Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)

Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)
Bab 26: Ciuman Beberapa Detik


__ADS_3

Iqlima merasa lebih lega ketika ia sudah berada di dalam kamar. Gadis ini meraba detak jantungnya yang masih berdetak kuat. Yahya langsung menelpon pihak hotel untuk membawakan makan malam ke kamar mereka. Iqlima beranjak mengeluarkan pakaian ganti dari tas jinjingnya.


“Abang ga mandi?” Tanya Iqlima membuka percakapan. Yahya menggeleng datar.


“Kalau begitu a.. aku mandi dulu!” Iqlima menunduk menghadapi sikap dingin Yahya. Ia langsung berlalu masuk ke dalam kamar mandi membawa pakaian ganti.


Ya Allah… Bagaimana ini? Kepala Yahya terasa sakit. Bagaimana reaksi abah dan ummi kalau mengetahui aku menikah diam-diam begini? Yahya mengacak kasar rambutnya. Frustasi. Hajjah Aisyah tidak berhenti menelpon, terhitung sudah 10 panggilan tak terjawab yang mengisi handphone-nya.


Nak, kamu dimana? Udah beberapa hari Ummi ga liat kamu, kan Ummi rindu… Tadi Ummi shopping sendirian, biasanya selalu kamu temenin. Pesan dari Hajjah Aisyah memenuhi layar Yahya. Pemuda ini tersenyum lalu menghela nafasnya.


Yahya di Aceh Mi, Insya Allah dalam beberapa hari Yahya akan pulang. Love You Ummi. Good Night. Balas Yahya.


Putraku kenapa sering sekali ke Aceh? Hajjah Aisyah mengerutkan keningnya.


Pendengaran Yahya teralih pada suara gemericik air. Apa yang harus seorang suami lakukan setelah menikah? Pikir Yahya menjentik-jentikkan jemarinya ke meja. Ia sudah khatam belajar Ilmu pernikahan ketika berada di pondok. Namun pikiran kacaunya membuyarkan semua ilmu yang sudah ia dapatkan.


Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya, dan aku adalah orang yang paling baik terhadap istriku” (HR. At-Tirmidzi)


Hanya hadits itu saja yang memenuhi isi kepalanya untuk saat ini. Selain itu Yahya blank.


Google. Ya. Aku harus bertanya ke Google. Yahya mulai berselancar di dunia maya.


Malam pernikahan. Ketik Yahya pada kolom pencarian. Ia menscroll ke atas dan ke bawah membaca dengan penuh penghayatan.


Huft, kenapa google jadi sebegini vulgar, sih?! Gerutu Yahya gerah. Ia memilih menutup google dan melempar handphone-nya ke atas kasur. Yahya mengipasi tubuhnya dengan koran. Padahal suhu AC sudah diturunkan ke titik terendah.


Driiiiiiit


Deritan pintu yang sengaja dibuka terdengar. Iqlima keluar dengan piyamanya. Yahya yang masih merasa gerah sontak mengusap tengkuknya.


Tanpa mempedulikan keberadaan Yahya, Iqlima berjalan menuju kaca hias.


Mata Yahya memperhatikan setiap detail apa yang Iqlima lakukan. Gadis ini dengan santai menarik lengan piyamanya ke atas lalu mengoleskan lotion di sana. Ia juga menarik ke atas celana panjangnya sebatas lutut untuk melakukan hal yang sama. Sama sekali tidak ada kecanggungan dalam gerakannya. Lengan dan betis indah yang selama ini tertutup rapat membuat Yahya merasa semakin gerah. Pemuda ini kesulitan menelan salivanya. Tubuhnya merespon gerakan sederhana yang Iqlima lakukan.


Tinggg.


Bel kamar berbunyi. Iqlima menoleh ke arah yahya yang sedari tadi mengamatinya. Ia yang posisinya berada didekat pintu dengan cepat menurunkan lengan baju dan celananya lalu mulai melangkah untuk membuka pintu tersebut.


“Iqlima!” Panggil Yahya dengan wajah kusut.


“Ya?”

__ADS_1


“Kau mau keluar dengan tampilan bodoh seperti itu?! Menyingkir lah!!” Hardik Yahya kesal. Iqlima terkejut. Ia sontak melihat tampilannya. Iqlima beringsut mundur dengan hati sedih. Yahya menggantikannya membuka pintu, petugas hotel datang mengantarkan mereka makanan.


Iqlima dengan cepat mengambil kembali gamisnya. Ia masuk ke dalam kamar mandi untuk mengganti pakaian. Apa piyama ini jelek ya? Iqlima melihat sedih pantulan dirinya di cermin. Baru hari pertama ia sudah gagal menyenangkan hati suami. Ia gagal menjadi istri yang baik. Iqlima mengusap matanya yang tiba-tiba basah.


***


Maryam menangis sejadi-jadinya ketika menyadari bahwa ia telah dijadikan alat untuk menjebak Yahya dan Iqlima. Wanita yang sudah memiliki seorang anak ini baru siuman dari tidur panjangnya. Maryam pingsan di tengah jalan. Beberapa orang menggotongnya ke rumah warga terdekat.


“Nak, mau kemana malam-malam begini? Kamu pingsan lama. Tubuhmu juga panas, sebaiknya kau beristirahat dulu di sini malam ini” Ibu pemilik rumah menyapa Maryam yang terlihat buru-buru beranjak dengan air mata berlinang.


“Terima kasih sudah menolong saya bu, tapi saya harus ke kembali. Anak saya pasti mencari saya!” Ucap Maryam mengusap airmatanya.


Aku harus mengambil anakku lalu menemui Rani untuk meminta pertanggungjawaban! Gumam Maryam. Andai waktu bisa diulang, Maryam tidak akan menyuruh Iqlima untuk menunggu di desa kelahirannya.


“Bu, bagaimana nasib laki-laki dan wanita yang tertangkap basah tadi siang? Mereka tidak dihakimi massal kan bu?” Maryam bertanya cemas.


“Mereka terpaksa dinikahkan. Kabarnya berkhalwat. Tapi ibu juga tidak tau bagaimana detilnya. Coba nanti kamu tanyakan dengan warga lain” Maryam mengangguk lalu pergi berpamitan. Ia harus segera mengambil Nyak Agam dan menemui Rani.


“Maryam…” Baru melangkah beberapa langkah, seseorang telah memanggilnya.


“Kamu Maryam kan?”


“kenapa kamu di sini?” Rafi mengerutkan keningnya.


“Seharusnya aku yang bertanya kenapa Abang di sini! Ini memang kampung halaman ibuku!”


“Oh... Aku mengisi pengajian di mesjid Syaikh Abdur Rauf. Masuklah! Aku akan mengantarmu!” Maryam yang pernah menaruh hati ke Rafi langsung naik ke mobil pria tersebut. Ia sumringah, setidaknya dengan ikut ke mobil Rafi bisa mempersingkat waktunya membereskan kesalahpahaman.


“Dek Noor apa kabar?” Maryam tersentak kaget. Setelah sekian lama berlalu ternyata Rafi masih saja memikirkan Iqlima.


“Iqlima baik-baik saja” Sahut Maryam cepat.


“Dek Noor mengambil kuliah dimana? Jurusan apa?”


“Belum, katanya tahun ini akan mengambil sekolah ekonomi atau hukum!” Sahut Maryam datar.


“Wow… Aku tau dia mampu!” Maryam tersenyum terpaksa menanggapi perkataan Rafi.


“Semoga ia mendaftar di kampus hukum sebab aku juga akan mengambil program master ilmu hukum tahun ini. Ah, dia pasti akan menjadi partner yang asik untuk diajak berdebat!” Rafi mengangguk-angguk senang.


“Mar…”

__ADS_1


“Ya?”


“Pertemuan tidak disengajaku dengan mu malam ini aku anggap sebagai jalan dari Allah” Maryam mendongakkan kepalanya.


“Jalan dari Allah?”


“Ya, sebagai jalan dari Allah untuk mempertemukanku kembali dengan Dik Noor!” Sahut Raafi mengawang-awangkan pikirannya.


***


Iqlima keluar dari kamar mandi setelah mengganti piyamanya dengan gamis terbaik. Gadis ini langsung naik ke atas kasur dan menyelimuti seluruh tubuhnya tanpa berani melihat ke arah Yahya.


“Aku sudah memesankan makanan untukmu!” Ucap Yahya mengunyah habis makanannya. Ia tidak perlu menunggu Iqlima untuk menghabiskan makan malamnya.


“Iqlima sudah ngantuk. Makanannya tolong abang letakkan saja di kulkas, besok bisa dipanaskan” Sahut Iqlima dari balik selimut.


Yahya mulai membuka kemeja dan menyisakan kaos putih di tubuhnya. Pemuda ini mengikuti Iqlima berbaring di kasur setelah membersihkan tubuh dan menunaikan shalatnya.


“Dik…” Panggil Yahya pelan.


“Dik Ima…”


“Hm…”


“Bangunlah…” Yahya menepuk pelan pundak Iqlima yang membelakanginya. Iqlima sontak berbalik menghadap Yahya. Sadar jarak mereka terlalu dekat, Iqlima mengerjap-ngerjapkan matanya. Gugup.


“Bang Yahya mau apa?”


Yahh.. Kenapa pertanyaan itu harus meluncur dari mulutmu? Gerutu hati Yahya.


“Aku… Aku mau menciummu!” Sahut Yahya gamblang. Pemuda ini langsung menipiskan jarak mereka dan menempelkan bibirnya menyentuh bibir Iqlima. Hanya menempelkan. Tidak lebih. Beberapa detik saja. Mata Iqlima seketika membulat sempurna. Nafasnya serasa terhenti. Jantungnya bertalu-lalu seperti genderang yang ditabuh. Ciuman mendadak pertamanya dengan laki-laki yang ia sebut suami. Iqlima bersemu.


“Kamu belum shalat kan? Shalat dulu baru tidur!” Titah Yahya mencoba bicara setenang mungkin.


“A… Aku lagi haid…” Sahut Iqlima. Kulit putihnya tidak bisa berbohong bahwa wajahnya kini memang tengah bersemu merah.


“Ooh…” Yahya membelakangi Iqlima. Gadis ini bangkit melesat ke kamar mandi. Ia melihat kaca mengusap-usap bibirnya. Iqlima tersenyum mengingat ciuman beberapa detiknya. Gadis ini sumringah. Perasaan sedih yang sebelumnya ia rasakan atas perkataan menusuk Yahya langsung menguap begitu saja, hilang entah kemana. Gadis remaja ini merasakan atmosfer yang berbeda. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.


Sepeninggal Iqlima ke kamar mandi, Yahya langsung menelentangkan tubuh. Ia meremas baju kaosnya. Jantungnya juga berdegup dengan tidak beraturan. Tubuhnya terasa semakin gerah. Entah apa yang ada dipikiran Yahya sekarang. Yang jelas, ia tidak akan bisa tidur dengan baik malam ini.


***

__ADS_1


__ADS_2