
“Dokter Jelita!” Iqlima melambaikan tangan sumringah. Ia merasa selamat dari Ilyas dengan kehadiran dokter tersebut.
“Ilyas? Kamu di sini?” Sapa dokter Jelita mencoba ramah. Ilyas memberikan senyumnya.
“Saya mau minta izin untuk membawa Iqlima makan siang!” Dokter Jelita menoleh ke arah Iqlima yang melototkan matanya.
“Boleh saja! Asal jangan lupa bawa pulang upeti!” Sahut dokter Jelita santai. Beliau langsung masuk ke dalam setelah memberikan senyum nyengir tak bersalahnya pada Iqlima.
“Aku tunggu kau berkemas!” Ilyas langsung duduk di teras. Iqlima masuk ke dalam sembari memijat pelipisnya.
“Dok, kenapa dokter mengizinkannya?” Protes Iqlima.
“Selesaikan masalahmu dengan Ilyas! Katakan kalau kau sudah menikah! Dia pasti tidak akan ke sini lagi!” Dokter Jelita mengambil handuk menge-lap wajahnya yang baru saja di basuh dengan air.
Hhhhh. Iqlima menghela nafas.
Bang, aku mau minta izin keluar rumah sebentar. Boleh ya? Ketik Iqlima mengirim pesan pada Yahya.
Sama siapa? Untuk apa? Ajaib. Tidak seperti biasanya, kali ini Yahya langsung membalas pesan Iqlima dalam detik.
Makan siang bersama ustadz Ilyas. Nanti aku juga akan mengajak dokter Jelita.
Drrrttt Dddrrrttt
Yahya langsung menelpon Iqlima.
“Iya bang?”
“Aku sudah di Bandara Soekarno Hatta. Kurang lebih 3 atau 4 jam lagi aku sampai di rumahmu! Jangan kemana-mana! Haram seorang istri keluar rumah tanpa seizin suaminya! Haram hukumnya berdua-duaan dengan lawan jenis! Mengerti?” Ucap Yahya panjang lebar.
“I… Iya, tapi ga berduaan. Nanti aku akan mengajak serta dokter….!”
Tuut Tuut Tuuut
Iqlima melihat ke layar mengerutkan keningnya. Yahya langsung memutuskan sambungan telepon sepihak.
Baru juga beberapa hari jadi istri sudah mau keluyuran. Huh! Perempuan jaman sekarang susah di atur! Gerutu Yahya berjalan cepat masuk ke dalam pesawat.
***
Hajjah Aisyah duduk menyudut di dekat jendela. Pengakuan Yahya tentang pernikahannya benar-benar membuat beliau kecewa.
“Mi, makan yuk!” Ajak Haji Zakaria memijat lembut pundak sang istri.
“Bah, Ummi ga ridho. Ummi ga rela anak kita diperalat, Bah!” Hajjah Aisyah berbalik arah menatap sendu sang suami.
“Yahya harus menceraikannya! Harus! Ummi malu sama keluarga Pranawa, bagaimana jika mereka mengetahui bahwa diam-diam Yahya telah menikah? Rabbi, dimana Ummi akan meletakkan wajah Ummi, Bah? ” Lanjut Hajjah Aisyah dengan mimik hiperbola. Beliau frustasi. Hajjah Aisyah benar-benar panik.
__ADS_1
“Ummi sayang, tenanglah! Abah yang akan menyampaikan pembatalkan perjodohan antara Yahya dan Layla. Ummi jangan panik! Semua akan baik-baik saja, hm?” Haji Zakaria mengecup puncak kepala Hajjah Aisyah penuh kasih sayang.
“Oh No! Big no, Bah! Big no!! Itu bukan solusi!” Cerca hajjah Aisyah.
Tok Tok Tok
Terdengar suara ketukan pintu. Haji Zakaria berinisiatif membukanya.
“Ada apa nak Sri?”
“Maaf menganggu Abah Haji, di luar ada tamu yang ingin menemui Ummi Hajjah!”
“Siapa tamu tersebut?” Tanya Haji Zakaria. Hajjah Aisyah yang bisa mendengar perkataan Sri mengerutkan keningnya.
“Beliau mengaku sebagai Layla anak pak Arya!” Jawaban Sri sontak membuat Hajjah Aisyah terbangun dari duduknya.
“Sri, bawa Layla ke taman Humaira! Aku akan menemuinya di sana! Suruh asisten dapur untuk membawa banyak cemilan yang enak!” Titah Hajjah Aisyah. Taman Humaira adalah taman mini yang ada pada lingkungan di kediaman beliau.
“Baik Ummi Hajjah!”
“Mi, apa ini tidak berlebihan?” Tanya Haji Zakaria.
“Berlebihan bagaimana, Bah? Kita harus mengambil hati Layla. Siapa tau kelak Layla masih mau menerima Yahya walau Yahya sudah menjadi seorang duda!” Tukas Hajjah Aisyah mulai memoles make-upnya.
“Astaghfirullah Mi… Istighfar! Kenapa jadi berdoa yang buruk-buruk begini sih? Berdoa untuk anak itu harus yang baik-baik!” Sanggah Haji Zakaria.
***
“Masya Allah calon mantu Ummi.. Main ke sini sama siapa nak?” Hajjah Aisyah memeluk Layla mengecup keningnya dengan hangat.
“Sendirian saja. Ummi apa kabar? Ini untuk Ummi dari Mama! Fresh dari kebun yang ada di Malang” Layla menyodorkan sekeranjang buah-buahan segar mencari simpati. Ia mengalungkan ujung selendang tipisnya yang jatuh menjuntai kembali ke leher.
“Wah, Terima kasih. Salam untuk mama mu!”
Keluarga yang benar-benar hangat dan tau sopan santun. Batin Hajjah Aisyah terharu.
“Ummi, maaf kalau Layla lancang. Sebenarnya Layla ke sini untuk menanyakan perihal mas Yahya!” Layla menunduk sedih.
Deg.
Hati Hajjah Aisyah cenat cenut tak karuan.
“Kenapa Mas Yahya itu cuek sama Layla ya, Mi? Apa Layla ini kurang cantik?”
“Kamu pernah jumpa dengan Yahya, Nak?” Hajjah Aisyah terperangah. Beliau merasa tidak enak hati.
“Pernah beberapa kali. Tapi mas Yahya malah menertawakan Layla! Padahal banyak laki-laki yang menaruh hati pada Layla, tapi Layla meninggalkan mereka semua. Layla demi mas Yahya tapi mas Yahya nya demikian” Gadis yang baru genap 16 tahun ini mengusap airmatanya.
__ADS_1
Hhhh. Yahya benar-benar telah di racun oleh wanita itu!! Tidak ada solusi untuk masalah ini. Mereka memang harus bercerai! Hajjah Aisyah membatin.
"Mi, apa mas Yahya sudah punya pacar? "
“Huk Huk Huk...." Hajjah Aisyah terbatuk.
"Nak, kamu tenang saja ya... Yahya itu memang tidak terbiasa menghadapi wanita. Ia sejak kecil sudah dikirim abah ke pondok pesantren. Jadi wajar dia bersikap demikian. Kamu bersabar ya nak! Lambat laun Yahya pasti bersikap baik padamu! Nanti Ummi juga akan menasehati nya"
"Tapi Mi..... Mas Yahya itu...."
"Mas Yahya memang sudah menikah kan, Mi? " Lanjut Layla langsung menodong. Tepat sasaran. Pertanyaan yang gadis itu lontarkan secara gamblang membuat jantung Hajjah Aisyah serasa ingin keluar dari tempatnya.
***
Hujan turun dengan deras. Ilyas masih berada di teras. Berjam-jam sudah berlalu namun pria tersebut enggan beranjak.
Hidung Ilyas mencium bau harum masakan dari dalam. Hatinya terasa bahagia. Perutnya yang belum di isi makanan memang lagi meronta-ronta. Itu berarti, Iqlima memang akan menjamunya dengan makanan.
"Ilyas, masih di sini? Ga jadi makan di luar? " Dokter Jelita yang baru selesai berkutat dengan laptopnya menghampiri Ilyas.
"Aku dari tadi menunggu tapi Iqlima.... "
"Iqlima baru selesai masak. Mungkin sekarang lagi bersih-bersih di dalam" Ilyas mengangguk.
Sebuah mobil putih yang tiba-tiba berhenti di hadapan mereka membuat kening Ilyas mengkerut.
Yahya?
"Ada keperluan apa kau ke sini?! " Ilyas dengan cepat menghadang Yahya. Ia menaikkan dagunya ke atas.
"Dimana Iqlima? " Tanya Yahya. Air menetes-netes dari rambut basahnya yang terkena hujan.
"Cih! Ternyata kau masih saja mengincarnya! Iqlima itu calon istriku! Stop menganggu nya"
Hmh... Perang Dunia ketiga kan... perang Dunia ya Perang Dunia dah kalian berdua! Dokter Jelita langsung masuk ke dalam mengambil langkah seribu.
"Iqlima, cepat temui Yahya d luar!"
"Bang Yahya sudah datang?" Dokter Jelita mengangguk. Iqlima sumringah.
Memang hebat gadis masa kini. Sekali mengeluarkan pesona, 2 3 pria bertekuk lutut. Aku saja di usia segini? Jangankan satu utuh. Bayangan pria yang mendekat saja tidak ada. Pppmmfff pppmmfff. Dokter Jelita menahan tawa geli.
Iqlima yang memang sudah mandi langsung masuk ke dalam kamar memoles bibirnya dengan lipstick berwarna cerah. Lipstick yang dihadiahkan oleh dokter Jelita. Gadis ini juga sudah selesai memasak makanan spesial untuk menyambut kedatangan suaminya.
Kau ingat ajaranku, kan? Jangan sampai lengah! Berikan umpan pancingan! Wejangan dokter Jelita terngiang-ngiang di telinganya. Wajah Iqlima bersemu. Namun ia tetap menguasai diri. Iqlima langsung membuka pintu utama.
"Baang... " Panggil Iqlima bersemangat tanpa melihat terlebih dahulu. Namun alangkah terkejutnya ia ketika melihat Ilyas masih berada di teras rumahnya. Padahal tadi Iqlima sudah berulang kali menyuruhnya untuk pulang.
__ADS_1
Mendengar panggilan suara yang tidak asing di telinga, baik Yahya maupun Ilyas sontak menoleh secara bersamaan.
***