Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)

Penjara Suci (Cinta Untuk Iqlima)
Bab 111: Harga Diri Yang Terluka


__ADS_3

"Mas, aku telah menyiapkan pakaian yang akan kita pakai di Amerika nanti" Ucap Layla sambil mengunci koper-koper mereka. Yahya mengangguk. Ia sudah menyerah kan sepenuhnya pada Layla.


"Mas... "


"Hmh..."


"Walau perjalanan ke Amerika adalah perjalanan urusan bisnis, namun... Aku ingin semuanya juga bisa bermakna untuk hubungan kita" Pinta Layla. Ia mendekat ke arah Yahya yang terlihat acuh.


"Aku... Aku sudah merendahkan diri di hadapan suamiku sendiri..."


"Walau ini terlihat bodoh... Tapi aku akan... "


"Ssssttt... Aku akan berusaha membuat segala sesuatu nya menjadi baik" Ucap Yahya cepat walau tak yakin. Ia masih tidak bisa mengkondisikan diri sejak kepergian Iqlima. Manik mata mereka dengan tatapan kosong Yahya saling bertemu. Layla menconcongkan wajahnya.


Cup~


Di luar dugaan. Layla memberanikan diri mengecup bibir Yahya sebelum bisa dicegah. Pemuda tersebut terperanjat. Layla enggan menjauhkan diri. Ia masih menempelkan bibirnya di sana menunggu Yahya membalas. Namun laki-laki tersebut hanya diam bergeming dengan mata yang masih membola.


"Ini bukan yang pertama kalinya kan? Tapi kenapa mas se-kaku ini? " Lirih Layla yang akhirnya menyerah. Ia mengusap asal bibirnya. kesal.


"Maaf... Aku masih pusing memikirkan pekerjaan... Semoga kau bisa mengerti. Setelah semuanya beres..."


"Setelah semuanya beres? "


"Setelah semuanya beres, aku akan menemuimu dengan keadaan yang lebih baik" Janji Yahya seraya beranjak menuju pintu keluar.


"Mas, Iqlima sudah meninggalkan mas Yahya! Mengapa mas masih memikirkan nya?! " Pertanyaan Layla membuat langkah kaki Yahya terhenti.


"Iqlima sudah mengkhianati mas! Iqlima itu istri durhaka! Tidak sepantasnya seorang istri keluar dari rumah tanpa seizin suaminya!! Mas jangan menutup mata dengan semua yang terjadi!! "Ucap Layla berang.


"Mas sudah seharusnya membenci Iqlima! Sudah seharusnya mas melihat kesetiaanku!! Sudah seharusnya mas bertindak adil!!!!"


"Layla!!"


"Kenapa?? Mas marah?? Perempuan mandul itu tidak layak untuk mas cintai!! " Sengit Layla.


Sreeettt


Dengan cepat Yahya menarik dan mendorong Layla merapat ke tembok. Ia memegang kedua pundak Layla erat dan menatap kedua mata istri muda nya tersebut dengan tatapan menyala.


"Tutup mulutmu!!!"


"Aku benci dengan ketidakadilan mas!! Bisa saja Iqlima melarikan diri dari mas dan bersenang-senang dengan laki-laki lain!!!! Tapi lihatlah apa yang mas lakukan?? Mas hanya bisa memikirkan, memikirkan dan memikirkan wanita itu!!!" Teriak Layla penuh amarah. Yahya mengangkat tangannya. Layla menutup matanya erat. Hampir saja tangan kekar itu mendarat di pipi nya.


"Kau keterlaluan!! "


"Apa?? Mas mau menamparku?? Tampar saja!!! Mas memang akan selalu membela wanita itu!! " Ucapan Layla membuat Yahya beristighfar, ia menghela nafas dan kembali mencengkram pundak Layla.


"Layla, Kau memang istriku, tapi tidak seharusnya kau ikut campur dengan perasaan ku!! Kenali batasmu!!! Aku hanya memintamu mengerti, bukan meminta pendapat mu terhadap perasaan dan tindakanku!! " Ucap Yahya melepas genggaman tangannya di pundak Layla. Kali ini ia benar-benar beranjak pergi dengan membanting pintu.


"Yahyaaa!!!! Kau menyuruhku untuk mengerti dan mengerti??? Mau sampai kapan kau akan memperlakukan ku begini???!!! Iqlima Iqlima Iqlima....!!! Bahkan setelah perempuan itu melarikan diri pun kau masih terus memikirkan dan membela nya!!! Kau laki-laki paling angkuh yang pernah aku temui!!!!! Huh!!!! " Umpat Layla kesal.


"Oh Tuhaaaan... mengapa aku bisa mencintai laki-laki sepertinya!!! Aku bisa frustasiiii!!! " Lanjut Layla geram.


Braaaakkkkk

__ADS_1


Triiiiinnggggg


Layla menghempas barang-barang yang ada di dekat nya, namun sesaat ia terdiam lalu mengambil handphone dan melihat pesan yang tertera di sana untuk kedua kalinya. Gambar Iqlima bersama laki-laki lain menaiki taksi berada dalam genggamannya. Gambar yang sangat jelas dan jernih. Layla mengusap air matanya dan tersenyum menyeringai.


Iqlima dan Hilman bersama!


Layla menekan lambang panah ke kanan pada handphone-nya. Ia mengirimkan foto tersebut pada seseorang.


Byuuurrrrr


Yahya menyiram kepalanya dengan air dingin. Berharap rasa panas mendidih menguap hilang. Namun ternyata, ia masih tidak merasa lebih baik. Yahya dengan cepat berwudhu dan shalat dua rakaat.


Dalam shalat Yahya berdoa, ia berharap Allah SWT sudi menumbuhkan rasa cinta di hatinya kepada Layla. Ia merasa gagal. Ia tidak bisa menjadi suami yang baik untuk kedua istrinya. Ia juga belum mampu mendidik Layla. Pun ia belum bisa mengontrol perasaan dan belum bisa membagi cinta pada istri mudanya itu.


Airmata Yahya meleleh. Jauh di lubuk hatinya yang terdalam, Yahya juga sangat berharap bisa bertemu Iqlima sebelum ia berangkat ke Amerika. Wanita yang sesungguhnya ia cintai. Yahya merindukannya.


Ceklek


Di tengah gundah gulana nya, Yahya melihat Sri di ujung ruangan.


"Mbak Sri! " Yahya memanggil dengan mengisyaratkan tangan agar mendekat.


"Apa mbak mengetahui sesuatu? Apa mbak tau mengapa Iqlima pergi? " Todong Yahya.


Sri, jangan sampai peristiwa ini diketahui oleh siapapun terutama Yahya dan Abah! Kau masih tau bagaimana caranya membalas budi kan? Ucapan Hajjah Aisyah yang mewanti-wanti dirinya terngiang-ngiang di benak Sri. Gadis tersebut menggeleng pelan walau batinnya meronta.


"Mbak Sri... Mbak tau kalau aku sudah menganggap mbak bukan lagi orang lain melainkan sudah bagian dari keluarga ini... Bagian dari kami... Maka aku berharap tidak ada yang mbak Sri tutup-tutupi" Ucap Yahya. Sri menunduk dalam.


"Apa Iqlima mengatakan sesuatu sebelum pergi? Apa ia memberikan isyarat? Apa ada tempat yang Iqlima tuju? "


"Kalau begitu baiklah... " Yahya beranjak pergi dengan lesu.


"Gus... "


Yahya menoleh, Sri kembali mendekat.


"Mungkin.... Nona Iqlima pergi karena cemburu pada nona Layla"


"Tidak mungkin! Itu sama sekali tidak adil! Iqlima sendiri dengan keras memaksaku menikahi Layla, setelah semua terjadi, mengapa ia pergi meninggalkan ku?! " Todong Yahya. Sri terdiam.


Apa mungkin karena Iqlima tidak tahan tinggal di pesantren? Tapi kenapa ia tidak mengabarkanku?


Iqlima... Mengapa begini... Kau dimana....


...****************...


"Masuklah... Insya-Allah kau akan aman di kamar ini! " Ucap Hilman.


"Bang Rais, terima kasih... Aku berjanji besok akan segera meninggalkan kamar dan tempat ini! "


" Tidak... Tidak usah buru-buru! Esok aku akan menemuimu! Berjanjilah bahwa kau tidak akan pergi kecuali menunggu ku menemuimu esok! " Pinta Hilman. Iqlima mengangguk.


"Aku sangat merepotkan bang Rais"


"Kau cinta pertama dan terakhirku! Bagaimana mungkin kau mengatakan hal sia-sia seperti itu? Kau sama sekali tidak merepotkan! " Ucap Hilman. Iqlima terdiam.

__ADS_1


"Hmm... Maaf jika perkataan ku membuat kau merasa tidak nyaman! Aku sedikit terbawa suasana. Tidur dan istirahat lah! " Ucap Hilman. Iqlima mengangguk. Ia langsung masuk ke dalam kamar dan mengunci rapat pintu.


Hilman a. k Rais palsu merogoh saku celana nya dan mengambil kunci serap yang ada di sana. Pemuda pecinta Iqlima ini tersenyum seraya mengayun-ayunkan kunci tersebut.


Iqlima langsung terduduk lesu. Ia membiarkan barang-barang nya berhamburan di lantai. Iqlima menangis. Perasaan cinta, benci, kerinduan juga harga diri bersatu padu.


Iqlima memang mencintai Yahya, laki-laki tersebut adalah dunianya. Walau Yahya belum pernah membalas cintanya, namun hanya melihat wajah bersih itu, hati Iqlima akan langsung di selimuti perasaan suka cita, karena itu ia harus membenci dirinya sendiri yang tidak mampu mengontrol perasaan cinta nya yang membuncah.


Benar apa yang ibu mertuanya katakan, keberadaan nya bagi keluarga Bustanul Jannah tidak lebih dari sekedar benalu. Ya, benalu dalam hubungan Yahya dan Layla. Lalu, mengapa ia terus saja bertahan? Mengapa ia harus tetap tinggal di sana?


Walau sekarang di hati Iqlima hanya ada kerinduan, namun di satu sisi ia juga tengah berjuang mengobati harga dirinya yang terluka. Mengingat ini semua Iqlima kembali menangis. Ia menangis sejadi-jadinya. Iqlima menangis tanpa menahan suara. Kalau biasanya ia bisa berperan seolah baik-baik saja di depan semua orang, kini di malam yang sunyi, Iqlima tidak lagi bisa menahan rasa sesak di dada. Ia terus saja menangis sampai tertidur di lantai.


5 jam kemudian~


Krrrsscckkk Kkrrrscckkk


Di tengah malam, seseorang perlahan membuka pintu kamar Iqlima. Iqlima yang tertidur tidak menyadari bahwa ada yang menyelinap masuk.


Tap Tap Tap


Orang tersebut mendekat, ia mengamati wajah pulas Iqlima lekat-lekat dan tersenyum. Tak menunggu lama, orang tersebut mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Sebuah sapu tangan.


Hmfff Hmmffff


Orang yang mendekat itu langsung membekap mulut Iqlima, hanya sedikit perlawanan saat Iqlima tersadar namun akhirnya Iqlima jatuh pingsan. Orang tersebut kembali menatap wajah Iqlima lekat-lekat dan mengelus puncak kepalanya. Tak lama, dengan cepat ia mengangkat Iqlima ke atas tempat tidur.


...****************...


"Nak, wajahmu terlihat lesu, bagaimana kau akan menghadapi para bos besar di Amerika? " Tanya Hajjah Aisyah membenarkan kancing terakhir kemeja Yahya. Kurang dari 6 jam lagi ia dan Layla sudah harus take off.


"Apa ada sesuatu yang mengganggumu, nak? "


"Doakan saja semuanya lancar, mi! " Sahut Yahya lesu.


"Jaga lah nak Layla, jaga calon cucu ummi... Ummi percayakan mereka sepenuhnya kepadamu! " Ucap Hajjah Aisyah. Yahya hanya diam. Kenyataan Iqlima belum kembali dan perkataan Layla tentang Iqlima semakin terngiang-ngiang di benak. Yahya harus menghela nafas. Kepalanya terasa sakit.


Aku benci dengan ketidakadilan mas!! Bisa saja Iqlima melarikan diri dari mas dan bersenang-senang dengan laki-laki lain!!!! Tapi lihatlah apa yang mas lakukan?? Mas hanya bisa memikirkan, memikirkan dan memikirkan wanita itu!!!


Ceklek


Layla muncul dari toilet.


"Apa kamu sudah yakin untuk ikut Yahya berangkat ke Amerika, nak? " Tanya Hajjah Aisyah menghampiri Layla. Wanita tersebut mengangguk.


"Layla sangat antusias, bahagia dan penuh semangat mendampingi mas Yahya, Mi.. Namun entah dengan mas Yahya nya... Jangan-jangan bukan Layla yang mas Yahya harapkan untuk ikut serta... " Sindir Layla. Namun Yahya masih melamun. Sesekali ia hanya mengecek handphone kalau-kalau Rusdi mengirimkan kabar baik.


"Ssstttt, nak Layla... Yahya jelas senang jika kau mendampingi nya. Lagipula, ayahmu pebisnis handal. Kau pasti mewarisi bakat beliau. Kau pasti akan memberikan masukan-masukan ide brilian untuk kemajuan perusahaan kita! Tidak ada yang melebihi kedudukan dan bakat alami mu, nak! " Ucap Hajjah Aisyah memeluk menantu kesayangannya. Layla tersenyum. Namun matanya tetap waspada melirik Yahya yang masih terlihat acuh sampai sesekali manik mata mereka saling bertemu.


"Nak, ingat ramuan yang ummi berikan... Jangan lupa, Yahya harus meminumnya... Ia akan lupa dunia dan cuma mengingatmu saja" Bisik Hajjah Aisyah. Layla mengangguk. Ia memastikan bahwa di Amerika nanti, Yahya akan menjadi miliknya seorang.


Dddrrrrtttt Dddrrrrtttt


Handphone Yahya bergetar. Rusdi menelponnya. Tanpa mempedulikan Hajjah Aisyah dan Layla, Yahya langsung keluar kamar menerima telepon. Pergerakan Yahya membuat Layla dan Hajjah Aisyah saling menatap.


...****************...

__ADS_1


Selamat menjalankan ibadah puasa semuanya... 🤗 ✨✨✨✨✨✨✨


__ADS_2