Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)

Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)
Bab 48: Kita Mau Kemana?!


__ADS_3

Layla masuk ke rumahnya dengan wajah kusut. Dengan gerakan santai ia langsung membuka kerudung karena merasa gerah.


Si pelakor berhasil membuat aku dihardik oleh mas Yahya. Awas saja! Gerutu Layla kesal. Wajah kusutnya terus menghias di sana. Pertemuan hari ini yang digadang-gadang akan sukses besar dan membuat Yahya terpesona malah gagal total. Padahal ia sudah bersusah payah memanggil MUA (Makeup Artist) hits yang bisa mendandani ala Muslimah Korea dengan cantik natural.


Cowok kepala batu itu kenapa susah sekali ditaklukan, sih?! Dasar buta! Aku mau adu kecantikan sama si Pelakor, aku yakin 100 persen kalau aku jauh lebih cantik juga lebih menggemaskan.


Razil bilang aku mirip barbie. Kalau Ridho bilang aku mirip artis China Zhao Li Ying yang super cantik dan imut-imut itu! Aaaaaaagh. Layla mengeram kesal. Ia menyentak-nyentakkan kakinya ke lantai.


Sialaan!! Layla masih saja mengumpat.


“Hmh…..” Seseorang yang ternyata sedari tadi mengamati pergerakan Layla berdehem. Gadis yang masih muda belia tersebut menoleh.


“Lo siapa?!” Layla mensedekapkan tangan. Heran dengan kehadiran makhluk asing di istananya.


“Dia Hilman. Pesuruh papa!” Suara Arya terdengar.


Pe.. Pesuruh? Hilman mengerutkan keningnya. Orang yang dikatakan sebagai rekan bisnis Abunya tersebut ternyata hanya menganggap dirinya tidak lebih dari seorang bawahan.


“Oh jadi lo cuma babu? Kalau Lo cuma babu, ga usah sok-sok an dehem-in gue deh!” Hardik Layla sensi. Ia yang masih kesal akan kegagalan misinya hanya bisa menyemburkan kata-kata tajam.


Hilman lagi-lagi harus terenyak mendengar kalimat yang dilontarkan oleh putri dari Arya tersebut. Seumur hidup belum pernah ada yang merendahkannya. Bagaimanapun ia adalah seorang Teuku dengan darah biru yang tidak dapat terbantahkan.


“Ini kunci rumahmu!”


Hap. Arya melempar sebuah kunci pada Hilman.


“Supir akan mengantarkanmu ke sana! Aku juga sudah mengurus keberangkatanmu ke Korea! Sampai bertemu setelah operasimu sukses! Enjoy Your Life, Hell.Man!” Ucap Arya penuh makna. Sebuah senyum misterius menghias diwajahnya. Arya beranjak keluar rumah.


“Pa, tunggu pa!” Teriak Layla langsung mengejar Arya. Jarang-jarang mereka bertemu. Layla tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan.


“Papa sibuk!” Ucap Arya dingin.


“Paaaa, Layla mau bicara!”


“Sorry, I have no time, Dear!”


“Paa, please… sebentar saja. Pleaseee!”


“Katakan keinginan mu sama Mama atau asisten ya! Kalau kau butuh uang, nanti papa transfer!” Lanjut Arya lagi.


“Pa, mama juga lagi di kantor! Pa…” Layla hampir menangis.


“Sep, jalan Sep!” Titah Arya pada Asep, supir pribadinya tanpa mempedulikan Layla yang sudah menangis.


“Papa… Hiks hiks hiks…” Layla mengusap airmatanya yang terus mengalir.


"Pa... Hiks... "


Hilman mendekat.


“Nih” Pemuda yang masih berwajah Bangladesh tersebut menyodorkan sapu tangannya.


“Apa lo?! Ga usah sok perhatian?!” Hardik Layla garang. Ia langsung melesat ke dalam lalu menutup pintu dengan membantingnya. Hilman hanya melihat dengan tatapan datar. Ia mengambil gawainya,


“Gek, bagaimana keadaan Mawar dan Melati?” Tanya Hilman pada Ogek, asisten kepercayaannya di Aceh.


“Aman bos!”


“Lalu putra putriku bagaimana? Teuku Hotman, Teuku Holmes, Cut Rose dan Cut Lily?”


“Aman bos! Saya sudah menjaminnya!” Sahut Ogek lagi.


Anak-anakku semua. Walau aku tidak tau yang mana diantara kalian yang merupakan anak kandung ku, tapi aku akan memastikan kesejahteraan untuk kalian semua! Kalian yang sudah kulindungi sejak bayi, tidak boleh kehilangan kasih sayang! Gumam Hilman.


“Bos, Bos…” Panggil Ogek membuyarkan lamunan Hilman.

__ADS_1


“Gek, Jangan lupa awasi Maryam! Bagaimanapun perempuan itu berbahaya!” Titah Hilman menutup pembicaraan mereka.


Di kamar, Layla membuang semua benda yang ada di nakasnya.


Bruuuukkk Gedebum Praaaaank.


“Brengseeeeek! Semua brengseeekkkk! Sialaaaaan! Aaaaa aaaaa!” Layla menangis sejadi-jadinya. Ia seperti orang kerasukan.


“Dunia tidak adil!!!! Semua berengseeeeekkkk! Tuhan tidak adiiiiiilllll!" Pekik Layla masih terus menangis.


“Papa, aku rindu… aku hanya ingin mengajak papa makan malam bersama… Hiks hiks! Hanya itu saja!” Layla mengusap airmatanya. Ia mengambil handphone mengetik sebuah pesan,


Sayang, jemput aku! Aku mau menginap di villa-mu lagi malam ini! Layla melayangkan pesan pada Razil.


***


Iqlima merasa aneh ketika hukuman yang ditimpakan kepadanya tiba-tiba dihentikan begitu saja. Ia dinyatakan tidak bersalah secepat kilat. Bagaimana bisa? Iqlima yang memiliki kedisiplinan tinggi tentang hak dan bathil jadi merasa ada kejanggalan di sana.


Iqlima tidak lagi memakai kerudung merah, namanya telah berubah menjadi santriwati tanpa catatan hitam. Ia kembali memakai kerudung yang biasa ia kenakan. Namun, walau hukuman sudah dihentikan, banyak pasang mata sinis tetap tertuju padanya.


Dia benar-benar anak emas!


Cih! Dia pasti punya pelet khusus untuk meluluhkan hati Ummi Hajjah!


Iqlima bisa mendengar dengan jelas gibahan yang dialamatkan kepadanya. Huft. Iqlima mendengus merasa bosan. Kelas perdananya baru akan dimulai malam nanti. Sekarang Iqlima bingung harus melakukan apa. Andai ada kertas dan pensil beserta nya sekarang, pasti jarinya sudah menari untuk menghalau rasa penat.


Ceklek


Seseorang membuka pintu kamar setelah mengetuk.


“Hey Iqlima, kau disuruh mengambil sapu lidi dan pengki di belakang asrama!” Ucap Nilam dengan tatapan sinis. Sejak awal santriwati senior tersebut sudah tidak menyukai Iqlima. Baginya, Iqlima terlalu menjadi pusat perhatian.


“Ke belakang asrama? Kenapa harus aku?”


“Tanyakan saja pada Ummi Hajjah! Kalau kau masih ingin mencari masalah, tetap bersantailah di kamar ini!” Nilam pergi setelah menyampaikan amanat dengan tidak sepenuh hati. Ia berjalan perlahan. Gadis tersebut tampak berpikir.


Pasti ada sesuatu yang tidak beres! Tebak Nilam. Ia sudah bolak balik membaca biodata Iqlima yang berada di ruang kurikulum. Sejauh penyelidikan yang ia lakukan, Iqlima hanya-lah seorang gadis biasa dan sudah yatim piatu sejak lama. Tidak ada yang istimewa.


Aku harus mengamati gerak-geriknya! Tekad Nilam. Diam-diam ia mengikuti Iqlima yang sudah menuju ke halaman belakang.


Gerimis mulai turun. Para santriwati terlihat rapi bersiap-siap untuk menunaikan ibadah shalat ‘ashr di mushola. Iqlima terus berjalan perlahan mengikuti perintah. Nyeri yang ia rasakan mulai berkurang walau jalannya masih terseok.


Apa hukumanku akan diganti dengan menyapu satu asrama ini? Tapi menyapu sapu asrama masih jauh lebih ringan daripada menanggung malu. Baiklah! Pikir Iqlima.


Namun entah mengapa ia seperti merinding. Semakin Iqlima berjalan ke arah belakang maka suasana terlihat semakin sepi. Tidak ada lagi para santriwati yang berlalu lalang. Gerimis yang berjatuhan juga menambah kesyahduan. Iqlima melirik ke kanan dan ke kiri dengan roma yang berdiri. Ada banyak semak belukar yang tumbuh liar. Iqlima jadi tidak yakin bahwa sapu dan pengki memang diletakkan di halaman belakang yang terlihat angker.


Ayolah Iqlima… Ini masih sore! Jangan takut! Innallaha Ma'anii! Iqlima mensugesti diri sendiri memunculkan rasa percaya diri. Berulang kali ia membaca ayat kursi sambil matanya terus waspada.


Settt


“Aaaaa ulat buluuuuu!” Pekik Iqlima saat sebuah ulat jatuh ke atas lengannya. Bola matanya membesar. Ia berjingkak seorang diri. Panik.


"Hhhhhmmmmffff Hmmmmffff" Nilam yang sejak tadi mengikuti nya berusaha mati-matian memegang perutnya menahan tawa atas apa yang menimpa Iqlima.


Sreeegggg.


Seseorang tiba-tiba menarik lengan Iqlima. Ia dibawa masuk ke sebuah lorong sempit lagi gelap. Orang tersebut dengan cepat membawa Iqlima ke dalam pelukannya. Tubuh mereka saling berhimpitan. Pupil Iqlima lagi-lagi harus melebar. Ia terkejut bukan kepalang. Iqlima hampir berteriak kencang namun orang tersebut menutup mulut Iqlima rapat-rapat. Iqlima kalah tenaga.


“Iqlima menghilang kemanaaa?” Nilam merasa heran. Padahal ia hanya menutup mata sesaat karena tertawa. Namun Iqlima tiba-tiba bisa raib tanpa jejak.


“Iqlimaaaaaaa” Panggil Nilam.


Iqlima meronta-ronta mendengar suara Nilam. Ia ingin meminta pertolongan.


“Iqlimaaaa” Teriak Nilam lagi. Bulu kuduk gadis ini tiba-tiba berdiri. Ia kesulitan menelan saliva. Iqlima benar-benar menghilang. Tak menunggu lebih lama ia memilih meninggalkan lokasi.

__ADS_1


Apa aku benar-benar mengikuti Iqlima? Atau aku berhalusinasi? Nilam lari terbirit-birit.


“Bbbbppppffff Bbbbbpppffff” Iqlima masih meronta-ronta. Keringat dingin mulai bercucuran.


“Ssssstttttt tenanglah! Ini aku!” Bisik orang tersebut. Suara yang tidak asing. Iqlima melunak. Ia menggerakkan sebelah tangannya memastikan lalu mulai menelusuri wajah orang yang mendekapnya.


Sssshhhh. Orang tersebut tiba-tiba meringis.


“Bang Yahya?”


“Kenapa kau mencucuk hidungku? Apa kau mencoba untuk mengakhiri hidupku, hah?” Hardik Yahya.


“Ma.. Maaf, gelap. Aku kan ga sengaja”


Huh. Baru juga ketemu lagi, sudah marah-marah. Iqlima bersungut.


Perlahan Yahya mulai menggiringnya keluar dari lorong. Yahya menggerakkan kepalanya memantau situasi.


“Bang Yahya kenapa ke sini? Kalau ketahuan bagaimana?” Yahya tidak menggubris pertanyaan Iqlima. Yahya terus menggiringnya.


"Bang, aku takut kita ketahuan! " Lanjut Iqlima.


"Berisik! " Sahut Yahya.


“Apa bang Yahya merindukanku?” Tanya Iqlima spontan. Wajahnya bersemu entah mengapa. Pertanyaan Iqlima membuat Yahya sukses menghentikan langkah kakinya. Ia berbalik arah menatap Iqlima lekat-lekat dengan wajah yang tidak bisa diartikan. Sedetik, dua detik, tiga detik. Iqlima menunggu jawaban Yahya. Namun,


Pletakkk*


“Aww” Iqlima mengusap keningnya. Yahya kembali menyentil nya.


“Bodoh! Sempat-sempatnya kau berpikir begitu vulgar di situasi begini! Lihatlah wajahku baik-baik! Apa wajah ku terlihat merindukanmu?!” Yahya memasang wajah cool dengan menaikkan dagunya ke atas. Iqlima terkesima namun menggeleng manyun.


Vulgar? Apa hubungannya? Dasar! Oh iya, aku hampir lupa bahwa menolongku saja bang Yahya enggan. Apalagi merindukanku? Apa yang kuharapkan sih? Iqlima langsung menunduk. Wajahnya terlihat sedih.


“Ikuti aku!” Yahya membawa Iqlima keluar dari jalan yang tidak terduga. Tidak akan ada yang menyangka, sebuah tembok yang ditutupi oleh rimbunnya semak belukar ternyata adalah sebuah pintu kayu. Di hadapan mereka sudah terdapat sebuah motor besar. Yahya mengambil salah satu helm dan memakaikannya ke kepala Iqlima. Dengan telaten pemuda bertubuh atletis ini memasangkan tali penghubung.


“Naiklah!” Titah Yahya setelah ia naik ke atas motor. Iqlima menggelang.


“Kenapa?”


“Memang kita mau kemana?” Ragu-ragu Iqlima melirik ke asrama santriwati yang ada di belakang mereka. Wanita ini sudah kapok mencari masalah.


“Naiklah! Ini perintah!” Ketus Yahya. Tak banyak membantah, Iqlima langsung mengikuti kemauan Yahya.


Vroooooomm Vrooooommm


“Berpeganglah!”


Wuuuuussss Wuuuusssss


Angin melambaikan pakaian mereka.


“Apa? Aku tidak bisa mendengarnya!” Yahya melambatkan laju motornya.


“Berpeganglah! Aku tidak ingin kau menyusahkanku jika tubuh kurusmu diterbangkan oleh angin! Merapatlah!” Titah Yahya berteriak agar suaranya bisa di jangkau oleh Iqlima. Gadis tersebut kembali bersungut. Ia membawa tubuhnya maju beberapa cm ke depan.


“Lebih rapat lagi!” Iqlima kembali memajukan tubuhnya. Namun tidak benar-benar mengikis jarak.


“Lagii!”


"Lebih maju lagi!! "


Vroooooommm. Jengah. Yahya menarik gasnya. Iqlima tersentak. Ia dengan cepat memeluk Yahya erat. Pemuda tersebut diam-diam menyunggingkan senyum.


***

__ADS_1


Setelah membaca jangan lupa tinggalkan jejak ya mommiessss ❤


__ADS_2