Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)

Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)
Bab 27: Hati Yang Memanjatkan Do'a


__ADS_3

Iqlima keluar dari kamar mandi dan mendapati Yahya sudah tertidur pulas. Gadis ini melangkah ke arah jendela. Menepi di sana. Gemerlap lampu Kota Banda Aceh masih terlihat. Iqlima merenungi perjalanan hidupnya dari awal hingga kini ia telah menjadi seorang istri. Kesedihan yang tiada berkesudahan.


19 tahun sudah ia hidup dalam perundungan, pengucilan, ancaman, terror, hampir dilecehkan hingga percobaan pembunuhan. Apalagi setelah kedua orang tuanya meninggal, cobaan tersebut terasa semakin menjadi-jadi. Iqlima sudah merasakan begitu banyak kehilangan. Keluarga besar yang menjauhinya, orang tua, suami yang dibunuh sadis hingga sang kakek yang pergi mendadak karena serangan jantung beberapa bulan lalu. Ia benar-benar sebatang kara.


Iqlima menyapu airmatanya menangis tertahan. Ia beralih menatap Yahya yang tidur terlentang dengan selimut menutupi tubuhnya sebatas dada. Iqlima mulai melangkah mendekati pria yang kini telah menjadi suaminya. Melihat Yahya dari jarak yang terbilang dekat. Entah mendapat keberanian dari mana, Iqlima memberanikan diri menyentuh alis tebal Yahya yang ujungnya sedikit menyatu itu.


Jemarinya perlahan menyusur di sana. Ini pertama kalinya ia menatap Yahya dengan intens.


Ya Allah, Walau Iqlima dan bang Yahya menyatu bukan dengan cara yang istimewa, tapi Iqlima tetap mensyukurinya. Boleh kah kalau Iqlima pinta bang Yahya untuk jangan pernah pergi dari kehidupan Iqlima? Iqlima mengusap air matanya.


Iqlima sudah terlalu banyak merasakan kehilangan. Iqlima tidak ingin merasakannya lagi. Terlalu sakit. Terlalu perih terasa hingga Iqlima takut untuk bertemu dengan orang baru. Iqlima takut orang tersebut akan kembali menghilang.


Wahai Allah… Kalaupun di antara kami ada yang harus pergi, Iqlima mohon… Jangan bang Yahya, biarkan Iqlima saja pergi lebih dulu.


Ya Allah, jika bukan kepada-Mu… Ke Tuhan mana lagi Iqlima bisa memohon dan meminta? Sedang Engkau-lah Tuhan satu-satunya yang menguasai kami. Engkau-lah pemilik jiwa kami.


Hati Iqlima terus memanjatkan doa. Gadis ini menyadari bahwa banyak resah yang harus di ubah tabah. Dan Allah tidak akan pernah tidak meng-ijabah Do'a-do'a.


Sreeeeggg


“Allaah” Pekik Iqlima terkejut. Yahya tiba-tiba menangkap tangan Iqlima yang berselancar di alisnya. Mata Yahya masih terpejam rapat.


“A… Aku…. A… Ak…” Tertangkap basah. Iqlima gelagapan. Suaranya terdengar sengau.


“Tidurlah… Kita butuh stamina yang banyak untuk perjalanan besok!” Titah Yahya melepaskan tangan Iqlima namun ia tetap enggan membuka matanya.


“I…Iya!” Iqlima dengan cepat masuk ke dalam selimut yang ada di sebelah Yahya. Ia menutup seluruh tubuhnya tanpa sisa. Gadis ini berjanji besok ia tidak akan melihat Yahya sedikitpun. Iqlima benar-benar mengutuk dirinya yang telah melakukan hal bodoh lagi memalukan.


***

__ADS_1


“Din… Bagaimana perasaanmu hari ini setelah gagal menangkap buruan?” Arya menghidupkan cerutunya dengan masih tersenyum misterius. Mereka duduk dalam gelap. Hanya ada lampu kerlap kerlip kecil yang sengaja dihidupkan.


“Da… Dari mana kau mengetahuinya?”


“Ck. Bahkan kapan terakhir kali kau membuang kot*ran ke jamb*n pun aku tau!” Sahut Arya gamblang. Ampon Din terperangah.


“Din, ketika beras gagal menjadi nasi, maka buatlah ia menjadi bubur yang enak!” Ampon Din menunduk. Semakin lama Arya terasa semakin menjajah hingga masuk ke ranah privasinya.


“Aku punya hiburan untukmu! Hiburan agar pikiranmu fresh hingga kau bisa lebih cerdas dalam menangkap buruan!”


Puk Puk.


Arya menepuk tangannya. Seorang wanita dengan pakaian minim masuk ke dalam ruangan. Lampu sorot menyoroti dengan jelas tubuh wanita tersebut. Ia memakai pakaian khas ala Cleo Patra dari Timur Tengah dengan wajah tertutup cadar. Ruangan yang gelap menyebabkan wanita ini tidak bisa melihat dengan jelas siapa tamu yang ia layani.


Dentuman suara musik terdengar. Wanita penari mulai meliuk-liukkan tubuh bongsornya. Ia sama sekali tidak terlihat menarik. Hanya gerakan liar lagi sensual yang membuat wanita tersebut tampak diminati. Entah apa yang ada di pikiran Arya, Namun Ampon Din mencoba menyatu dengan pertunjukkan yang disuguhkan.


“Bagaimana? Apa kau menikmatinya, Din?” Arya menyodorkan gelasnya mengajak bersulang minuman berisi Vodka.


“Apa kau meragukan kehebatanku, Din? Hampir dua dekade aku memungutmu! Apa kau melupakan itu?” Sahut Arya lagi-lagi menohok.


Seettt


Alunan musik dalam ruangan kedap suara berhenti. Terkejut dengan suasana, penari berkulit sawo matang melihat ke kanan dan ke kiri. Ia juga mendongakkan kepalanya ke atas. Tiba-tiba cadar yang ia kenakan terlepas. Sebuah benda yang entah itu apa menarik penutup wajahnya.


“Me… Melati?!” Ampon Din sontak berdiri. Penari panggilan tersebut ternyata sosok yang sudah sangat ia kenal. Lampu sorot juga menyoroti keberadaan Ampon Din. Melati terkesiap.


Abu di sini? Gumamnya. Melati mencoba menutupi pakaian yang sebenarnya memang gagal ia tutup. Ternyata pria yang dari tadi menyaksikannya adalah Mertuanya sendiri. Ayah dari Hilman, suaminya. Melati sontak berlari memaksa penjaga membukakan pintu. Pintu tersebut terbuka setelah Arya menganggukkan kepala.


“Din, Kau memang pecundang bodoh! Memilih menantu saja tidak becus apalagi mau melumpuhkan musuh!” Arya menepuk-nepuk pundak Ampon Din.

__ADS_1


“Kau harus berhati-hati dalam memilih tangga menuju puncak, Din!” Lanjut Arya berbisik. Wajah Ampon Din merah padam. Benar-benar hari yang buruk untuknya. Selain gagal merealisasikan hukuman bagi Iqlima, ia mendapati kenyataan bahwa menantu yang ia banggakan selama ini tidak lebih dari sekedar sampah. Belum lagi Ampon Din menjadi bulan-bulanan Arya. Pria berengsek di hadapannya membuat Ampon Din merasa tertekan. Sekarang PR-nya bertambah. Apa lagi-lagi ia harus meminta bantuan Arya untuk mewujudkan ambisinya?!


Awas kalian semua! Ampon Din mengepalkan tangannya. Kesal.


***


Dia menangis, apa dia menyesal dengan pernikahan yang terjadi hari ini? Yahya yang sama sekali tidak tidur menyadari bahwa Iqlima sedari tadi menahan tangisnya. Yahya meraba alis yang sempat Iqlima sentuh. Pemuda ini harus menahan gejolak tubuh yang entah mengapa sangat sulit untuk ia kendalikan.


Apa dia tidak risih tidur memakai gamis? Dasar aneh! Gumam hati Yahya. Ia yang tidak bisa tidur mengalihkan gejolak yang membuncah dalam tubuhnya dengan diam-diam berselancar di dunia maya.


Tips meluluhkan hati ibu. Ketik Yahya iseng pada kolom pencarian. Sebentar kemudian ia menghapusnya. Tips meminta restu orang tua. Yahya membacanya dengan khusyu’ namun jawaban yang ia inginkan tidak tertera di sana. Keluarga nya pasti akan sulit menerima Iqlima. Pikirnya.


Sreeett


Iqlima tiba-tiba berbalik arah. Yahya menoleh. Selimut gadis tersebut terbuka. Kerudungnya tertarik ke atas, Iqlima tidak mengancing penuh gamisnya di bagian atas. Suasana hening bagai mencekam seketika. Yahya mematung. Handphone yang dipegangnya hampir terlepas dari tangan.


Rabbi… Cobaan apalagi ini?


Berada dalam satu kamar apalagi satu kasur dengan seorang gadis benar-benar membuat Yahya kewalahan. Padahal sebelumnya ia tidak terlalu mengerti dunia perempuan dan jarang terlibat dengan mereka kecuali ibunya.


Tapi kenapa tubuhnya terlalu hiperbola dalam merespon keadaan? Pikir Yahya jengah. Perlahan kerudung Iqlima yang tertarik ke atas ia turunkan. Yahya mengambil bantalnya dan memilih merebahkan diri di atas sofa setelah sebelumnya melakukan senam ringan untuk melancarkan aliran darahnya.


Iqlima… Huft! Aku tidak yakin bisa mengendalikan diriku jika terus-menerus berada di dekatnya! Gumam Yahya. Hampir saja ia memejamkan matanya, namun sebuah pesan tiba-tiba masuk ke handphone nya.


Assalamu’alaikum mas Yahya…


Ini Layla anak papa Arya, masih ingat ga? Ini Layla calon istri mas Yahya. Oh iya, ini nomor handphone Layla, jangan lupa di simpan. Okay? Good Night Mas Yahya 🤗.


Yahya mengerutkan keningnya. Layla? Yahya tersenyum menggelengkan kepalanya. Ia memilih menutup handphone dan mengabaikan pesan tersebut lalu masuk ke alam mimpi.

__ADS_1


***


__ADS_2