
6 Bulan Kemudian~
Hajjah Aisyah, ibunda Yahya masuk ke ruang keluarga dengan tergesa. Beliau sudah memesan pada suami dan Yahya anaknya untuk menunggu kehadiran beliau di ruangan tersebut.
Sreeeekkk
“Ini apa Yahya?!” Hajjah Aisyah melempar sebuah dokumen ke atas meja. Yahya bersiap untuk disidang.
“2 Milliar… Tidak! Nyaris 3 Milliar dana yang kau habis kan hanya dalam waktu kurang dari 6 bulan?!” Hajjah Aisyah menggelengkan kepalanya. Yahya menunduk. Haji Zakaria spontan menoleh ke wajah sang anak.
“Bagaimana Yahya? Kemana kau bawa dana tersebut? Ini memang uang yang tidak terlalu besar! Tapi mengingat gaya hidupmu yang selama ini serba sederhana dan usia mu yang masih sangat muda, Ummi tidak percaya kau bisa menghabiskan dana sebanyak ini! Bahkan tahun lalu ummi akan membelikanmu jam tangan Rolex dengan harga yang hanya 200 juta saja kau tolak mentah-mentah!” Hajjah Aisyah mensedekapkan tangan. Heran.
“Hemmm…” Haji Zakaria berdehem.
“Mi, duduklah terlebih dahulu. Kita bicarakan semuanya baik-baik!” Titah Haji Zakaria.
“Bagaimana nak? Bolehkah kamu menjelaskan kemana kamu bawa dana tersebut?”
“Yahya mensedekahkannya, Bah!” Sahut Yahya. Hajjah Aisyah terenyak.
“Sedekah bertubi-tubi?!” Hajjah Aisyah kembali membuka laporan penarikan dana oleh Yahya dengan rata-rata lebih dari 500 juta per bulan. Tak masuk akal.
“Bukankah kita sudah punya dana khusus untuk disedekahkan? Apa kamu sedang membangun sebuah mesjid?!” Hajjah Aisyah kembali bangkit dari duduknya.
“Yahya, Kamu tidak sedang terlibat hubungan khusus dengan seorang wanita kan?! Apa kamu sedang dimanfaatkan? ” Hajjah Aisyah memicingkan mata curiga. Perkataan beliau sukses membuat Yahya mendongakkan kepalanya.
“Mi, sudah mi… Anak bersedekah ya bagus. Harusnya kita bangga! Sudah, jangan dipermasalahkan lagi. Yang penting kan tidak mubadzir!” Haji Zakaria bangkit dari duduknya.
“Bah, mau kemana? Kita belum selesai bicara, Bah!”
“Ke kamar. Abah lelah belum istirahat. Ayo Ummi ikut, Abah sudah siapkan air panas di bak untuk Ummi Rileks! Ummi juga Lelah dengan aktifitas hari ini, kan?” Sahut Haji Zakaria yang langsung merangkul pundak istrinya.
“Bah, pokoknya kita harus awasi pergaulan Yahya, ya! Jangan sampai terjebak sama sembarang wanita… Yahya itu akan kita nikahkan dengan Layla, anak dari keluarga Pranawa” Hajjah Aisyah masih terus membebel dalam rangkulan haji Zakaria. Mereka melangkah bersama menuju pintu.
“Iya Humaira… Insya Allah… Allah yang akan menuntun jalan mereka... Jangan khawatir ya...” Sahut Haji Zakaria menenangkan. Mata beliau kembali melirik Yahya. Tatapan tersebut mengisyaratkan bahwa Beliau dan Yahya belum selesai berbicara. Setelah kedua orang tuanya berlalu, Yahya langsung mengambil gawai menelfon seseorang.
***
“Ini daftar menu nya!” Seorang pramusaji menyodorkan daftar list menu.
“Saya mau strawberry cheese cake dan milkshake vanilla” Ucap Dokter Jelita.
“Saya pesan Americano saja” Sahut Yahya tanpa melihat lagi ke daftar menu yang tersedia.
Pramusaji berlalu setelah mencatat semua pesanan.
“Apa seorang dokter memang suka makan dan minum yang manis-manis?” Sindir Yahya tersenyum.
__ADS_1
“Haha aku tidak menduga kau akan menanyakan hal itu. Apa kau khawatir kesehatan orang tua ini akan terganggu, hm?!”
“Dokter masih terlalu muda juga cantik untuk disebut sebagai orang tua!” Sahut Yahya santai.
“Haha… Terima kasih untuk pujiannya, Tuan Muda!” Dokter Jelita mengambil seberkas dokumen. Pergerakan dokter tersebut tak lepas dari penglihatan Yahya. Senyumnya membentuk kurva. Ia sedikit menggelengkan kepala.
“Ini hasil laporan kesehatan Iqlima”
“Sudah lama aku tidak menjenguk Iqlima. Bagaimana perkembangannya saat ini?”
“Iqlima sudah jauh lebih baik. Ia sudah tidak sering bermimpi buruk lagi” Yahya mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Pada dasarnya dia itu gadis pintar berbakat. Awalnya Aku tidak berekspektasi banyak. Namun ternyata ia cepat belajar menguasai diri juga belajar menerima. Mentalnya sangat kuat!”
“Alhamdulillah kalau begitu. Aku ikut senang mendengarnya!” Sahut Yahya diplomatis.
“Mengapa kau melakukan ini semua?”
“Maksud dokter?”
“Mengapa kau bisa begitu baik pada gadis itu? Aku tau kau menghabiskan uang yang tidak sedikit! Kau menyukai nya kan?” Selidik dokter Jelita. Yahya terenyak.
“Maaf kalau aku lancang menanyakan hal ini. Aku pikir hubungan kita bukan lagi sebatas dokter dan klien” Lanjut dokter lagi.
“Aku sama sekali tidak tertarik dan tidak akan pernah tertarik padanya!” Sahut Yahya yakin. Pemuda ini sedikit mengangkat tangannya.
“Haha apa aku sedang berhadapan dengan seorang malaikat sekarang ini?! Ayolah Yahya! Katakan apa motifmu sebenarnya?!” Desak dokter Jelita masih tak percaya.
“Aku memang bukan malaikat. Dokter 100 persen benar. Tapi mengapa dokter begitu mengkhawatirkan hal ini? Apa dokter begitu ingin melihatku menikah dengannya? Atau jangan-jangan dokter takut hatiku akan tergerak untuknya?” Yahya menyeruput kopi hitamnya.
“Hah apa yang kau bicarakan Yahya? Bukan begitu, aku masih tidak bisa percaya kau melakukan ini secara cuma-cuma begitu saja!” Sergah Dokter Jelita sedikit gelagapan.
“Baiklah, aku jelaskan. Dalam keluargaku, semua bentuk pernikahan sudah diatur. Tidak ada yang namanya menikah atas pilihan sendiri. Jadi memilih atau tidak memilih itu sama saja. Pada akhirnya pernikahan akan tergantung dari kesepakatan orang tua!” Sahut Yahya. Kali ini dokter Jelita yang berbalik terenyak. Dokter yang berusia 29 tahun itu langsung menunduk.
“Tentang hal ini, sudahlah. Tidak usah dipikirkan! Lebih baik kita temui Iqlima! Aku sudah tidak sabar melihat perkembangannya!” Ucap Yahya beranjak. Ia menginga ingat bahwa selama ini telah salah menuduh gadis itu yang bukan-bukan. Yahya merasa sangat berdosa. Rasa bersalah tersebut membuatnya merasa harus peduli pada kehidupan Iqlima.
“Oh iya, seperti biasa. Jangan katakan kalau aku yang sudah membiayainya selama ini!”
“Kau tenang saja, Aku mengatakan ada kolektor lukisan dan tas rajut yang mau membayar karyanya dengan harga yang sangat mahal. Iqlima langsung tertarik dan mengerjakan pekerjaan nya dengan penuh semangat. Pekerjaan ini membuat rasa sepinya berkurang! Dan seperti yang kau ketahui, tas dan lukisan yang selama ini aku kirimkan padamu itu adalah hasil karyanya! Lihatlah! Betapa berbakatnya ia!” Sahut Jelita berbinar. Ia benar-benar mengagumi Iqlima.
“Idemu sangat brilliant!” Tukas Yahya. Jelita mengangguk-anguk.
“Hmh satu lagi…”
“Apa itu?”
“Kali ini harus kau yang mentraktirku!” Lanjut Yahya lagi menggoyangkan jari telunjuknya.
__ADS_1
“Hahaa… seorang jutawan miliuner sepertimu masih berani mengharap traktiran dari dokter biasa sepertiku!? It’s not a big deal!”
“Kau tau? Rekeningku sudah dibekukan oleh Ummi!”
“Kau memang anak nakal!” Sambar dokter Jelita.
“Anak nakal berhati malaikat, kan?” Yahya menjulurkan lidahnya. Entah mengapa berbicara dengan dokter muda yang akan melanjutkan lagi pendidikan di Jakarta itu seolah menghapus label introvert pada dirinya.
***
Fa’tarafuu bidzan bihim fasuhqal li ash haabis sa’iiir.
Innalladzii na yakhsyauna Rabbahum bil ghaibi lahum maghfiratun wa ajrun kabiiir.
Allahumma Shalli ‘alaa Muhammad. Merdu sekali. Gumam Yahya, sayup-sayup ia mendengar Iqlima melantunkan ayat-ayat suci al-Qur’an. Ia dan dokter Jelita mengunjungi Iqlima di rumah yang sudah Yahya belikan. Rumah tersebut tentu digantikan dengan karya-karya milik Iqlima.
“Heemm… Assalamu’laikum… Iqlima…”
“Wa’alaikumsalam, masuk dok! Masuk saja tidak dikunci kok!”
“Aku bersama Yahya. Ia ingin menemuimu. Apa kami boleh masuk sekarang?”
Bang Yahya? Ingin menemuiku? Jantung Iqlima langsung berdetak kuat. Dadanya bergemuruh. Sudah 2 bulan ia dan laki-laki yang sudah menolongnya berkali-kali itu tidak bertemu.
“Se…sebentar dok!” Sahut Iqlima bergegas sigap. Ia memakai gamis dan kaus kakinya.
Ceklek.
“Ma… Masuk, Dok! Bang Yahya silahkan!” Ucap Iqlima gugup.
“Sebentar saya ambilkan minum!”
“Tidak usah, dik! Kami baru saja minum" Sahut Yahya. Iqlima melirik ke dokter Jelita. Dokter tersebut tersenyum mengangguk.
“Bagaimana kabarmu?”
“Alhamdulillah baik, bang!” Sahut Iqlima menunduk. Wajahnya bersemu tanpa bisa ia kendalikan.
“Lain kali pintunya di kunci saja ya!" Ucap Yahya. Iqlima mengangguk.
"Aku akan membawamu jalan-jalan agar kau tidak suntuk. Kau ingin kemana? Apa ada tempat yang ingin kau tuju?” Iqlima berbinar. Ia langsung kembali mengangguk. Yahya menunggu jawaban gadis bersuara merdu yang ada dihadapannya.
“Aku ingin.. Aku ingin ke hutan Seulawah. Aku ingin ke sana!” Jawaban Iqlima membuat Yahya dan Jelita terkejut.
“Kita bisa ke pantai atau ke tempat wisata lain” Dokter Jelita menawarkan opsi lain. Beliau khawatir akan kesehatan mental pasiennya.
“I am okay, Dok! Sudah 6 bulan berlalu. Sudah terlalu lama. Alhamdulillah Aku sehat. Insya Allah Aku kuat! Hilman juga sudah di penjara!” Sahut Iqlima yakin. Ia langsung mengangkat kepalanya menatap Yahya penuh harap. Netra mereka saling bertemu beberapa detik. Pemuda ini bisa melihat kekuatan dan ketegaran dari dalam bola mata coklat milik Iqlima. Bagai sihir, entah mengapa bola mata teduh itu membentuk sedikit desiran halus dihatinya.
__ADS_1
***