Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)

Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)
Bab 68: Mengikuti Jejak


__ADS_3

Iqlima mulai melangkahkan kaki ke arah gerbang utama. Ia akan berangkat kuliah dengan menumpang pada mobil pengangkut sayuran. Namun belum jauh ia mengayunkan kaki, Iqlima melihat satu sosok yang sudah sangat dikenalnya dengan baik.


Bang Yahya… Gumam Iqlima tanpa berkedip. Dengan kemeja dan memakai kacamata hitam, pemuda tampan tersebut keluar dari pintu utama bersama Haji Zakaria. Mereka tampak berbincang-bincang. Mobil pribadi sudah menanti mereka di sana. Iqlima terus menatap Yahya. Tanpa sadar airmata nya mengalir.


Mobil yang membawa Yahya perlahan bergerak. Mobil tersebut berlalu begitu saja melewati Iqlima yang berada di tepian jalan. Dari kaca mobil yang setengah transparan, Iqlima dapat melihat Yahya yang duduk di kursi penumpang menatap lurus ke depan tanpa sedikitpun menoleh padanya.


“Mbak Sri, saya permisi dulu!” Ucap Iqlima diam-diam mengusap air matanya. Sri mengangguk sendu. Gadis tersebut mulai menjauhi gerbang asrama santriwati menuju gerbang utama.


Bang Yahya pergi kemana? Hati Iqlima bertanya-tanya. Ia tiba-tiba saja menghentikan langkahnya. Seketika ide gila kembali muncul dibenaknya. Dari jarak 20 meter Iqlima menatap mobil pengangkut sayur yang sudah menantinya. Dengan menarik nafas dalam-dalam, Iqlima mulai berlari kencang.


“Hhh Hhh pak, bu… hari ini saya tidak jadi ke Universitas Indonesia! Kita ikuti mobil yang baru keluar dari sini ya!” Pinta Iqlima terengah. Supir mobil dan seorang wanita yang diketahui adalah istrinya tersebut tercengang.


***


Mobil pengangkut sayuran yang membawa Iqlima mulai membelah jalanan raya. Setelah sedikit melakukan perdebatan, akhirnya pengemudi mobil menyetujui permintaan Iqlima. Namun dengan syarat, bayaran harus ditambah menjadi tiga kali bahkan lima kali lipat sesuai tempat tujuan.


Mobil pengangkut sayuran yang bermodel pikap/ pick up membuat Iqlima harus duduk pada bak yang sudah di tutup dengan container mini bersama sisa-sisa sayuran yang tidak habis dipakai. Setiap harinya, mobil ini memang memasok sayur mayur ke bagian dapur pesantren dalam jumlah besar.


Supir membawa mobil dengan kecepatan tinggi agar tidak kehilangan jejak.Tubuh Iqlima terhuyung ke kanan dan ke kiri. Di tengah guncangan yang dahsyat, Iqlima menyempatkan diri membuka tirai, ia ikut memantau kemana perginya mobil milik Yahya.


Tukkk


Awww. Kepala Iqlima membentur dinding. Seketika ia merasa pusing, namun Iqlima tetap memaksakan diri untuk memantau. Namun tiba-tiba bau tidak sedap menghampiri penciumannya.


Bau apa ini? Iqlima mengendus-endus. Pencahayaan yang minim mengharuskan nya menghidupkan fitur lampu senter yang ada di handphone.


Astaghfirullah?! Pekik Iqlima seorang diri. Matanya terbelalak melihat lantai yang ia tempati di penuhi oleh ulat-ulat halus berwarna putih.


Aku tadi tidak melihatnya! Mengapa sekarang jadi banyak begini? Bulu kuduk Iqlima berdiri karena merasa geli. Namun ia tidak memiliki pilihan lain. Beruntung Iqlima sudah memberi alas di bagian wilayah yang ia duduki dengan koran. Kini Iqlima kembali mengarahkan cahaya senter ke sekeliling untuk memastikan.


Terlihat sisa sayur-mayur yang sudah membusuk dan berlendir, sayur sayur tersebut dikerubuni oleh belatung yang bergerak-gerak lincah. Bau tidak sedap terasa semakin menusuk.


Hooekkk. Iqlima merasa mual. Dengan cepat ia mematikan cahaya senter dan membuka tirai lebar-lebar. Iqlima menutup hidung dan mulutnya. Namun tetap saja ia masih merasa mual.


Bagaimana ini?


Hoeekkk.


Kalau begini terus aku bisa muntah! Iqlima sudah tidak bisa berkonsentrasi.


Ciiiitttt


Tuukkk


Kepala Iqlima kembali membentur dinding. Supir menge-rem dan menghentikan laju mobilnya.

__ADS_1


"Keluarlah, kita sudah sampai!" Sang supir membuka pintu.


Hooekkk.


Tak tahan, Iqlima berlari memuntahkan semua isi perutnya di tong sampah terdekat.


Hoooooeeeeeekkkk.


"Menyusahkan! Tidak seharusnya seorang santri pergi seperti ini! Kelakuanmu sangat liar, Nak! Orang tua mu akan khawatir! Kau akan mendapat masalah!" Iqlima melirik Yahya yang memasuki sebuah gedung besar. Tanpa mempedulikan perkataan supir pengangkut sayuran, Dengan cepat Iqlima melakukan pembayaran dan melesat pergi.


"Mohon maaf, apa anda punya tanda pengenal atau surat undangan?" Tanya security menghalangi langkah Iqlima yang akan memasuki gedung. Iqlima menunjukkan KTP nya.


"Oh bukan, tanda pengenal yang menyatakan bahwa anda adalah staff khusus gedung ini atau surat undangan resmi karena di sini juga sedang diselenggarakan sebuah acara besar! " Iqlima mematung kemudian ia menggeleng.


"Kalau begitu, mohon maaf... Anda tidak bisa masuk ke dalam gedung ini! Hari ini gedung ditutup untuk umum!" Lutut Iqlima terasa lemas.


***


Yahya menghadiri sebuah acara khusus yang melibatkan banyak pengusaha besar se-Indonesia. Ia melihat Rusdi telah menunggunya. Asisten kepercayaan tersebut menyodorkan sebuah jas untuk ia kenakan. Bersama-sama mereka memasuki ruang acara.


"Minumannya, Tuan! " Seorang pelayan wanita membawa baki berisikan beberapa jenis minuman. Yahya mengangkat tangan mengisyaratkan bahwa ia tidak ingin minum.


"Calon menantuku, Kita kembali bertemu! " Seseorang mengajak Yahya berjabat tangan.


"Saya turut berdukacita atas kepergian Rumi, Pak Arya! "


Seketika pikiran Yahya melayang memikirkan Iqlima. Ia hanya bisa menghembuskan nafasnya yang terasa berat. Namun kehidupan yang Yahya jalani terasa jauh lebih berat dari hembusan nafas tersebut.


"Mr. Yahya.. Lama tidak bertemu! Saya dengar perusahaan anda kembali memenangkan tender! Selamat! "


"Terima kasih!" Yahya memberikan senyumnya. Ia melirik pria yang terlihat masih sangat muda berada di sebelah rekan bisnisnya.


"Perkenalkan, ini putraku Muhammad al-Gibran. Ia masih kuliah tingkat 2! Kelak dia yang akan meneruskan perjuanganku!" Yahya mengangguk-angguk.


"Potongannya sudah menyerupai pengusaha hebat. Insya Allah putra anda akan meneruskan jejak anda menjadi pengusaha sukses! "


"Hahaha, Terima kasih! Sayang sekali... Yura putriku masih sangat kecil. Dia masih sekolah, kalau tidak sudah aku jodohkan dengan pemuda berkarakter sepertimu! " Yahya memaksakan senyumnya. Ia mengalihkan tatapan matanya.


I..Iqlima? Seketika Yahya terpaku. Ia melihat seorang wanita yang begitu mirip dengan istrinya. Wanita tersebut tengah berbincang dengan rekan bisnis yang lain. Sesekali terlihat ia tertawa lepas. Yahya mendekat.


"Tuan Yahya, mari bergabung! Ini Nona Buleun, pengusaha sukses dari Aceh!"


Dia memang bukan Iqlima. Mereka hanya mirip. Gumam Yahya.


Pria ini dari tadi terus memperhatikanku! Seperti nya ia menyukaiku. Cut Buleun salah tingkah. Ia memperbaiki letak kerudung yang memang tidak perlu diperbaiki.

__ADS_1


"Senang berkenalan dengan pengusaha sukses seperti Anda! " Ucap Yahya mencoba untuk bersikap ramah.


"Ini untuk anda!" Cut Buleun menyodorkan minuman.


"Terima kasih!"


*Pria ini tampan, sikap dan gesture alami tubuhnya benar-benar sikap yang ditunjukkan oleh seorang pengusaha sukses. Belum ada cincin dijari manisnya. Itu artinya ia masih single. Sangat menarik!


Hmh... tapi sayang, hatiku aku sudah tertawan oleh pesona bang Man. Tapi tidak ada salahnya jika aku dan pemuda ini berteman*.


"Ini kartu namaku! Jika kau mengunjungi Aceh, kau bisa menghubungi ku. Jika kau tertarik, mungkin untuk ke depan kita bisa membicarakan masalah bisnis! Perusahaanku bergerak dibidang industri semen dan retail" Cut Buleun menyodorkan kartu namanya. Yahya mengambil kartu nama tersebut dan mengantongkannya.


Drrrttt Drrrttt


Handphone Cut Buleun bergetar. Sebuah pesan masuk.


Kirimkan lokasimu sekarang! Aku akan menjemputmu! Semoga kau tidak terkejut dengan perubahan wajahku!


Yeaaahh! Bang Man akan menjemputku!! Cut Buleun memekik tertahan. Namun seketika ia tersadarkan bahwa orang-orang tengah memperhatikan nya.


Hmh... Cut Buleun berdehem dan kembali meneguk minumannya.


***


Sudah 2 jam Iqlima menunggu Yahya namun suaminya tersebut tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Beruntung petugas security mengizinkannya untuk menunggu di lobi. Iqlima mulai merasa cemas. Sebentar lagi ia sudah harus berada di kampus untuk menunggu jemputan dari mang Ayyub. Hari ini ia terpaksa bolos kuliah hanya demi melihat Yahya. Iqlima benar-benar merindukan nya. Namun sepertinya angan-angan tersebut akan sia-sia.


Nona, pulangnya jangan sampai telat. Saya takut ada yang mencari-cari kesalahan hingga nona dihukum semakin berat. Malam ini pengajian kitab al-Hikam. Nona harus menghadirinya! Begitulah bunyi pesan dari Sri menghiasi layar ponselnya.


Iqlima, seharusnya kau hadir di kelas hari ini! Kau sudah 3 kali tidak masuk mata pelajaran wajib. Kalau sekali lagi kau tidak hadir, kau terancam mengulang di tahun depan! Beruntung hari ini Pak Raditya digantikan oleh asistennya, Pak Ilyas. Kalau tidak, untuk ke depan keberadaan mu akan sangat mencolok! Pesan dari teman kampusnya membuat perasaan Iqlima semakin tak karuan. Matahari juga semakin beranjak naik.


Hhhhh. Iqlima menghembuskan nafasnya. Pasrah. Terlihat orang-orang penting berpakaian rapi berduyun-duyun mulai keluar dari lift. Tidak ada waktu lagi, Iqlima mulai melangkah pelan meninggalkan gedung dengan tidak semangat. Wanita tersebut membuka dompetnya. Uang yang tersisa tidak banyak lagi. Ia harus mencari ATM untuk bisa mencari taksi.


Sreeeetttt


Iqlima terkejut bukan kepalang. Tiba-tiba seorang pemuda menarik paksa dompet yang berada dalam genggaman tangannya.


"Jangaaaan!!! Kembalikan dompetku!!!! " Teriak Iqlima dengan suara serak. Tubuhnya sedang tidak baik-baik saja. Iqlima sudah tidak mampu untuk berteriak kencang.


"Kembalikan!! Kembalikan... Hiks Hiks... " Iqlima mulai menangis. Secepat kilat pencopet tersebut menghilang dari pandangan matanya.


Di sisi lain, Yahya yang sudah keluar dari ruang acara menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Dengan cepat ia berpindah dari satu sisi ke sisi lain untuk memastikan sesuatu.


"Aku seperti melihat Iqlima di sini" Yahya mengeryitkan keningnya.


"Apa mungkin Iqlima kesini? Tapi untuk apa?! Huft... Apa aku sedang berhalusinasi?" Yahya mengusap tengkuknya. Ia tersenyum hambar. Pemuda tersebut mulai berjalan keluar gedung.

__ADS_1


***


💙💙💙


__ADS_2