
Sruuuggg
Yahya menghempaskan Iqlima ke atas kasur.
"Aku benci jejak orang lain berada pada tubuhmu!" Ucap Yahya melepas mukena yang Iqlima kenakan dan menarik kasar pakaiannya. Hingga sobekan kain tidak bisa dielakkan.
"Bang... Bang Yahya... " Iqlima berusaha menghindar dan menutup bagian tubuhnya yang terbuka dengan tangan gemetar. Yahya dengan brutal menariknya. Ia tidak hanya mengunci tubuh wanita tersebut, namun juga tatapannya.
"Kenapa? Kau keberatan? " Tanya Yahya sendu dengan mata memerah. Yahya benar-benar mengunci Iqlima dengan kuat hingga membuatnya kesakitan. Wanita tersebut meronta-ronta. Iqlima benar-benar ketakutan. Seketika, suara Hilman di pantai Lampu'uk beberapa tahun silam seperti melambai-lambai dipendengarannya.
Yahya tidak menggubris penolakan Iqlima. Ia dengan buas terus menggagahi istrinya tersebut. Semakin Iqlima meronta, semakin Yahya memaksakan kehendaknya. Amarah, kerinduan, hati yang tersakiti juga cinta yang tak terbalaskan menyatu melukai harga dirinya sebagai seorang suami. Setidaknya itulah yang Yahya rasakan.
Kau tanya apa yang aku inginkan kan? Aku menginginkan mu, wanita sok suci!
Berhenti melawan! Kalau tidak aku akan merobek pakaianmu! Tidak akan ada yang menolong!
Perkataan Hilman terus saja mengisi pikiran Iqlima. Ia tidak berhenti melawan Yahya sampai pemuda tersebut berhasil melucuti seluruh pakaiannya. Sebagai seorang laki-laki bertubuh kekar, mudah saja baginya mengatasi penolakan Iqlima. Yahya yang kesal benar-benar dikuasai oleh emosi. Hingga,
Buuuugh
Iqlima menendang suaminya tersebut persis seperti apa yang ia lakukan terhadap Hilman di masa lalu.
"I... Iqlima... Ka...Kau... Ssss Ssss" Yahya akhirnya beringsut mundur. Ia sama sekali tak percaya apa yang Iqlima lakukan. Pemuda tersebut berkunang-kunang. Ia meringis menahan rasa sakit.
Hhh Hhh Hhh
Keringat sebesar biji jagung mulai bermunculan di pelipis Iqlima. Sesaat Ia terpaku lalu tersadar saat melihat Yahya mengerang.
"Bang.... " Panggil Iqlima datang menghampiri. Ia hendak meletakkan tangannya menyentuh lengan Yahya namun dengan cepat pemuda tersebut menepisnya.
"Bang... Ma... Maaf... A... Aku... " Iqlima gemetar.
Ting Tong Ting Tong
Suara bell berbunyi tak henti. Itu artinya ada orang di luar sana menggedor secara brutal. Yahya dengan cepat menarik selimut melemparkan nya ke tubuh Iqlima. Tersadar, wanita tersebut juga dengan cepat memakai pakaiannya. Yahya yang sedang menahan amarah n rasa sakit menjadi semakin kesal. Berani-beraninya orang luar tidak berkepentingan mengganggu mereka di kamar pribadi.
"U... Ummi? " Gumam Yahya terkejut setelah membuka pintu. Tampak Hajjah Aisyah dengan wajah kusut dan Layla telah berdiri tegak di hadapannya. Mereka tidak hanya berdua, Sri dan asisten pribadi juga ikut serta.
"Ummi menyusul setelah penasaran ingin mendengar lanjutan drama perselingkuhan nya! " Ucap hj. Aisyah menunjuk Iqlima menggunakan dagunya. Iqlima sontak mendongak. Ia yang akan menyalami mertuanya tersebut kembali menarik tangannya.
Ja... Jadi... Bang Yahya memberitahukan masalah ini pada Ummi dan Layla? Iqlima merasa kecewa.
"Ummi tidak perlu repot jauh-jauh ke sini! Kami akan kembali ke Jakarta sore ini!" Sahut Yahya sambil mengancingkan dua kancing teratas kemejanya. Layla yang melihat pergerakan tersebut memicingkan mata tak senang. Suatu hal besar seperti nya telah terjadi di antara mereka.
"Tidak ada yang kembali ke Jakarta sebelum masalah ini selesai! Ummi menduga kau memang tidak mampu membereskan nya! " Sarkas hj. Aisyah sambil menyelinap masuk ke kamar. Beliau ikut memicingkan mata melihat seprai yang berantakan. Ikat rambut Iqlima juga tercampak begitu saja di lantai. Hj. Aisyah mengambil tempat dengan duduk di kursi. Sri langsung memijat pundak beliau.
"Duduklah! " Tidak ada yang berkutik selain mereka menuruti apa yang beliau titahkan.
"Mi, Yahya bisa menyelesaikan perkara rumah tangga Yahya sendiri! "
"Ya. Tapi Ummi sudah terlanjur mengetahuinya! Sebagai seorang ibu, sungguh sakit sekali hati ummi melihat putra satu-satunya diperlakukan seperti ini! Kau bekerja keras mengurus perusahaan, memberikan kemewahan terbaik untuk keluarga, sedangkan dia? Dia seenaknya berlibur guna bersenang-senang dengan laki-laki lain! Istri macam apa itu?! Kalau kasus seperti ini kau biarkan, Ummi tidak tau lagi apa itu keadilan!" Ucap hj. Aisyah menohok. Iqlima menggeleng.
__ADS_1
"Kenapa kau menggeleng, apa pembelaanmu?! Kau sungguh memalukan!! " Layla ikut angkat bicara. Iqlima melirik Yahya. Laki-laki tersebut membuang wajahnya.
"Foto-foto dan video itu, kau masih menyangkalnya?! " Tanya hj. Aisyah bangkit berdiri. Beliau mensedekapkan tangannya.
"A... Aku tidak menyangkalnya... Foto itu memang benar adanya" Sahut Iqlima. Yahya tersenyum pahit.
"Tapi..."
"Tapi aku tidak menduga kejadian yang terjadi secepat kilat itu terjadi begitu saja... Aku terlalu terkejut saat mengetahui suami pertama ku ternyata masih hidup... Semalam, kami tidak sengaja bertemu... Aku benar-benar shocked" Lirih Iqlima menunduk.
"Yahya, kau lihatkan? Siapa yang kau bela?! Dia telah mengakui siapa dia sebenarnya. Warna dirinya telah terlihat terang! Dia dengan jelas mengatakan perselingkuhan nya dengan mengarang cerita!" Ucap sinis hj. Aisyah.
"Aku tidak selingkuh, aku sama sekali tidak mengkhianati bang Yahya! Aku hanya tidak sengaja bertemu bang Rais. Itu saja! Aku tidak berdusta. Sungguh! " Sahut Iqlima membela diri.
"Yahya, lihatlah sorot matanya... Dia masih sangat berharap pada suami pertama nya! Lepaskan saja dia! Apa gunanya mempertahankan wanita tidak tahu diri seperti nya!" Ucap hj. Aisyah terus mendesak Yahya. Iqlima menggeleng. Kini kepalanya terasa sakit. Ia blank. Pikirannya serasa buntu.
"Dasar wanita menjijikan! Untuk apa Kau ke Aceh kalau bukan untuk menyerahkan dirimu pada laki-laki itu!" Kali ini Layla angkat bicara. Kata-katanya tidak kalah menohok.
"Padahal kau sebatang kara dan tidak memiliki siapapun di sini! Kau memang sengaja mengatur pertemuan! Tidak mungkin tidak!" Tuding Layla. Mata Iqlima berkaca-kaca. Yahya hanya mengamati tanpa menindak apapun. Jujur saja, saat ini ia terlalu malas untuk berdebat atau sekedar melerai.
"Kau memang wanita murahan!! Wanita murahan yang tega mengkhianati suaminya sendiri... Wanita rendah mudahan yang...."
Plaaaakkk
Entah mendapatkan keberanian darimana, Iqlima maju dan menampar Layla yang terus saja menyerocos. Belum sempat gadis tersebut menyelesaikan kalimatnya, Ia sudah jatuh terjengkang. Layla kemudian memegang pipinya yang memerah karena terkejut. Pinggang nya terasa sakit.
"Astaghfirullah, keterlaluan!! Sungguh keterlaluan!!!" Hj. Aisyah melototkan matanya pada Iqlima. Beliau benar-benar tidak menyangka wanita lemah tersebut berani menampar Layla dihadapannya.
"Dia yang keterlaluan!" Sahut Iqlima.
Layla yang tak kalah berapi-api hendak bangkit dan membalas Iqlima namun ia melihat Yahya yang tercengang. Seketika Layla kembali terkulai. Tiba-tiba Ia menjelma menjadi wanita lemah tak berdaya.
"Aku hanya membela harga diri suamiku yang diinjak-injak oleh nya! Hiks hiks! Jahat sekali dia... Hiks hiks" Tunjuk Layla menangis pilu.
"Oh sayang.... " Hj. Aisyah melihat Layla iba.
"Tidak punya sopan santun! Kau marah padanya karena dituding murahan, padahal kelakuan mu jauh melebihi tuduhannya! Kau harus bercermin! Kami kalangan terhormat tidak bisa menerima golongan rendah sepertimu! Bukan hanya kemiskinan mu yang membuat mu rendah namun juga akhlakmu yang minus!" Geram hj. Aisyah.
"Maaf Ummi, tuduhan nya sudah sangat keterlaluan dan aku tidak bisa menerimanya" Airmata Iqlima tak kalah jatuh menetes. Yahya benar-benar marah dan enggan membelanya. Ia harus berdiri kuat di atas kakinya sendiri. Kaki yang sebenarnya sudah tak mampu lagi untuk berpijak.
"Sudahlah sudahlah!! " Ucap Yahya setelah situasi kian memanas pada akhirnya. Ia berjalan mendekati Layla.
"Kau tidak apa-apa, hm? " Tanya Yahya lembut sambil membantu Layla berdiri. Iqlima mematung. Perlakuan Yahya membuat Hj. Aisyah lega.
"A... Aku tidak apa-apa, mas! " Sahut Layla tak kalah lembut. Yahya yang sedari tadi menatap Iqlima seketika menghunuskan tatapan mematikan padanya.
"Mbak Sri, tolong pesankan kamar terbaik untuk Ummi dan Layla... Kami akan menginap semalam di sini untuk beristirahat! "
"Ba... Baik Gus! " Sri langsung melesat pergi. Iqlima menunduk. Ia benar-benar terpuruk. Hj. Aisyah menuntun Layla keluar dari kamar. Mereka bertingkah tak ubahnya seperti dua pesakitan yang terzhalimi.
"Sekarang, katakan apa yang kau inginkan... Aku berjanji tidak akan menahan mu lagi! " Ucap Yahya pada Iqlima setelah kamar kembali sepi. Iqlima mendongak. Ia yang masih diselimuti perasaan bersalah merasa sangat sulit untuk menjawab. Iqlima kembali menunduk.
__ADS_1
Praaankkk
"Kenapa diam?! " Teriak Yahya melempar telpon yang ada di atas nakas ke dinding. Iqlima memejamkan mata ketakutan.
Braaakkk
Tak ada respon dari Iqlima, Yahya keluar dengan membanting pintu. Kesal.
Sepeninggal Yahya, Iqlima merosot terduduk di lantai. Dengan menumpu pada pinggiran tempat tidur, ia menangis tersedu.
***
"Sudah kau dapatkan identitas laki-laki itu? "
"Sudah Gus... "
"Siapa dia? "
"Dia adalah Osman Müghal, direktur pada Hotel Rekayasa Jakarta"
*Hotel Rekayasa Jakarta? Bukankah hotel tersebut milik papa Arya? Siapa dia sebenarnya? Mengapa Iqlima terus menduganya sebagai Rais? Aku harus menyelidiki nya!
Hhhh Kalau dia memang benar Rais dan Iqlima bahagia bersamanya, maka aku akan*...
Ceklek
Layla yang sedari tadi berada dalam kamar mandi terkejut Yahya sudah berada di kamar. Ia tersenyum merekah. Layla begitu bahagia Yahya ke kamarnya. Itu berarti Yahya memilihnya. Ahx sedari tadi Yahya memang dipihaknya. Ia yang tengah memegang sebotol kecil suatu cairan ramuan sontak memasukkannya ke dalam kantong celana.
"Mas Yahya... Terima kasih sudah membelaku! " Layla langsung mendekat dan memeluk Yahya.
"Walaupun tamparannya terasa sangat sakit, namun aku tidak akan menaruh dendam" Lanjut Layla lagi. Ia pura-pura sesegukan.
Sreeggg
Di luar dugaan, Yahya melepaskan tangan Layla yang melingkar di pinggangnya.
"Aku kesini untuk memperingatkan mu! Jangan pernah sekali-kali kau menyebut Iqlima dengan kata-kata keji seperti tadi! Jangan pernah mengulanginya! " Ucap Yahya.
"Tttt... Tapi dia selingkuh!"
"Apa yang terjadi diantara kami, itu tidak ada hubungannya denganmu! "
"Dia menamparku, Mas!!! "
"Berhentilah berakting menjadi wanita lemah, Layla! Kelakuan seperti ini hanya membuatku mual" Sarkas Yahya. Layla menggeleng.
"Juga.... " Yahya menjeda kalimat nya.
"Berhentilah menyampaikan kabar yang bukan urusanmu pada Ummi! "
"Aku menghormati dan akan menyayangimu sebagai istriku, aku akan penuhi hak hak mu! Tapi jangan pernah melampaui batasmu! "
__ADS_1
"Sekarang, apa kau mengerti?! "
***