Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)

Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)
Bab 60: Bernilai Mahal


__ADS_3

Hajjah Aisyah dan Hajjah Wirda duduk saling berhadapan pada sebuah café yang tidak jauh dari Rumah Sakit Bhayangkara. Mereka mengadakan rapat setelah berembug serta menarik kesimpulan yang sama bahwa Iqlima merupakan sebuah ancaman besar bagi putra-putra mereka.


“Gadis itu bagaikan api di dalam sekam, diam-diam membakar lalu setelahnya menyebabkan kerusakan besar!” Tukas hajjah Wirda membuka percakapan. Hajjah Aisyah mengangguk-angguk setuju.


“Dia membius Yahya dan Ilyas dengan sengat mematikan! Dia benar-benar jal*ng licik yang tidak tau diri! Setelah konferensi pers dan kabar pernikahan mereka menyebar, dia pasti akan bertambah besar kepala! Arrrgh aku bisa gila memikirkan ini semua!” Hajjah Aisyah memegang kepalanya yang terasa sakit.


“Tenang dik, ini semua belum berakhir. Kau masih punya Layla! Dia gadis baik hati yang memiliki cinta tulus dan murni pada Yahya. Walaupun Layla berasal dari keluarga terpandang dengan asset kekayaan milyaran dollar Amerika, namun tidak menjadikannya jumawa. Ia tetap mau menerima Yahya walau sudah menikahi Iqlima. Kau sangat beruntung! Kesehatan mentalmu harus kuat menghadapi manusia licik dan licin seperti Iqlima!” Hajjah Wirda menggenggam tangan Hajjah Aisyah menenangkan.


“Kakak benar. Terima kasih kak Wirda sudah menjadi penyemangat untukku! Layla akan menjadi obat bagi keluarga Zakaria. Aku akan mengeluarkan racun dan memasukkan obat penawar tersebut ke dalam tubuh Yahya! Aku akan menjadi dokter untuk putraku sendiri!” Hajjah Wirda mengangguk-angguk.


Huh. Untung saja si Aisyah adalah penyumbang rutin dan pemberi dana terbesar pada yayasan suamiku yang dulunya sudah berada di ambang kebangkrutan. Kalau tidak, mana mungkin aku memaafkan perbuatan si Yahya pada Ilyas. Brengs*k!!


Hmh, tapi tenang! Setelah Ilyas resmi menjadi suami dari Rumi, aku tidak lagi memerlukannya! Rumi akan menjadi tambang emas untuk keluarga-ku! Kejayaan keluarga Utsman akan kembali dan tentu akan mengalahkan wibawa keluarga Zakaria dan keluarga-keluarga lainnya. Tentu saja! Hajjah Wirda menyunggingkan senyumnya.


Drrrttt Drrttt


Hajjah Wirda tersentak. Sebuah panggilan yang memenuhi layar handphone membuyarkan lamunan-nya.


“Ru… Rumi masuk rumah sakit?!"


“A... Apa?? Percobaan bunuh diri?!” Hajjah Wirda terkejut bukan kepalang mendengar kabar yang disampaikan oleh sang asisten.


“Baik! Aku akan ke rumah sakit sekarang juga!” Hajjah Wirda menutup panggilan.


Ya Rabb... Jangan sampai Rumi mati! Dia tambang emas-ku!


“Kak, jangan-jangan Rumi frustasi karena mengetahui Ilyas lebih memilih Iqlima daripada memikirkan pertunangan mereka!” Ucap Hajjah Aisyah cemas.


“Sudah pasti! Gadis pembawa siial itu merusak seluruh tatanan kehidupan! Aku harus membuat Rumi sadar bahwa ia sangat berharga!” Hajjah Aisyah mengangguk. Percakapan mereka berakhir. Hajjah Wirda melangkah menuju ke parkiran.


***


Braaakkk


Iqlima terjatuh dari atas tempat tidur dengan selimut yang melilit tubuhnya.


Awwww. Pinggangku. Iqlima mengaduh tak bersuara.


“Kau kenapa?” Tanya Yahya heran. Pemuda yang baru saja masuk ke dalam kamar tersebut tersenyum geli melihat tingkah polah Iqlima. Tidak bisa dipungkiri, hatinya berdesir melihat sang istri sudah melepaskan kerudungnya.


“Bang Yahya kok bisa ma… masuk? Kan pintunya terkunci!” Lirih Iqlima masih dalam keadaan terbungkus selimut. Ia tak ubahnya seperti seekor ulat yang belum bermetamorfosa menjadi kupu-kupu.


“Aku punya password kamar ini! Lagian kau kenapa? Kenapa membungkus diri dan tidur di bawah seperti itu? Kau mau cosplay jadi kepompong atau mau bermain sirkus, hah?!” Tanya Yahya perlahan berjalan mendekat. Iqlima menggeleng kuat.


“Lalu kenapa? Apa kau sakit?”

__ADS_1


“Jangan… Jangan mendekat! Stop! Bang Yahya sebaiknya jangan mendekat! Tetaplah di sana!” Pinta Iqlima. Rasa panik tiba-tiba datang menyergapnya.


“Dasar bodoh! Kalau aku tidak membantu, bagaimana caramu melepaskan diri?!” Yahya semakin mendekat.


Oh Rabbi… Kalau ketahuan, aku akan mempermalukan diriku sendiri! Dokter Jelitaaaa… Pekik hati Iqlima.


“A.. Aku bisa melepaskannya sendiri!”


“Benarkah? Coba saja! Aku mau melihat kehebatanmu!” Tantang Yahya mensedekapkan tangannya. Ia memilih untuk duduk di atas kasur sambil menunggu pergerakan Iqlima.


“Kenapa diam?! Terlalu lama dan membuang-buang waktu! Kita kan mau makan! Kau memang tidak bisa melepaskannya!” Tak sabar, Yahya maju mengangkat Iqlima dan langsung melepaskan lilitan. Pemuda tersebut meletakkan Iqlima ke atas tempat tidur.


“Dasar keras kepa…” Belum sempat Yahya menyelesaikan kalimatnya, seketika ia terpaku melihat tampilan Iqlima.


"Ka... Kau..." Tenggorokan Yahya mendadak tercekat. Dandanan Iqlima yang memperlihatkan lekuk tubuhnya dengan jelas membuat Yahya kesulitan menelan saliva-nya. Ia mendamba.


Seketika suasana kejadian sakral beberapa waktu lalu seperti hadir kembali. Yahya ingin merasakan keindahan yang sudah pernah ia rasakan walau entah mengapa, rasa canggung masih tetap bercokol kuat pada masing-masing mereka.


Wajah Iqlima sudah menyerupai kepiting rebus. Wanita tersebut berusaha menjangkau selimut yang tergeletak asal di lantai namun ia kalah cepat. Yahya lebih dulu menjangkaunya. Iqlima bersungut. Ia memeluk kedua lututnya dengan menunduk malu. Rambut panjang Iqlima yang tergerai jatuh menjuntai menutupi wajahnya.


“Hmm” Yahya berdehem menutupi rasa gugupnya.


“Hey, lihat aku!” Titah Yahya tanpa berkedip. Matanya tidak bisa untuk tidak memperhatikan tampilan Iqlima yang membuat nafasnya berhembus berat. Tanpa membantah, perlahan Iqlima mengangkat wajahnya. Ia menatap ke sembarang arah.


“Kau....." Yahya mendekatkan wajah dengan memicingkan mata.


“Sembarangan! Mana mungkin!” Protes Iqlima. Kali ini netra mereka bertemu untuk beberapa saat. Kikuk, Yahya mengusap tengkuknya.


“Lalu kalau tidak berniat keluar kamar, untuk apa juga kau berdandan seperti ini?!” Tanya Yahya lagi. Iqlima diam seribu bahasa.


“Kenapa diam? Untuk siapa? Ayo jawaab!” Desak Yahya mendekat. Jarak mereka tinggal sehasta. Iqlima menggigit bibir bawahnya.


Iqlima… Apa yang kau lakukan? Kalau begini aku tidak tau apa aku benar-benar bisa menahan diri! Gerakan yang Iqlima lakukan membuat Yahya menggila. Ia semakin menipiskan jarak mereka. Kini Iqlima bisa merasakan hembusan nafas Yahya yang menderu di pipinya. Hampir saja pemuda tersebut meletakkan tangannya pada pundak Iqlima. Namun tiba-tiba,


Aku tidak boleh egois! Aku tidak boleh mengedepankan hawa nafsuku seperti ini! Aku tidak menghargainya sebagai wanita. Aku hanya akan menyakiti dan membuatnya terluka. Yahya seperti tersadarkan. Pemuda tersebut beringsut mundur.


Yahya membawa selimut yang masih di tangannya lalu kembali membungkus tubuh Iqlima. Dadanya bergemuruh hebat. Nafasnya tidak teratur. Yahya tersengal. Dengan wajah kusut ia melangkah pergi meninggalkan Iqlima yang mematung seorang diri. Tak terasa air mata Iqlima menetes.


A... Aku sama sekali tidak menarik... Iqlima mengusap air mata nya lalu memaksakan diri untuk tersenyum. Keberangkatan mereka ke Korea tertunda lebih dari sebulan. Jadi terhitung sudah lebih dari 5 minggu sejak hari penyatuan mereka, Yahya tak pernah lagi menyentuhnya.


Apa gadis cantik itu yang lebih bang Yahya inginkan? Pantas saja mereka terlihat sangat akrab. Iqlima dilema. Ia meremas selimut yang membungkus tubuhnya. Kepergian Yahya membuat hatinya mencelos. Harga dirinya terluka.


Di tempat berbeda, Yahya berjalan menuju Sasana Tinju terdekat. Ia tidak mempedulikan pakaian casual yang dikenakan. Kepalanya terasa sakit. Matanya berkunang-kunang. Sudah beberapa minggu terakhir ia terus melakukan olahraga ekstrim. Yahya benar-benar menghukum dirinya.


Buuugggg

__ADS_1


Buuugggg


Buuggggg


Yahya memukul samsak tinju sekuat tenaga seperti orang kerasukan. Yahya kecewa pada dirinya sendiri. Kecewa pada nafsunya yang membara. Kecewa karena belum bisa mengidentifikasikan perasaannya sendiri. Bayang-bayang kekecewaan masa lalu masih terus saja menghantuinya.


"Maaf Gus, kenakanlah sarung tangan. Buku-buku jari Gus Yahya sudah memerah dan hampir pecah" Saran Rusdi berhati-hati.


Buuggggg


Buuggggg


Buuggggg


Yahya tidak menggubris perkataan Rusdi. Ia terus melayangkan tinjunya. Darah segar mulai mengucur.


Namun pada akhir nya aku memang harus menyentuhnya karena sebuah alasan kewajiban atau karena nafsu liarku semata.


Dan aku... sangat membenci diriku yang begini. Namun aku juga tersiksa.


***


Tok Tok Tok


Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Hajjah Aisyah. Seorang asisten masuk dan melangkah mendekat.


"Sesuai titah yang Ummi Hajjah embankan, dalam waktu sebulan terakhir ini saya menetap di Aceh dan sudah menyelidiki asal usul nona Iqlima! " Asisten menyerahkan dokumen berisikan catatan hasil penyelidikan nya.


"Apa ini akurat?" Hajjah Aisyah membolak-balikan lembaran-lembaran yang ada dalam genggaman.


"Insya Allah akurat, karena saya menyelidiki langsung ke tanah kelahiran dan tempat tinggal beliau dengan berbagai sumber terpercaya!" Hajjah Aisyah mengangguk-angguk.


"Saya juga membawa seseorang yang akan menguatkan bukti serta memberikan informasi penting! "


"Siapa dia? Cepat bawa masuk! "Titah Hajjah Aisyah tampak tertarik. Asisten mengangguk. Dari balik pintu seorang wanita bercadar masuk ke dalam ruang kerja.


"Siapa kamu? " Tanya Hajjah Aisyah tanpa basa basi.


"Saya kawan sekampung Iqlima, Buk! " Jawab wanita tersebut dengan logat Aceh yang kental.


"Jadi kamu temannya?" Wanita tersebut mengangguk.


"Lalu, Informasi apa yang bisa kau berikan padaku?"


"Semua hal yang ingin ibuk ketahui! Saya juga akan memberikan sebuah informasi yang nilainya sangat mahal!"

__ADS_1


***


__ADS_2