Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)

Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)
Bab 52: Mengunjungi Asrama Santriwati


__ADS_3

Aaaaaawww. Pekik Iqlima yang tiba-tiba terjerebab jatuh. Pinggangnya terasa sakit karena ia terhempas kuat. Jalan yang dilewati begitu licin. Padahal sebelum nya tidak. Iqlima mencium bau minyak yang menyengat. Ia meraba ke tanah basah yang mengkilap.


I… ini… Bensin.


Siapa yang menuangkan bensin di sini? Kening Iqlima mengerut. Ia kesulitan untuk bangkit berdiri.


Sssss… Ya Allah…. Sakit sekali…. Rintih Iqlima berdesis. Ia melihat ke sekeliling. Sepi. Di halaman belakang asrama sama sekali tidak terlihat satu makhluk-pun.


Ya Allah… Apa yang harus kulakukan? Pikir Iqlima mulai cemas.


Ditempat yang sama namun tidak terjangkau dari penglihatan, seorang wanita muda menatap Iqlima dengan tatapan intens. Tak lama, ia berlalu dengan senyum menyeringai.


Bismillah... Iqlima mencoba berdiri untuk kesekian kalinya.


Awwwww. Sayang sekali. Lagi-lagi ia terjatuh. Tenaganya tidak cukup kuat untuk membuatnya bangkit.


Ya Rabb… Mata Iqlima basah. Langit kembali mendung disertai dengan angin kencang. Sesekali dedaunan kering terbang menampar wajahnya. Hujan mulai turun. Tiada sesiapapun di sana. Iqlima pasrah ketika butir-butir air dari langit membasahi pakaiannya. Ia menengadahkan wajah ke angkasa.


Di kediaman Haji Zakaria, Yahya menyerahkan kunci motor pada supirnya untuk dibawa ke area parkiran. Pemuda tersebut masuk ke dalam rumah dengan senyum yang mengembang. Semua tentang Iqlima masih melekat jelas di ingatan.


Ah, andai waktu kebersamaan mereka lebih panjang. Namun sesuatu yang begitu mengganggu seketika hinggap di ingatannya. Pemuda tersebut langsung mengambil handphone menghubungi asisten pribadinya,


"Rus, Iqlima batal kuliah di Trisaksi! Aku ingin kau mendaftarkan Iqlima pada kampus swasta terbaik lainnya! " Titah Yahya tanpa basa basi.


"Baik Gus, tapi uang yang telah di serahkan ke kampus Trisakti tidak bisa diambil kembali! "


"I know, It's okay! Aku tunggu kabar darimu! "


"Siap bos!! " Sahut Rusdi sigap.


Enak banget jadi Gus Yahya, keluarkan uang ratusan juta seperti ratusan ribu! Rusdi menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia bergegas mengerjakan apa yang dipinta oleh atasannya tersebut.


Hmh, memindahkan Iqlima ke kampus swasta lain memang pilihan yang terbaik. Gumam Yahya mengusap dagunya.


Beruntung aku sudah menghapus sekaligus memblokir nomor si Raafi! Who does he thinks he is? Dia pikir dia siapa? Brani-braninya mendekati Iqlima dan merasa paling tau segalanya! Huh! Gumam Yahya menggerutu. Ia terus berjalan menuju kamar utamanya.


“Gus, maaf Gus…” Seorang asisten menghampiri dengan tergopoh. Yahya menghentikan langkahnya.


“Alhamdulillah Gus sudah pulang, Gus Yahya di tunggu oleh Ummi Hajjah di ruang keluarga. Hari ini ada tamu yaitu Nyonya Cahyati dari kediaman Tuan Pranawa datang berkunjung. Beliau membawa putrinya nona Layla. Mulai besok nona Layla akan menetap di pesantren” Asisten Yahya melaporkan.

__ADS_1


“Apa hubungannya denganku? Kalau mau masuk pondok ya masuk saja! Kenapa harus melapor padaku?! Katakan untuk ikuti saja prosedur yang sudah ada!” Tukas Yahya cuek. Ia berlalu menuju kamar.


“Gus, tunggu,, sebentar Gus!"


"Apa lagi? Sudah jelas apa yang kukatakan kan? Aku lagi tidak punya banyak waktu! "


"Ma... Maaf... Begini Gus... Ummi Hajjah mau mengajak Gus Yahya mengunjungi gedung asrama santriwati untuk menemani nyonya Cahyati dan putrinya melihat-lihat asrama! Tolong jangan ditolak Gus… Saya dititahkan untuk menyampaikan hal ini!” Asisten Yahya tidak menyerah. Ia yang cemas bagaimana harus menghadapi Hajjah Aisyah terpaksa harus membujuk Yahya untuk mau menghadap.


“Apa? Mengunjungi asrama santriwati?” Yahya tampak tertarik.


“Iya, benar Gus!”


“Hmh Begitu ya..." Yahya tampak berpikir.


"Kenapa kau tidak mengatakannya dari tadi! Bagaimana mungkin aku menolak permintaan Ummi! Haha.. Kau memang suka mengada-ada!” Lanjut Yahya. Sang asisten mengaruk kepalanya. Bingung.


“Kenapa malah diam?! Cepat sediakan jubah dan parfum terbaikku!” Titah Yahya, tak lupa ia menyunggingkan senyumnya.


“Ba.. Baik Gus!” Yahya langsung melesat ke kamar pribadinya.


Tidak seperti biasa, Gus Yahya sekarang sudah lebih banyak tersenyum. Asisten tersebut menggaruk tengkuknya menatap punggung Yahya yang menghilang dibalik tembok.


***


Gerak langkah terdengar memenuhi lorong-lorong kamar para santriwati.


Brak


Brak


Brak


Pintu-pintu di buka cepat oleh para ustadzah pengasuh.


“Bersihkan kamar kalian, jangan sampai ada satu sampah-pun yang terlihat! Ummi Hajjah dan Gus Yahya akan berkunjung ke sini! Cepat! Bergegas!!” Titah para ustadzah.


“Ayo ayo cepat!!”


Pengumuman menggunakan pengeras suara juga mulai terdengar melalui corong mushala. Suka cita memenuhi hati para santri. Di kunjungi oleh Hajjah Aisyah dan Gus Yahya merupakan suatu keberkahan. Apalagi sebagian besar dari mereka sangat mengidolakan putra dari pemilik pesantren tersebut.

__ADS_1


Alih-alih berani berharap dipersunting menjadi istri pertama, kedua atau ketiga, bisa bertemu dan melihat Yahya secara langsung sudah menjadi kebahagiaan tersendiri bagi mereka.


Sreett


Hujan telah berhenti. Pintu gerbang dibuka lebar oleh dua khadim yang berjaga. Para santriwati telah menunggu kedatangan Yahya beserta rombongan di tengah halaman asrama. Para punggawa pesantren dan yang lainnya melangkah masuk.


Hajjah Aisyah dan Cahyati berjalan berjajar pada sisi kiri Yahya. Dua sosialita papan atas tersebut di dampingi oleh seorang khadimah berjalan dengan anggun. Gesture tubuh mereka terlihat classy.


Di temani oleh Sri, Layla berjalan pada sisi kanan Yahya. Gadis tersebut tampil menawan dalam balutan kerudung berwarna pink bella. Warna yang dipilih tampak kontras pada kulit putihnya. Penampilan mencolok tersebut cukup membuat sesiapa yang memandang berdecak kagum. Pelan tapi pasti, Layla berusaha untuk bisa mengimbangi gerak langkah Yahya.


Yahya yang biasanya berjalan menunduk atau menatap lurus ke depan, Kali ini terlihat tidak tenang. Ekor matanya berpendar ke kanan dan ke kiri. Sesekali ia menggerakkan lehernya untuk meneliti lebih jelas. Yahya seperti tengah mencari sesuatu. Tidak menemukan apa yang dicari, Yahya mengerutkan keningnya.


Woaa Mas Yahya harum banget. Kalau tidur dipeluk mas Yahya, ga akan aku lepas deh! Walau seorang santri yang jarang bergaul, ternyata selera mas Yahya boleh juga! Hihi. Layla tersenyum girang. Ia menghirup aroma tubuh Yahya yang menguar dengan kuat.


Hhhssssstt Hhhhssssttt… Itu Gus Yahya. Para santriwati mulai berbisik-bisik.


Masya Allah,, Jamiil Jiddan! Mereka berbinar.


Woaa Lihatlah! Gus Yahya menatapku!


Haha... Jangan Ge-er! Gus Yahya juga menyapu pandangannya ke banyak sisi. Hari ini beliau terlihat berbeda ya! Kali ini aku bisa melihat ketampanannya dengan jelas! Masyaa Allah... Semalam aku mimpi apaaa...


Eh eh, tapi Gus Yahya bersama siapa? Cantik banget! Ini sih the real bidadari!


Mungkin anak kiayi dari pesantren lain.


Masya Allah, mereka serasi banget ya! Jangan-jangan memang calon istri Gus Yahya.


Lebih baik jangan deh. Mbak yang cantik itu seperti maksa banget mau dekat-dekat dengan Gus Yahya. Tapi Gus Yahya-nya terlihat seperti kurang nyaman! Tukas santri lainnya yang dari tadi mengamati gerak gerik Layla dengan detail.


Huusss, jangan bicara sembarangan! Kalau sudah berdiri sejajar dengan Ummi Hajjah dan dekat dengan Gus Yahya, sudah pasti beliau orang terpandang. Pokoknya dia lebih baik daripada kamu atau aku! Salah seorang dari mereka memberi peringatan. Santri lainnya ikut mengangguk-angguk.


Rombongan Yahya mendekat. Sejak masuk ke dalam gedung pesantren dan singgah di asrama, para asisten sudah menginfokan dengan baik informasi mengenai Bustanul Jannah tempat yang akan di tempati pada Layla dan Cahyati. Pesantren yang sudah sangat masyhur dengan grade A tersebut memiliki fasilitas yang baik. Cahyati jadi tidak terlalu khawatir meninggalkan Layla di sana. Apalagi putrinya akan mendapat izin khusus untuk mengakses rumah Hajjah Aisyah.


***


Jangan lupa tinggalkan jejak selesai dibaca~ Terima Kasih 💕


***

__ADS_1


__ADS_2