Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)

Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)
Bab 114: Seribu Nyawa!


__ADS_3

Langit malam sudah terlihat. Setengah berlari Iqlima keluar dari kamar. Dengan tubuh yang masih gemetaran, gadis tersebut menguatkan diri. Terseok-seok ia menghampiri resepsionis hotel.


“Kak, a.. apa orang yang ber… nama Rais ada di hotel ini?”


“Tuan Rais? Ada keperluan apa ya nona?”


“Sss… Ssaya ingin menemui belau. Nomor handphone nya tidak aktif!”


“Sebentar saya cek dulu” Sahut resepsionis hotel. Iqlima menunggu dengan rasa pusing di kepalanya.


“Tidak ada tamu yang bernama Rais di sini nona, Yang mirip dengan nama Rais, ada nya Tuan Ray!”


“Coba tolong di cek lagi kak! Saya mohon!”


“Maaf nona, nama tersebut memang tidak ada di system kami”


“Kalau begitu tolong cek kamar saya, yang membayar kamar saya adalah orang yang saya cari!” Iqlima menunjukkan kartu kamarnya.


“Yang membayar kamar nona adalah tuan Osman!”


“Tuan Os.. man? Siapa tuan Osman? " Iqlima mengerutkan kening kebingungan.


“Benar nona! Tuan Osman yang membayar semua biaya! Nona bisa menggunakan kamar nona dalam waktu tak terbatas” Sahut resepsionis. Iqlima terdiam. Orang yang dituju tidak ada. Namun kini kepalanya terasa semakin pusing. Ia sudah kesulitan berbicara.


Apa bang Rais mengganti namanya dengan Osman ya? Pikir Iqlima terhuyung. Ia sudah tidak sanggup menopang berat tubuhnya.


“Nona, apa nona baik-baik saja? Wajah nona sangat pucat! ” Tanya resepsionis menghampirinya. Tamu tamu hotel yang berlalu lalang melirik Iqlima. Namun mereka memilih untuk tidak terlibat.


“Tidak apa-apa.. Aku baik-baik sa..ja..” Ucapnya lemah.


Bruuuukkk


Iqlima ambruk selesai mengatakannya. Resepsionis refleks menopang tubuhnya. Ia tampak panik dan melambai-lambaikan tangan memanggil satpam. Namun seseorang lebih dulu menghampirinya dari pintu utama.


“Ning Iqlimaa…”


“Maaf, tuan siapa?”


“Saya Rusdi, kerabat dari nona ini. Saya akan membawa nona ini ke rumah sakit!”


“Maaf,..”


“Ini kartu nama saya! Kalau ada sesuatu dan lain hal, boleh menghubungi saya ke sini!” Ucap Rusdi hendak membawa Iqlima. Namun tiba-tiba Ilyas muncul dan mencegahnya.


“Iqlima tidak ingin lagi berhubungan dengan keluarga Yahya!”


“Tuan Ilyas? "


"Rusdi, ada apa kau kemari?!"


"Maaf, saya sedang tidak ingin berdiskusi. Hal pertama yang harus kita lakukan adalah menolong ning Iqlima. Saya tidak peduli dengan hal lainnya!”


“Kalau begitu, biar aku yang membawanya!” Ilyas langsung mengangkat Iqlima dengan sekali gerakan. Bak pangeran dari negeri seberang, dengan wajah tegak Ilyas membawa Iqlima masuk ke dalam mobilnya.


Haduh Gawat! Rusdi menepuk keningnya. Gusar.


Di tempat berbeda,


Buuuuuggg

__ADS_1


Buuuuuggg


Arya meninju wajah Hilman habis-habisan. Pemuda tersebut diikat pada sebuah tiang besi. Arya menyebut pukulan pada wajah Hilman sebagai pukulan cinta kasih. Arya memegang alat penyetrum. Ia Bersiap menyetrum pengikutnya tersebut.


“Mengapa tuan melakukan ini?” Tanya Hilman dengan tubuh yang telah melemah. Hilman mengingat-ingat sudah berapa jam ia di sana. Ia sudah sangat lama meninggalkan Iqlima, padahal Hilman sudah mempersiapkan segalanya untuk orang yang ia sebut sebagai "kekasih" itu.


“Kau masih bertanya?!”


“Tolong tuan jelaskan!” Ucap Hilman dengan suara parau. Lebam-lebam di wajah nya menunjukkan bahwa pemuda tersebut sangat tersiksa.


“Aku sedang menolongmu! Aku menyekapmu di sini agar kau selamat! Apa kau tidak tau bahwa Masyarakat Aceh dari Desa Krueng Lam Kareung berbondong-bondong datang ke ibukota untuk mencarimu?! Mereka meminta pertanggungjawaban atas tanah itu! Kau memang laknat!! Kau lebih laknat dari aku!!”


Cuuuuihhh


Arya kontan meludahi wajah Hilman. Pemuda itu hanya bisa menutup mata menerima penghinaan.


“....Dan polisi yang mengusut kasus matinya Rais tempo dulu sudah mengendus keberadaanmu! Mereka mencari pemuda bernama Hilman yang kabur dari penjara!” Ucap Arya seduktif. Hilman benar-benar terkejut. Di luar dugaan, Arya benar-benar lihai menyerap berita.


“Kalau begitu tolong selamatkan aku!”


“Aku sedang menyelamatkanmu!”


“Bagaimana cara tuan menyelamatkan ku? Mengapa Tuan menyiksaku? ” Suara Hilman terdengar semakin berat.


“Aku sedang dan akan menyelamatkanmu dengan cara menghancurkan fisikmu hingga kau tidak lagi bisa dikenali! Cukup aku saja yang mengenalimu!” Ucap Arya menatapnya bengis. Hilman melototkan matanya. Entah dari mana kekuatan yang pemuda tersebut dapatkan. Ia langsung menggeleng cepat.


“Jangan tuan! Ku mohon jangan!!”Pinta Hilman.


Krekk


Arya mengeluarkan pisau. Kilau dari matanya terasa menyayat. Arya melangkah mendekati Hilman. Luka-luka lama belum mengering. Kini Arya ingin menambah sayatan di sekujur tubuhnya.


Tap Tap Tap.


Arya semakin menambah langkahnya.


“Tuan, ku mohon jangan… Aku memiliki kekasih yang harus kuperjuangkan!”


Cuihhh


Arya kembali meludahinya.


“Kekasih?! Kau punya anak istri yang lebih penting untuk kau pikirkan!!” Sembur Arya. Ia mengambil tongkat dan mendorong kening Hilman berkali-kali. Pemuda tersebut pasrah dengan apa yang Arya lakukan.


“Aku hanya menolong Mawar Melati dari keterpurukan. Pernikahan kami hanya sebatas ijab Kabul belaka. Aku memiliki seseorang yang harus perjuangkan. Ku mohoon, jangan jadikan perjuanganku sia-sia!” Lanjutnya mengiba. Arya tersenyum sinis. Ia yang biasa bak panglima hebat di medan peperangan, kini otomatis takluk di tangan Arya Pranawa.


“Aku telah mencicipi istri officialmu! Apa perlu aku juga mencicipi kekasihmu?! Terus terang kekasihmu memang lumayan! Kau pintar memilih wanita! Hahahaha” Tukas Arya terbahak. Mata Hilman membola.


“Kau berani melototkan mata mu padaku?!”


“Bedebahhh kau Arya!! Kalau begitu, bunuh saja aku!! Bunuuuhhh!!! Bunuh aku sekarang!! Lalu Aku siap menghantuimuuuu!!” Teriak Hilman garang. Teriakannya menggelegar memenuhi ruangan 4x4 tersebut. Mendengar Iqlima akan dilecehkan, Hilman merasa seolah memiliki 1000 nyawa cadangan.


***


“Semuanya sehat. Ibu dan calon janin baik-baik saja!” Ucap dokter spesialis di salah satu rumah sakit besar yang ada di Los Angeles. Beliau langsung keluar ruangan setelah meresepkan sedikit vitamin.


Yahya dengan senyum sumringah langsung menggenggam tangan Layla. Tak lupa, sebuah kecupan hangat mendarat di keningnya.


“Dik Layla, kau sungguh the real wonder woman! I am proud of you” Bisik Yahya mesra. Mood Layla yang semula hancur lebur karena chat dari Raafi kini meningkat 80 persen. Ia bahkan lupa tentang chat tersebut.

__ADS_1


“Mas terharu?”


“Aku tidak pernah menyangka akan menjadi seorang Ayah! Aku telah sampai di titik ini!”


“Mas akan jadi Ayah paling hebat yang pernah ada!”


“Aku akan melakukan yang terbaik!” Tekad Yahya. Air mata Layla kembali mengalir.


“Kau menangis, hm?” Yahya mengusap air mata itu.


“Akhir-akhir ini entah mengapa aku menjelma menjadi putri cengeng. Tampaknya gelar wonder woman tak pantas disematkan untukku!” Ucap Layla tertawa geli. Yahya ikut tertawa sambil menguyel-uyel kepala sang istri.


“Mas…”


“Ya…”


“Mas harus memberikanku hadiah!”


“Hadiah?” Yahya mengerutkan keningnya.


“Ya, hadiah!”


“Barang apa yang kau inginkan? Bukankah kau bisa membeli apa saja yang kau mau?”


“Aku ingin mas yang memberikannya! Sesuatu yang berharga!” Sahut Layla. Yahya menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal. Ia bingung harus memberikan Layla apa. Sesuatu yang berharga. Apa yang berharga untuk wanita? Bukankah Layla sudah meminta nya mentransfer ribuan dollar? Apa lagi yang gadis itu inginkan.


“Baiklah! Nanti Aku akan memikirkannya dengan baik!”


Drrrttttt Drrrtttt


Rusdi? Jam segini sudah menelpon? Sekarang di Jakarta jam berapa? Yahya mengecek jam tangan. Tanpa berpikir panjang pemuda tersebut langsung mematikan teleponnya.


Tunggu! Iqlima… Jangan-jangan ada kabar dari Iqlima… Hhhh Yahya menghela nafas dalam. Ia kembali membuka handphone dan mencoba mengirim pesan pada Rusdi,


Rus, apa ada kabar terbaru tentang Iqlima?


Tanya Yahya. Namun belum sempat ia mengirimkannya, Yahya telah lebih dulu menghapusnya. Ia mengetik kalimat lainnya,


Rus, banyak agenda yang harus ku handle hari ini. Tolong jangan menggangguku. Untuk urusan di Jakarta, selama masih bisa kau handle, silahkan kau menanganinya sendiri.


Sending-Sent


Pesan terkirim. Yahya menutup handphonenya.


“Ada apa mas?”


“Tidak, bukan sesuatu yang penting!”


“Mas, kita kembali ke hotel yuuk. Aku sudah sangat gerah” Ajak Layla manja.


"Sebentar, aku ke toilet dulu! "


Layla mengangguk. Sepeninggal Yahya ke toilet, dengan cepat Layla mengambil handphone nya. Ia mengetik pesan di sana,


Tugas mu bertambah! Lacak orang yang bernama Raafi dengan nomor handphone 08XXX... Awasi keberadaan nya. Di pantau terlebih dahulu. Jangan di apakan. Kalau sudah tiba saatnya, Aku akan membunuuhnya!


Layla mengirimkan pesan tersebut.


Tidak ada satupun yang boleh menghalangi jalanku! Batin Layla mengepalkan tangannya.

__ADS_1


...----------------...


__ADS_2