
Ilyas membolak-balikan tubuhnya di atas kasur. Ia sudah tiba di Jakarta. Ilyas sedang tidak nafsu makan. Wajah bersih Iqlima masih memenuhi isi kepalanya. Pemuda ini bahkan tidak memberikan kesempatan pada gadis tersebut berbicara untuk yang terakhir kalinya.
Astaghfirullah. Huft. Ilyas memijat pelipisnya yang terasa sakit. Berkali-kali ia membuang nafas ke udara. Iqlima bersalah, ia benci wanita munafik. Ilyas tidak perlu meminta penjelasan dari mulut gadis tersebut karena ia percaya pada penglihatannya. Tapi entah mengapa semakin Ilyas membenci, ia malah semakin merindukan Iqlima. Ilyas jadi ingin melihat gadis itu. Ia mengusap wajahnya dengan kasar lalu merogoh saku celananya mengambil handphone.
"Assalamu'alaikum Yahya... Aku sudah sampai di Jakarta. Maaf, kalau aku harus kembali merepotkan mu!" Ucap Ilyas dengan suara serak. Yahya menyimak dengan saksama apa yang sepupunya itu inginkan.
Malam di desa Krueng Lam Kareung tampak lengang. Hanya ada suara jangkrik yang bersahut sambut. Di satu sisi Ilyas yang tengah gelisah menghubungi Yahya untuk mengeluarkan isi kepalanya yang hampir meledak. Di sisi lain, Hilman tengah menikmati malam dengan mengamati wajah Iqlima pada selembar foto.
“Tar, bagaimana persiapan nya?” Tanya Hilman kepada Tarmizi, salah satu anak buah yang tengah menghisap bakong hijau. Hilman sendiri sudah membuang lentingan rokok kreteknya. Malam ini ia tidak berminat menghisap ganja sebab ingin menemui Iqlima dalam keadaan sadar.
“Siap Tuan! Beres! Mobil Jeep sudah disiapkan!” Sahut Tarmizi sigap.
“Oh iya, gomong-ngomong, Kenapa Tuan merencanakan ini semua? Bukannya tuan menginginkan perempuan itu?!” Lanjut Tarmizi kebingungan.
"Banyak tanya kau Tarmizi! Huh... Perempuan nista itu menolakku. Sekarang, ternyata dia sudah kabur dari kampung ini! Dia tidak tau sedang berurusan dengan siapa! Perempuan sialan! Dia pikir dia siapa, hah? Cih! Malam ini akan kupatahkan kesombongannya!” Hilman membuang ludah ke tanah. Geram. Ia memasukkan kembali foto tersebut ke dalam dompet. Mood nya berubah. Ia langsung naik ke dalam mobil Jeep di ikuti oleh beberapa anak buah lainnya.
***
Kecamatan Saree, Aceh Besar.
Pukul 19.30. Seusai melaksanakan ibadah shalat maghrib. Iqlima dan Rais di dandani ala kadar. Mereka akan mengalami prosesi paling penting dalam hidup. Sore tadi, Rais dengan penuh keberanian melamar Iqlima pada kakek Yacob dan Nyakwa Nur.
Awalnya kakek menentang. Beliau masih saja mengharapkan Hilman, pemuda dengan kehidupan paling mentereng di desa Krueng Lam Kareung. Berharap nasib Iqlima akan berubah jika pemuda pemilik Pabrik Kilang Padi tersebut yang menikahinya. Iqlima sampai bergidik sekaligus merinding ketika kakek menyebutkan nama pemuda brengsek yang hampir saja menodainya itu.
Dengan menguatkan diri, Iqlima pun ikut membantu Rais meluluhkan hati kakek. Pernikahan ini bukan lagi soalan cinta. Iqlima benar-benar sudah pasrah akan hidupnya.
Tidak sia-sia, kerja keras mereka pun akhirnya membuahkan hasil. Kakek luluh walau Rais harus memenuhi syarat dengan menyerahkan mahar sebanyak 25 mayam emas.
Saya terima nikah dan kawinnya Iqlima Noor Azkiya binti Taufiq Yakob dengan mahar 25 mayam emas dibayar tunai.
“Bagaimana saksi? Sah?”
“Sah Sah Sah”
Ijab Kabul terucap. Walau tanpa microphone pengeras suara, namun kalimat sakral tersebut terasa memenuhi ruangan. Cukup memunculkan gemuruh di dada. Di dampingi oleh Nyakwa Nur, Iqlima menitikkan airmata di pelukan beliau.
Setelah memanjatkan do’a, Iqlima diarahkan menemui suaminya untuk melakukan salam takzim. Tidak ada tamu undangan, tidak ada gemerlap baju indah, tidak ada kameramen yang mengabadikan prosesi sakral. Nikah siri dadakan ini dilakukan dengan tanpa adanya persiapan.
Nyak.. Abu.. Sekarang Iqlima sudah sah jadi istri dari bang Rais. Gumam Iqlima tanpa suara dengan perasaan yang bercampur aduk. Ia terus berjalan menghampiri Rais. Laki-laki itu menyematkan senyuman di wajahnya.
"Kita harus bergerak cepat! " Ucap Rais dengan berbisik lalu diiringi anggukan oleh Iqlima.
"Tapi kita kemana bang?" Tanya Iqlima. Tak bisa dipungkiri ia merasa sangat cemas saat ini.
"Apa kau percaya padaku? " Iqlima kembali mengangguk. Matanya tampak sembab. Namun tidak mengurangi kecantikannya.
"Kemaslah barang mu seadanya. Ajak serta kakek bersama kita! " Titah Rais dengan wajah serius.
__ADS_1
***
Mobil Rais melaju dalam pekatnya malam di antara rimbunnya pepohonan hutan. Suasana terasa jadi begitu menegangkan. Tiada penerangan di sekitar kecuali hanya ada bulan dan lampu yang berasal dari mobil mereka.
Pemuda yang baru saja berubah status menjadi suami ini berencana membawa istrinya ke luar kota. Ia dan Iqlima sudah membujuk kakek untuk ikut serta namun beliau menolak dengan tegas. Iqlima hanya bisa pasrah dengan mata berkaca ketika kakek berkata akan menunggunya di rumah Nyakwa Nur. Ajaib, kali ini kakek tidak banyak bertanya. Beliau seakan memahami situasi yang terjadi.
Wajah Iqlima sedari tadi tampak tegang. Ia menggengam handphone yang ada di tangan setelah mengabarkan pada Maryam bahwa ia bersama Rais sedang dalam perjalanan menuju luar kota. Iqlima hanya berkata singkat bahwa Hilman tengah merencanakan hal jahat untuknya.
Tiba-tiba Rais memegang tangan Iqlima, gadis yang sudah sedikit mengalami trauma ini terkejut dan sontak menarik tangannya.
"Jangan takut. Allah bersama mu, Allah bersama kita" Ucap Rais mencoba menenangkan.
"Sebentar lagi kita akan sampai di kabupaten Pidie! Setelah ini semua akan baik-baik saja! " Lanjut Rais lagi. Iqlima memaksakan senyumnya.
"Kenapa abang senekad ini? " Tanya Iqlima tiba-tiba. Rais menoleh ke samping sejenak.
"Menikah dengan mu memang impianku... Impianku sedari Aku duduk di bangku sekolah dasar"
"Se... sekolah dasar? Dari SD?" Iqlima sedikit terkejut.
"Ya... Jodohku adalah kamu. Sampai mati, istriku hanya kamu seorang!" Ucap Rais yakin.
"Kenapa abang bicara begitu?"
"Entahlah. Aku yakin nya begitu" Sahut Rais diplomatis. Iqlima diam dan tidak berniat melanjutkan pembicaraan. Ia tidak tau harus tersentuh atau bahagia mendengar perkataan Rais. Selama ini keberuntungan hidup belum berpihak padanya. Gadis ini khawatir untuk terlalu banyak berharap.
"Sebentar, aku lihat di bagasi. Kalau tidak salah ada satu botol air mineral di sana! " Rais mempercepat laju mobilnya, semakin lama semakin menepi.
"Tidak usah bang! Nanti Kita beli di kios saja. Jangan berhenti. Di sini gelap. Aku takut" Pinta Iqlima.
Plukkkk
Sebuah batu seperti sengaja di lempar mengenai badan mobil Rais. Mereka berdua terkejut.
"Apa abang dengar suara itu? Siapa yang melemparnya bang? " Tanya Iqlima panik dengan jantung berdegup tak karuan. Rais mempercepat laju mobilnya. 10 kilo lagi mereka akan keluar dari area hutan.
Plukkk Pluuuukkkk Pluuuuukkkkkk
Hujan batu semakin deras. Iqlima beringsut ke bawah lantai meringkuk ketakutan. Rais melihat ke spion belakang, sebuah mobil jeep dan HRV mengejarnya. Beberapa orang melemparkan batu dari sana. Mobil Rais berjalan limbung.
"Sayang, sabar ya... Sampai Pidie kita lapor polisi! " Ucap Rais. Sebenarnya ia tak kalah cemas. Tangannya sudah terasa dingin. Kabut pegunungan yang menutupi jalan di luar sana menyebabkan ia sedikit sulit berkonsentrasi. Namun Rais harus mengebut membawa istrinya sampai ke tempat tujuan.
Mobil Jeep melaju kencang. Bak penyetir handal profesional, mereka menghadang mobil Rais dari arah depan.
Ciiiiiittttt
Rais menge-rem mendadak. Ia berjingkat. Kepala Iqlima membentur pintu. Semua orang berpakaian serba hitam mengepung. Mereka menggedor-gedor pintu mobil. Iqlima gemetaran. Suara gedoran yang keras membuatnya menutup telinga dengan rapat. Iqlima merasa seperti kembali ke masa konflik. Masa di mana Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dan Republik Indonesia berseteru. Iqlima seperti mencium darah di mana-mana. Ia histeris.
__ADS_1
Rais terpaksa membuka pintu setelah di ancam mobilnya akan diledakkan. Ia di seret keluar. Dengan penuh keberanian, Rais mengeluarkan suara dengan lantang.
"Takutlah kalian hanya pada Allah! Apa yang kalian inginkan? Kalian Muslim, Saya Muslim. Kita ini bersaudara!" Ucap Rais. Ia memang sudah tahu akan dicegat di tengah jalan. Tapi tidak menyangka akan secepat ini. Padahal ia sudah membawa istrinya dengan jalan berbeda. Iqlima ikut di seret keluar. Gadis ini meronta. Rais tidak tahan melihat tangis Iqlima yang di aniaya. Ia mengeluarkan senjata pamungkasnya dari balik baju.
Sreeeeggg.
Tangan-tangan orang yang meringkus nya di gores menggunakan pisau. Tangan Rais terlepas. Ia langsung maju meninju orang yang memegang Iqlima. Darah segar mengucur dari mulut orang tersebut.
"Iqlimaaaa... Lariiiii!! " Teriak Rais. Iqlima menggeleng dengan air mata bercucuran. Rais kembali diringkus. Kekuatan mereka tidak seimbang.
"Ini perintah suamimu!!! Cepat!!!!" Hardik Rais keras. Iqlima langsung lari sekuat yang ia mampu. Mendengar kata suami, Hilman yang sedari tadi berada dalam mobil langsung keluar.
"Kejar dia!!! " Titah Hilman menunjuk ke arah Iqlima yang berlari. Hilman membawa parang yang berkilat-kilat. Ia ingin menakuti Rais. Asap keluar dari mulutnya. Ia berjalan mendekat.
"Hilman, lepaskan aku!! Lepaskan aku dan Iqlima!!! "
"Apa kalian benar-benar menikah?!!! " Tanya Hilman menarik kerah baju Rais sekuat tenaga sampai Rais terbatuk.
"Dia isteriku! Lepaskan kami!! " Pinta Rais lagi.
Cuihhh. Hilman meludah ke wajah Rais.
"Kau dan wanita sialan itu mempermalukan aku! Sebagai seorang Hulubalang yang terpandang, penolakan Iqlima dan lebih memilih orang biasa seperti mu merupakan sebuah aib! " Sahut Hilman dengan suara serak. Harga dirinya tercoreng. Hilman berang.
"Iqlima tidak akan tunduk dan menikah dengan laki-laki kotor seperti mu!!! Cuuuiihhh!!! " Rais balas meludahi wajah Hilman.
"Ha... hahahahahaha" Suara tawa Hilman menggelegar. Ia mengusap ludah yang ada di wajahnya. Lalu mengambil pisau yang ada di saku Rais.
"Pergilah ke akhirat! Wahai pahlawan yang tidak di undang! "
Sreeeggggg
Darah mengalir dari leher Rais. Hilman menyabet urat nadi nya.
Laaa ilaa ha illallaah... Mu...ham... mad Ra..sulullah. Kata-kata itu sempat Rais ucapkan sebelum tubuhnya ambruk menyentuh tanah. Rais membawa cinta suci bersamanya. Ia menghembuskan nafas nya dengan tersenyum.
Seketika Hilman terhuyung. Melihat Rais yang terkapar di aspal, Ia tiba-tiba tersadar dengan apa yang sudah ia lakukan. Ia telah membunuh. Ini semua diluar dugaannya. Hilman tidak berencana membunuh orang.
"A... aku telah membunuh!" Tubuh Hilman bergetar.
"Baa... Bagaimana ini! "
"Kita harus melenyapkan barang bukti tuan! Ucap salah seorang anak buahnya. Hilman berpikir keras.
" Ya,, kau benar. Masukkan Rais ke dalam mobil! Bakar mobilnya di hutan sana! Buat seolah-olah pria ini kecelakaan! Bakar darah yang mengalir di aspal! Cepat!! Sebelum subuh dan sebelum ada yang melihat!! " Titah Hilman masih dengan tubuh bergetar.
***
__ADS_1