
Iqlima terus berjalan menerobos pekatnya malam hingga ia sampai pada perbatasan antara Bustanul Jannah dan kediaman Haji Zakaria. Namun alangkah terkejutnya Iqlima, di ujung jalan seorang pria sudah berdiri tegak. Dalam derasnya hujan, terlihat air menetes-netes dari sulur rambutnya. Orang tersebut memperhatikan Iqlima dengan tatapan sendu.
“Bang Yahya kenapa di sini?” Suara lembut Iqlima terdengar.
“Aku menunggu kelas mu selesai” Sahut Yahya dengan suara parau.
“Kenapa Bang Yahya menangis?” Iqlima sedikit terkejut setelah menatap wajah Yahya lekat-lekat. Pemuda tersebut diam-diam menghapus air matanya. Salah tingkah. Dalam derasnya hujan Yahya tersenyum.
“Aku bukan menangis. Hujan badainya terlalu kuat, anginnya menerpa hingga membuat mataku berair. Rasanya perih sekali” Iqlima terpaku. Yahya mendekat dan langsung memeluknya erat.
“A.. Apa boleh jika kita seperti ini di sini?" Tanya Iqlima berhati-hati. Yahya tersentak dan sesaat ia tersadar bahwa mereka masih berada di lingkungan pesantren.
Pelukan yang Yahya berikan terasa begitu hangat. Andai kondisi mereka tidak di apit oleh tembok-tembok gagah dengan ratusan mata, niscaya Iqlima ingin dipeluk lebih lama. Yahya dengan cepat melonggarkan pelukannya.
“Aku sudah tidak tinggal di sini!”
"Ha? Kenapa bisa begitu?”
“Ceritanya panjang.. Kau mau ikut bersamaku, kan?” Tanya Yahya membuka jaket dan membalutkannya ke tubuh Iqlima.
Apa bang Yahya mau mengasingkanku lalu menikahi Layla dan membawa wanita itu untuk tinggal di sini? Kening Iqlima mengerut sesaat. Lidahnya terasa kelu. Namun tanpa banyak bertanya ia memilih untuk mengangguk. Yahya merasa lega.
Tiiit Tiiit
Tiba-tiba suara klakson terdengar. Seseorang membuka kaca mobil.
“Apa yang kalian lakukan di tengah-tengah hujan begini, Nak? Masuklah! Nanti kalian bisa sakit!” Seseorang yang tidak lain adalah haji Zakaria sukses membuat Yahya terkejut.
“Abah?”
***
Yahya duduk di hadapan Haji Zakaria dan Hajjah Aisyah dengan wajah menunduk. Pada kerabat dan sanak saudara sudah kembali ke kediaman mereka masing-masing. Yahya yang tertangkap basah akan meninggalkan rumah terpaksa kembali atas permintaan abah yang ternyata pulang dari Amerika lebih awal dari waktu yang sudah di tentukan.
Jam sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Namun tak menghalangi keluarga inti tersebut untuk kumpul membicarakan hal penting. Raut wajah Haji Zakaria tampak kusut. Beliau benar-benar terkejut dengan keputusan Yahya.
“Nak, apa benar bahwa kamu sudah memutuskan hubungan mu dengan keluarga ini?” Todong Haji Zakaria tanpa basa basi.
__ADS_1
“Memang wanita itu pembawa petaka, Bah!” Timpal Hajjah Aisyah cepat.
“Diam, Humaira!” Suara Haji Zakaria meninggi. Hajjah Aisyah terdiam.
“Izinkan ananda berbicara, Bah! Ananda tidak akan menambah atau mengurangi cerita pada peristiwa yang baru saja terjadi” Haji Zakaria mengangguk memberikan kesempatan. Yahya mulai bercerita.
“Jadi Yahya bukan memutuskan hubungan dengan Ummi, Abah ataupun keluarga besar. Hanya saja, Yahya tidak bisa menceraikan Iqlima atau menduakannya!” Suasana hening sejenak.
“Tapi Bah… Yahya juga tidak ingin menjadi beban keluarga, maka dari itu Yahya mengambil jalan tengah dengan melepas semua fasilitas ini. Yahya tidak ingin pernikahan kami menjadi beban, aib dan ancaman buruk bagi keluarga besar! Yahya akan sangat merasa bersalah! Namun yang pasti, selama Iqlima tidak memiliki kesalahan fatal, maka Yahya tidak akan pernah menceraikannya” Ucap Yahya tegas. Sorot matanya menyatakan bahwa ia sangat sadar dengan apa yang ia ucapkan.
“Bah, lihatlah putra abah! Ia sekarang sudah besar, dia sudah tidak membutuhkan keluarga! Putra abah sudah bisa berdiri di atas kedua kakinya sendiri. Hanya karena seorang janda rendahan, ia lupa siapa yang telah mengajarinya berjalan juga mengajarinya mengucapkan kata. Hingga sekarang ia sudah bisa berbicara lancang dengan rasa penuh percaya diri seperti ini!” Ucap Hajjah Aisyah dengan kalimat penuh sindiran. Yahya menunduk dan memejamkan mata. Air kembali menetes di sudut sana.
“Abah kecewa… Abah sangat kecewa!” Haji Zakaria mengusap-usap janggutnya.
“Kau dengar Yahya? Lihatlah apa yang sudah kau lakukan? Kau tidak hanya membangkang pada Ummi, namun kau juga telah melukai hati abahmu!” Cebik Hajjah Aisyah. Yahya semakin menunduk dalam.
“Abah bukan kecewa pada Yahya, tapi pada Ummi!” Ucap Haji Zakaria tiba-tiba. Hajjah Aisyah tersentak.
“A.. Apa bah?”
“Bah…!”
“Yahya sudah menikah, kita tidak berhak mencampuri kehidupan rumah tangganya!”
“Tapi bah… Karena wanita itu Yahya menjadi durhaka!” Suara Hajjah Aisyah meninggi.
Sreeettt
Haji Zakaria bangkit menyeret kasar kursinya ke belakang.
“Semakin abah amati, sikap Ummi semakin tidak karuan! Abah hampir tidak mengenali siapa istri abah!” Hati Hajjah Aisyah mencelos.
“Yahya durhaka dari mana, Mi?” Tanya Haji Zakaria menunjuk Yahya.
“Benar! Allah SWT menyuruh seorang anak untuk menaati kedua orang tuanya. Belaku ma'ruf itu memang wajib hukumnya selama kedua orang tua tidak menentang syariat! Tapi apa yang telah Ummi lakukan? Ummi menyuruh Yahya menaati Ummi untuk menceraikan nak Iqlima, padahal ia tidak memiliki kesalahan apapun! Ummi pikir, menantu abah itu barang yang bisa dicampakkan begitu saja ketika sudah tidak lagi diminati?!”
“Bah, Tapi Iqlima itu seorang janda! Dia seorang janda bukan gadis! Bahkan Yahya adalah perj*ka tampan yang kaya raya! Putra kita itu bisa menunjuk gadis terhormat manapun yang ia inginkan untuk dinikahi!” Yahya spontan mendongak.
__ADS_1
“Keterlaluan!! Jaga perkataan Ummi!!” Hardik Haji Zakaria. Urat menonjol tampak berserakan di leher kokohnya. Hajjah Aisyah menunduk menggigit bibir bawahnya. Selama mereka menikah,, ia belum pernah melihat suaminya semurka ini. Tenggorokan Yahya tercekat. Tangannya sudah hampir terangkat ingin membeberkan bagaimana kondisi Iqlima sebenarnya.
“Hhhh... Ummi itu paham agama, Ummi paham syari’at tapi mengapa Ummi menjadi seperti ini...” Haji Zakaria memijat pelipisnya. Kepala beliau terasa sakit.
“Sudah menjadi takdir Yahya menikahi gadis atau janda. Itu semua sudah ketentuan Allah.. Janda juga bukan sebuah kecacatan! Kecacatan yang sebenarnya adalah ketika kita ingkar pada perintah Tuhan! Dengan suami pertama nya, Iqlima menikah dalam ikatan yang halal. Lalu mereka berpisah karena maut. Lalu salahnya dimana? Iqlima tidak berzina. Iqlima tidak melakukan zina dengan siapapun!”
“Huk Huk Huk…” Hajjah Aisyah mendadak terbatuk. Perkataan Haji Zakaria terasa menohok. Raut wajah Hajjah Aisyah berubah. Haji Zakaria mendekat, beliau menyodorkan segelas air mineral yang berada tidak jauh dari mereka. Tak lupa pria paruh baya yang masih tampak gagah itu kembali menjauh setelah mengusap-usap punggung sang istri.
“Yahya sudah benar tidak menaati perintah Ummi dan tetap berada pada prinsipnya! Ummi menyuruh putra kita untuk menceraikan istrinya, itu artinya Ummi menyuruh Yahya untuk melakukan perbuatan yang dibenci oleh Allah. Ummi telah berbuat dzalim. Ummi akan menghancurkan sebuah rumah suci. Yahya boleh tidak menaati jenis orang tua yang dzalim begini!"
"Apa Ummi sehat?!” Haji Zakaria melayangkan tatapan tajam. Hajjah Aisyah mati kutu tak berkutik. Haji Zakaria mendekati sang putra.
"Putraku, kamu tidak perlu meninggalkan rumah dan segala fasilitas ini... Kamu tidak perlu menceraikan Iqlima. Kamu juga tidak dibebankan untuk melakukan poligami... Abah bangga padamu, Nak! Abah bangga!" Haji Zakaria menepuk-nepukYahya lembut pundak Yahya penuh kasih.
"Pernikahan mu bukan lah sebuah aib... Iqlima adalah wanita terhormat... Entah apa yang nanti akan orang-orang di luar sana bicarakan tentang keluarga kita, itu tidak lebih penting dari sebuah makna hidup! Selama kita tidak melakukan kesalahan, jangan takut akan penilaian orang lain! " Keharuan di hati Yahya membuncah-buncah. Perkataan Haji Zakaria bagai aliran oase yang menghapus kekeruhan di hatinya.
"Abah selalu menjadi panutan bagi Yahya dalam melakukan tindakan... " Haji Zakaria tersenyum mengangguk-angguk.
"Tapi bah, keluarga besar pasti tetap tidak akan ridha. Mereka khawatir penikahan Yahya akan menjadi boomerang bagi para rival untuk mencoreng nama baik hingga menjadi momok menakutkan bagi kelancaran bisnis. Jadi biarlah Yahya mengalah dengan keluar dan meninggalkan ini semua..."
"Tapi Yahya sama sekali tidak menyalahkan keluarga besar. Yahya sangat paham bagaimana kekhawatiran mereka semua. Yang paling penting adalah ridha Allah... ridha Abah dan Ummi, ini semua sudah menjadi sumber kekuatan Yahya. Izinkan Yahya memulai semuanya dari awal" Haji Zakaria menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tidak nak, semua ini milikmu! Kerja keras abah untukmu... Untuk umat... Kita tidak hidup dari tekanan orang lain! Sekarang bukan saatnya kau merintis dari awal. Kau tidak butuh pembuktian siapapun karena kau sudah teruji sejak awal abah mengasingkanmu ke berbagai tempat yang penuh dengan aral melintang! Sekarang sudah saatnya kau mengelola ini semua dengan caramu, dengan cara yang lebih baik dari yang abah lakukan! Kembangkan! Buat ini semua bertambah maju, banyaklah berderma... jadilah orang yang bermanfaat... kau dan nak Iqlima pasti bisa melalui ini semua! Dengan begini, InsyaAllah penilaian keluarga besar akan berubah" Yahya tidak bisa untuk tidak menampakkan airmatanya. Yahya menangis dalam pelukan hangat seorang Ayah.
"Nak, kalau abah berada di posisi mu... Niscaya abah akan melakukan hal yang sama... Abah akan memperjuangkan istri Abah semaksimal mungkin... Ini bukan hanya sekedar perkara perasaan cinta atau sentimen terhadap perasaan pribadi semata... Melainkan sebuah tanggung-jawab besar di hadapan Allah... Di sini integritas mu teruji... " Hajjah Aisyah mendongak. Sekarang wajah beliau benar-benar kusut. Hajjah Aisyah mengepalkan tangannya erat-erat.
Wanita siaalan!!!! Kau sudah menjatuhkan pesona ku dihadapan suamiku sendiri.. Aku seperti tidak punya marwah di hadapan putra ku!! Astaghfirullah.. bagaimana ini? Semakin lama ia semakin menjadi jadi... Kalau dibiarkan parasit akan merajalela! Apa yang harus kulakukan untuk menendangnya keluar jauh jauh dari kehidupan kami??
Dalam suasana mengharu biru tampak Hajjah Aisyah berpikir keras.
***
Berikan Komen Terbaikmu 💙💙💙
#Event_2
IG: @alana.alisha
__ADS_1