Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)

Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)
Bab 29: Seribu Jurus, Seribu Nyawa


__ADS_3

“Kamu kenapa terlalu sering ke Aceh, Nak? Kan proyek Yayasan sudah ada yang tangani?” Tanya Hajjah Aisyah ketika beliau dan Yahya sudah sampai di pusat perbelanjaan. Hajjah Aisyah berniat membeli beberapa barang sebagai buah tangan untuk keluarga Pranawa.


“Aceh sangat berkesan, Mi. Yahya suka!” Sahut Yahya simple. Sedari tadi pemuda ini tidak tenang. Ia mengecek handphone berulang kali menantikan pesan dari Iqlima.


“Coba kamu pilihkan, lebih bagus yang mana? Kain Sari India atau Sutra Kazakstan?” Hajjah Aisyah mengangkat dua barang sebagai pebanding.


“Sutra Kazakstan” Hajjah Aisyah mengangguk-angguk setuju.


“Kenapa Ummi repot-repot belanja sendiri sih, Mi? Kan bisa minta belikan mba Sri atau yang lain!”


“Yang ini spesial, Nak! Gabungan dari selera Ummi juga selera kamu! Ini kan untuk Layla, calon istrimu!” Yahya sumringah sebab pesan yang ia nantikan hadir di layarnya. Hajjah Aisyah mengira senyuman yang Yahya berikan sebagai jawaban persetujuan.


Di sisi lain, di tempat yang sama. Layla dan Razil tengah makan bersama di food court yang ada di dalam pusat perbelanjaan.


“Kamu makannya pelan-pelan dong yank, sampe blepotan gitu! Ntar kesedak lho!” Razil mengambil tisu menge-lap pelan sekitaran mulut Layla.


“Huk Huk Huk!” Layla terbatuk. Ia benar-benar tersedak sebab matanya menangkap Yahya, Hajjah Aisyah dan dua asisten mereka tengah berjalan dari satu etalase ke etalase lain.


“Mas, aku permisi! Buru-buru! Bayarin yah!” Layla menyeruput habis minumannya.


“Byeeee”


“Hey, tunggu… kamu mau kemana?” Razil melongo melihat tingkah kekasihnya. Ia hanya bisa mencelos kecewa, padahal sehabis makan Razil ingin membawa Layla ke vilanya.


Layla bersembunyi di sudut. Ia mengamati Yahya dari jarak yang tidak terlalu jauh.


Ganteng banget! Hihihi. Layla cekikikan sendiri memantau Yahya.


Hidungnya, matanya, woaa.. kalau dilihat-lihat tampaknya mas Yahya ini atletis. Perfecto. Layla berbinar. Ia mengamati gerak gerik Yahya.


***


Iya Abang, ini adek di rumah aja. Ga kemana-mana kok! Yahya tersenyum menanggapi pesan dari Iqlima. Tapi malah bingung mau membalas apa.


Dik Ima jangan lupa makan. Jangan lupa shalat. Dik Ima sudah mandi? Nanti kita video call ya! Ketik Yahya. Ah klise! Yahya kembali menghapus pesannya.


Baiklah Dik. Sepatah kata, Yahya mengirimkan pesan wibawanya. Iqlima sedikit kecewa akan tanggapan balasan dari Yahya. Padahal ia ingin mengetahui lebih spesifik apa yang sedang suaminya lakukan. Hmh mungkin beliau sedang sibuk. Pikir Iqlima membesarkan hati.


Yahya melangkah keluar dari gedung setelah berpamitan pada hajjah Aisyah untuk pulang lebih awal. Matahari yang terik membuat Yahya mengeluarkan kacamata anti UV dan menuju parkiran.


“Mas Yahya….!” Panggil Layla bersemangat.


“Kamu di sini? Sama siapa?” Yahya mengedarkan matanya ke sekeliling.

__ADS_1


“Tadi sama temen. Mas Yahya anterin aku pulang ya?” Pinta Layla. Yahya menge-cek jarum jam nya. Masih ada 2 jam lagi sebelum ia mengasuh pelajaran tamaddun Islam di pondok.


“Pleaseee… Anterin ya? Ya ya ya?” Yahya menghela nafas sebelum akhirnya mengangguk.


“Kamu kok mainnya jauh banget?”


“Cuma nge-mall doang kok. Mungkin memang sengaja Allah takdirkan. Buktinya aku ketemu Mas Yahya. Mungkin ini yang disebut jodoh ya, Mas? Jadi ga sabar dinikahin sama Mas Yahya!” Layla menutup mulutnya dengan telapak tangan.


“Kamu anaknya asik ya! Mudah berbaur!” Sindir Yahya menggeleng heran akan tingkah remaja di sampingnya.


“Tinggal ngomong doang, apa susahnya! Nanti kalau kita sudah menikah kita akan lebih sering mengobrol!” Sahut Layla yang terus menatap Yahya. Ia memperhatikan hidung mancung dan dagu terbelah milik pria tersebut.


Benar-benar Makhluk tanpa pori-pori! Gumam Layla terkagum-kagum.


“Ha? Apa? Barusan kamu ngomong apa?!”


“Tadi aku nanya… Aku cantik ga?” Layla meletakkan kepalanya di lengan Yahya. Pemuda tampan ini terkejut.


Tiiiiinnn. Pengendara lain menekan klakson panjang sebab mobil yang Yahya setirkan oleng.


“Namamu Layla kan? Maaf, jangan begini! Aku sudah menikah. Nanti istriku bisa marah!” Ucap Yahya cepat.


“Hahaha… Mas Yahya polos banget, ih! Ngancem aku bawa-bawa istri segala! Kan calon istri nya mas Yahya itu Aku! Mas Yahya suka bercanda juga ya! Hahaha” Layla tertawa keras.


“Ttt tapi mas…” Layla menggeleng.


“Aku seorang pria beristri” Yahya menyetop mobilnya di depan gerbang kediaman Pranawa. Wajah Layla berubah kusut.


“Kamu ga mau turun?” Layla memelintir ujung baju kaosnya. Bersungut. Gerakan yang gadis muda tersebut lakukan mengingatkannya pada Iqlima.


“Turunlah. Aku ada jam mengajar di pondok! Satu lagi, jagalah sikapmu. Apalagi terhadap lawan jenis! Kamu itu cantik dan menarik. Pasti banyak laki-laki yang berebut memperistrimu kelak!” Ucap Yahya.


Layla pun turun. Ia turun tanpa melihat Yahya juga tanpa mengucapkan sepatah katapun.


Siapa istri mas Yahya ya? Berani-beraninya perempuan itu menggagalkan mimpi Layla Asmarini Ningsih! Dasar pelakor! Seluruh dunia juga tau kalau mas Yahya itu jodohnya siapa! Awas saja! Gumam Layla mengepalkan tangannya. Marah. Mobil Yahya melaju meninggalkannya.


"Pelakor sial*n!!!!" Layla mulai berteriak.


"Apa hukuman yang tepat untuk pelakor?!! Kalau begini setan juga akan minder, brengs*kkk!! Pelakor brengs*kkk!!" Layla terus mengumpat. Ia begitu marah mendengar Yahya sudah direbut oleh wanita lain.


***


“Master, Master benar-benar akan meninggalkan kita?” Penghuni Lapas Kajue tampaknya tidak rela dengan kebebasan junjungan mereka. Beberapa waktu selama di penjara, Hilman sudah banyak menurunkan ilmu dalam dunia kriminal pada para napi. Keberadaan orang yang digelar Master Iblis tersebut terasa begitu membekas di hati mereka.

__ADS_1


“Ingat pesanku, Budok! Sepeninggalku, kau jangan berantam dan cari masalah lagi dengan si Darut! Dalam dunia hitam, ia juga ingin naik level dari perampok biasa ke dunia begal! Tolong kau bimbing dia dengan baik! Jangan sampai kelak aku mendengar kabar bahwa ia terombang ambing di jalanan!” Budok mengangguk sedih.


“Cangguk, kau juga jangan keseringan diam-diam mengambil jatah makan si Caheung! Biarkan dia menaikkan berat badannya. Sekarang dia sudah sudah terlalu kurus! Bernafas saja sudah susah! Berikan dia kesempatan untuk di takuti lawan dengan tubuh paripurna sehat berisi! Keberhasilannya kelak, juga kebanggaan untuk kita semua!” Hilman menepuk-nepuk pundak para napi yang berkaca-kaca.


Budok, Darut, Cangguk, Caheung dan sebagainya adalah nama samara istimewa yang di hadiahkan oleh sang Master bagi semua napi yang berada dalam bimbingannya.


“Aku pamit!”


“Masteeerrrr!” Napi senior memeluk Hilman.


“Jangan cengeng! Malu sama tattoo mu!” Hardik Hilman.


“Apa rencana Master ketika bebas nanti?”


“Memperk*sa istri orang!” Sahut Hilman menunjukkan smirknya.


“Ha… Ha… Hahahahha… Hidup Master… Hidup Masterrr!!!” Para Napi mengelu-elukan Hilman.


Ampon Din sudah menunggu putra semata wayangnya di depan lapas.


“Terima kasih Abu!”


“Sesuai janji, ceraikan Mawar dan Melati!” Titah Ampon Din tanpa basa basi.


“Apa Abu sudah tau dimana keberadaan Iqlima?”


“Pikirkan nasib-mu terlebih dulu baru kau pikirkan gadis tengik itu!” Sambar Ampon Din.


“Sementara kau akan menginap di desa Blang Oi. Sebab kehadiranmu sangat ditakuti orang-orang di desa kita!”


“Di desa Blang Oi? Di tempat siapa?”


“Di rumah kosong milik Thursina! Istri siri Pak Keuchik!” Sahut Ampon Din.


“Bu Thur? Istri siri pak keuchik? Hahahahahaa” Hilman tertawa tak percaya.


“Keuchik itu terlalu sulit untuk di tundukkan. Tapi kita bisa sedikit bermain-main dengan istri siri kaya raya nya!” Ampon Din menyunggingkan senyum. Sudut bibirnya naik ke atas. Hilman mengangguk-anggukkan kepalanya.


“Kuperingatkan padamu untuk berhati-hati, Hilman! Ini kali pertama dan terakhir aku mengeluarkanmu dari penjara! Aku mengambil resiko seribu jurus seribu nyawa untukmu! Selebihnya, aku tidak akan lagi bisa menyelamatkanmu!” Hilman terenyak.


“Aku akan menyerahkan mu pada Tuan Arya untuk dibimbing langsung olehnya! Aku percaya kau akan menjadi manusia bermartabat di tangannya!” Ampon Din berkata dengan harapan yang besar pada Hilman, putra satu-satunya.


***

__ADS_1


__ADS_2