Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)

Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)
Bab 50: Keturunan Ampon Polem Pasha


__ADS_3

Petang datang menjelang. Semburat jingga kemerahan berubah pekat mewarnai pelata. Yahya membawa Iqlima memasuki sebuah gedung apartemen yang begitu mewah.


“Bang, kenapa kita ke sini?” Tanya Iqlima mencoba mengimbangi langkah besar Yahya bersusah payah. Sudah begitu banyak pertanyaan yang wanita tersebut layangkan sejak mereka meninggalkan restoran namun tiada satu pun yang Yahya gubris.


“Bang…” Putus asa, Iqlima memegang lengan Yahya mencoba menghentikan pergerakan sang suami. Beberapa pasang mata mengarah pada mereka. Yahya dengan cepat melepaskan cengkraman tangan Iqlima dan menatapnya tajam. Iqlima tersentak. Ia bungkam. Kali ini Iqlima mengikuti Yahya tanpa bantahan.


Sreek


Yahya mengeluarkan sebuah kartu ekslusive kepemilikan. Petugas di lobi sedikit terkejut. Ia melihat pemuda berdarah Yaman tersebut lekat-lekat. Putra dari Pemilik Gedung~


“Mr. Yahya, A… apa… yang...”


“Malam ini aku akan menginap di sini!” Potong Yahya dingin.


“Baik, akan kami..” Belum sempat mereka menyelesaikan kalimatnya, Yahya sudah melesat di ikuti oleh Iqlima. Mereka naik ke lantai 17. Sidik jari Yahya terdeteksi. Pintu terbuka.


Masya Allah, mewah sekali. Gumam Iqlima terpana. Ia berdiri mematung dipojokkan melihat Yahya melepaskan kemeja dan menenggak air mineral. Putra dari pemilik gedung tersebut sama sekali tidak menyuruhnya untuk duduk atau sekedar berbasa basi.


Bagaimana ini? Apa bang Yahya marah? Iqlima menggigit bibir bawahnya. Gelisah. Ia menahan tangis. Yahya benar-benar berubah seperti orang asing.


Braakkk


Yahya masuk ke dalam kamar mandi dan membanting pintu dengan keras. Lutut Iqlima lemas. Gadis tersebut merosot ke lantai marmer yang dingin.


Iqlima mengingat-ingat apa kesalahan yang ia lakukan hingga membuat sikap Yahya berubah. Iqlima merasa tidak melakukan apapun. Terakhir kali di restoran, mereka hanya kebetulan bertemu dengan Rafi, mantan kakak kelasnya di Madrasah ‘Aliyah dulu. Sedikit bernostalgia dan bertukar nomor handphone karena Raafi akan menjadi seniornya di Universitas Trisaksi. Itu saja.


Driiit


Suara deritan pintu yang terbuka membuyarkan lamunan Iqlima. Yahya keluar memperlihatkan abs-nya dengan hanya meminggang selembar handuk putih. Iqlima memalingkan wajah. Ia masih belum terbiasa. Gadis tersebut memilin-milin kerudung merasa cemas.


Banyak hal yang berkelabat memenuhi pikirannya. Tentang sikap dingin Yahya yang melebihi biasanya, tentang pondok pesantren yang ia tinggalkan mendadak, apa ia akan kembali mendapatkan hukuman? Tentang Yahya yang akan bertolak ke Korea Selatan, tentang kesendiriannya. Ia tidak memiliki siapa-siapa di sini, di Jakarta. Iqlima benar-benar sendirian.


“Mandilah! Aku tidak ingin mencium aroma aneh yang menusuk!” Ketus Yahya. Tanpa menoleh pada Iqlima ia menyempot parfum mewah ke tubuhnya. Seketika aroma leather memenuhi ruangan. Iqlima bergeming. Ia mematung di tempat.


“Hey, apa kau tidak mendengarku? Apa sekarang pendengaranmu sudah tidak berfungsi?!” Yahya meninggikan suaranya. Tersentak, secepat kilat Iqlima bangkit mematuhi apa yang suaminya titahkan.


Aku tidak membawa pakaian, bang Yahya pasti marah kalau aku tidak mengganti pakaian yang sudah ku kenakan seharian. Bagaimana ini? Iqlima memijat pelipis. Ia mengendus-endus aroma bajunya. Menurut Iqlima tidak ada aroma aneh, entah menurut Yahya.


Aku tetap harus menggantinya. Pikir Iqlima.


Driiiiiit


Iqlima membuka pintu. Ia mendongak, terlihat Yahya tengah memainkan handphonenya.


“Bang, a.. aku tidak bawa pakaian ganti” Adu iqlima terpaksa. Lagi-lagi Yahya tidak menggubrisnya.


Duh.


Iqlima membuka tasnya, melihat sisa uang yang ia miliki. Rp. 535.000,- . Cukup untuk membeli piyama. Iqlima sumringah.


“Bang, a… aku keluar dulu membeli baju tidur. Tadi aku lihat di sekitaran gedung ini ada penjual kaki lima” Lanjut Iqlima hati-hati. Ia dengan cepat melangkah menuju pintu.


Braakkk


Yahya melempar asal handphone-nya ke atas nakas. Suara nyaring beriringan dengan suara retakan terdengar. Iqlima benar-benar terkejut. Ia menoleh, Yahya sudah berjalan menujunya. Pemuda tersebut dengan cepat mengangkat Iqlima dan menghempaskannya ke atas kasur empuk. Iqlima bergetar.


“Gadis sepertimu mau keluar malam-malam begini?! Apa kau sudah tidak waras?!” Hardik Yahya. Air mata Iqlima sukses mengalir.


“Di dunia ini apa kau tidak takut pada apapun, hah?!” Yahya memijat pelipisnya. Sepulang dari restoran, mood nya benar-benar berantakan.


“Kalau kau diculik oleh pria hidung belang yang tidak bertanggung-jawab di luar sana bagaimana??!! Na’udzubillah. Oh aku tau… Kau pasti berharap si Rafi, orang yang dulu begitu dekat denganmu itu datang menolong kan? Dia kan orang yang paling tau segala-galanya tentangmu!!" Sarkas Yahya menyindir.


"Oh… atau jangan-jangan kau masih mengharapkan Ilyas? Kau mengharapkan kedatangan Ilyas, kan?!” Tuding Yahya masih dengan nada tinggi. Ia memberikan kepalan tangan kekarnya ke udara. Emosinya benar-benar meledak-ledak. Tak tahan, air mata Iqlima mengalir deras.

__ADS_1


“Kau benar-benar ceroboh! Ini ibukota, bukan Aceh! Berbagai macam jenis manusia dan kejahatan ada di sini! Kenapa kau tidak berpikir panjang?!” Lanjut Yahya sedikit melunak. Hanya sedikit. Terlihat Iqlima meringkuk. Ia menyapu airmata dengan ujung gamis. Airmatanya berlinang-linang.


Kehabisan kata-kata, Yahya menyambar bantal. Ia menjauhkan diri dari Iqlima lalu merebahkan tubuhnya di atas sofa. Yahya menenangkan diri hingga tanpa sadar pemuda tersebut terlelap.


Iqlima menatap Yahya dengan perasaan sedih dan terluka.


***


Cut Buleun tengah membaca paraghraf terakhir dari dokumen perusahaan saat tiba-tiba pikiran tentang pemuda tampan lagi begitu menawan yang baru saja dikenalnya datang begitu saja. Pemuda yang diketahui bernama Teuku Hilman tersebut beberapa hari terakhir tidak memberikannya kabar.


Bang Hilman, bagaimana kabar Abang? Ketik Cut Buleun melayangkan pesan berhati-hati. Ia takut menganggu waktu Hilman, namun rasa penasarannya jauh lebih besar. Sejak bertukar nomor handphone hubungan mereka sudah lebih dari hanya sebatas teman.


Drrrrt Drrrrtttt


Nomor Hilman tertera dilayar. Ternyata pemuda tersebut langsung menelfonnya.


Yes. Pekik Hati Buleun girang.


“Assalamu’alaikum Dek Cut!” Sapa Hilman lembut dari seberang.


“Wa.. Wa’alaikum Sa.. lam Bang Man!”


Duh! Kenapa aku segugup ini sih?! Buleun diam-diam mengetuk kepala. Menarik-hembuskan nafasnya agar lebih teratur.


“Dek Cut, Bang Man mau berangkat ke Korea besok. Akhir-akhir ini abang sangat sibuk mengurus pemberkasan sekaligus packing-packing. Maaf lupa memberi kabar!” Ucap Hilman elegan.


“Masya Allah, bisnis Abang melebar ke sana ya?”


“Alhamdulillah dek… Bang Man kan harus bekerja keras. Karena kelak.. Jika bang Man menikah nanti, Istri bang Man harus sejahtera. Bang Man harus membuatnya sebagai satu-satunya Ratu yang paling bahagia di dunia” Hilman mulai menebarkan kata-kata manisnya. Cut Buleun berkaca-kaca kagum. Hatinya bertanya-tanya, siapa orang beruntung yang akan diperistri oleh Hilman.


“Dek, Dek Cut…. Kenapa diam, Dek?”


“Eh, tidak bang Man. Dek Cut cuma merasa takjub dengan kegigihan Abang! Andai Dek Cut bisa ikut serta melihat kepiawaian Abang dalam berdelegasi di Korea Selatan” Pancing Cut Buleun berbinar.


“Dek Cut akan menunggu saat itu tiba, Bang Man!” Lirih Buleun malu-malu.


“Sure. Tentu saja! Oh iya Dek Cut…”


“Kenapa Bang Man?”


“Ini akan sangat sangat merepotkan dek Cut, tapi Bang Man sangat excited untuk mengetahuinya. Mengingat dek Cut sudah menjadi bagian special dari kehidupan bang Man!”


“Apa itu Bang?” Cut Buleun semakin terbuai.


“Tolong kirimkan daftar silsilah keluarga dek Cut pada bang Man, hmh… Se..ka…rang! Bisa?”


Apa bang Man sudah sangat serius dengan hubungan ini? Cut Buleun semakin bersemu.


“Tentu. Baiklah Bang Man, tunggu sebentar ya!”


“Ya, Bang Man tunggu… Dek Cut…” Sahut Hilman lemah lembut mengakhiri pembicaraan.


Sudah lumrah, biasanya keluarga bangsawan Aceh akan menyimpan daftar silsilah keluarga mereka secara terperinci. Mulai dari keturunan terakhir sampai pada kakek buyut yang bersambung pada raja-raja terdahulu.


Ddddrrrttt Drrrrrttt


Sebuah email masuk ke handphone Hilman. From cutbuleun03@gmail.com. Hilman menyunggingkan senyumnya. Dengan cepat pemuda berdarah Aceh tersebut membukanya,


Sebuah diagram pohon terlihat. Hilman hanya fokus pada keturunan Ampon Polem Pasha. Ia fokus meneliti ke daftar list yang tertera di bawah,



__ADS_1



Ampon Polem Pasha



Ampon Banta Pasha







~Cut Nyak Meurah Intan:


-> Ampon Antana


-> Pocut Blet


~Cut Inong Yusniar:


-> Cut Putroe Bungong


-> Cut Meurah Silu


~ Cut Meulu Sigupai Sagoe:


-> Teuku Gadee


-> Teuku Bentara


-> Cut Dara Keumala


~Cut Malahayati


->Cut Buleun


~Cut Nyak Afla


->Iqlima Noor Azkiya


I…Iqlima Noor Azkiya? Ini Iqlima Noor Azkiya-ku? Hilman terperangah. Ia melihat berkali-kali dan membaca sejarah keluarga Iqlima. Di sana di sebutkan bahwa Cut Nyak Afla telah meninggal.


“Hmh… Sesuai dugaanku selama ini, My baby Cahaya Purnama: IQLIMA NOOR AZKIYA memang-lah keturunan Ampon Pasha! Ternyata kau bukan orang biasa, cintaku! Dimanapun kau tinggal, dimanapun dirimu ditempatkan, sesulit apapun hidup-mu, tetap tidak bisa menyembunyikan kelasmu. Berlian tetaplah berlian” Gumam Hilman menaikkan sebelah alisnya ke atas. Fakta tentang Iqlima sedikit mengguncang jiwanya. Berhasil membuat Hilman yang juga berdarah biru jadi tercengang.


Iqlimaku sayang… Apa aku harus turun tangan untuk mengembalikan semua pada tempatnya, hm? Hilman menopangkan kedua tangannya menumpu kepala.


Aku harus mencari tau mengapa Iqlima di buang dan tidak di akui oleh keluarga besar serta hidup susah. Hilman tampak berpikir. Ia mengelus-elus dagu yang dipenuhi oleh janggut tipis.


Lelah berfikir, pada akhirnya Hilman terlelap membawa Iqlima dalam mimpi panjangnya.


***


Dini hari, Yahya terbangun. Ia masih berada di atas sofa saat matanya tak menemukan keberadaan Iqlima di atas kasur.


Iqlima kemana? Apa di toilet? Yahya menutup mulutnya karena menguap. Mata pemuda tersebut berpendar. Ia hendak bangkit menghidupkan lampu agar lebih terang. Namun alangkah terkejutnya Yahya ketika melihat Iqlima yang tidur bersandar di dinding sofa tepat di bawah kakinya.


Astaghfirullah… Iqlima??

__ADS_1


***


__ADS_2