapan yang baru saja terjadi diantara ia dan orang tuanya pada dokter Jelita.


“Iqlima mana?” Todong Yahya melalui saluran telepon.


“Dia sedang menyelesaikan lukisannya” Yahya mengangguk-angguk.


"Apa Iqlima sehat? Apa ia masih sering mengaji atau memainkan ujung kerudung nya? " Tanya Yahya tersenyum mengingat hal kecil yang Iqlima lakukan.


"Baru sebentar, tapi Kau sudah merindukan nya Yahya! " Goda dokter Jelita.


“Hahaha... dokter paling senang menyudutkan ku! " Dalih Yahya.


"Bagaimana? Dokter sudah mendengarkan rekaman yang ku kirimkan bukan? Maaf, sudah kukatakan bahwa pernikahanku telah diatur! Aku tidak akan pernah bisa memilih!” Tukas Yahya melalui saluran telepon menanggapi permintaan dokter Jelita beberapa waktu lalu untuk menikahi Iqlima.

__ADS_1


“Aku memang tidak bisa memaksamu, Yahya! Aku akan meminta pendapat ustadzah Fiqh-ku, mungkin saja ada calon yang bisa beliau ta’arufkan untuk Iqlima!” Lirih Dokter Jelita.


“Tidak bisa begitu! Iqlima akan susah menyesuaikan diri dengan orang baru! Apalagi ia juga baru sembuh dari trauma! Sebaiknya jangan terburu-buru!” Sergah Yahya cepat.


“Lalu harus bagaimana? Aku masih sangat mengkhawatirkan keselamatannya, kesehatannya! Aku tidak bisa membiarkan ia hidup sendiri sedangkan kau tahu bahwa aku tidak lagi bisa membersamainya, Yahya!” Dokter Jelita menaikkan volume suaranya. Yahya terenyak. Ia berpikir keras.


“Hmh,,, Begini saja, Aku akan membawa Iqlima tinggal di Pesantrenku. Di sana ia akan aman apalagi banyak santriwati. Iqlima boleh belajar atau mengajar di sana! Aku… Hmh… sekali-kali aku juga akan mengunjunginya”


“Bagaimana dengan orang tua mu? Apa mereka akan setuju?”


“Tenang saja, Pesantren Bustanul Jannah itu berada di bawah wewenangku! Lagipula Ummi dan Abah sudah terlalu banyak kerjaan untuk sekedar mengurusi santriwati baru!” Sahut Yahya diplomatis.


“Baiklah… Aku akan sangat menghargai kebaikanmu, Tuan Syaikh!”


“Haha dokter spesialis terlalu sungkan., kau jauh lebih memperhatikannya daripada aku!”


“Benarkah? Ku pikir baru kau saja malaikat yang kutemui di dunia nyata ini!”


“Aku memang pemuda yang penuh pesona. Kau tidak perlu meragukan hal ini!”


“Hahaha… percaya dirimu memang tinggi! Tapi sayang, untuk menentukan pilihan terhadap seorang gadis saja kau tidak mampu berdiplomasi dengan baik! Kau kalah sebelum berperang, tuan muda!” Sahut dokter Jelita menohok.


“Haha… Baiklah baiklah… Jangan marah, mau bagaimana lagi... Ummi adalah cinta pertama-ku! Aku memang mudah menyerah pada cinta pertama walau perang belum dimulai sekalipun!” Aku Yahya. Dokter Jelita kehabisan kata-kata.


“Baiklah, kalau begitu aku akan menyuruh asistenku menjemput Iqlima. Hmh, tidak tidak.. biar aku sendiri saja yang menjemputnya!” Lanjut Yahya.


Yahya, kau terlalu gengsi untuk mengakui perasaanmu. Bukan hanya itu, kau juga sangat egois. Kau pikir kau bisa mengelabui seorang Psikiater sepertiku? Kau salah besar!


Driiiitttt


Pintu kamar terbuka.


"Dokter Jelita... Dokter bicara pada siapa? Apa ada tamu? " Iqlima muncul dari kamar dengan cat yang belepotan di tangannya.


"Ini... Yahya yang menelpon, kau di suruh untuk berkemas. Besok Yahya akan menjemput dan membawa mu untuk tinggal di pesantren miliknya! " Dokter Jelita mengaktifkan tombol Loudspeaker agar Yahya juga bisa ikut mendengar.


Iqlima tercenung. Yahya dengan sumringah menunggu jawaban gadis tersebut. Ia sudah tidak sabar untuk menjemput nya. Yahya pun bersiap mengambil tiket pesawat secara online.


"Iqlima...." Panggil dokter Jelita.


"Iqlima.... "


"Hmh... Tolong dokter katakan pada bang Yahya, Terima kasih untuk niat baiknya. Tapi ma'af, Iqlima akan tetap di sini. Iqlima tidak akan pergi kemana-mana!"


"Iqlima sudah tidak ingin lagi merepotkan bang Yahya. Iqlima sudah pulih dan sudah bisa bekerja! Iqlima tidak bisa terus menerus bergantung dengan orang lain apalagi dengan seorang laki-laki!" Ucap Iqlima Tegas. Pernyataan gadis tersebut membuat Yahya terenyak tapi malah tersenyum. Tangan yang sudah siap memesan tiket ke Medan, bukannya dibatalkan. Yahya malah menekan tombol okay. Pemuda ini memutuskan untuk mengunjungi Iqlima besok walau gadis tersebut menolak ikut dengannya ke Jakarta.

__ADS_1


***


__ADS_2